Hai, assalamu’alaikum.
Di part ini mohon maaf jika ada yang kurang tepat, ya. Teman-teman bisa membantu saya untuk mengkoreksi. Terima kasih.
Pengalaman mendaki saya masih sedikit. Jadi, mari sama-sama berbagi ilmu mendakinya ?
“Kamu jadi ambil cuti, Tam?” tanya Yanuar disela-sela mereka makan siang ayam bakar depan kantor. Sepertinya ayam bakar itu memang menjadi menu penyelamat kelaparan mereka karena yang rasanya lezat atau mereka yang memang terlalu malas jika harus pergi jauh demi sesuap nasi.
Tama mengangguk. Ia sedang menikmati daging ayam bakarnya. Tidak ingin merusak cita rasa yang lezat itu dengan menanggapi Yanuar.
“Mau ke mana kamu? Mendaki?” tanya Yanuar lagi tepat sasaran. Ia hapal betul jika Tama libur maka mendaki adalah pilihan diwaktu liburannya itu.
Tama kembali mengangguk. Yanuar menghela napas besar. Dan ya, seperti biasanya, Yanuar yang akan menjadi orang yang banyak bicara dan Tama menanggapinya dengan singkat. Oke, Yanuar harus menambah stok kesabarannya terus menerus.
“Ke mana kali ini? Kamu kalau mendaki kan nggak pernah sehari,” ucap Yanuar.
Tama menelan nasi, daging ayam, dan sambal yang baru saja ia kunyah. Kemudian ia meneguk es jeruk yang terlihat begitu segar di siang itu.
“Ke Semeru, sama teman-teman SMA dulu. Lagi pula aku ambil cutinya mulai hari Kamis, enggak Senin,” ujar Tama.
Nasinya telah habis, sehingga ia dapat menanggapi semua pertanyaan Yanuar.
Kini Yanuar yang mengangguk. “Nitip tulisan dong,” pinta Yanuar.
“Tulisan apa?” tanya Tama bingung.
“Yang kayak anak-anak jaman sekarang itu, lho. Yanuar, dapat salam dari Puncak Mahameru. Kapan kamu ke sini?” ucap Yanuar dengan suara yang berusaha ia imut-imutkan.
Tama menampilkan raut wajah jijik. “Mendaki sendiri sana. Nggak terima titip-titipan tulisan,” tandas Tama.
Yanuar menampilkan wajah kecewanya.
“Emang kamu beneran mau dibuatkan tulisan kayak gitu?” tanya Tama tak habis pikir.
“Enggak,” tegas Yanuar dengan didukung gelengan kepala. “Meskipun aku ada keinginan untuk mendaki begitu kuat. Aku nggak mau nitip-nitip kayak gitu. Pinginnya pergi ke sana sendiri,” ucap Yanuar dengan tekad yang kuat.
“Ya baguslah. Mending naik gunung sendiri. Sensasinya lebih terasa. Kalau kamu mau mendaki, banyak gunung yang nggak terlalu tinggi kok. Ada Penanggungan, Pundak, Panderman, Kelud, Bromo. Gunung-gunung itu cocok untuk pemula. Yah, meskipun jika ingin langsung ke gunung yang lebih tinggi juga nggak dilarang,” jelas Tama.
“Bukannya Kelud dan Bromo itu kawasan wisata biasa ya?” tanya Yanuar bingung. Ia baru tahu jika gunung-gunung itu bisa didaki.
“Ngawur! Makanya rajin baca sana jangan hanya makan,” ejek Tama dengan nada tegas tetapi tetap dengan muka datar, sehingga tampak seperti bukan orang yang mengejek.
“Kalau kamu pingin tahu kawah Bromo ya kamu perlu mendaki tanjakan tangga yang banyak itu. Itu juga salah satu langkah buat melatih fisik. Kalau Kelud kamu bisa mendaki gunungnya lewat Blitar. Kalau Kelud, menurutku tampak seperti gunung di jaman-jaman purba gitu pemandangannya, apalagi kan pernah meletus di tahun 2014 itu,” jelas Tama dengan sangat panjang.
Ciri khas seorang Tama adalah ia akan berbicara panjang dan lebar jika topik yang dibicarakan merupakan topik yang ia sukai. Seperti cerita mendaki, gunung, arsitek, ya pokoknya seputar dunianya itu.
Yanuar mengangguk paham. Ia sudah pernah ke Bromo. Dan memang tanjakan tangga menuju kawah Gunung Bromo begitu banyak, berhasil membuat kakinya merasa kelelahan dan otot-ototnya tegang.
“Ah, seandainya aku juga ambil jatah libur panjang di bulan ini mungkin aku akan ikut kamu.”
“Halah, gak usah berandai-andai. Siapkan fisik dan mental dulu sana,” ledek Tama.
“Eh, temennya pingin ikutan menikmati alam malah dijatuhkan. Bukannya didukung,” kesal Yanuar.
“Iya kalau kamu sudah mempersiapkan fisik gitu nggak masalah. Setahuku kamu mah hobinya nyantai doang,” ejek Tama dengan lancar.
Yanuar menampilkan cengiran lebarnya. Berbicara tentang aktivitas fisik, Yanuar memang sangat antipati dengan yang namanya olahraga. Seperti musuh. Ia lebih suka menghabiskan waktu senggangnya dengan duduk-duduk santai atau rebahan.
“Sudah ayo kembali ke kantor. Aku harus segera menyelesaikan semua tanggungan sebelum libur,” ajak Tama.
Ia sudah berdiri dari kursi plastik putih yang tadi ia duduki. Yanuar pun dengan tergesa meneguk sisa es jeruknya. Hampir saja ia tersedak jika ia tidak mampu mengajak kerongkongannya bekerja sama.
Setibanya di kantor, Tama dan Yanuar memilih menikmati semilir angin di samping kantor terlebih dahulu. Tama mengurungkan niatnya masuk ke kantor karena melihat suasana kantor yang sudah cukup penuh oleh rekan-rekannya padahal jam masuk kantor masih cukup lama.
Biro Architecta memiliki taman kecil di depan dan samping gedung utama, ada kursi kayu panjang dan beberapa single chair yang ditata apik di tepian taman itu. Banyak tanaman hias yang ditanam di sana. Setiap petak ditanami dengan satu jenis tanaman yang sama. Dari sisi kanan ke kiri ada aglonema lipstik aurora, aglonema snow white, calathea hitam, keladi army, keladi pink flamingo, dan keladi red star. Di sudut taman ditanam kamboja warna kuning. Warna-warni dedaunan itu membuat mata kembali segar. Pikiran pun ikut segar juga sehingga bekerja akan terasa lebih tenang.
Tama dan Yanuar saling berdiam diri. Yanuar menikmati isapan rokoknya, sedangkan Tama fokus dengan layar handphone-nya. Waktu istirahat masih tersisa 20 menit lagi. Mereka memutuskan menghabiskan waktu di samping kantor dari pada masuk ke dalam kantor dan membuat jenuh.
Dering handphone Tama mengusik keterdiaman diantara mereka. Tama segera menerima panggilan masuk sebelum menciptakan kebisingan.
“Iya, halo,” sapa Tama.
“Assalamu’alaikum, mas,” sapa seseorang dibalik sana.
“Wa’alaikumsalam. Mohon maaf dengan siapa, ya?” tanya Tama.
Dalam hati ia bertanya-tanya, siapa orang di seberang sana karena ia tidak merasa menyimpan nomor penelepon ini. Apalagi orang tersebut meneleponnya dengan pulsa, bukan menggunakan w******p. Tama berharap bukan seseorang yang rela membuang pulsanya dengan percuma jika hanya untuk menipunya. Jaman sekarang banyak orang yang ingin mencari uang instant dengan melakukan penipuan melalui sambungan telepon.
“Saya Ayana, mas. Mahasiswa dari Surabaya yang menyewa jasa porter. Ini benar dengan Mas Tama kan?” tanya suara perempuan di seberang sana yang menyebutkan dirinya bernama Ayana.
“Iya, benar. Ada apa ya? Bukannya untuk urusan porter berhubungan langsung dengan Dito?” Tama bertanya dengan heran. Selama ini, jika ada yang menyewa jasa porter darinya dan teman-temannya, selalu Dito yang menjadi narahubung. Dan baru kali ini ia dilimpahkan tanggung jawab itu ketika Dito tidak menghubunginya dan memberi tahunya apa pun.
“Kata Dek Adi, Mas Dito minta saya menghubungi Mas Tama karena Mas Dito sedang ada pekerjaan di luar kota. Jadi selama di luar kota ini, saya diminta menghubungi Mas Tama untuk mengurus segala keperluan yang harus disiapkan sebelum kami berangkat,” ucap Ayana dengan suara halus tapi tegas.
“Oh. Nanti saya coba konfirmasi lagi ke Dito kalau begitu. Dia nggak menghubungi saya sama sekali soalnya. Jadi ada keperluan apa, ya?”
“Itu saya mau minta nomor rekeningnya Mas Tama untuk transfer biaya tiket masuk. Kemudian saya juga minta ijin untuk memasukkan nomor Mas Tama di grup kami, karena selama ini hanya Mas Dito yang masuk di grup,” jelas Ayana.
Tama dan rekan-rekannya yang tergabung dalam grup pecinta alam sekaligus menjadi porter mendaki memang hanya akan memasukkan salah satu perwakilan dari mereka untuk masuk dalam grup diskusi pendakian. Dan yang sering menjadi narahubung adalah Dito. Sehingga ketika ada seseorang yang menghubunginya dan memintanya untuk bergabung dalam grup diskusi, ia merasa asing.
“Kenapa nggak melalui chat saja?” Tama heran dengan jalan pikiran Ayana. Jaman sekarang sudah didukung dengan berbagai aplikasi perpesanan yang memudahkan seseorang untuk saling komunikasi, tetapi mengapa perempuan ini rela membuang-buang pulsanya hanya untuk menghubungi dirinya?
“Maaf ya mas jika mengganggu,” ucap Ayana pelan. Ia merasa tak enak hati.
“Saya tadinya juga sudah hendak mengirim chat ke Mas Tama, tetapi karena saya yang butuh dan ingin membicarakan hal penting makanya saya memutuskan untuk menelepon Mas Tama langsung. Saya merasa lebih sopan jika berbincang melalui telepon. Apa saya matikan saja sambungan teleponnya ya, mas? Saya takut mengganggu.”
Tama menggeleng. Dalam benaknya ia kagum dengan pola pikir Ayana. Heh, padahal baru saja ia mengejek pola pikir Ayana yang menurutnya ribet itu.
“Ehm, nggak perlu. Saya kirim nomor rekening saya melalui WA saja ya. Dan untuk memasukkan nomor saya dalam grup tidak masalah,” jawab Tama.
“Baik, mas. Terima kasih ya, mas. Mohon maaf jika mengganggu. Kalau begitu saya tutup teleponnya, ya. Assalamu’alaikum,” tutup Ayana.
“Wa’alaikumsalam,” balas Tama.
“Siapa?” tanya Yanuar dengan kekepoannya yang sudah melekat dalam jiwa.
“Anak Surabaya,” jawab Tama singkat.
Yanuar mengernyitkan dahinya. Ia tampak bingung. Namun melihat Tama yang tidak memberikan penjelasan membuatnya segera memasang wajah ke mode biasa kembali.
“Dari perbincangan kamu sih bukan seseorang yang spesial,” celetuk Yanuar.
Tama mengabaikan Yanuar dan memilih fokus pada handphone-nya yang baru saja menerima pesan. Ia membuka pesan tersebut.
+62 81 917 xxx xxx
Assalamu’alaikum, mas.
Saya Ayana yang baru saja menghubungi Mas Tama.
Mohon maaf, apakah Mas Tama bisa untuk segera mengirimkan nomor rekeningnya? Tadi Mas Dito berpesan untuk segera mengirimkan uang karena nanti sore akan melakukan pendaftaran.
Terima kasih
Tama segera membalasnya dan mengirimkan nomor rekeningnya. Tak lupa, ia juga menyimpan nomor Ayana.
Setelah nomor itu tersimpan, tampak sebuah foto seorang punggung perempuan dengan tas carrier warna hitam di punggung, kerudung warna hijau botol dengan pemandangan gunung yang hijau menyegarkan mata. Jika Tama tidak salah mengingat, gunung yang menjadi objek penglihatan gadis itu adalah Gunung Welirang. Dan, foto itu diambil di puncak Gunung Pundak.
Ah, jadi gadis ini sudah sering mendaki gunung. Batin Tama.
“Nggak masuk kantor, Tam? Sudah jam satu lebih dua menit,” tegur Yanuar membuyarkan fokus Tama pada foto profil gadis bernama Ayana itu.
Tama segera menyimpan handphone-nya pada saku celana kainnya. Ia akan menghubungi Dito nanti dijam pulang kantor untuk menanyakan tanggung jawab yang baru saja diserahkan padanya yang tanpa konfirmasi dulu itu.
“Kamu habis teleponan dan kirim chat dengan siapa sih, Tam?” kepo Yanuar. Ia masih belum menyerah untuk mencari tahu orang yang menghubungi Tama itu. Orang yang membuat Tama menjadi fokus dengan handphone padahal Tama sangat jarang memegang handphone jika tidak untuk urusan komunikasi dan membunuh kebosanan seperti tadi.
“Kepo,” jawab Tama.
Ia segera berjalan lebih cepat dan mengabaikan Yanuar yang memasang tampang ingin menampol dirinya.