Bismillah.
As always, give the best suggestion or comment.
Thank you, dear.
Ayana dan yang lainnya sudah mulai menikmati nasi goreng yang dimasak oleh Dito dan Akbar. Menurut informasi yang disampaikan Dito, para porter akan bergantian untuk menyiapkan makan mereka.
“Rasanya nggak kalah sama yang biasa aku beli di dekat kos,” puji Ayana.
Benar apa adanya sepertinya bahwa laki-laki di gunung memang ahli memasak. Bukan berarti yang perempuan tidak ahli, tapi sejauh Ayana melakukan pendakian, ia selalu bersama dengan laki-laki yang pandai mengolah berbagai bahan makanan.
Dengan lahap, Ayana menghabiskan nasinya. Begitu pula dengan rombongan yang lain, mereka juga tidak kalah lahap menghabiskan sarapan sederhana tetapi lezat itu. Sedangkan Tama dan Hasbi, tadi ijin ke bagian administrasi untuk menyerahkan berkas pendakian. Pembagian tugas seperti itu diharapkan agar mereka dapat segera mendapatkan pengarahan dan memulai pendakian sebelum hari semakin siang.
Peralatan makan telah dibersihkan dengan air yang begitu minimal. Di gunung, air begitu berharga—harus menghemat dan tidak boleh dibuang dengan sia-sia. Setelahnya, para rombongan pendaki sudah siap dengan carrier yang telah tersampir pada punggung.
“Kita tunggu informasi dari Tama dan Hasbi, ya,” tutur Dito.
Anggukan dari berbagai kepala menjadi pertanda bahwa mereka mengerti dan siap menunggu Tama juga Hasbi.
Lambaian tangan Hasbi dari bawah—posisi bangunan untuk pengarahan terletak di tanah bagian bawah balai mengantarkan Dito dan rombongan untuk bergegas menuju ke sebuah ruangan yang digunakan untuk memberikan pengarahan tentang hal-hal yang dilarang dan dilakukan oleh pendaki. Rombongan Ayana bersama dengan rombongan lain digabung untuk mendapatkan pengarahan.
Pemandu atau interpreter memberikan informasi tentang beberapa hal mulai dari beberapa barang yang tidak boleh seperti tisu basah. Selain itu, pendaki dihimbau untuk berhati-hati agar tidak salah mengambil jalur atau pun membuat jalur sendiri. Pendaki juga diharapkan agar berhati-hati ketika berada pada beberapa titik karena masih ada satwa liar. Dan yang perlu digaris bawahi, pendaki dilarang membuang sampah sembarangan, mandi di Ranu Kumbolo, mencuci peralatan terlalu dekat dengan Ranu Kumbolo. Yang paling utama, pendaki membawa kembali sampah yang dibawa. Seperti istilah yang sering digaungkan oleh pendaki, ambilah sesuatu dari gunung berupa foto dan bawalah kembali apa yang kamu bawa, jangan tinggalkan sesuatu yang bukan milik alam.
Rombongan Ayana membentuk lingkaran di dekat bangunan yang digunakan untuk melakukan pengecekan data seperti formulir online pendaftaran, surat keterangan sehat, dan salah satu KTP atau kartu identitas lain. Mereka telah selesai menerima pengarahan.
“Sebelum kita memulai pendakian, mari kita berdoa agar kita dapat selamat hingga kembali ke bawah. Berdoa disilakan,” pimpin Tama.
Semua menunduk. Berdoa dengan khusyuk, mengharapkan keselamatan dan perlindungan dari Allah.
“Jadi nanti yang akan jadi penyapu atau porter yang memimpin perjalanan adalah Dito dan Akbar. Kemudian Tama berada di tengah-tengah. Sedangkan saya yang berada di bagian paling belakang,” ucap Hasbi setelah mereka menyelesaikan doanya.
“Jika ada yang capek bilang! Ada yang sakit bilang! Nggak perlu merasa tidak enak. Kita naik sama-sama, maka harus berjuang bersama-sama hingga kembali ke bawah,” tegas Akbar.
Setelah berdoa dan penyampaian beberapa hal yang penting, mereka memulai pendakian.
“Aku di depan saja ya Ay sama Rahma. Kamu ditengah-tengah saja. Takutnya kalau kamu yang di depan kita tertinggal,” ucap Fitri.
“Iya, nggak masalah. Pokok kalau ada keluhan atau apa pun langsung bilang. Jika tak enak hati ngomong ke para porter, bisa diwakilkan ke aku,” pesan Ayana.
“Siap,” jawab Fitri dan Rahma bersamaan.
Mereka baru saja melintasi toko oleh-oleh dan perlengkapan pendakian serta warung-warung makanan yang berjajar. Di sebelah kiri jalan terdapat pemakaman. Jalanan berbelok ke kanan. Terdapat tempat menitipkan motor pendaki di sebelah kanan jalan yang terletak di tanah yang menurun.
Selanjutnya, di sisi kiri terdapat jajaran pohon pinus. Sedangkan di sebelah kanan membentang luas persawahan milik warga seperti yang dijelaskan oleh Dito kemarin. Tampak kubis yang siap panen berjajar di persawahan itu. Di salah satu petak sawah, beberapa orang sibuk memanen kubis. Ayana mengabadikan pemandangan itu dengan kamera handphone-nya. Ia sudah menyiapkan power bank dengan daya 20.000 mAh demi mengabadikan semua momen dan pemandangan yang terlintas di hadapan mata.
Gapura selamat datang menyambut rombongan. Sebelum mengabadikan kebersamaan, Adi dan Rizki mengambil air yang mengalir pada pipa besar dan berlanjut ke sungai kecil. Biasanya air itu juga diambil oleh truk tangki air.
Di depan gapura, terdapat pos yang digunakan untuk mendata rombongan. Dito sudah selesai mengurus tentang hal itu.
Para porter memilih menjadi fotografer dadakan.
“Mas, ayo foto bareng kita. Itu ada rombongan yang juga mau naik. Kita bisa gantian dengan mereka untuk saling memfotokan,” ajak Adi.
Akhirnya mereka membentuk dua barisan dengan para laki-laki yang berdiri di belakang dan perempuan setengah duduk di barisan depan. Tidak hanya bergaya seperti itu saja, mereka juga berganti pose dan posisi.
Mereka mulai melintasi jalan setapak setelah gerbang selamat datang. Belokan di depan sudah berupa tanjakan yang cukup membuat napas ngos-ngosan.
“Ya ampun. Napasku rasanya sudah ngos-ngosan. Padahal pendakian baru saja dimulai,” batin Ayana saat melintasi jalan tanjakan yang dilapisi paving yang mulai berantakan posisinya.
Ayana mensugesti diri agar dapat mengontrol laju napasnya. Ia tidak boleh menyerah. Dulu saat pertama kali ia mendaki Semeru saja bisa, maka kali ini ia juga harus bisa.
Ayana memang sudah pernah mendaki Gunung Semeru, hanya saja kala itu ia merasa fisiknya belum mampu jika harus sampai ke puncak gunung tertinggi di Pulau Jawa itu. Ia memilih bertahan di Ranu Kumbolo hingga rombongan teman-temannya yang lain turun dari puncak. Saat itu ia masih duduk di semester satu. Ia bergabung dalam kelompok studi pecinta alam yang ada di jurusannya.
Kesukaannya dengan aktivitas alam itu berawal dari ajakan temannya di kala ia duduk di bangku SMA kelas tiga. Ia diajak untuk mendaki Gunung Penanggungan yang terletak di Kabupaten Mojokerto. Sejak saat itu, ia langsung jatuh cinta dengan pendakian dan alam.
“Kenapa, dek?” tanya Tama saat melihat Ayana berhenti dan berpegangan pada akar pohon yang menyembul pada tebing di sebelah mereka melintas.
Ayana mengatur napasnya. “Rasanya ngos-ngosan, mas. Habis jalanan landau tiba-tiba menanjak,” jawab Ayana. Tama telah berdiri tepat di sampingnya.
“Nggak ada riwayat asma atau penyakit pernapasan lain kan?”
Ayana menggeleng. Salahnya karena sudah jarang jalan kaki atau jogging sehingga membuat napasnya harus tersengal-sengal ketika menapaki jalan menanjak.
Tama menghembuskan napas lega. “Pelan-pelan saja kalau begitu. Habis ini jalanannya landai kok,” hibur Tama.
“Iya, mas. Salahku karena nggak rutin olahraga sebelum pendakian,” jawab Ayana dengan ringisan kecil.
Tama memilih menemani Ayana hingga Ayana siap untuk berjalan kembali. Ingin berkomentar pun ia bingung harus mengatakan apa. Ia sudah sangat jarang, bahkan tidak pernah lagi bersosialisasi dengan orang baru. Rasanya ia kebingungan dan asing dalam bersikap.
Aji, Adi, dan Rizki, serta Hasbi yang berada di urutan belakang pun khawatir karena melihat dua anggota rombongan berhenti, sedangkan yang lain tidak ada di sekitar Ayana dan Tama.
“Kenapa, mbak?” tanya Adi. Ia tampak khawatir. Dirinya tidak dapat menyembunyikan raut khawatirnya itu.
Ayana hanya mampu meringis.
“Haduh. Kenapa malah merepotkan orang lain sih, Ay. Bikin orang lain khawatir saja.” Ayana mendumal dalam hati. Sebal dengan dirinya sendiri. Lebih tepatnya merasa tak enak hati karena membuat orang lain repot.
“Nggak papa kok, dek. Hanya ingin istirahat saja. Napasku rasanya ngos-ngosan.”
Adi menghembuskan napas lega. “Syukurlah kalau begitu, mbak. Mau minum?” tawar Adi. Ia tidak ingin melihat Ayana dalam kondisi lemah. Rasanya ia tak tega.
“Bukankah ini laki-laki yang di koridor itu? Kenapa aku baru sadar,” gumam Tama dalam hati.
Ayana menggeleng. “Aku sudah minum kok, dek.” Ia menunjukkan air dalam botol air mineral yang ia simpan di saku tas carrier yang sudah berkurang.
“Atau carrier-nya mau ku bawakan saja, mbak?” tawar Adi ringan.
“Wah gerak cepat sekali anak ini.” Tama hanya membatin. Ia hanya diam melihat interaksi lawan jenis di hadapannya itu.
Ayana menggeleng dan juga melambaikan tangannya tegas. “Gak usah, dek. Habis ini juga mau lanjut jalan. Kamu juga sudah bawa carrier sendiri yang lebih berat,” jawab Ayana menegaskan penolakannya.
“Nggak apa, mbak,” kekeh Adi.
“Ayana nggak apa kok, dek. Kamu tenang saja. Wajar saja pernapasannya ngos-ngosan, tubuhnya sedang beradaptasi dengan aktivitas yang Ayana lakukan saat ini.” Tama menjadi penengah di antara mereka.
“Sudah kuat jalan lagi?” tanya Tama pada Ayana.
“Sudah, mas,” jawab Ayana. “Nggak perlu khawatir, dek. Aku kuat kok. Aku duluan ya. Mari mas dan adek-adek,” pamit Ayana untuk mendahului.
Adi pun tidak mendebat. Ia hanya berharap semoga Ayana baik-baik saja hingga mereka kembali ke Surabaya.
Ayana dan Tama melanjutkan perjalanan. Ayana lega karena jalanan di depannya mulai landai, sehingga ia bisa lebih santai. Di tengah perjalanan, mereka juga berjumpa dengan rombongan lain. Mereka saling menyapa dan memberi semangat. Banyak pula yang mengira bahwa Ayana dan Tama adalah pasangan kekasih karena berjalan berdua. Ayana hanya memberikan senyumnya sebagai respons, begitu pula dengan Tama.
“Ay, Adi memang anaknya perhatian sekali ya ke orang lain?” Tama sudah tidak dapat menahan kekepoannya. Ah, ia sudah mirip seperti orang yang ingin ikut campur urusan orang saja.
“Ehm, setahu aku dia memang tipe teman yang asyik dan baik sih, mas. Tapi kalau perhatian aku kurang paham. Aku hanya kenal dia di kelas saja.”
“Kalian pernah satu kelas?”
“Enggak. Aku jadi asisten salah satu mata kuliah. Kan dia pemimpin kelas, jadi sering komunikasi. Selain itu, dia juga bergabung di kelompok studi pecinta alam jurusan yang mana aku juga pernah tergabung di dalamnya,” jelas Ayana.
Tama pun mengangguk paham. Ia masih belum puas atas jawaban Ayana. Ia berniat dalam hati untuk selalu mengawasi interaksi dua orang tersebut.