25. Perhatian Kecil

1691 Kata
Assalamu’alaikum, readers. As always, beberapa info mengenai perjalanan ini hanya sepengetahuanku ya. Aku berusaha menggali kembali ingatan saat aku dulu mendaki Semeru hehehe. Sudah sejak 2017 dan sekarang sudah 2021, mungkin ada beberapa aturan yang sudah berbeda. Jadi harap maklum ya. Jikalau ada yang kurang tepat, bantu aku untuk membenarkan dengan memberikan komentar yang baik. Terima kasih. Happy reading. -With Love, Bilbul17- Udara malam Kota Malang menusuk tulang manusia-manusia yang berdiri di atas jeep. Jaket gunung yang digadang-gadang memberikan kehangatan dan anti-air nyatanya masih mampu ditembus oleh dinginnya udara hingga ke dalam tulang. “Dingin banget,” gumam Ayana pelan. “Iya, mbak. Kayaknya juga masih jauh,” jawab Rahma. Tubuh Rahma yang kecil dan kurus, membuatnya lebih menggigil dari pada yang lain. Mereka berdiri berdampingan. Menikmati pemandangan Malang di malam hari yang diisi dengan lampu-lampu jalan berwarna kuning. Mereka sudah menempuh perjalanan cukup lama. Dan saat ini mereka mulai melewati kawasan perkebunan apel yang pencahayaannya lebih sedikit sehingga jalan tampak gelap, tetapi tidak menghalangi netra untuk dapat melihat pohon apel yang berjajar. “Di sini sudah memasuki area perkebunan apel warga sehingga pencahayaan lebih minim. Apalagi di malam hari sangat jarang orang yang melintas. Mungkin hanya beberapa pendaki dan warga yang melintas, seperti kita yang memang ingin mengejar pendakian dengan segera sampai di Ranu Pani” jelas Dito. Yang lain menanggapinya dengan mengangguk. Mereka tampak menahan dingin dengan mengeratkan jaket pada tubuh. Ada pula yang berusaha menahan getaran pada tubuh saking dinginnya udara. Musim kemarau memang membuat udara malam semakin menusuk. Jalanan mulai terasa menanjak dan berbelok tajam. Mereka semua berpegangan pada jeep. Ada pula yang berpegangan pada rekan di sampingnya. Jalanan semakin gelap. Jeep saat ini sedang melintasi hutan. Ayana merasa sedikit parno, takut melihat sesuatu yang tidak-tidak. Namun, Dito berusaha memecahkan suasana dengan beberapa informasi dan guyonan. “Kalau capek boleh duduk saja, rek,” pesan Akbar. Rombongan para perempuan memilih duduk. Saling berhimpitan, untuk menyalurkan panas tubuh. Memang lebih nyaman jika berdiri, tetapi nyali mereka tidak cukup kuat untuk melihat sesuatu yang mungkin akan mengganggu. Terutama Ayana yang gampang parnoan dengan sesuatu yang berbau mistis. Mungkin jika siang, ia tidak akan menyia-nyiakan pemandangan yang terhampar di depan mata. Namun, kegelapan malam sedang menyembunyikan keindahan itu. “Masih jauh ya, mas?” tanya Fitri sambil mendongak. “Kita belum melewati pos perbatasan antara Semeru dan Bromo. Jadi harus bersabar. Sekitar 10 menit lagi kita akan sampai di pos perbatasan, dan selanjutnya jeep akan menuju Rani Pani sekitar 20-30 menitan,” jelas Hasbi. “Sabar. Nanti saat sampai Ranu Pani, akan langsung kami buatkan minuman hangat. Kalian juga bisa segera berlindung pada sleeping bag yang kalian bawa,” hibur Tama. Para perempuan hanya mengangguk. Sedangkan yang laki-laki hanya diam saja, tampak santai dan tidak terganggu dengan suhu udara yang rendah. Mungkin tubuh mereka lebih rentan terhadap dingin. “Kita saat ini sudah tiba di pos perbatasan antara Gunung Bromo dan Semeru. Jika siang, kita bisa menikmati pemandangan Gunung Bromo dan juga Bukit Teletubbies. Jika memungkinkan, kita bisa ambil foto saat kembali ke kota,” ucap Dito. Ayana bersorak senang. Ia tidak sabar melihat pemandangan Gunung Bromo dan Bukit Teletubbies yang berjajar. “Sabar, Ay. Mendaki Semeru saja belum, kamu kok sudah girang,” kata Fitri. “Ya buat motivasi, Fit. Aku kan belum pernah ke Bromo, jadi besok foto jarak jauh dulu. Nanti kalau ada kesempatan bisa deh foto dari dekat,” jawab Ayana. “Kenapa nggak sekalian ke Bromo saja saat turun?” tanya Akbar. “Waktunya yang nggak ada, mas. Kampus sudah memanggil-manggil. Adek-adek dengan laporan-laporan yang harus segera dirampungkan dan kami skripsi yang tidak bisa ditinggal terlalu lama. Takutnya kalau sudah asyik liburan, skripsi bakal terbengkalai,” sahut Rahma. “Bener itu. Dulu kalau sudah asyik mendaki, tiap bulan pingin mendaki terus. Sempat satu semester aku vakum dari kampus dan membuat skripsiku nganggur. Akhirnya karena desakan dari berbagai pihak membuatku sadar untuk segera menyelesaikan skripsi,” timpal Hasbi. “Emang mengerjakan skripsi itu selalu banyak cobaan ya, mas?” tanya Ayana. “Nggak juga sih sebenarnya jika kita sabar,” jawab Dito sambil tertawa puas. “Heem. Bener itu, mas. Kalau nggak ada stok sabar yang suangat banyak, mungkin banyak mahasiswa yang memilih meninggalkan skripsi.” Ayana ikut menyahuti dengan menggebu-gebu. “Soalnya di masa-masa skripsi itu memang masa yang penuh ujian. Bisa dari diri kita sendiri, dosen, atau lingkungan,” ucap Tama. Sangat tumben sekali dirinya ikut bergabung dalam perbincangan orang lain. Biasanya ia hanya menimpali sesekali. Namun tak apa. Ia sedang berusaha melawan diri untuk kembali membuka diri. Untuk kembali menjadi manusia sosial yang sesungguhnya. Tama yang tiba-tiba ikut bergabung dalam perbincangan pun mendapatkan perhatian penuh dari rekan-rekannya. Meskipun cahaya sangat minim, Tama masih dapat melihat tatapan keheranan teman-temannya itu. Tama pun mengabaikan. Ia pura-pura tidak tahu. Kemudian mereka melanjutkan obrolan tentang skripsi. Fatimah, Aji, dan Angga hanya menjadi penyimak obrolan para mbak dan mas. “Kita sudah memasuki pemukiman warga Desa Ranu Pane. Disekitar rumah warga, lahannya banyak ditanami berbagai sayuran. Ada kubis, daun bawang, bawang merah, kentang, dan sebagainya. Besok pagi saat kita dalam perjalanan menuju gapura untuk masuk area pendakian, kalian bisa melihat banyaknya sayuran yang warga tanam,” jelas Dito. Mata Ayana berbinar cerah. Ia sangat suka jika membahas tentang sesuatu yang dapat menyegarkan mata. “Nggak sabar menanti besok,” gumam Ayana. Ia bahkan melupakan hawa dingin yang semakin menusuk. Fitri dan Rahma pun sama tidak sabarnya menanti hari esok. Sepertinya perjalanan mereka akan menyenangkan. Niat hati untuk menyegarkan pikiran demi lancarnya otak untuk berpikir dalam rangka mengejarkan skripsi akan terwujud. Jeep berhenti di dekat pembatas besi untuk masuk area balai yang biasa digunakan untuk pendaki beristirahat. Semuanya segera turun. Para porter sibuk menurunkan carrier dengan dibantu oleh Adi, Rizki, Aji, dan Angga. “Terima kasih ya, pak. InsyaAllah kita sampai bawah sekitar jam 12-an. Kemudian dilanjutkan bersih diri mungkin sekitar dua jam. Jadi, kita bisa kembali ke Stasiun Malang maksimal setengah tiga dari sini,” ucap Dito sebelum supir jeep kembali. “Siap, mas. Nanti coba hubungi saja melalui telepon biasa, mas. Kadang-kadang ada sinyal. Tapi saya pastikan sebelum jam dua sudah sampai sini,” balas sang supir. “Oke, pak. Terima kasih ya.” “Iya, mas. Kalau begitu saya kembali dulu, ya,” pamit supir jeep. Jeep bergerak menjauhi area para pendaki beristirahat. Sedangkan rombongan mulai berjalan ke arah balai. Akbar dan Hasbi sudah menuju balai lebih dulu untuk mencari lokasi agar rombongan dapat beristirahat. Untungnya tidak bersamaan dengan liburan sekolah atau pun perkuliahan, sehingga mereka masih mendapatkan tempat yang luas untuk beristirahat. Dito berjalan ke arah Akbar dan Hasbi yang mulai sibuk menata matras. Rombongan lain pun mengikuti di belakangnya, bagaikan anak ayam yang tidak ingin kehilangan jejak induknya. “Matras kalian bisa mulai digelar berjajar di sini ya,” titah Dito. Ayana meletakkan carrier-nya di lantai balai yang berkeramik putih. Kemudian ia mengambil matras yang ia simpan di samping carrier. “Mbak, aku di sebelahmu ya,” pinta Rahma. “Iya, dek. Ambil matrasmu dan segera bentangkan di samping matrasku.” “Siap.” Rahma pun menjalankan amanat Ayana. Antara matras perempuan dan laki-laki dibatasi oleh carrier. “Kalau ingin ke kamar mandi, kamar mandi ada di sebelah sana,” tunjuk Akbar pada bangunan yang terletak di dekat kereta sampah. "Dan yang ingin mengisi daya baterai handphone bisa bergantian di stop contact itu," lanjutnya. Akbar menunjuk salah satu stop contact yang ditempel pada pilar balai. “Siap, mas,” jawab rombongan serempak. “Kalau pingin istirahat. Kalian silakan istirahat dulu. Besok pagi kita harus mengurus berkas administrasi kemudian mendapatkan pengarahan dari pihak pengelola,” jelas Hasbi. “Kami juga akan buatkan minuman hangat. Jadi nggak perlu khawatir akan asupan nutrisi selama di sini,” sahut Tama. Rombongan pun merasa senang. Mereka tidak salah pilih porter untuk pendakian kali ini. “Dek, anterin aku ke kamar mandi dong,” ajak Ayana. Ia tidak dapat menahan hajatnya. Rasanya sudah berada di ujung. Teman-teman yang lain sudah mulai terlelap. Sedangkan dirinya baru akan istirahat setelah menyambungkan menunggu daya power bank-nya penuh. “Aku nggak kebelet ke kamar mandi, mbak,” tolak Rahma pelan. Rahma merasa sangat mengantuk, jadi ia menolak ajakan Ayana. Ayana menghela napas pelan. Ia dapat melihat mata Rahma yang mengantuk. Ayana pun berdiri dari duduknya. Ia berdiri dengan tak tenang. Berniat ke kamar mandi sendiri, tapi ia merasa takut. Ia suka takut jika harus ke kamar mandi malam-malam, terutama pada tempat-tempat asing. “Kenapa, dek?” tanya Tama saat baru saja kembali dari salah satu warung di jajaran bangunan di kawasan Ranu Pani. Ayana tersenyum kaku. “Pingin ke kamar mandi, mas. Tapi takut.” Ayana meringis. Ia malu. “Ya sudah ayo kuantar,” tawar Tama ringan. “Nggak apa?” tanya Ayana meyakinkan. Tama tidak menjawab tetapi ia membalikkan badannya untuk berjalan menjauhi balai dan menuju ke arah bangunan yang digunakan sebagai kamar mandi. Ayana pun mengikutinya dengan langkah pelan. Jika ia berjalan terlalu cepat, takut bocor sebelum sampai kamar mandi. Tama menunggu tepat di depan bangunan kamar mandi dengan membelakangi pintu kamar mandi. Ia menghadap ke Ranu Pani yang hanya terlihat gelap. “Terima kasih ya, mas. Maaf merepotkan,” ucap Ayana saat ia sudah keluar dari kamar mandi. Membuyarkan penglihatan Tama yang sedang menembus kegelapan. “Nanti malam kalau ingin ke kamar mandi dan nggak ada yang nganter, bangunin aku nggak apa,” ucap Tama saat mereka dalam perjalanan kembali ke balai. “Ngerepotin malahan, mas,” tolak Ayana. “Baik sekali sih, mas. Nanti kalau aku baper gimana,” batin Ayana dalam langkah mereka. “Enggak. Dari pada kamu tahan-tahan. Kan nggak baik. Dalam biologi, seingatku kalau menahan pipis terus menerus dapat menyebabkan penyakit saluran infeksi kencing. Entah batu ginjal atau penyakit lain kan?” “Iya sih, mas.” “Maka dari itu, bangunkan aku saja. Santai. Jangan merasa terbebani.” “Iya, mas. Terima kasih ya,” jawab Ayana pelan. Dalam hatinya jujur saja ia merasa senang. “Sudah. Istirahat sana.” Ayana hanya mengangguk. Di atas matrasnya saat ia memakai sleeping bag-nya, ia benar-benar merasa tersanjung atas perlakuan Tama yang manis. Dalam hati ia terus mensugesti agar tidak mudah baper atas kebaikan pria itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN