Tama sedangg sibuk mengerjakan desain salah satu kliennya di depan televisi yang malam ini tidak sedang berada dalam kungkungan ibunya. Di tengah kesibukannya itu, ia terinterupsi oleh suara handphone-nya.
“Iya kenapa, Dit?”
“Ini ada rombongan dari Surabaya yang menyewa jasa porter untuk mendaki di Semeru. Mau nerima nggak?”
“Yang lain gimana?” tanya Tama balik.
“Mereka sih setuju saja. Hanya tinggal menunggu jawaban dari kamu.”
“Boleh deh. Jadwalnya sama kan dengan keberangkatan kita?”
“Iya. Karena hal itu makanya anak-anak nerima tawaran itu.”
“Oke deh. Kalian kumpul di mana ini? Kok ramai?”
“Di base camp-nya Husni. Kamu nggak pernah gabung ditanyain sama yang lain,” ucap Dito.
“Aku masih menyelesaikan kerjaan biar bisa mendaki dengan tenang dan enjoy nantinya.”
Dito pun tak berkomentar banyak. Melanjutkan perbincangan sejenak kemudian Dito memutuskan sambungan telepon itu.
“Sudah mau jam 10, bang. Kamu nggak mau istirahat?” tanya bunda Tama yang bergabung ke ruang tengah. Ia tadi sibuk menyelesaikan urusan toko sehingga merelakan satu episode sinetron kesayangannya terlewat.
“Jam 10 tepat sekalian, bun. Nanggung,” jawab Tama. Ia masih fokus dengan desain di hadapannya, tidak menoleh sama sekali ke arah bundanya.
Bunda Tama meletakkan satu gelas keramik putih yang berisi cokelat panas di meja tempat Tama meletakkan laptopnya.
“Terima kasih, bunda,” ujar Tama sambil memandang penuh ke arah bundanya disertai dengan senyum bahagianya.
“Kalau sudah sibuk, diajak ngobrol pun kamu nggak bakal melihat ke orang yang ngajak ngobrol ya, Tam. Sedangkan saat diberi amunisi, baru deh kamu menolehkan pandangan,” komentar bunda Tama.
Tama hanya menanggapinya dengan tawa.
“Jangan larut-larut, Tam. Tubuh kamu juga perlu banyak istirahat. Katanya akhir pekan minggu depan mau ke Semeru. Jadi jangan membuat tubuh kamu drop dan rencana mendakinya gagal,” peringat bundanya.
“Didoakan yang baik atuh, bun,” pinta Tama.
“Jelas kalau itu. Bunda kan hanya mengingatkan, nak.”
“Iya, bunda. 15 menit lagi juga sudah jam 10. Setelah itu Tama istirahat kok. Bunda tenang saja.”
“Awas kalau keterusan,” peringat bundanya tajam.
“Enggak, bunda. Bunda segera istirahat juga. Jangan begadang ngurus toko terus-terusan,” peringat Tama. “Kan ada Mbak Yanti yang selalu membantu.”
“Iya. Tapi bunda merasa lebih tenang kalau bunda juga ikut terjun langsung untuk mengurus toko.”
Tama menghembuskan napas perlahan. Bundanya memang terkadang sedikit bandel. “Asal jangan lupa makan, minum air putih yang banyak, dan terutama vitaminnya diminum ya, bun.”
Bunda Tama mengacak rambut ikal putra kesayangannya itu dengan gemas. “Bawel sekali kamu, Tam. Persis ayah.”
“Namanya juga anaknya ayah, bun.”
Senyum terpatri di wajah bundanya. Setiap ia merindukan suaminya, ia akan merasa lebih tenang karena melihat salinan wajah suaminya pada wajah Tama. Tidak sepenuhnya sama, hanya hidung, alis, dan mata, tetapi itu sudah cukup untuk mengobati rasa rindunya.
“Kalau begitu bunda masuk ke kamar dulu, ya. Ingat jam 10 harus sudah menutup laptop,” tegas bundanya.
“Iya, bunda sayang.”
Sekali lagi bunda Tama mengelus rambut putranya kemudian berjalan meninggalkan Tama di ruang tengah sendiri.
Tama melemaskan otot-ototnya setelah mematikan laptop. Desain yang dipesan oleh klien sudah 90%, rencananya akan ia selesaikan besok.
Saat ia membereskan laptop dan cangkir bekas cokelat tadi, ia baru teringat akan pesan Dito tadi.
“Besok saja ku tanyakan pada Dito,” gumam Tama sambil melangkah ke arah dapur.
***
“Jadi, yang perlu mbak-mbak dan teman-teman bawa nanti ada di selebaran kertas itu ya,” ucap Adi.
Saat ini mereka sedang berkumpul di gazebo Biologi untuk membahas persiapan mendaki pekan depan.
“Untuk pendaftaran nanti sudah diuruskan oleh pihak porter. Jadi yang perlu disiapkan adalah foto kartu identitas. Dan satu hari sebelum kita berangkat, kita bisa minta surat keterangan sehat di puskesmas atau klinik kampus.” Adi menjelaskan dengan pelan beberapa hal urgent yang harus dipersiapkan.
“Dan uang pembayaran untuk tiket masuk, kendaraan, dan sewa alat, dikumpulkan maksimal hari Minggu besok ya. Bisa di aku atau Mbak Ayana, ya mbak?”
Ayana mengangguk. Mereka sebelumnya juga sudah tergabung dalam grup w******p. Beberapa hal juga sudah dibahas, pertemuan kali ini bertujuan untuk memastikan semuanya aman dan dapat berjalan dengan baik.
“Jadi kita hanya perlu membawa pakaian ganti, jaket, kaos kaki tebal, obat-obatan pribadi, keperluan pribadi, alat sholat, camilan, dan alat makan pribadi ya, dek?” tanya Rahma memastikan.
“Iya, mbak. Dan juga bawa head lamp, tetapi head lamp-nya nanti biar dikoordinir oleh Rizki. Pokok uang yang dikumpulkan itu sudah include biaya sewa porter, tiket masuk, transportasi, sewa tenda, nesting, matras, sleeping bag, lampu tenda, bahan makanan, dan beberapa keperluan mendaki yang lain, mbak,” jelas Adi.
Peserta lain mengangguk paham. Rombongan dari biologi yang akan mendaki Gunung Semeru ada 8 orang yaitu Ayana, Rahma, Fitri, Adi, Rizki, Fatimah, Aji, dan Angga.
“Kira-kira untuk pertemuan kali ini ada yang ditanyakan atau tidak?”
“Ada kumpul lagi nggak mas sebelum kita berangkat?” tanya Aji.
“Kita kumpul Kamis sore, ya. Bawa tas carrier yang kalian punya. Jika nggak punya nanti kita data dan kita pinjam ke tempat sewa. Jangan mendakak. Ingat juga, jangan membawa barang yang tidak diperlukan. Kita menyewa porter hanya untuk membantu menunjukkan jalan, mendirikan tenda, dan memasak. Barang yang bawa adalah kita sendiri. Jadi, bawa keperluan yang benar-benar perlu. Baju ganti juga gak perlu bawa banyak-banyak, baju juga cukup menambah beban,” tegas Adi.
Kumpul siang itu baru saja selesai lima menit yang lalu. Tersisa Ayana, Rahma, Fitri, Adi, dan Rizki.
“Dek, jadi kamu sama Rizki yang nyewa semua perlengkapannya?” Ayana memastikan.
“Iya, mbak.”
“Kalau butuh tenaga, kita bertiga siap bantu, dek. Kita malah yang nggak enak kalau misal kita diam saja. Sedangkan yang ngide kan kita, rasanya nggak enak hati saja jika kita hanya ongkang-ongkang kaki,” sahut Fitri. Ayana dan Rahma menyetujui ucapan Fitri.
“Ehm, kalau gitu Rabu pagi kita kan sudah mulai nyewa barang, mbak. Di hari itu jadwal kuliahku siang. Jadi rencananya aku sama Adi mau ambil barangnya pagi itu,” timpal Rizki. “Kalau misalnya mbak-mbak mau ikut ya monggo.”
“Boleh, dek. Nanti kita bisa atur jadwal bimbingan skripsi sama dosennya. Kumpul di kampus dulu atau gimana?”
“Rumahku sama Rizki kan daerah Sidoarjo, mbak. Nah, kita sewa alat-alatnya itu di daerah alun-alun Sidoarjo. Kalau kita langsung ketemu di alun-alun yang depan masjid agung gimana? Jadi biar sama-sama enak. Aku dan Rizki nggak perlu ke Surabaya dan kembali ke Sidoarjo, dan sampeyan bisa langsung ke sini tanpa menunggu kedatangan kita di kampus. Biar lebih efisien gitu.” Adi menawarkan pilihan yang dirasa lebih menghemat waktu dan tenaga.
“Boleh, deh. Pokok kabar-kabar di grup WA saja pas hari itu.”
“Siap, mbak.”
“Oh iya, dek. Ini uangnya kita bertiga, dikumpulkan di kamu atau ku bawa?” tanya Ayana sambil membawa uang yang terkumpul.
“Sampeyan bawa saja, mbak. Ini sekalian tadi uangku sama Rizki. Untuk uangnya adek-adek tadi lupa belum kuminta.”
Ayana menerima uang dari Adi. Ia mengambil note book dan bolpoin kemudian menuliskan nama dan jumlah uang yang diberikan.
“Oh iya mbak hampir lupa, sampeyan ada mobile banking?” tanya Adi.
“Ada, dek. Kenapa?”
“Minta tolong Mbak Ayana buat transfer uang ke porter, mbak. Maksimal nanti malam. Soalnya besok katanya mau didaftarkan online sama mereka.”
“Kamu kirim saja nomor rekeningnya ya, dek.”
“Iya, mbak. Nanti jangan lupa diingatkan siapa tahu aku lupa,” cengir Adi.
“Gampang, dek. Sebentar ku tulis dulu di pengingat, aku juga takutnya lupa,” jawab Ayana sambil tertawa.
Ayana menekuri handphone-nya. “Oke, sudah. Nanti habis maghrib InsyaAllah ku chat buat tanya nomor rekeningnya.”
“Oke, mbak.”
“Sudah kah, rek?” tanya Ayana sambil menoleh pada Fitri dan Rahma yang sedang asyik dengan handphone-nya masing-masing.
“Kamu sudah, mbak?” tanya Rahma balik.
“Ini sudah selesai kan ya, dek?” Bukannya menjawab, Ayana malah melempar pertanyaan kepada Adi.
“Sudah kok, mbak. Kalau mbak-mbak mau pulang silakan.”
“Dek Rahma, Fitri, ayo,” ajak Ayana. Mereka berdua bukannya bersiap pulang tetapi kembali sibuk dengan handphone-nya. Perpaduan antara mahasiswa dan anak rantau membuat mereka tidak akan pernah menyiakan segala hal yang sifatnya gratis seperti WiFi.
Ayana hanya menggelengkan kepalanya. Padahal di kos mereka masing-masing juga sudah disediakan WiFi, tetapi jika ada WiFi yang lebih cepat jaringannya, maka menyiakan adalah sikap yang sangat disayangkan. Dan melihat Fitri dan Rahma yang begitu serius menekuri handphone, membuktikan bahwa mereka adalah para mahasiswa yang memanfaatkan segala fasilitas yang disediakan oleh kampus dengan baik.
“Nggak jadi pulang, nih?” tanya Ayana dengan nada kesal. “Aku laper, rek,” rengek Ayana lagi dengan tidak sabar.
Adi dan Rizki yang melihat hal itu meresponsnya dengan tawa kecil disertai dengan gelengan kepala tak habis pikir melihat kelakuan kakak tingkatnya.
“Iya, iya. Kita beli makan dulu habis ini,” sahut Fitri.
Fitri menyimpan handphone-nya pada sling bag yang ia kenakan. Sedangkan Rahma menyimpan handphone-nya pada ransel besar yang melekat di punggungnya. Fitri memang tadi pulang lebih awal sebelum kumpul di gazebo, sedangkan Ayana dan Rahma bertahan di kampus dari pada harus capek di jalan.
Ayana tersenyum lebar. Ah, akhirnya lambungnya akan segera mendapatkan asupan energi. Ia sudah menahan lapar sejak jam 11 tadi.
“Kalau begitu kita duluan ya, dek.”
“Iya, mbak. Hati-hati, mbak,” pesan Adi.
“Siap,” jawab mereka bertiga secara kompak. Dan hal itu mengundang tawa mereka bertiga. Hal nggak lucu pun terkadang membuat mereka tertawa. Selera humornya memang berbeda dari yang lain.