30. Day 2 - Menuju Puncak

1495 Kata
Suara orang berbicara di sekitar tenda membuat istirahat Ayana terusik. Suaranya memang rendah, tapi berhasil membangunkan Ayana dari tidurnya. Ayana mengeluarkan tangannya dari kehangatan sleeping bag. Ia mengambil handphone yang diletakkan di sisi tubuhnya. Layar otomatis menyala kala Ayana mengangkat handphone-nya, ia memang mengaktifkan mode angkat-bangun di ponsel pintarnya. Angka jam menunjukkal pukul 11.42 malam. Di sampingnya, Rahma dan Fitri masih terlelap. Sedangkan Fatimah yang berada pada sisi paling luar, sudah tidak terlihat. Ayana membuka resleting sleeping bag-nya. Dilipatnya mantel tidur itu dan ia simpan di dekat carrier-nya. Sebelum ke luar tenda, ia merapikan tatanan kerudungnya yang berantakan karena polah tingkahnya kala tidur. Tidak lupa, ia merapikan kunciran rambutnya terlebih dahulu untuk menghindari rambut yang mencuat keluar dari kerudung meskipun ia sudah mengenakan inner. Ayana membangunkan Fitri dan Rahma. Ketika kedua sahabatnya sudah terbangun, Ayana ke luar dari tenda untuk berkumpul dengan yang lain. Waist bag warna hitam dengan resleting abu-abu dari salah satu merk terkenal peralatan pendakian sudah terselempang di badannya. Terdapat handphone, kamera, madu sachet, roti, dan biskuit gandum dengan kemasan kecil di dalamnya. “Sudah bangun dari tadi, dek?” tanya Ayana pada Fatimah. Fatimah saat ini sedang menikmati segelas minuman sereal pengganjal perut. “Jam setengah 12-an kayaknya, mbak,” jawabnya. “Mbak Ayana mau bikin energ*n?” tawar Fatimah. Ia memberikan satu sachet minuman sereal rasa cokelat itu pada Ayana. “Terima kasih, dek. Aku bikin minuman dulu ya.” Ayana beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah Akbar dan Husni yang sedang menjaga kompor dengan nesting di atasnya. “Mau minta air hangat ya mas,” pinta Ayana. Ia menyodorkan gelasnya yang telah berisi bubuk sereal itu. Akbar menuangkan air ke dalamnya. “Terima kasih, mas,” ucap Ayana. Ia sudah akan beranjak kala Husni tiba-tiba mengeluarkan celetukannya. “Nggak nyariin Tama, Ay?” goda Husni. Ayana membalikkan tubuhnya ke arah Husni dan Akbar. “Enggak, mas. Aku permisi, ya,” jawab Ayana pelan. Ia juga menyertakan senyumnya. “Kita lihat saja nanti,” gumam Akbar. Wajah memang bisa menipu. Ekspresi yang ditampilkan bisa saja hanya sekedar topeng. Urusan dalam hati, siapa yang tahu? Ayana memang memasang senyuman untuk menegaskan bahwa ia tidak ingin tahu akan keberadaan Tama, tapi dalam hati ia bertanya-tanya dimana saat ini lelaki itu berada. Sejak ia melangkah ke arah Husni dan Akbar, batinnya sudah dipenuhi tanya akan posisi Tama. “Gengsi terus ya, Ay,” ejek Ayana pada dirinya sendiri. “Ayana nggak nyariin kamu tuh, Tam,” ucap Akbar saat Tama bergabung dengan rekan-rekannya. “Kamu sama dia sedang tidak baik-baik saja? Dari kemarin malam kalian kayak menjauh gitu,” tebaknya. Tama mengedikan bahu. Ia tidak mau menceritakan pada teman-temannya akan ulah bibirnya yang susah diatur dan direm. Akbar tidak bertanya lebih lanjut. Itu bukan ranahnya. Biarkan saja hubungan Tama dan Ayana berjalan sebagaimana seharusnya. Tidak perlu terburu-buru. Mereka baru mengenal. Masih ada waktu hingga hari Minggu bagi Tama untuk lebih mengenal Ayana. “Sudah jam 12. Kita berangkat kapan? Sudah banyak yang naik itu.” Dito ikut bergabung setelah menyiapkan beberapa hal dan berkoordinasi dengan rombongan. Tama, Akbar, dan Husni memandang ke arah hutan di hadapan mereka yang mulai bercahaya karena sinar head lamp atau senter pendaki. Cahaya itu berjajar menjadi satu baris yang cantik di tengah gelapnya malam. Langit pun sedang cerah-cerahnya sehingga kerlip bintang dapat terlihat jelas. “Berangkat sekarang saja. Sudah dipastikan mereka nggak bawa barang terlalu banyak kan?” Tama memastikan. “Mereka hanya membawa waist bag. Urusan botol minum para laki-laki yang bawa. Air gula kita yang bawa,” jelas Dito. “Kalau begitu ayo segera berangkat. Kita tidak tahu kondisi fisik anak-anak apakah masih sekuat saat menuju Kalimati. Trek menuju puncak berat dan membutuhkan waktu yang lama,” sahut Husni. Dito mengangguk mengerti. Kemudian keempat porter itu mulai berjalan menuju rombongan. Sebelum mulai pendakian menuju puncak, Dito memperingatkan Ayana dan kawan-kawan untuk membawa semua barang penting yang ada dalam tenda seperti dompet beserta isinya dan handphone. Dito menjamin untuk tenda akan aman hingga mereka kembali turun. Ia juga sudah menitipkan pada ranger yang menjaga Shelter Kalimati. Dito sudah mengenal dekat orang itu, sehingga ia yakin tendanya akan aman. Rombongan mulai melintasi padang rumput Kalimati. Mendekati jalur menuju hutan, banyak tenda yang berdiri di sana. Dito dan porter lain memilih mendirikan tenda di dekat hutan untuk menuju kembali ke Ranu Kumbolo. Memasuki area hutan, jalanan cukup berat. Pendaki berjalan pelan-pelan dan saling bersabar satu sama lain. Yang belakang harus menunggu yang di depan dengan sabar. Jalanan cukup menanjak. Jalan pun hanya dapat dilalui oleh satu orang karena di tepi kanan dan kiri adalah tanah, dalam artian jalan tersebut dibuat seperti aliran air sehingga tidak ada jalan lain untuk menyalip. Tekanan udara yang semakin tinggi membuat laju pernapasan semakin terhambat. Baru melangkah beberapa jengkal saja rasanya sudah ingin segera beristirahat. Ayana merasakan napasnya tersengal dan bekerja begitu ekstra. Beberapa kali ia memilih berhenti sejenak untuk menetralkan napasnya. “Mau minum?” tawar Tama yang berdiri di belakangnya. Rombongan depan hanya berjarak satu meter dengan mereka. Sedangkan rombongan belakang tampak jauh tertinggal. Ayana menghadapkan telapak tangannya pada Tama. Ia masih ingin mengatur napasnya. Menurutnya jika ia berbicara maka energinya akan semakin banyak yang berkurang. Tama menurut. Ia membiarkan Ayana mengatur deru napasnya. Memang yang paling berat dari pendakian menuju Gunung Semeru adalah perjalanan dari Kalimati menuju puncak gunung. Dan akan terasa sedikit lebih berat ketika tiba di Arcopodo kemudian menuju ke puncak. Ayana mengulurkan tangannya. Berniat meminta minum pada Tama. Ayana hanya meneguk sedikit air. Ia tidak ingin menahan pipis di perjalanan seperti ini. Maka dirinya memilih minum sedikit air saja. “Kamu marah sama aku, Ay?” Tama tidak ingin menyiakan kesempatan yang ada. Ayana diam. Ia mendengar pertanyaan Tama, tapi ia enggan menjawab pertanyaan bodoh itu. Ah, mungkin Tama seperti kebanyakan laki-laki lain yang tidak peka. “Aku sadar bahwa ucapanku tadi telah menyakitimu. Yang harus kamu tahu, aku kadang memang tidak bisa mengerem ucapanku. Aku adalah pria yang dikenal dengan kedinginan, keiritan berbicara, dan kata-kata yang suka meluncur seenaknya sehingga menyakiti orang yang berbicara denganku. Namun, yang perlu kamu tahu, aku tidak bermaksud menyakiti kamu. Aku senang kamu mau membantu kami. Niatku hanya untuk menyadarkan ke kamu bahwa kamu jangan jengkel atau kesal kepada teman-temanmu karena mereka memiliki pola pikir yang berbeda denganmu,” jelas Tama. Ayana diam. Namun Tama yakin bahwa perempuan itu mendengarkan penjelasannya. “Bagaimana bisa Mas Tama berbicara dengan lancar tanpa tersendat-sendat karena jalanan yang terus menanjak ini. Sedangkan aku harus berbicara terputus-putus. Hebat sekali memang pria ini. Sudah tampan, baik, ia pun ahli mengatur deru napasnya di jalan menanjak seperti ini.” Ayana bermonolog dengan dirinya sendiri. “Aku tahu kamu berpikir bahwa selagi mampu membantu maka kamu akan membantu, meskipun ini adalah tugas kami. Lha teman-teman kamu belum tentu memiliki pemikiran seperti itu. Jadi jangan berharap lebih ke mereka, Ay. Karena ketika niat baikmu itu hanya akan dimanfaatkan seenaknya oleh orang lain, kamu akan tersakiti dengan begitu dalam.” Ayana dapat mendengar nada yang sarat akan kekecewaan di akhir kalimat yang Tama utarakan. Ayana masih memilih diam. Ia paham maksud Tama. Tama menyadarkan dirinya agar jangan menjadi manusia yang tidak mudah menolak permintaan tolong orang lain. Mereka kembali berjalan dalam keheningan. Tama pun lega karena ia mampu menjelaskan niatnya pada Ayana. Hubungan mereka memang belum terlihat akan ke arah mana. Apalagi mereka baru mengenal beberapa waktu. Namun, Tama sudah menaruh perhatian kepada Ayana sejak pertama ia melihat Ayana di mushola fakultas kala itu. Akan tetapi, Tama tiba-tiba merasa sesak saat teringat kejadian beberapa minggu yang lalu. Mungkin sudah sekitar satu bulan yang lalu. “Apa aku tidak salah mendekati Ayana? Kala itu Ayana cukup akrab dengan laki-laki itu. Melebihi sikap seorang teman.” Dalam benaknya, pikiran Tama terus bermonolog dan mengira-ira. Setelah melalui hutan yang masih cukup renggang. Jalanan semakin menanjak dan berliku. Hingga tidak terasa langkah mereka mengantarkan pada perbatasan vegetasi. Menurut informasi yang disampaikan oleh Ranger saat masih di Ranu Pani, di dalam hutan heterogen bagian atas yang sangat lebat dan rapat, cukup jauh dari lintasan pendakian sehingga sulit dijangkau oleh pendaki adalah Arcopodo. Nama Arcopodo berasal dari arca kembar peninggalan Kerajaan Majapahit. Dan bagi para pendaki, dilarang keluar dari jalur pendakian yang sudah dibuat. Maka, dihimbau dengan sangat agar tidak berjalan seorang diri atau berpisah dari rombongan. Tiba di perbatasan vegetasi, jarum jam sudah menunjukkan pukul satu lebih dini hari. Banyak pendaki yang sudah mulai mendaki Gunung Semeru. Puncak Gunung Semeru di kegelapan dini hari belum terlihat. Dari bawah, Ayana dapat melihat pendaki yang sudah tiba di bagian paling atas. Namun Ayana belum dapat memastikan apakah pendaki itu sudah sampai puncak atau belum karena hanya sinar kecil yang terlihat. “Sudah siap?” tanya Tama. Mereka berdua dari tadi hanya diam setelah penjelasan Tama. Ayana yang memang pengecut memilih bergabung bersama rekan-rekannya dari pada berada di dekat Tama. Ia belum siap untuk memberikan balasan akan penjelasan Tama. Dan saat ini, Ayana kembali harus berdua bersama Tama. Ayana hanya mampu berharap, agar Tama dapat sabar menunggu respons darinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN