22. Pengandaian

1536 Kata
Tas carrier dengan berbagai ukuran dan warna berdiri gagah di hadapan para mahasiswa yang ingin menaklukkan Gunung Semeru. Di tengah sinar matahari yang mulai terik, mereka sibuk dengan barang-barang yang akan dimasukkan ke dalam carrier. Ada sleeping bag, matras, jas hujan, baju, kebutuhan pribadi, mukenah, sarung, kaos kaki tebal, sarung tangan, kupluk, head lamp, beberapa camilan, dan botol air mineral berukuran 1,5 L. “Matrasnya boleh digulung dan disimpan pada saku carrier atau boleh juga digunakan sebagai kerangka di carrier, ya,” instruksi Adi dengan suara yang cukup lantang. Ia memberikan contoh dengan menggulung matras kemudian ia letakkan melingkar di dalam carrier sebagai kerangka agar carrier dapat berdiri dengan kokoh. “Untuk carrier yang ada penyimpan atau ruang di bagian bawah, sleeping bag-nya bisa disimpan di bagian itu. Selain untuk memudahkan menyimpan dan mengambil, sleeping bag diletakkan di bagian paling bawah karena memang penggunaannya masih saat kita camping, jadi tidak akan mengganggu selama kita memerlukan beberapa barang yang lebih urgent. Setelah sleeping bag, bisa diletakkan baju ganti ya. Jika perlu, baju gantinya dilapisi dengan plastik karena dikhawatirkan hujan atau kabut tebal melintas,” jelas Adi kembali. “Dan ingat, jangan bawa baju terlalu banyak. Bawa baju yang ringan tapi hangat itu lebih baik dari pada tebal ternyata malah menyerap dingin!” tegas Adi. Semuanya mematuhi apa yang Adi jelaskan. Mereka fokus dengan barangnya masing-masing. “Untuk bajunya agar tidak memakan banyak tempat, bisa digulung ya mbak dan adek-adek,” ucap Rizki. Semuanya serempak mengiyakan dan mengangguk. Mereka kembali sibuk dengan barang-barangnya. “Untuk barang yang berat, seperti jiregen air, tenda, dan nesting bisa diletakkan di bagian tengah carrier, ya. Hal itu bertujuan agar bebannya tidak hanya ditopang oleh bahu saja tetapi juga didukung oleh pinggul terutama bagian pinggang dan juga paha.” “Dan untuk alat makan, bisa diletakkan di bagian tengah juga ya. Pokok benda-benda yang ringan diletakkan di bagian tengah terutama pada sisi yang menjauhi punggung.” Adi dan Rizki menjelaskan secara bergantian tentang posisi penataan barang yang tepat. “Kemudian untuk head lamp dan jas hujan diletakkan di bagian mana, mas?” interupsi Fatimah. “Untuk head lamp, obat-obatan, makanan ringan, dan jas hujan bisa diletakkan di bagian paling atas sendiri ya. Jadi, bagian paling atas itu khusus untuk barang-barang penting dan mendesak,” ucap Rizki dengan lantang. Mereka kembali sibuk. 15 menit kemudian, tas carrier mereka sudah berdiri kokoh. Warna carrier yang beragam, membuat semangat mereka mulai membara. “Untuk jaketnya bisa dipakai langsung, ya. Tidak perlu disimpan dalam carrier karena saat kita turun di stasiun Lawang nanti, jeep sudah langsung menunggu. Kita camp di Ranu Pani nanti malam dan besok pagi kita mulai check in, pengarahan, dan memulai pendakian. Carrier-nya semua ada ruang terpisah di bagian bawah kan?” Mereka semua mengangguk. “Bagus. Jadi nanti kita tidak perlu bongkar carrier untuk mengambil sleeping bag.” “Nanti kita kumpul di kampus dulu atau langsung di Stasiun Wonokromo, mas?” tanya Aji. “Di stasiun Wonokromo, ya. Kalau bisa jam lima sudah di stasiun. Jadi kita masih bisa sholat Maghrib di mushola stasiun karena kereta berangkat pukul enam kurang. Dan pastikan jangan berangkat terlalu mepet dengan waktu maghrib karena biasanya jalanan cukup padat di jam-jam seperti itu, jamnya orang pulang kerja,” peringat Rizki. “Jika tidak ada yang ditanyakan, mbak-mbak dan adek-adek boleh pulang ke kos atau rumahnya masing-masing. Istirahat. Dan pastikan jangan lupa untuk makan,” ucap Adi. “Lalu apa kita tidak ada acara makan malam, mas?” interupsi Angga. Mendengar istilah yang digunakan oleh Angga membuat yang lainnya menggoda Angga. Sedangkan yang digoda berusaha menjelaskan bahwa maksudnya adalah apakah mereka tidak ada agenda makan malam sedangkan mereka berangkat sebelum maghrib. “Untuk makan malamnya dilakukan di Ranu Pani, ya. Porternya menyediakan nasi bungkus untuk kita,” jawab Rizki. Semuanya pun mengangguk paham. Acara kumpul pagi itu untuk packing telah selesai. Fatimah, Aji, dan Angga mulai menggendong carrier-nya dan pamit undur diri terlebih dahulu. Sedangkan Ayana, Fitri, Rahma, Adi, dan Rizki masih bertahan di gazebo biologi. “Kemarin sudah transfer kan ya, mbak?” tanya Adi memastikan. “Iya, sudah kok, dek. Sudah dikirimi bukti pendaftarannya juga.” Adi mengangguk. “Oh, iya. Tadi lupa membahas surat keterangan sehat ya?” sahut Fitri. Adi menepuk dahinya pelan. “Waduh, aku lupa. Kalau kita sih masih bisa ngurus di klinik kampus. Sedangkan adek-adek gimana? Takutnya rumah mereka jauh dari puskesmas atau klinik dokter.” “Segera informasikan di grup saja, dek. Atau coba ditelepon, siapa tahu mereka waktu di jalan sadar kalau handphone-nya ada yang telepon,” saran Rahma. Adi pun mencoba menjalankan saran dari Rahma. Fatimah dan Aji menerima panggilannya. Mereka akan segera mengurus surat keterangan sehat. Sedangkan Angga tampaknya menyimpan handphone-nya di carrier atau mungkin sedang dalam mode silent sehingga ia tidak menyadari jika Adi menghubunginya. Mereka berlima kemudian berangkat bersama ke klinik kampus yang terletak di jajaran ruko depan kampus. Setelah dites beberapa hal dan diberikan pertanyaan, mereka mendapatkan surat keterangan sehat. “Mbak, nanti aku sama Adi naik dari Stasiun Sidoarjo Kota, ya. Jadi kita mau nitip adek-adek,” ucap Rizki saat mereka sudah berada di luar klinik. “Iya, dek. Pasti akan kita jaga. Lagian kan kita satu rombongan, jadi pasti akan saling menjaga satu sama lain,” jawab Ayana meyakinkan. “Oke, mbak. Pokoknya saling kabar-kabar saja ya, nanti.” “Siap.” “Oke. Kalau gitu kita duluan ya, mbak. Sudah mau masuk kelas soalnya,” pamit Adi. “Iya, dek.” Adi dan Rizki berboncengan. Carrier mereka, mereka titipkan pada ruang kesekretariatan himpunan mahasiswa jurusan sehingga mereka dengan mudah dan cepat melesat pergi meninggalkan klinik kesehatan kampus. Sedangkan Ayana, Fitri, dan Rahma membawa tas itu kemana-mana, sudah seperti kura-kura ninja. “Sudah sarapan?” tanya Fitri. “Belum. Mau beli makan dulu?” “Boleh. Beli soto di belakang kampus, yuk,” ajak Ayana. “Carrier-nya ditaruh di kosmu saja dulu ya, Ay.” “Boleh. Biar kita nggak kesusahan bawa tas sebesar ini kesana kemari.” Ayana dibonceng oleh Fitri menuju ke kosnya. Sedangkan Rahma mengendarai motor seorang diri. Mereka bertiga sudah tiba di warung tenda yang menjual soto ayam khas Lamongan. Saat ini mereka sedang menunggu pesanannya disiapkan. “Ngomong-ngomong ya Ay, kamu sudah ijin ke bapak kamu?” tanya Fitri dengan wajah serius tetapi tangannya sibuk memainkan sedotan untuk jeruk hangatnya. Ayana menghela napas. Tampak wajahnya lesu. “Aku hanya ijin ke ibu dan abang. Kemungkinan besar, ibu pasti akan bilang ke ibu,” jawab Ayana dengan tertunduk lesu. “InsyaAllah nggak masalah, Ay. Yang penting kamu sudah ijin.” Fitri meyakinkannya. Ayana menanggapinya dengan anggukan kecil. Wajahnya juga masih lesu. Jika mengingat tentang bapaknya, pasti Ayana akan sedih. “Sudah dong, mbak. Kan kita mendaki buat refreshing, jangan pasang wajah murung gitu.” Rahma pun ikut nimbrung menyemangati. “Iya. Aku pasti akan menikmati pendakian kita ini nanti. Tetapi entahlah, setiap bahas tentang bapak aku selalu merasa seketika menjadi sensitif.” “Wajar sih, Ay. Kamu dan bapak kan dekat banget, dan ketika hubungan kalian renggang seperti ini pasti rasanya asing.” Ayana berdeham menyetujui. Benar, ia merasa asing dengan hubungan antara dirinya dengan bapaknya. “Sarapan dulu, yuk. Sudah mau setengah 11. Kasihan cacing-cacing di perut sudah minta jatah energi,” ajak Rahma. Mangkuk soto mereka baru saja diantarkan oleh istri sang penjual soto. Mereka mulai menikmati soto yang masih mengepulkan asap itu perlahan. Menikmati soto dalam kondisi panas memang nikmat, tetapi lebih nikmat ketika tingkat kepanasannya mendekati hangat. “Kira-kira porternya ada yang perempuan nggak ya?” tanya Rahma random. Fitri mengedikkan bahunya. Ia tidak tahu. Yang ia tahu hanya Dito dan Tama yang bergabung dalam grup diskusi mereka. “Kayaknya cowok semua deh. Seingatku, Dek Adi pernah bilang kalau semua porternya cowok,” jawab Ayana. “Kenapa memangnya, dek?” “Nggak apa-apa, sih. Ya siapa tahu ada porter cewek,” kata Rahma. “Tapi kalau cowok malah seru tahu nggak sih. Siapa tahu usianya nggak jauh beda dari kita. Dan yang paling menguntungkan, siapa tahu nanti ada yang nyantol dengan kita,” celetuk Fitri dengan centil. Rahma menanggapinya dengan tawa, sedangkan Ayana hanya menggeleng tak habis pikir. “Kenapa? Kan nggak ada yang salah. Jodoh kan bisa ketemu di mana saja,” argumen Fitri. “Iya, sih. Tapi kok aku agak sangsi, ya. Mungkin kebanyakan dari mereka sudah menikah,” ucap Ayana tak yakin. “Aku kan iseng-iseng buka foto profil Mas Dito dan Mas Tama, ya. Kurasa mereka belum menikah, soalnya dari wajah-wajahnya masih usia belum menikah,” sahut Rahma. “Jangan percaya dari tampilan wajah saja, Ma. Kadang yang kelihatan lebih muda dan sedap dipandang itu malah yang sudah menikah,” ucap Fitri. “Kenapa tiba-tiba bahas itu, sih. Kalau memang jodoh kan nggak kemana. Sudah ayo sotonya dimakan lagi, keburu dingin,” peringat Ayana. “Kan berandai-andai saja, Ay. Siapa tahu diijabah sama Allah,” tanggap Fitri. “Hush. Kan nggak boleh berandai-andai, Fit. Boleh merangkai mimpi tapi jangan menaruh harapan terlalu besar deh.” “’Iya, sih. Ish, kenapa juga aku tadi bahas tentang mas-mas porter,” ucap Fitri. Ayana dan Rahma saling memandang. Kemudian mereka serempak menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya yang terkadang unik. Jika ada yang kurang tepat, jangan segan-segan untuk mengingatkan ya. Terima kasih :)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN