Bismillah.
Assalamu’alaikum, readers.
Terima kasih karena sudah setia membaca cerita ini, ya. Jangan lupa tap love, berikan saran dan komentar jika ada sesuatu yang salah, dan bagikan ke teman-teman yang lain untuk ikut membaca cerita ini.
Terima kasih.
Penumpang Kereta Api Lokal Penataran yang hendak turun di Stasiun Malang Baru telah bersiap dengan berbaris rapi di koridor gerbong kereta setelah masinis mengumumkan bahwa beberapa menit lagi kereta akan berhenti di Stasiun Malang. Ayana dan rombongan pendaki yang lain juga sudah bersiap dan ikut dalam barisan itu.
“Dek, sudah menghubungi Mas Dito kalau kita akan turun?” tanya Ayana. Ia menoleh ke arah Adi yang berdiri di belakangnya.
“Sudah, mbak. Mas Dito dan porter yang lain sudah menunggu di depan stasiun. Di dekat Taman Trunojoyo,” jawab Adi.
Ayana hanya mengangguk. Dalam hati ia bertanya-tanya, Taman Trunojoyo letaknya di sebelah depan mananya stasiun dan bentuknya seperti apa.
Mereka sudah berada di sisi jalur kereta api. Berjalan berbaris dengan penumpang lain menuju lorong bawah tanah yang sengaja didesain agar penumpang yang akan naik atau turun dari kereta dalam kondisi aman, tidak terjebak oleh kereta yang akan melintas. Setelah itu, mereka menginjak satu per satu anak tangga untuk menuju gedung stasiun.
“Dek, emang Taman Trunojoyo di sebelah mananya stasiun?” tanya Fitri. Pertanyaan itu juga mewakili ketidaktahuan anggota rombongan yang lain.
Adi memasang cengiran. Ia menunjukkan layar handphone-nya yang menampilkan sebuah peta.
Rombongan pun mendengus kesal. Mereka kira Adi tahu lokasi titik temu antara mereka dengan para porter, nyatanya sama saja.
Berjalan ke luar dari area stasiun, mereka berbelok ke kanan hingga melintasi depan pintu stasiun. Masih sedikit lurus, kemudian mereka menyeberang jalan bersama.
Tampak tiga patung singa besar yang merupakan identitas dari Kota Malang yaitu Ongis Nade atau Singo Edan di sisi taman—mungkin itu adalah bagian depan sebuah taman. Kemudian ada tulisan Taman Cerdas Trunojoyo yang terlihat di dalam taman. Banyak pohon besar yang tertanam rapi di dalamnya, jika siang pasti sangat teduh dan sejuk. Didukung dengan udara Malang yang sudah segar, pasti semakin nyaman jika digunakan sebagai tempat untuk berteduh dan melepas penat.
"Oh, ini toh tamannya," gumam Ayana dalam hati.
Setelah melintas di hadapan tiga patung singa itu, mereka masih terus berjalan hingga sampai pada jalan beraspal di sisi taman. Terlihat sebuah mobil jeep terparkir di bahu jalan.
“Oh, yang jeep warna hitam itu ya, mas?” tanya Adi di sambungan telepon. Sepertinya ia sedang berkomunikasi dengan Dito.
“Oke, mas. Kami jalan ke sana,” ucap Adi selanjutnya.
“Jeep hitam itu yang akan mengantarkan kita ke Ranu Pani,” ucap Adi pada rombongan sambil menunjuk ke arah jeep yang sedang terparkir.
Adi memimpin jalan ke arah jeep. Yang lain mengikuti di belakang. Saat tiba di samping jeep—tepat sebelah trotoar, mereka disambut oleh empat laki-laki yang cukup sedap dipandang.
Tidak ada satu pun yang berambut gondrong, semua potongan rambutnya normal. Padahal Ayana mengira bahwa porter yang akan memimpin dan mendampingi mereka nanti adalah laki-laki dengan rambut yang panjang. Dan dugaannya ternyata salah besar.
Mereka kemudian saling bertegur sapa dan memperkenalkan diri. Tama yang melihat Ayana dan Fitri cukup terkejut, ternyata mereka berdua—mahasiswa yang pernah ia amati bersama Yanuar kala sholat Dhuhur di mushola fakultas—ikut bergabung dalam pendakian kali ini.
Tama sedikit terpana dan ada rasa ketertarikan ketika melihat wajah Ayana dari dekat. Jika pertemuan terakhirnya, ah bukan pertemuan—hanya sekedar memandang dari jauh, ia sudah terpesona akan wajah manis dan imut Ayana, maka malam ini ia dapat melihat lesung pipi yang muncul ketika perempuan itu tersenyum. Semakin membuat Ayana tampak manis dan membuat yang memandang tidak akan bosan.
“Hai, Mas Tama. Aku yang waktu itu telepon mas,” ucap Ayana dengan ramah saat berhadapan dengan Tama. Ia juga memamerkan kedua lesung pipi di pipinya yang tirus saat berjabat tangan dengan lelaki di hadapannya. Tampak mimik muka tak enak hati atas tindakan spontannya kala itu.
“Oh, hai,” balas Tama singkat. Sesungguhnya ia bingung atas keramahan Ayana di pertemuan mereka kali ini sehingga ia hanya mampu menjawab dengan kaku.
Ayana kemudian melanjutkan berjabat tangan dengan porter yang lain. Setelahnya, ia bergabung dengan rekan-rekan rombongannya.
Tama terus memerhatikan Ayana hingga perempuan itu duduk lesehan di trotoar jalan yang dilapisi tikar.
Akbar membagikan nasi bungkus dengan lauk ayam goreng kepada semua orang yang sudah duduk manis di atas tikar yang terbentang di trotoar. Untungnya Hasbi berinisiatif meminjam tikar pada salah satu pedagang makanan di jalanan itu, sehingga mereka bisa makan dengan nyaman.
Sambil menikmati nasi lalapan ayam, mereka saling bertukar informasi tentang pendakian, kesibukan masing-masing, hingga merambat ke kondisi kota tempat mereka berasal.
“Jaketnya bisa langsung dipakai, ya. Udara malam cukup menusuk tulang. Setelah ini carrier kalian bisa dijadikan satu di dekat jeep untuk segera ditata,” ucap Dito dengan cukup lantang tetapi tidak sampai mengganggu orang lain di sekitar mereka.
"Jika perlu, pake sarung tangan dan kerpus juga," lanjutnya.
Mereka baru saja menghabiskan nasi bungkusnya masing-masing. Dan dilanjutkan dengan meneguk air putih yang sedikit dingin karena terpengaruh kesejukan udara Kota Malang di malam hari.
Rombongan dari Surabaya mengangguk mengerti. Ayana mengambil jaket yang tadi ia letakkan di sampingnya dan mengenakannya. Mengangkat carrier, lalu ia menjinjingnya hingga titik perkumpulan para carrier yang lain.
“Jangan dibiasakan begitu, kasihan bahu kamu. Mending dicangklongkan pada bahu dan ditumpukan pada punggung,” pesan Tama yang tiba-tiba berdiri di samping Ayana.
Ayana seketika terkejut saat mendengar suara tepat di sampingnya. Ia mengelus d**a dan mengatur napasnya agar kembali tenang.
Tama menggaruk kepalanya yang dilapisi topi warna milo. Ia juga meringis. Ia merasa bersalah karena berhasil membuat anak perempuan orang terkejut atas perhatian kecil yang dirinya juga tak menyadari akan sikapnya itu.
“Maaf jika mengagetkan,” ucap Tama.
“Kalau pingin kenal anak orang, nggak harus buat jantungan juga kali, Tam,” lanjutnya dalam hati.
“Maaf ya, mas. Aku beneran kaget karena tiba-tiba ada suara di sampingku, padahal tadi nggak ada siapa-siapa,” respons Ayana ikut tak enak hati juga.
“Mbak Ay, ayo sini. Kita selfie dulu. Mau kirim ke Netizean ini,” panggil Rahma.
Tama yang sudah hendak kembali mengucapkan sesuatu pada Ayana pun urung.
“Aku ke sana dulu ya, mas,” pamit Ayana.
Tama hanya mengangguk saja. Ia juga memilih meninggalkan tumpukan carrier untuk bergabung dengan rekannya sebelum mereka mulai menata carrier di atas jeep.
Ayana, Fitri, dan Rahma tampak heboh di depan kamera handphone. Menciptakan sedikit keberisikan dan membuat beberapa orang memperhatikan tiga perempuan itu.
“Sudah banyak fotonya. Aku sungkan* dilihatin banyak orang,” ucap Ayana. Ia kemudian mendaratkan pantatnya pada tikar dan duduk di sebelah Fatimah yang tampak sibuk dengan handphone-nya.
Fitri dan Rahma mengikuti jejak Ayana. Mereka bertiga akhirnya fokus pada layar handphone Fitri untuk melihat hasil jepreten mereka tadi.
“Jangan yang ini. Ya ampun wajahku. Aib. Sudah banyak aib yang Netizean tertawakan akibat poseku yang nggak banget itu,” ratap Ayana dengan heboh.
Kehebohan Ayana mampu membuat para lelaki memerhatikan tingkah heboh perempuan itu. Tidak hanya itu, orang lain yang juga sedang menikmati malam di sekitar mereka pun ikut menoleh ke asal suara.
“Mbak, dilihatin sama mas-mas,” tegur Fatimah pelan.
Ayana pun mendongak. Ia memperhatikan sekitarnya. Dan benar apa yang disampaikan Fatimah padanya. Ia kemudian mengangguk sopan dan memasang senyuman canggung. Ia memilih menunduk karena malunya telah menumpuk banyak.
“Baru saja ngomongin aib, eh secara nggak langsung kamu sudah menunjukkan aibmu, Ay,” komen Fitri.
Ayana hanya menghela napas besar. Betapa bodohnya ia karena keceplosan berbicara dengan suara lantang.
Ayana fokus meratapi kecerobohan dirinya yang terkadang tidak mampu mengontrol suaranya. Sedangkan Fitri dan Rahma kembali asyik memilih hasil selfie yang terbaik kemudian mengirimkannya pada grup w******p Netizean Budiman.
“Mbak, ayo kita naik ke jeep. Semua carrier sudah tertata,” ajak Fatimah pada ketiga kakak tingkatnya.
Ayana beranjak dari duduk lesehannya dan diikuti dengan dua sahabatnya yang lain. Tak lupa ia membersihkan debu atau tanah yang mungkin menempel pada celananya.
“Sudahlah, Ay. Nggak perlu pasang wajah merana gitu,” canda Fitri.
Mereka berjalan jajar tiga menuju jeep.
“Aku isin*, Fit,” rengek Ayana.
“Kenapa harus malu, mbak? Dengan sampeyan bersikap kayak tadi itu menunjukkan ke dunia bahwa Mbak Ayana yang sebenarnya itu seperti itu. Dari pada sampeyan pasang wajah kalem, eh ternyata aslinya nggak kayak gitu,” sahut Rahma dengan tawa yang menyertai.
“Bener kata Rahma. Jadi yang lain tahu kalau kamu itu kayak gitu. Kalau mereka ngira kamu itu anaknya kalem dan ternyata saat pendakian berisik lalu malah disinisi gimana?” Fitri ikut membenarkan teori yang Rahma sampaikan.
Ayana hanya menanggapinya dengan anggukan. Ia juga menampilkan senyum kakunya. Apa yang sahabatnya sampaikan memang benar. Lebih baik ia menunjukkan bagaimana dirinya yang sesungguhnya saat ini.
Jika rekan-rekannya tahu bahwa Ayana seperti ini sejak awal, mereka tidak akan terlalu berharap lebih akan kekaleman Ayana. Sehingga penilaian yang belum sampai terpatri dalam hati masih dapat diubah.
Catatan:
*Sungkan (Bahasa Jawa): tidak enak hati
*Isin (Bahasa Jawa): malu