Assalamu'alaikum. Maaf karena kemarin absen, semoga tetap setia menunggu cerita antara Tama dan Ayana ya :)
Porter dan para lelaki baru saja membentangkan matras di sekitar Ranu Kumbolo. Setelah itu mereka melaksanakan sholat Jum’at berjamaah bersama dengan rombongan yang lain. Hasbi yang menjadi imam dan Tama menjadi khatib. Para perempuan juga ikut sholat berjamaah, yang sedang berhalangan menanak nasi setelah diberikan arahan oleh Dito cara memasak nasi menggunakan nasting hingga matang. Disamping nasi, mereka menggoreng nugget ayam. Mereka tak ingin menyiksa diri dengan terlalu banyak mengkonsumsi mi saat mendaki.
“Wah, Mbak Ayana hebat. Nasinya matang sempurna. Nugget-nya juga menggugah cacing-cacing di perut karena warnanya yang golden brown kalau kata Chef Arnold,” puji Rahma.
Fatimah yang sedang kedatangan tamu bulanan, tadi berinisiatif menawarkan diri untuk menanak nasi. Namun naas, nasi yang ia masak tidak matang sepenuhnya. Maka setelah Ayana menyelesaikan sholatnya, ia segera bergegas menangani permasalahan nasi yang setengah matang itu.
Ayana beruntung karena di rumah ibunya pernah mengajarkan cara memasak nasi di kompor. Ibunya juga mengajarkan dirinya untuk menangani nasi yang setengah matang.
Ayana hanya menanggapi pujian Rahma dengan senyum kecil. Mereka segera memakan nasi dan nugget serta saos kemasan. Kurang sehat memang, tapi mau bagaimana lagi, mereka mengejar waktu untuk melanjutkan perjalanan ke Kalimati.
“Sudah beres semua kan?” tanya Dito memastikan bahwa barang yang telah dikeluarkan untuk makan siang sudah masuk kembali ke carrier. Mereka juga sudah membersihkan peralatan masak juga peralatan makan dengan mengambil air di ranu. Untuk mencuci semua peralatan itu, mereka mengambil jarak yang agak jauh dari tepi ranu, menghindari air ranu yang mungkin akan tercemari oleh sabun cuci piring.
“Sudah, mas.”
Porter yang lain hanya mengawasi, tidak menyahuti pertanyaan Dito. Akan terasa aneh jika mereka ikut menyahut.
“Oke. Setelah ini kita melanjutkan perjalanan. Sekarang sudah pukul setengah dua, kemungkinan akan tiba di Kalimati maghrib,” jelas Dito.
Berbaris dengan formasi yang masih tidak berubah, mereka mulai melakukan perjalanan.
“Katanya, kalau melewati tanjakan cinta dan dalam hati kita menyebut nama seseorang lalu tidak menengok ke belakang, maka orang itu akan menjadi jodoh kita,” ucap Aji.
Entah hal itu mitos atau memang benar, para pendaki tidak ingin memberikan tanggapan yang takutnya malah akan menyesatkan. Ayana pun hanya tersenyum.
Tanjakan cinta cukup menguras energi. Tanjakannya benar-benar mampu membuat organ pernapasan bekerja dua kali lipat dari biasanya.
Tiba di atas tanjakan cinta, jalanan mulai landai. Tampak di hadapan mereka adalah hamparan tanaman Verbena. Verbena Brasiliensis Vell. merupakan tanaman invasif yang sering dikira oleh pendaki sebagai tanaman lavender. Tanaman invasif adalah tanaman yang dapat menimbulkan ancaman bagi ekosistem dan lingkungan atau lebih mudah dikenal sebagai gulma.
Saat pengarahan dari pihak pengelola TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru)—atau biasa disebut sebagai Ranger, pendaki dilarang untuk mencabut tanaman Verbena dan membuangnya di sembarang tempat. Hal ini dikhawatirkan biji Verbena akan menyebar dengan mudah saat aksi tersebut. Apabila pendaki ingin membawa tanaman tersebut turun, diharapkan pendaki membawanya dengan wadah atau trash bag. Dikhususkan tanaman ini, pendaki boleh membawanya turun. Namun, untuk tanaman edelwais, pendaki dilarang keras membawa atau pun merusak tanaman tersebut.
Jalanan menurun untuk mencapai hamparan Verbena atau biasa disebut dengan Oro-oro Ombo itu. Oro-oro Ombo adalah padang rumput atau sabana yang dikelilingi oleh perbukitan. Jalan dari bukit menuju sabana tersebut memiliki kemiringan yang membuat para pendaki harus menahan laju kaki agar tidak terjatuh sehingga memaksa mereka harus berhati-hati dan mampu menahan beban tubuh dengan baik. Ada juga jalur kecil di samping bukit jika tidak ingin membelah hamparan tanaman Verbena, tetapi rombongan memilih melintasi hamparan Verbena tersebut.
Tidak ingin menyia-nyiakan keindahan bunga Verbena berwarna ungu yang sedang bermekaran, para pendaki bergantian mengambil foto. Para porter hanya menjadi pengawas, mereka hanya mengambil gambar tanaman itu tanpa diri ikut dalam potretnya.
“Nggak foto, mas?” tanya Ayana saat dirinya baru saja berfoto ria. Saat ini hanya rombongan mereka yang berada di kawasan Oro-oro Ombo sehingga dapat memanfaatkan kesempatan untuk mengambil gambar sepuas-puasnya.
Tama menggeleng. Ia kembali fokus mengambil gambar bunga Verbena yang bermekaran. Ayana hanya mengamati Tama dari belakang tubuh kekar pria itu. Saat ini, Tama mengenakan kaos dengan lengan tiga perempat dengan lengan berwarna biru gelap dan baju berwarna grey. Celana kargo gunung warna khaki melapisi kaki panjang laki-laki itu. Serta sepatu gunung bermerk dengan harga mahal menambah kegantengan Tama.
“Bagus, mas,” puji Ayana saat Tama menunjukkan hasil potretnya.
Tama hanya tersenyum kecil. “Mau ku foto lagi?” tawar Tama.
Dengan mengangguk semangat, Ayana tidak menyiakan kesempatan yang Tama tawarkan. Foto hasil jepretan Tama pasti akan membuat feed i********:-nya semakin cantik dan rapi.
“Sudah. Kamu ambil gambar sudah terlalu banyak. Nanti semakin ditinggal rombongan,” peringat Tama.
Ayana menoleh ke sekilingnya. Saking serunya mengambil foto dengan hasil yang luar biasa, ia tidak bisa mengontrol diri untuk mengambil gambar sebanyak-banyak. Ia hanya meringis kecil. Menatap Tama dengan malu. Tampak rombongan sudah berjalan menjauhi hamparan Verbena. Bahkan rombongan sudah hampir tiba di pos Cemoro Kandang.
Ayana bergegas mempercepat langkahnya. Ia ingin berlari menjauh dari Tama saking malunya.
“Ya ampun, Ay. Mbok ya sekali-kali nggak mempermalukan diri sendiri apa nggak bisa,” batin Ayana yang juga gereget dengan kelakuannya sendiri.
“Nggak usah terburu-buru juga. Rumput di depan besar-besar, nanti kalau kamu kesandung dan jatuh malah ribet,” pesan Tama dengan suara yang cukup keras karena dirinya dan Ayana berjarak sekitar dua meteran.
Memang setelah hamparan Verbena, lahan lapang untuk menuju ke Pos Cemoro Kandang juga ditanami dengan rumput yang berukuran besar—bukan tinggi. Bonggol rumputnya cukup besar, sehingga dapat saja membuat seseorang menjadi kejengkal jika tak melihat jalur itu.
Baru saja Tama berpesan, Ayana sudah terjengkal. Beruntungnya respons saraf tubuhnya dapat bekerja dengan cepat sehingga ia mampu menjaga keseimbangan tubuhnya. Jika ia benar-benar terjerembab di pasir kering itu, ia malu berkali-kali lipat.
“Ayana! Please, deh. Jangan gegabah dan semakin mengubur diri dalam mempermalukan diri,” gereget Ayana.
Tama menggeleng heran. “Baru juga nutup bibir, Ay.” Tama juga tidak kalah gemasnya dengan kelakuan perempuan itu. “Lagian kamu kenapa sih jalan buru-buru? Anak-anak juga lagi berhenti di Cemoro Kandang. Kalau pun mereka jalan duluan, ada aku yang nemenin kamu,” kata Tama. Ia sudah berdiri di samping Ayana.
“Aku juga nggak tahu, aku kenapa, mas,” jawab Ayana. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa ia menghindari Tama.
“Ya sudah jalan biasa saja. Aneh deh kamu.”
Ayana memilih diam. Jika ia membalas ucapan Tama, dirinya takut keceplosan. Sudah cukup banyak aib yang ia tebar di hadapan Tama.
“Asyik banget ya ambil fotonya, Ay. Sampai nggak sadar kalau yang lain sudah jalan,” sindir Fitri.
Ayana tahu Fitri bercanda dalam menyindirnya. Ia sudah hapal betul akan sifat salah satu sahabatnya itu. Mungkin jika orang yang baru pertama kali bertemu akan menganggap bahwa Fitri judes karena mulutnya jika berbicara suka blak-blakan dan nyelekit. Namun, Ayana sudah kebal.
Ayana hanya tertawa sumbang. Ia semakin malu di hadapan yang lain.
“Nggak apa, mbak. Pumpung di sini ya, dimanfaatkan,” dukung Rahma akan kelakuan narsisnya.
Ayana memberikan kedua jempol tangannya pada Rahma. Kemudian wanita itu membeli sebuah pisang goreng dan tempe goreng. Pisang goreng ia makan sendiri, sedangkan tempe gorengnya ia berikan pada Tama.
Tama tanpa ragu menerima gorengan yang diberikan Ayana. Mereka berdua tidak sadar bahwa banyak pasang mata yang mengawasi. Dan ada salah satu pasang mata yang memandang dengan sorot kecewa.
Pendakian kembali dilanjutkan. Dalam perjalanan mereka bertemu dengan para rombongan yang sudah turun dan akan camp di Ranu Kumbolo. Pendaki yang turun itu mengatakan bahwa mereka tidak dapat mencapai puncak karena hujan badai yang tiba-tiba datang. Dengan harap-harap cemas, Ayana dan rekan-rekannya yang lain berdoa agar mereka diberikan kesempatan hingga sampai puncak.
Tidak jauh dari Pos Cemoro Kandang, jalanan sudah kembali menanjak. Asupan gorengan dan nasi yang mereka makan tadi, diharapkan cukup untuk melakukan perjalanan panjang menuju Kalimati.
Mereka memilih istirahat di sebuah lahan kosong di antara cemara gunung yang tumbuh mengisi hutan kawasan Gunung Kepolo itu. Selain bervegetasi cemara gunung, hutan tersebut juga ditumbuhi oleh berbagai tanaman paku-pakuan.
Ada beberapa batang pohon yang tumbang sehingga dapat digunakan sebagai pijakan p****t untuk beristirahat. Mereka mengisi energi dengan biskuit gandum. Pos Jambangan belum mereka lewati, maka perjalanan masih cukup jauh dari Kalimati.
Dari lahan kosong itu, mereka melewati jalur kecil yang disekelilingnya ditumbuhi oleh tanaman semak. Mereka terus melanjutkan perjalanan hingga tiba di papan penunjuk bahwa mereka telah tiba di Pos Jambangan.
Pos Jambangan adalah padang rumput yang diselingi dengan tanaman cemara mentigi dan bunga edelweis. Topografinya datar sehingga mereka bisa beristirahat sejenak, tentunya dengan menikmati gorengan dan sepotong semangka khas Semeru.
Berfoto dengan bunga edelweis tidak mereka tinggalkan. Berfoto dengan jarak cukup dekat dengan bunga dilindungi tersebut, tetapi tetap menahan tangan agar tidak sampai jail untuk memetiknya.
Setelah itu, jalanan cukup gelap karena mereka melewati jalan setapak yang tertutup oleh rimbunnya tanaman. Sudah seperti goa, tetapi tidak segelap goa.
Keluar dari jalan gelap tersebut, mereka kembali disuguhkan dengan padang rumput. Yang paling indah adalah mereka diberikan kesempatan untuk melihat puncak Gunung Semeru di sore hari yang cerah itu. Di kawasan Jambangan dengan background puncak Gunung Semeru, mereka semua—rombongan dan porter—mengambil foto dengan minta bantuan pada rombongan lain.
Fenomena alam berupa puncak Gunung Semeru yang terlihat dari padang rumput Jambangan itu, menjadi bonus bagi para pendaki. Rasanya tidak sabar untuk segera sampai di Kalimati. Dan esok dini hari mereka akan memulai pendakian untuk menaklukkan gunung tempatnya para dewa itu.