Semua rombongan bertemu di pos 1 yang berada dalam Blok Landengan Dowo. Di sekitar pos ini dipenuhi oleh pohon cemara gunung. Mereka memilih beristirahat di pondok yang terletak di ujung tanjakan. Di pondok tersebut, dimanfaatkan oleh warga untuk menjual gorengan, semangka, berbagai minuman, dan juga air mineral. Yang paling banyak diminati oleh pendaki adalah semangka. Jika ingin mengganjal perut, pendaki juga bisa membeli gorengan.
“Ay, jadi ambil gambar lumut?” tanya Fitri memecah keheningan. Para rombongan sedang asyik menikmati semangka dan juga gorengan.
Ayana menelan bakwannya sebelum menjawab pertanyaan Fitri. Bakwan yang Ayana santap adalah tepung terigu yang diberikan air, kemudian diberikan beberapa jenis bumbu agar memberikan rasa sedap. Di dalam terigu yang telah diliquidkan itu, nanti dimasukkan potongan wortel, kecambah, bisa juga ditambahkan kubis. Biasanya di Jawa Timur disebut juga sebagai ote-ote atau weci.
“Jadi dong. Selain untuk refreshing, aku kan juga pingin cari gambar lumut di perjalanan menuju Gunung Semeru,” jawab Ayana menggebu.
“Emang buat apa, dek?” tanya Tama penasaran. Ia duduk di samping Ayana tepat, tetapi masih ada jarak di antara mereka, mungkin sekitar selebar bahu orang dewasa.
“Buat bahan skripsi, mas. Produk skripsi sih tepatnya. Kan aku ambil materi tentang tumbuhan, terutama lumut, jadi aku mau ambil gambar lumut yang ditemukan di perjalanan nanti,” jelas Ayana.
Tama mengangguk. “Memang harus cari di gunung?”
“Nggak juga sih sebenarnya. Lumut kan tumbuhan yang habitatnya di tempat lembab mas, kayak dasar hutan, kulit pohon, permukaan tebing, permukaan batu, di sekitar aliran air, di dinding kamar mandi juga bisa.” Ayana menampilkan tawa kecil atas penjelasan yang ia sampaikan. Ia tertawa atas tempat terakhir yang ia sebutkan.
“Lumut itu yang biasanya juga ada di batu bata itu nggak sih?” Dito pun ikut bergabung.
“Yang mana dulu mas tumbuhannya? Karena biasanya di batu bata itu ditumbuhi juga oleh tanaman paku dan juga lumut.”
“Tanaman paku? Bentuknya kayak paku?” Kali ini Akbar ikut juga dalam obrolan tentang perlumutan.
“Tahu suplir nggak, mas? Atau bambu air? Atau semanggi deh?” tanya Ayana. Ia tidak ingin menjelaskan sesuatu yang sulit dipahami orang awam jika objek yang dibicarakan tidak diketahui wujudnya.
“Aku tahu kalau suplir. Biasanya sering diminum airnya jika di hutan itu nggak sih? Pernah lihat di TV,” timpal Husni.
“Itu salah satu jenisnya, mas. Yang paling mudah itu tanduk rusa sih, itu salah satu diantara jenis tanaman paku yang digunakan sebagai tanaman hias. Biasanya ditanam di pohon itu, di pinggir-pinggir jalan,” jelas Ayana pelan.
“Oh iya-iya. Aku pernah lihat di Kawasan Senopati. Tanaman menjulur ke bawah terus ujungnya kayak tanduk rusa itu kan?” Dito memastikan apa yang ada di gambaran pikirannya.
“Bener, mas. Sebentar, di handphone-ku ada gambarnya jenis-jenis paku.”
Ayana mengambil handphone-nya kemudian ia membuka kunci. Setelah itu ia otak-atik sebentar untuk melihat koleksi foto yang tersimpan di handphone-nya.
Ayana menyodorkan handphone-nya pada Tama. Kemudian Tama dan porter yang lain melihat foto yang ditunjukkan Ayana bersama.
“Terus kalau lumut kayak gimana? Yang ada kayak pentolan kecilnya itu bukan sih? Di atas lembaran hijau yang kayak permadani itu.” Akbar menjabarkan ingatannya akan tumbuhan yang selama ini ia kenal sebagai lumut.
“Yups, bener banget, mas.”
Ayana menerima handphone-nya yang dikembalikan Tama.
“Kalau lumut itu ada tiga jenisnya. Ada lumut daun, lumut hati, dan lumut tanduk. Yang dimaksud sama Mas Akbar tadi itu lumut daun,” ucap Ayana.
“Lumut tanduk? Lumut hati? Kayak gimana itu?” tanya Husni.
“Kalau lumut tanduk itu, bentuk lembarannya kayak daun yang bergelombang gitu, mas. Terus muncul kayak tanduk di antara lembaran itu. Sedangkan lumut hati, lembarannya berbentuk kayak hati. Aku tunjukkan gambarnya ya.”
Ayana kembali sibuk dengan handphone-nya. Tama menerima handphone yang Ayana serahkan padanya. Dan para porter kembali sibuk melihat layar handphone Ayana. Rombongan yang lain hanya mendengarkan saja karena mereka sudah mengetahui hal itu. Hendak nimbrung pun rasanya Ayana lebih menguasai dari pada mereka. Jadi lebih baik mendengarkan dan fokus menikmati kudapan di hadapannya.
Setelah penjelasan singkat tentang perpakuan dan perlumutan, mereka akhirnya melanjutkan perjalanan. Di pos 1, selain perut terganjal oleh gorengan dan semangka, mereka juga mendapatkan ilmu baru tentang tumbuhan.
Dengan formasi yang sama, mereka berjalan meninggalkan pos 1. Sesekali, mereka juga berhenti jika dirasa tubuh mulai lelah. Agar otot bahu tidak terlalu kaku, carrier diletakkan dulu di bebatuan atau batang pohon yang tumbang.
Perjalanan sekitar 1,5 jam dari pos 1, mengantarkan mereka tiba di pos 2. Pos 2 merupakan blok Watu Rejeng. Watu adalah Bahasa Jawa yang jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berarti batu.
Di seberang papan kayu yang menuliskan lokasi pendaki berada adalah sebuah tebing dengan penampakan bebatuan yang tampak tersusun menjadi tebing. Tebing tersebut berwarna putih seperti batu gambing dengan sedikit kemerah-merahan.
Mereka memilih beristirahat di sebuah batang pohon besar yang tumbang. Berdasarkan warna kayu yang sudah kehitaman, bisa dilihat jika pohon tersebut sudah tumbang sejak lama.
Para perempuan duduk di atas batang pohon dengan meluruskan kaki. Sedangkan para lelaki berdiri karena ukuran batang tersebut tidak begitu panjang.
“Masih kuat kan?” tanya Dito memastikan kondisi rombongan dalam keadaan baik-baik saja. Ia cukup lega karena hingga pos 2 ini, tidak ada yang mengeluh, hanya meminta istirahat sejenak untuk mengatur laju napas dan meregangkan otot yang kaku karena berjalan juga karena menggendong carrier.
“Alhamdulillah masih, mas,” jawab Adi mewakili.
“Pokok kalau capek berhenti. Nggak usah memaksakan tubuh. Tujuan kita adalah selamat hingga kembali ke bawah,” pesan Akbar.
Mereka semua mengangguk. Untuk melepas dahaga dalam tenggorokan, mereka meneguk beberapa teguk air.
“Sudah siap lanjut ya? Kita para cowok-cowok kalau bisa segera sampai Ranu Kumbolo maksimal pukul 12. Kita sholat Jum’at bersama. Nanti Tama yang ngatur untuk imam dan khatibnya. Bisa juga nanti bergabung dengan rombongan lain. Sekarang sudah pukul setengah 10. Jadi ayo semangat-semangat. Tapi ingat, kalau capek jangan dipaksa. Lebih baik tetap sehat dari pada ngoyo dan berakhir loyo dalam pendakian!” tegas Husni.
Perjalanan kembali dilanjutkan. Formasi masih sama seperti saat berangkat tadi. Formasi itu memang akan terus seperti itu hingga mereka kembali turun.
Dalam Blok Watu Rejeng, terdapat pula pos 3. Di pos 3, terdapat dua buah jembatan. Satu jembatan panjang yang bernama Jembatan Janik dan satu buah jembatan pendek yang merupakan jembatan lama atau Jembatan Watu Rejeng. Biasanya pendaki memanfaatkan Jembatan Janik untuk beristirahat. Janik adalah nama warga Suku Tengger yang membuat jembatan tersebut. Di bawah jembatan itu, terdapat sumber air.
Setelah melewati jembatan, mereka berhenti di sebuah pos sebelum jalanan berupa tanjakan yang membutuhkan tenaga cukup ekstra. Jalanan itu memiliki kemiringan yang cukup membuat tubuh harus mengeluarkan banyak ATP—satuan energi dalam tubuh. Didukung dengan kontur tanah yang licin, membuat pendaki harus berhati-hati dalam memilih pijakan.
“Fiuh,” ucap Ayana lega karena berhasil melalui jalan tersebut.
“Kamu ditolongi nggak mau,” protes Tama.
“Kan aku pingin nyoba sendiri dulu, mas. Dan yeay, alhamdulillah. I can do it by myself,” Ayana sangat girang.
Tama hanya menggeleng. Tadi, Tama sudah memberikan uluran lengannya untuk membantu Ayana melalui jalan tersebut, tetapi dengan halus Ayana menolaknya. Dan alasan yang diberikan seperti yang baru saja ia ucapkan pada Tama.
“Iya deh,” jawab Tama singkat.
“Hih, kenapa sih mas?” tanya Ayana heran. “Kan harusnya Mas Tama itu seneng karena aku nggak merepotkan,” ucap Ayana.
Tama hanya diam. Ia mengedik. Ia juga tidak tahu kenapa ia kesal karena Ayana yang menolak uluran tangannya.
Ayana pun bodoh amat. Terserah Tama saja deh. Ia memilih melanjutkan langkahnya dari pada pusing memikirkan tingkah Tama yang seperti merajuk.
“Wah. MasyaAllah. Maha Besar Allah atas segala ciptaan-Nya,” puji Ayana. Matanya berbinar cerah.
Tampak di hadapannya bentangan Ranu Kumbolo yang ia tahu berluas 12 hektar. Ia masih berdiri di atas, dari pos 4. Rekan-rekan formasi depan sudah tampak berjalan menuruni perbukitan menuju ke Ranu Kumbolo. Dan Ayana masih betah di atas untuk menikmati indahnya danau itu.
“Nggak pingin foto?” tanya Tama. Biasanya banyak pendaki yang tidak menyiakan kesempatan untuk berfoto di area pos 4 itu. View Ranu Kumbolo tidak semudah itu untuk dilewatkan, maka diabadikan melalui kamera adalah langkah yang tepat untuk mengenang keindahan danau itu.
Dari atas, Ranu Kumbolo tampak berwarna hijau segar. Langit yang cerah, semakin membuat ciptaan-Nya memukau mata. Warna hijau yang mengelilingi danau, semakin membuat ranu indah untuk dipandang.
“Fotokan ya, mas?” cicit Ayana.
Ia sudah merepotkan Tama berulang kali demi memfotokan dirinya di berbagai lokasi. Di jembatan Watu Rejeng, di tengah perjalanan, dan Tama juga tak segan-segan untuk menolong dirinya mengambil foto lumut yang mereka jumpai dalam perjalanan. Kemampuan fotografer Tama tak bisa diragukan, ia mampu mengambil foto dengan presesi yang pas. Ayana pun senang dan tidak menyesal telah bertemu dengan Tama.
Tama tidak memberikan jawaban apa pun. Tangan pria itu ia tengadahkan, bermaksud meminjam iPhone Ayana.
“Awet juga baterainya,” gumam Tama.
Ayana yang mendengar gumaman Tama pun seketika menyeletuk. “Ya gimana nggak awet mas, kan nggak ku pakai buat apa-apa. Tadi malam juga sudah ku isi daya baterainya sampai penuh. Power bank juga aman.”
Tama hanya mengangguk. Ia segera menegakkan handphone Ayana. Ayana pun segera bersiap dengan gaya yang tidak terlalu berlebihan. Cukup sudah ia malu karena ke-alay-annya kemarin malam di dekat Taman Trunojoyo. Hari ini ia harus dapat mengontrol diri agar virus malu-maluin diri sendiri tidak menyebar.
Ayana menerima handphone-nya yang disodorkan oleh Tama. Ia mengecek hasil jepretan Tama.
“Bagus banget, mas,” mata Ayana berbinar. “Jangan-jangan mas fotografer ya? Kalau fotograferkan kerjaan fleksibel,” tebak Ayana.
“Sok tahu,” jawab Tama tanpa memberi tahu pekerjaannya.
“Main rahasia segala,” ucap Ayana kesal.
Tama hanya diam. Ia mendorong carrier Ayana yang tidak begitu berat agar gadis itu segera kembali melanjutkan perjalanan menuju Ranu Kumbolo menyusul yang lainnya.