31. Day 2 - Puncak Semeru

1630 Kata
Rombongan depan—Dito, Fitri, Fatimah, dan Rahma tampak menepi dari jalur pendakian. Ayana, Tama, dan rombongan belakang ikut menepi juga. Jalur pasir menuju puncak Semeru, membuat langkah menjadi lebih lama. Sekali melangkah, langkah akan terasa kembali ke bawah. Jalanan pasir cukup sulit digunakan untuk berpijak dibandingkan dengan tanah. Tenaga yang digunakan untuk melewati jalur itu tentu lebih ekstra. “Minum,” perintah Tama. Laki-laki itu menyodorkan botol bekas kemasan air mineral yang telah diisi air gula kepada Ayana. Air gula diharapkan dapat mengembalikan tenaga yang hilang. Gula yang dihasilkan dari tumbuhan tebu adalah salah satu sumber karbohidrat. Ayana meminum tiga teguk air gula itu. Kemudian ia mengembalikan botol pada Tama. Tanpa ragu atau merasa jijik, Tama juga langsung meneguk air gula itu. Yang mereka lakukan bukanlah indirect kissing, Ayana dan Tama meneguk air tanpa menempelkan bibir pada bibir botol. “Kalau masih butuh energi lebih, madunya dibuka. Ingat, sampahnya dibuang di kantong plastik kecil. Bawakan?” “Iya,” jawab Ayana singkat. Pendaki dilarang keras membuang sampah di gunung. Membuang sampah sembarangan bukanlah ciri dari pendaki gunung yang baik. Seorang pendaki sejati adalah seseorang yang menikmati alam dengan baik, dengan tidak meninggalkan sampah. Cukup mengambil gambar untuk dijadikan kenangan, jangan mengambil apa-apa yang ada di alam. Rombongan mereka berjajar dari atas ke bawah. Jalur menuju puncak sangat miring. Maka harus menjaga keseimbangan tubuh agar tidak terjatuh. Selain itu, pendaki harus memilih pijakan yang tepat, bebatuan yang terdapat pada jalur puncak terkadang tidak menancap dengan kuat. Jika terinjak, batu tersebut bisa menggelending ke bawah. Apabila tidak ada orang di bawah semua akan aman, tetapi jika ada orang batu tersebut dapat mencederai. Tidak hanya rombongan Ayana dan Tama saja yang sedang beristirahat, banyak rombongan lain juga yang memilih rehat di tepi jalur menuju puncak. “Ayo jalan! Tidak baik beristirahat terlalu lama. Selain tubuh akan semakin kedinginan, nanti kamu jadi mager. Kalau mager, sampai puncaknya terlalu siang,” ucap Tama. Ayana menerima uluran tangan Tama. Ayana membersihkan pasir yang menempel pada bagian belakang celananya setelah ia berhasil berdiri. “Nggak nunggu yang lain dulu?” tanya Ayana. Rekan-rekannya masih tampak duduk dengan tenang di atas pasir. Merapatkan jaket dan juga saling mengaitkan telapak tangan yang terbungkus sarung tangan kain tebal. “Kamu mau nunggu dulu?” tanya Tama balik. “Ehm. Ya terserah sih. Ayo jalan saja deh, mas,” jawab Ayana. Tama dan Ayana berpamitan pada yang lain untuk melanjutkan langkah. Waktu masih menunjukkan pukul tiga pagi. Dari bawah, puncak sudah terlihat dekat, tetapi saat langkah terus dilakukan, puncak belum juga terpijak. Ayana berjalan di depan. Tama dengan sabar menunggu langkah Ayana yang pelan. Perempuan itu bahkan baru dua atau tiga langkah, memutuskan untuk beristirahat. Kerja organ pernapasannya terasa dua kali lipat dari biasanya membuatnya sering berhenti. Tenaga Ayana rasanya sudah terjun bebas. Ingin menyerah tetapi sayang. Puncak sudah ada di depan mata. “Capek?” tanya Tama. “Sampai di sini saja?” “Nggak mau!” seru Ayana heboh. “Kan tujuanku ke sini pingin sampe puncak, mas.” “Tapi kalau tubuh kamu lelah ya jangan dipaksa, dek. Puncak adalah bonus,” ucap Tama pelan. Menenangkan hati sekali. Menyejukkan perasaan. “Aku ingin berusaha dulu, mas. Jika tubuhku sudah benar-benar tidak kuat, aku akan kembali,” ucap Ayana penuh tekad. Tama menyetujui. Mereka kembali melanjutkan perjalanan. - Sekitar pukul empat lebih beberapa menit, dari arah timur, sinar sang surya perlahan mulai menyinari bumi. Dari ketinggian jalur menuju puncak Gunung Semeru, langit yang gelap mulai tergradasi dengan warna merah keoranyean. Ayana dan Tama, berdiri berdampingin. Berpijak pada tempat yang aman, mereka menikmati keagungan Sang Pencipta. Tidak hanya mereka berdua, pendaki lain pun tidak menyiakan kesempatan untuk melihat sang matahari terbit. Setelah puas menikmati dan mengabadikan fenomena tersebut, mereka melanjutkan perjalanan. Dari posisi saat ini, puncak terlihat hanya beberapa meter saja. Namun, hingga waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam, mereka pun belum sampai puncak. “Awas batu!” teriak salah satu pendaki dari atas. Ayana dan Tama segera mencari posisi aman yang tidak akan dilewati oleh batu. Kemudian, sebongkah batu seukuran bola sepak meluncur dengan cepat ke bawah. Tama memegangi lengan Ayana, bukan memegang dengan kuat. Hanya menariknya lembut kemudian seperti ia sandarkan. Ia tidak ingin menjadi pria breng-sek dan ba-ji-ngan dengan memanfaatkan kesempatan untuk menyentuh Ayana. Ia hanya seperti menempelkan sedikit kulit telapak tangannya ke lengan Ayana yang dilapisi jaket tebal. Tama segera menyingkirkan telapak tangannya kala Ayana memperhatikan pertemuan antara telapak tangan dan lengan itu. Suasana kemudian menjadi canggung. Ayana memilih melanjutkan langkahnya yang mulai tertatih, kakinya rasanya luar biasa linu. Di belakangnya Tama mengikuti. Rombongan para laki-laki yang awalnya berada pada posisi belakang, saat ini sudah tiba di puncak. Sedangkan rombongan yang ada di depan, masih berada di belakang Ayana dan Tama. “Ayo, dek. Semangat! Kurang sedikit lagi.” Tama memberikan semangat. Ia juga membantu Ayana dengan mendorong bahu kecil gadis itu. ‘Dari tadi kurang sedikit terus tapi gak sampai-sampai,’ gerutu Ayana dalam hati. ‘Sabar, Ay,’ semangatnya kemudian. Ia sudah berambisi untuk sampai puncak, maka dirinya harus meningkatkan kesabarannya. Ia juga harus memberikan semangat pada otot kakinya agar kuat hingga puncak. Bukan, harusnya hingga ia sampai di Ranu Pani kembali. Ayana mulai berjalan di dekat batu besar yang akan membawanya ke puncak Semeru. Ia berjalan dengan penuh kehati-hatian. Selanjutnya ia memanjat tumpukan batu untuk mencapai tanah lapang puncak. “Wow,” kagum Ayana akan pemandangan dari atas puncak gunung. “Jangan lupa bersyukur, dek,” pesan Tama. Ayana melakukan sujud syukur. Ia juga mengucapkan pujian-pujian atas kebesaran Allah. Atas kuasa Allah sehingga ia bisa menapakkan kakinya di puncak Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa. “Maha Besar Allah,” puji Ayana dengan mata berbinar. Di sekeliling puncak gunung, terlihat gumpalan awan yang membentang luas. Seperti lautan awan dan dirinya berada di pulau yang berada di tengah lautan tersebut. Mengambil handphone dalam waist bag, ia segera mengabadikan lautan awan putih tersebut. Ia tidak berhenti mengucapkan syukur. Rasanya luar biasa bahagia. Ia masih tidak menyangka bahwa dirinya mampu mencapai puncak. Ia mengantri dengan pendaki lain yang sedang berfoto dengan papan plakat kecil bertuliskan Mahameru. Ia mengambil foto diri sendiri dengan membawa plakat tersebut. Background-nya adalah lautan awan yang menyebar hingga sejauh mata memandang. Setelah itu, ia bersama teman-teman dari Surabaya mengambil gambar bersama. Selanjutnya porter juga ikut bergabung. Dan tak tertinggalkan pula, Ayana berfoto hanya berdua dengan Tama. Ayana dan Tama tidak menyadari, bahwa ada seseorang yang mengetatkan rahangnya. Menahan amarahnya agar tidak meledak di tempat yang salah. ‘Bagaimana bisa mereka yang baru bertemu sudah seakrab itu? Bahkan sudah seperti sepasang kekasih saja,’ gumam orang itu. Puas karena telah mengambil banyak gambar dan harus bergantian dengan pendaki lain, Ayana duduk bergabung bersama Rahma dan Fitri. Fatimah, Aji, dan Angga sedang melihat anak gunung Semeru di sisi yang lain bersama Adi dan Rizki. Sedangkan para porter memilih mengambil beberapa potret pemandangan yang tampak dari atas. Ayana mengambil roti dalam waist bag-nya, kemudian membuka membungkusnya. Dirinya tidak lupa memotong roti sandwich dengan isi cokelat tersebut menjadi empat bagian. Ia bagi kepada Rahma, Fitri, dan Tama yang tiba-tiba mendaratkan pantatnya di samping Ayana. Tidak duduk terlalu dekat, sekitar 50 centimeter jarak keduanya. “Kamu nggak dititipi temen kamu salam dari puncak?” tanya Tama. Ayana menggeleng. Kemudian ia sibuk berbincang dengan Fitri dan Rahma untuk membuat video yang ditujukan untuk Netizean Budiman. Kini giliran Tama yang menggeleng kala tiga perempuan itu mulai heboh di hadapan kamera. Tidak heboh yang berlebihan, mereka masih tahu adab apalagi saat ini mereka sedang berada di atas puncak gunung. Etika harus selalu dikedepankan. “Aku berisik ya, mas?” tanya Ayana setelah ia kembali duduk di samping Tama. Tama hanya berdeham dan hal itu membuat Ayana cemberut. “Jadi, kamu mau memaafkan aku karena ucapanku kemarin malam yang telah menyakiti kamu?” Tama tiba-tiba menanyakan hal itu dan seketika sukses membuat Ayana terbungkam. ‘Nikmati pemandangan puncak gitu lho, mas.’ Ayana gemas sendiri. “Ay,” panggil Tama tidak sabar. “Iya, mas. Maafkan aku yang kekanakan,” jawabnya sambil menikmati semilir angin yang menyapu permukaan kulitnya. Udara pukul 8 pagi sejuk, angin membuat kulit sedikit kedinginan. Namun, matahari yang mulai naik membuat udara tidak begitu dingin. Sesaat terasa hangat dan sesaat kala angin menyapu bumi maka kulit akan terasa dingin. “Aku juga minta maaf karena tidak pandai merangkai kata untuk menyampaikan maksud hati dengan baik,” kata Tama. Ayana mengangguk. Terkadang tidak semua manusia diberikan kemampuan lebih dalam berkomunikasi yang baik. Maka fungsi manusia yang lain adalah untuk mengingatkan dan membantu memperbaiki agar menjadi baik. “Kamu senang karena sudah bisa sampai puncak?” tanya Tama lagi. “Seneng,” jawab Ayana dengan senyum lebar. “Tapi aku ingatkan, jangan merasa hebat hanya karena kamu mampu mencapai puncak gunung tertinggi di Pulau Jawa ini. Kamu tahu kan siapa yang membuat kamu bisa bertahan hingga sampai di sini? Hingga kaki kamu dapat berpijak di tanah ini?” “Mas Tama?” tanya Ayana tak yakin. Tama menggeleng. “Semua adalah kuasa Allah. Seandainya Allah tidak memberikan kamu kekuatan lebih, mungkin kamu sudah menyerah. Seandainya Allah hanya mengubah sedikit dari air gula dan madu yang kamu konsumsi menjadi tenaga, kamu mungkin juga akan menyerah dan pingsan. Maka, bersyukurlah. Pujilah Allah. Atas kuasa Allahlah kamu bisa berpijak ke sini,” jelas Tama pelan. Ia tidak bermaksud menggurui. Ia hanya ingin mengingatkan Ayana. Itu pun juga untuk mengingatkan dirinya agar selalu bersyukur. Ayana mengangguk. Rasanya ia tidak salah mengikuti pendakian kali ini. Ia mendapatkan banyak pelajaran baru, pengalaman baru, dan teman baru. Di atas puncak Gunung Semeru, Ayana tahu bahwa semua ambisi bisa saja tidak terkabul dan terwujud jika Allah tidak berkehendak. Meskipun usaha yang dilakukan keras, jika Allah tidak berkehendak maka hal itu tidak akan dapat terlaksana. Layaknya manusia hanya bisa berencana sedangkan Allah yang akan tetap menentukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN