Tama, Dito, Husni, dan Akbar sudah berkumpul di base camp milik Husni sejak pukul empat sore. Mereka sedang memasukkan tenda, nesting, logistik, beberapa pakaian ganti, dan perlatan penting lainnya ke dalam carrier berukuran 60 Liter.
“Bar, kamu sudah pesan nasi penyetan belum?” tanya Dito disela-sela aktivitas mereka memasukkan barang dalam carrier.
Akbar yang sedang sibuk menarik dan melonggarkan tali ransel agar pas ketika digendong pun menolehkan antensinya ke arah Dito.
“Sudah. Nanti saat kita jemput rombongan sekalian ambil di warungnya Bu Har. Biar nasinya masih hangat dan enak dimakan,” jawab Akbar sambil kembali fokus dengan tali carrier warna abu.
Dito mengangguk. Hatinya sudah lega dan tenang. Semua persiapan sudah siap. Ia berharap pendakian kali ini berjalan dengan lancar.
“Mereka nggak jadi naik angkutan umum?” tanya Tama. Ia sudah sering akan menanyakan pertanyaan itu ke Dito tapi baru saat ini akhirnya pertanyaan itu mampu ia keluarkan.
Mereka saat ini sudah duduk di gazebo dari bambu yang diletakkan di dekat pintu masuk base camp. Carrier berbagai warna berukuran 60 Liter berjajar di ujung gazebo. Persiapan sudah selesai dilakukan. Mereka memutuskan menunggu jeep menjemput dengan duduk dan berbincang di atas bambu yang ditata rapat itu.
“Kamu tega membiarkan mereka naik angkutan umum di jam-jam malam begini, Tam? Mereka juga nggak kenal medan daerah sini,” jawab Dito.
“Ada google maps,” sahut Akbar santai.
“Masalahnya bukan medan jalan, tapi kita kan nggak tahu mana orang baik mana enggak,” timpal Dito dengan raut kesal. Terkadang pemikiran teman-temannya terlalu santai.
Husni, Akbar, dan Tama membenarkan. Meskipun mereka—rombongan pendaki Gunung Semeru—sudah mengerti akan kehidupan, tetapi masalah orang jahat dan orang baik pasti tidak ada yang tahu—tidak dapat dilihat dalam sekali kedipan. Maka, mereka mengantisipasi adanya kejadian kriminal dengan menawarkan jeep untuk menjemput langsung di Stasiun Malang Kota. Setelah dipikir dan dianalisis, jika rombongan Surabaya turun di stasiun Lawang estimasi waktunya lebih lama. Hal itu yang membuat stasiun tempat turunnya rombongan diubah.
“Kereta mereka berangkat jam berapa?” tanya Husni sambil menghisap batang rokoknya. Ia juga menawarkan rokok itu ke yang lain, tetapi hanya Tama yang menolak. Ia sedang tidak ingin merokok. Ia juga bukan perokok aktif. Hanya sesekali jika ingin.
“Jam enam kurang. Jam 8.07 mereka sampai di stasiun Malang Kota.” Dito yang paling mengerti akan rombongan dari Surabaya karena perjalanan kali ini dipimpin oleh Dito langsung.
“Pak Parno ke sini habis Isya’?” sambung Dito.
Husni mengangguk. Ia fokus menikmati batang rokok yang terselip di jarinya. Kemudian mereka mulai membicarakan beberapa strategi dalam perjalanan pendakian nanti sambil menunggu rombongan pendaki tiba di stasiun.
Sedangkan di dalam kereta, rombongan pendaki calon penakluk Gunung Semeru sedang asyik berbincang mengenai tugas-tugas kampus yang terkadang tidak masuk di akal, saking banyaknya.
“Mbak Ayana kenapa berani ambil topik Sistematika Tumbuhan?” tanya Adi penasaran. “Dosen ST kan galak dan menakutkan,” lanjutnya.
Ayana tersenyum lebar. “Entah. Aku juga nggak tahu asal-usulnya, tetapi semua mahasiswa bimbingan Bu Puspa ambil topik tentang tumbuhan, dek. Jadi ya sudah,” jawabnya riang. Ia merasa tidak ada masalah dengan topik skripsi yang ia ambil.
“Emang dosen ST seseram apa sih, mbak, mas?” Fatimah ikut bergabung dalam perbincangan. Ia belum mengampu mata kuliah ST sehingga pengetahuannya tentang dosen pengampu mata kuliah tersebut masih nol.
“Nggak seserem itu juga sih menurutku. Hanya beliau-beliau itu tegas dan kadang memang ucapannya sedikit menendang hati. Beliau juga disiplin banget,” tutur Fitri.
“Bener. Terutama mengenai jam masuk. Jangan pernah masuk ke kelas ST jika sudah melebihi jam masuk,” pesan Rahma.
“Intinya jangan buat masalah sih, dek,” sahut Adi.
Mereka saat ini sudah berkumpul berdelapan. Sebelumnya hanya berenam, dan setelah kereta melewati Stasiun Sidoarjo Kota, mereka semua akhirnya berkumpul.
“Dan kalau perlu persiapkan diri dengan kelompok terbaik untuk tugas proyek di akhir semester,” peringat Rizki.
“Yups. Tugas proyek ini menguras tenaga, pikiran, dan materi dek. Jadi, carilah anggota kelompok yang paling nyaman dan bener-bener bisa diajak kerja sama. Biar apa? Biar kalian nggak nahan beban seorang diri dan batin kalian dipenuhi oleh amarah yang terpendam,” petuah Ayana.
“Memangnya tugasnya berat banget ya, mbak?” Angga pun tak kalah penasaran akan topik perbincangan kakak tingkatnya.
“Sebenarnya nggak berat sih, dek. Karena tugasnya kan berjalan selama satu semester. Hanya perlu kesabaran agar apa yang kalian kerjakan itu berhasil dan tidak ada peluang untuk mengulang. Karena jika sampai mengulang, waduh rasanya ketar-ketir tak tenang,” ucap Adi menggebu.
“Emang punyamu mengulang, dek?” tanya Fitri.
“Iya, mbak. Untungnya masih ada waktu beberapa minggu sehingga herbariumku masih bisa kusiapkan lagi.”
“Herbarium itu yang awetan kering itu ya kak?” tanya Aji.
“Iya, dek. Herbarium lebih sering ditujukan untuk tumbuhan sih. Soalnya kalau hewan diawetkan kering kan nggak mungkin. Yang ada nanti baunya busuk. Selain itu, hanya tulangnya yang bisa diawetkan kering. Itu pun masih ada kemungkinan bakal berjamur,” jelas Ayana.
“Tumbuhan pun berkemungkinan berjamur, Ay. Kalau menyimpan dan proses saat pengeringan kurang tepat,” sahut Fitri.
Ayana menyetujui ucapan Fitri. Yang lain pun mendengarkan perbincangan tentang herbarium itu.
“Aku suka dan jatuh hati saat pertama kali lihat herbarium itu lho mbak, mas. Bagus gitu. Estetik. Kayak hiasan-hiasan di dinding gitu,” ucap Fatimah.
“Lihat waktu jaman ospek jurusan?” tanya Rizki.
“Iya, mas. Itu ternyata buatnya butuh perjuangan banget ya?”
“Iya, banget. Saranku, nanti ambil tumbuhan yang mudah dicari dan beda dari yang lain. Kemudian kalian keringkan sebaik mungkin agar hasilnya bagus.” Adi menyampaikan sarannya. Ia adalah salah satu mahasiswa yang mengalami drama ketika penugasan herbarium, maka ia tidak ingin membuat adik tingkatnya mengalami hal yang sama.
“Fungsinya sebenarnya buat apa sih, kak? Aku waktu itu juga nggak tahu bentuknya karena sakit waktu penjelasan materi herbarium,” kata Aji. “Dan berakhir mendapatkan hukuman saat ospek di bumi perkemahan. Aku diminta buat herbarium. Lha aku nggak tahu bentuknya kayak gimana jadinya ya aku kayak orang bingung gitu. Dan akhirnya dapat semprotan dari dewan keamanan deh,” curhat Aji.
Curahan hati Aji mengundang gelak tawa yang lain. Semprotan kata-kata pedas oleh dewan keamanan bukanlah hal asing ketika ospek jurusan berlangsung. Itu adalah hal biasa.
“Terus kamu nggak jadi diminta buat herbarium, dek?” tanya Rahma setelah ia berhasil mengontrol tawanya.
“Enggak, mbak. Soalnya waktu jalan-jalannya sudah habis. Sudah harus lanjut ke pos selanjutnya sebelum maghrib.”
“Jadi sampe sekarang belum tahu wujudnya?” Kali ini Fitri yang bertanya.
Aji menggeleng. Ia hanya pernah mendengar istilah itu dan bagaimana herbarium itu, tetapi ia belum tahu seperti apa bentukan dari herbarium.
“Cari di google lho banyak, dek,” celetuk Rizki.
“Iya, dek. Herbarium itu kan ada dua, kering dan basah. Kalau kering itu dengan metode dikeringkan tetapi bukan di bawah sinar matahari langsung. Sedangkan kalau basah, objek yang mau dibuat herbarium direndam dalam alkohol atau formalin dan diletakkan dalam wajah kaca” jelas Rahma.
“Jadi, misal kamu potong tumbuhan cabai ya. Itu kamu ambil dari ujung daun paling pucuk hingga batangnya sekitar 10 cm. Jika ada bunganya yang masih bertahan di pucuk tanaman, itu lebih baik. Terus kamu tata sedemikian rupa di atas lembaran koran. Daunnya harus kamu tata yang bagus, jangan sampai terlipat. Lalu koran yang sisi lain ditutupkan pada bagian tanaman itu. Langkah selanjutnya kamu selipkan koran itu di dalam lembaran kardus. Intinya, koran yang ada tanaman itu kamu jepit dengan kardus,” lanjut Ayana.
“Dan setiap hari harus dicek untuk mengetahui apakah tanaman yang mau kamu keringkan itu berjamur atau enggak,” sahut Fitri.
Adi tak kalah, ia juga ikut menimbrung dalam pembicaraan si herbarium itu. Tugas yang sedikit menjadi momok bagi mahasiswa jurusan biologi. “Itu cara sederhananya sih, dek. Kalau mau cara yang lebih modern juga bisa. Tetapi kami berusaha menggunakan cara yang mudah diterapkan.”
Yang lain mengangguk menyetujui. Angga, Aji, dan Fatimah menjadi pendengar yang baik. Mereka berusaha mencari banyak informasi tentang mata kuliah yang akan mereka dapatkan di semester lima itu.
“Terus habis itu diapakan hasilnya, mas?” tanya Angga. Kali ini ia juga tertarik dengan bahasan itu. Dari tadi ia hanya mendengarkan saja tanpa minat.
“Disimpan. Kan tujuan buat herbarium itu untuk koleksi spesimen dari berbagai jenis suatu objek. Misal tadi Mbak Rahma buat tanaman cabai, kan cabai nggak hanya satu jenis. Ada cabai rawit, cabai besar, cabai ijo, paprika, dan keluarga cabai yang lain. Pembuatan herbarium ini untuk koleksi dan sumber untuk mengumpulkan data.” Kali ini Rizki yang menjelaskan.
Angga, Aji, dan Fatimah mengangguk.
“Terus ya mas, di semester dua kemarin kita kan buat herbarium basah. Apa di mata kuliah ST nanti juga bakal ada herbarium basah juga?” tanya Fatimah lagi.
“Ada. Jika nanti kalian ambil tumbuhan buah, kalian juga bisa buat herbarium basah khusus untuk buahnya saja. Tapi yang jelas nanti kalian ada praktikum lapangan kemudian diminta buat cari lumut. Lalu lumut itu kalian simpan dalam wajah kaca dan direndam dalam formalin atau alkohol kayak penjelasannya Rahma tadi,” jawab Fitri.
“Jadi di mata kuliah ST nggak hanya tugas proyek semester tetapi juga ada praktikum lapangannya juga, mbak?”
“Iya. Makanya siapkan banyak materi,” jawab Ayana sambil cekikikan.
“Tapi, praktikum lapangan itu menurutku juga salah satu sarana liburan sih, dek. Mata kalian akan dimanjakan oleh pemandangan tempat kalian praktikum. Alam kan nggak pernah mengecewakan manusia,” jawab Rizki bijak.
“Bener. Apalagi alam kan labroratorium terbesarnya biologi, jadi nikmati semua tugas atau apa pun yang diberikan dosen kepada kita. Pasti nanti saat mengerjakan skripsi seperti saat ini, kalian akan merindukan masa-masa mengerjakan tugas dan juga jalan-jalan ke alamnya,” tutur Rahma.
“Jadi pendakian kali ini salah satu langkah buat mbak-mbak biar nggak penat dari dunia perskripsian?” tebak Fatimah sambil memandang ke arah kakak tingkatnya itu—ke sebelahnya.
Saat ini mereka duduk dengan Ayana dan Fitri berdampingan kemudian di hadapan mereka ada Rahma dan Fatimah. Sedangkan Adi, Rizki, Angga, dan Aji duduk di kursi berhadapan di sisi yang berbeda dengan para perempuan.
Ayana, Fitri, dan Rahma kompak mengangguk kuat. “Pingin melihat hijau-hijauan di alam bebas, dek. Kalau di kampus kan hijau-hijauannya hanya pohon-pohon di sisi jalan kampus itu saja,” jawab Fitri mewakili Ayana dan Rahma.
Mereka kemudian melanjutkan perbincangan yang lain. Topik pembicaraan yang mereka angkat lebih banyak tentang dosen yang harus diwaspadai. Hingga tak terasa dengan mengobrol tiada henti, mengantarkan mereka sampai di Stasiun Malang Kota tepat pukul 8.07.
Terkadang memang waktu berjalan tak terasa ketika diisi dengan aktivitas yang menyenangkan seperti mengobrolkan topik yang memang menyenangkan atau pun melakukan kegiatan yang lain.