Mereka tiba di Shelter Kalimati kala gelap mulai turun. Bersama-sama, mereka mendirikan tenda. Persediaan air masih tersisa, sehingga mereka memutuskan untuk mengambil air di Sumber m**i esok hari setelah turun dari puncak.
Shelter Kalimati adalah batas akhir pendakian Gunung Semeru yang telah ditetapkan oleh Balai Besar TNBTS berdasarkan arahan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Ggeologi (PVMBG) Pos Gunung Sawur, Lumajang.
Nama Kalimati sendiri berasal dari nama sebuah sungai yang yang hanya mengalirkan air kala musim hujan atau biasa disebut dengan sungai tadah hujan. Area ini adalah padang rumput dengan tumbuhan semak dan kelompok bunga edelweis seluas 20 hektar, yang dikelilingi oleh hutan dan bukit-bukit kecil.
Jika di Ranu Kumbolo pendaki bisa mengambil air langsung pada ranu, berbeda dengan di Shelter Kalimati. Pendaki harus berjalan sekitar satu kilometer ke arah barat untuk mengambil air di Sumber m**i. Pendaki pun tidak boleh sembarangan mengambil air, mereka maksimal harus mengambil air sebelum hari mulai gelap. Jika hari sudah gelap, dikhawatirkan satwa yang biasa keluar di malam hari atau disebut satwa nokturnal keluar untuk minum air di Sumber m**i. Dan apabila bersamaan dengan pendaki, kemungkinan akan menimbulkan satwa terancam. Begitu pula dengan pendaki yang juga terancam keselamatannya.
Rasa jengkel tiba-tiba menggerogoti diri Ayana kala melihat Fitri, Rahma, dan Fatimah sibuk melihat hasil jepretan mereka saat perjalanan menuju ke Kalimati. Sedangkan Ayana sibuk membantu para porter untuk memasak makan malam.
Memang memasak adalah tugas porter, tetapi tak nyaman saja apabila Ayana hanya ongkang-ongkang kaki. Ia terbiasa membantu apa pun selama ia mampu.
“Kenapa?” tanya Tama saat melihat wajah Ayana yang cemberut.
Ayana membalas pertanyaan Tama dengan mengarahkan dagunya pada segerombol, lebih tepatnya pada dua sahabatnya dan adik tingkatnya yang sedang fokus menatap layar gawai. Wajah mereka tampak serius memperhatikan layar.
Tama dan Ayana saat ini sedang memasak berdua. Dito, Akbar, dan Husni ijin merokok. Ayana yang membenci asap rokok membuat tiga laki-laki itu memilih menjauh setelah acara masak-memasak hampir rampung, kurang sayur sop dengan sayur lengkap dan tambahan potongan sozis.
Dito dan porter lain memang tidak tanggung-tanggung dalam menjaga asupan nutrisi dan gizi para pendaki yang mereka bimbing. Dito dan Husni berbelanja sayuran yang awet segar hari Kamis sore. Untuk bumbu, memang menggunakan bumbu bubuk instan. Tak masalah, asal mereka tidak makan mi dalam tiga hari tiga malam berturut-turut. Bisa-bisa lambung mereka bermasalah saat turun nanti jika menu mi menjadi menu penyelamat kelaparan setiap saat.
“Biarkan saja. Lagian kan memasak memang tugas porter. Kamu saja yang terlalu rajin, dek,” komentar Tama.
Ayana mendengus. Ia ikut sebal juga pada Tama. Laki-laki itu memang tidak menghargai niat baiknya.
Ayana berdiri dari duduknya di atas matras. Membiarkan hanya Tama yang menduduki matras hitam itu. Ayana berjalan meninggalkan Tama ke arah tenda para perempuan.
“Lha?” Tama bingung harus bagaimana. Ia tidak tahu mengapa Ayana tiba-tiba pergi meninggalkannya sendiri. Benaknya bertanya-tanya apakah ia mengatakan atau melakukan sesuatu yang menyakiti hati perempuan manis itu.
Dalam kebingungan dan otaknya yang masih berpikir keras atas tindakan Ayana, Tama kembali fokus dengan sayur sop dalam nesting. Ayana dan Tama sudah mencicipi sayur sop itu, rasanya sudah pas. Hanya menunggu sayurnya sedikit lunak. Mereka sengaja memasak sayur tidak terlalu matang agar kandungan senyawa organik dalam sayur tersebut masih tersisa, tidak menguap bersama uap air.
“Ayana kemana?” tanya Dito.
Tiga lelaki yang telah selesai merokok itu kembali ke hadapan kompor untuk mengecek apakah makan malam sudah siap.
“Ke tenda,” jawab Tama sambil mematikan kompor. Dito mengangguk.
Porter menata makanan yang sudah siap. Dikumpulkannya berbagai menu makan malam itu dalam tatanan persegi. Nasi putih dua wadah, sayur sop, dan lauk nugget serta sozis goreng.
“Saatnya makan siang!” seru Akbar.
Seruan Akbar membuat para penghuni tenda keluar dari kehangatan itu. Udara malam menusuk kulit. Jaket tebal cukup mengurangi dingin yang menembus kulit.
Ayana memilih duduk di antara Fitri dan Rahma. Jika biasanya ia selalu dekat dengan Tama, perempuan itu memilih menjauh. Ia masih kesal atas jawaban Tama yang seakan tidak membutuhkan tenaganya.
Tama melihat Ayana yang duduk di antara sahabatnya. Tama pikir, perempuan itu akan seperti biasanya memilih berbaur dengan yang lain. Namun, yang terlihat saat ini perempuan itu tampak membentengi diri darinya.
“Sekarang sudah pukul 8 malam. Kalian bisa istirahat. Nanti kita bangun sekitar pukul 11 atau maksimal pukul 12 malam. Kita akan mulai summit pukul satu,” ucap Dito setelah makan malam selesai.
Mereka semua mengangguk. Mencuci alat makan masing-masing dengan air sehemat mungkin secara bergiliran.
Tama berjalan mendekati Ayana yang mendapatkan giliran mencuci peralatan paling akhir. “Bantuin nyuci nesting dong, Ay,” pinta Tama. Ia juga bermaksud mengorek akan hal apa yang membuat perempuan itu tiba-tiba pergi saat mereka memasak tadi.
“Kenapa nggak minta bantuan ke yang lain?” Ayana menjawab dengan nada kesal. Ia tak menoleh pada Tama dan fokus dengan piring serta sendoknya.
Tama menghela napas. “Salah apa aku?”
“Tadi kan katanya ngapain aku juga bantuin, kan itu tugas para porter,” dumal Ayana. Tama masih mampu mendengarnya.
Ayana meletakkan botol air mineral ukuran 1,5 Liter pada tanah. Kemudian ia beranjak meninggalkan Tama seorang diri.
“Mulutmu, Tam. Perempuan kan mudah tersinggung dan sensitif,” rutuk Tama.
Ia memandang punggung Ayana yang berjalan menjauh di kegelapan malam. Hanya cahaya dari sinar head lamp dan senter yang menyinari. Bulan pun malam ini terang benderang, cahayanya ikut menyinari bumi bersama cahaya yang lain.
Tama segera menyelesaikan tugasnya untuk mencuci peralatan masak. Esok sudah giliran Akbar dan Dito.
Adi, Aji, Rizki, dan Angga masih seru berbincang dan bercanda di luar tenda. Ayana dan Fatimah ikut bergabung. Sedangkan Rahma dan Fitri sudah ijin istirahat lebih dulu karena kakinya butuh diluruskan. Ayana masih belum mengantuk sehingga lebih baik ia bergabung bersama para adik tingkatnya dari pada berdiam diri yang akan membuat tubuhnya semakin kedinginan. Suhu udara di malam hari di musim kemarau lebih dingin dari pada saat musim penghujan.
“Mbak, mau?” tawar Adi. Ia menyodorkan gelas yang berisi cokelat panas. Tadi Husni menawarkan minuman hangat, Adi pun mengambil cokelat bubuk yang ia bawa dan diberikan pada Husni agar dapat dinikmati oleh yang lain.
Ayana mengernyit. “Kamu terus minum apa, dek?” tanya Ayana heran.
“Bisa ambil lagi, mbak.” Adi meletakkan gelasnya tepat di hadapan Ayana. “Itu buat mbak saja.”
Jika sudah disodorkan seperti ini, sulit untuk menolak. “Terima kasih, dek,” ucap Ayana. Sebenarnya ia merasa tak enak hati pada yang lain karena tingkah Adi padanya. Namun, ia berpikir jika menolak pemberian Adi maka akan membuat laki-laki itu malu di hadapan orang banyak.
Ayana memegang gelas berbahan stainless stell itu dengan kedua tangannya yang berselimut sarung tangan bulu yang hangat. Telapak tangannya semakin hangat karena aliran panas yang disalurkan dari gelas berisi cokelat hangat milik Adi.
Adi berjalan menuju ke arah porter yang sedang berkumpul mengelilingi kompor. “Mas, boleh minta cokelat hangatnya lagi?” pinta Adi dengan suara rendah.
“Sudah habis cokelatmu tadi, Di?” tanya Akbar heran.
Adi baru saja meninggalkan mereka kurang lebih 10 menit yang lalu. Dan saat ini laki-laki itu sudah kembali untuk meminta cokelat hangat lagi.
“Ku kasihkan ke Mbak Ayana, mas. Kebetulan belum ku minum,” jelas Adi.
Tama yang mendengar jawaban Adi membuat dadanya terasa nyeri. Hatinya terasa tercubit. Dadanya terasa sesak atas perhatian yang diberikan Adi pada Ayana.
Akbar mengangguk. Ia menuangkan cokelat hangat pada gelas yang kosong. Adi menerima gelas yang diberikan Akbar. Kemudian Adi berjalan kembali pada teman-temannya setelah mengucapkan terima kasih.
“Kelihatan banget kalau anak itu sedang memberikan perhatian lebih kepada Ayana,” gumam Akbar. Gumaman itu masih mampu didengar oleh yang lain. “Gimana, Tam?” tanya Akbar pada Tama yang tampak sibuk menyesap kopi susunya.
“Gimana apanya?” tanya Tama balik.
“Nggak usah pura-pura bodoh. Aku tahu kamu memang nggak pernah menjalin hubungan dengan perempuan, tapi aku yakin kamu saat ini juga sedang melakukan pendekatan dengan Ayana,” ucap Akbar telak.
“Biarkan saja Tama melakukan apa pun yang menurutnya terbaik. Aku yakin Tama tidak akan diam saja,” sahut Husni sambil menghembuskan asap rokok yang baru saja ia hisap.
“Bener. Boleh saja Adi melakukan pendekatan, toh Tama juga sedang melakukan pendekatan juga,” timpal Dito.
Tama menghembuskan napas besar. “Ya doakan saja aku tidak salah menjatuhkan hati.”
Tama mendapatkan tepukan semangat pada bahunya dari para teman-temannya. Mereka mengenal Tama sejak SMA, sering mendaki bersama cukup membuat mereka paham akan Tama. Tentang Tama yang tidak pernah mendekati perempuan mana pun.
Mereka mendaki tidak hanya satu dua kali menjadi porter. Berulang kali beberapa rombongan dari berbagai daerah meminta mereka menjadi porter. Selama itu, Tama tidak pernah mendekati atau dekat dengan perempuan yang tergabung dalam pendakian. Dan di pendakian kali ini, Tama tiba-tiba menaruh perhatian pada Ayana. Urusan hati siapa yang tahu, mungkin memang Tama jatuh cinta pada pandangan pertama atau mulai timbul benih-benih cinta kala kebersamaan mereka berjam-jam yang lalu. Itu adalah praduga teman-teman Tama.
“Aku mau tidur dulu. Urusan hati ternyata menguras tenaga,” pamit Tama.
“Dia baru pertama kali mengalami urusan hati saja sudah bilang kalau mengurus tenaga, coba kalau sudah menjalin hubungan dan ada lika-liku yang mengikuti, mungkin Tama akan semakin banyak kehilangan tenaga,” celetuk Husni.
Tama masih mendengarkan celetukan Husni. Namun ia bodoh amat. Dirinya benar-benar lelah. Padahal biasanya tubuhnya baik-baik saja, kuat-kuat saja saat melakukan pendakian bagaimana pun medan yang ia lalui. Entahlah, kenapa tubuhnya tiba-tiba merasa lelah?
Mungkin benar lelah karena energinya terkuras untuk melakukan perjalanan menuju Kalimati atau mungkin lelah karena memikirkan Ayana yang sedang marah padanya dan Adi yang terang-terangan memberikan perhatian pada Ayana di hadapannya. Tama pusing. Ia memilih segera memasukkan tubuhnya dalam kantong sleeping bag. Lebih baik memejamkan mata untuk tidur agar summit nanti malam tubuhnya terasa lebih bertenaga.