32. Day 2 - Back to Kalimati

1682 Kata
Sinar mentari mulai menyengat. Udara dingin di puncak mulai terhalau oleh panasnya terik matahari sehingga membuat kulit terasa hangat hingga sedikit panas. Ayana dan rombongan masih betah berada di puncak. Selain untuk menikmati pemandangan dari atas dan mengabadikan momen, mereka juga masih ingin mengistirahatkan kaki sejenak. “Sudah pukul setengah 10. Kita harus segera turun! Batas waktu untuk berada di puncak hanya sampai pukul 10. Melebihi dari yang ditentukan pihak Ranger dikhawatirkan kita akan terkena asap dari aktivitas anak Semeru,” tegas Dito. Tadi, Ayana sudah melihat anak Gunung Semeru yang dalam beberapa menit sekali—sekitar 10 menit sekali mengeluarkan asap yang menyerupai awan. Selain mengeluarkan asap, suara dentuman keras juga terdengar. Dan, aktivitas anak Gunung Semeru akan semakin meningkat jika hari semakin terik. Ayana juga melihat pada beberapa tempat, terdapat seperti penanda dengan nama seseorang yang ditulis pada penanda yang terbuat dari batu atau kayu tersebut. Menurut informasi dari Dito, itu adalah penghargaan terakhir kepada pendaki yang hilang. Dito juga menyampaikan bahwa di perbatasan vegetasi, Kalimati, dan Ranu Kumbolo juga terdapat beberapa penanda seperti itu. Penempatan tanda tersebut diletakkan sesuai dengan posisi terakhir mereka terlihat. Biasanya, rekan dari pendaki yang dinyatakan hilang pada tempat terakhir tersebut akan mendoakan jika mereka sedang melakukan pendakian. Masih dengan formasi yang sama seperti sebelumnya, mereka mulai turun dari puncak. Melewati tumpukan bebatuan dengan hati-hati. Sekitar 10 hingga 20 meter dari puncak, mereka masih berjalan dengan tenang. Hingga sampai pada titik di mana mereka melihat sebuah jalur yang menyerupai aliran air, mereka mulai berselancar. Menggunakan telapak kaki sebagai tumpuan, mereka terus berselencar melewati jalur yang seperti sungai kecil. Mereka berseru senang kala berselancar di atas pasir. Namun, mereka juga perlu berhati-hati ketika ada batu yang menonjol di jalur itu. Mereka dapat terjerambab dan mencium pasir dengan gratis apabila tersandung batu. Dan yang perlu diingat, mereka dilarang melalui jalur yang tidak resmi atau mereka akan masuk dalam black hole atau zona merah yang dapat membuat mereka tersesat, hilang, bahkan yang lebih parah adalah meninggal. Ayana menikmati perselancaran di atas pasir itu dengan senang. Sampai ia tidak melihat jika di depannya terdapat batu berukuran tidak begitu besar yang menonjol di jalur itu sehingga membuatnya hampir terjatuh—terjerembab. Beruntung, ia mampu menyeimbangkan tubuhnya sehingga ia tidak sampai terjatuh. Namun, baru saja ia bersyukur dan bernapas lega kakinya tidak dapat seimbang hingga pantatnya menggantikan peran kaki untuk berselancar di atas pasir yang bercampur dengan batuan itu. Ayana memilih menepi sejenak dari jalur. Tama pun menyusul Ayana. “Minum dulu.” Tama mengangsurkan air putih dalam botol berukuran sedang. Ayana berjongkok sejenak untuk meminum air tersebut. Kemudian ia kembalikan botol air minum itu pada Tama. “Terima kasih, mas.” “Iya, sama-sama. Kita istirahat dulu ya,” pinta Tama lembut. Ayana merasa diperlakukan dengan begitu istimewa. Tama benar-benar menepati janjinya pada diri sendiri agar tidak sampai mengucapkan sesuatu yang akan menyakiti Ayana seperti tadi malam. Ia berusaha menjadi laki-laki yang dapat menjaga lisan. Ayana mengangguk. Ia memilih duduk dengan meluruskan kakinya. Pantatnya terasa sedikit nyeri karena tadi bersinggungan dengan batu-batu kecil. Tama tidak bertanya apakah Ayana merasakan kesakitan, karena ia tahu tentu saja rasanya sakit. Maka ia memilih melakukan tindakan yang dirasa tepat dan mengajaknya beristirahat. “Lanjut yuk, mas. Matahari semakin terik. Kita juga masih setengah perjalanan buat sampai ke batas vegetasi,” ucap Ayana. “Ayo. Hati-hati, dek,” peringat Tama. “Nggak perlu buru-buru. Aku nggak bakal ninggalin kamu,” lanjutnya. Hati Ayana rasanya meleleh dan luluh. Di tengah-tengah teriknya sinar matahari, ucapan Tama bagaikan es sirup rasa cocopandan yang menyegarkan dahaga. Saat sudah mulai kembali meluncur, senyum tidak dapat ia hindarkan. ‘Jangan mudah baper dulu, Ay. Ya ampun, norak sekali kamu jantung.’ Dalam hatinya, Ayana tidak berhenti mendumal. Ia juga mensugesti otak dan hatinya agar dapat terbentengi dengan kuat. Nasib seorang gadis semester akhir yang tidak pernah dekat dengan seorang laki-laki ya begitu. Jantung berdebar cepat. Perut terasa mulas tetapi bukan ingin membuang hajat. Sekitar satu jam meluncur di atas pasir, akhirnya Ayana dan Tama tiba di perbatasan vegetasi. Ayana memilih berhenti untuk mengembalikan otot betis dan telapak kakinya agar kembali tenang, juga menghindari kejang otot. Telapak kakinya pun terasa tebal. Telapaknya juga dapat merasakan bahwa kerikil-kerikil kecil menancap pada kulitnya yang telah dilapisi kaos kaki tebal. Ayana melepas sepatu gunungnya. Terlihat banyak sekali pasir dengan kerikil kecil yang terdapat pada insol sepatunya. Memilih berdiri dengan satu kaki, ia membalikkan sepatunya untuk membuang pasir dan kerikil itu. Setelah sepatu satu dirasa bersih dari pasir—tidak sepenuhnya bersih karena ada yang masih sedikit menempel—ia juga melakukan hal yang sama pada pasangan sepatunya. Sambil menunggu yang lain, Ayana bersandar pada batang pohon cemara yang tertanam tegak menyerupai gapura karena tumbuh di pinggir jalur pendakian, tepat pada kedua sisi jalur pendakian. Ayana menikmati madu dalam kemasan sachet kecil yang telah ia gigit salah satu pojok bungkusnya sambil menikmati semilir angin. Ia juga menyumpal telinganya dengan ear phone untuk mendengarkan album milik Rizki Febian. Ayana terkejut kala lengannya ditoel oleh Rahma. Saking menikmati lagu yang dibawakan oleh putra salah satu komedian kondang di Indonesia itu, ia sampai memejamkan matanya sambil menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Ayana membuka matanya. “Kenapa?” tanya Ayana sambil melepas salah satu ear phone-nya. Suasana dengan angin semilir yang menyejukkan membuatnya memilih untuk mendengarkan musik yang ada dalam playlist handphone-nya. Lagu sendu yang terputar, membuatnya sedikit mengantuk, bahkan ia sudah hampir tertidur jika Rahma tidak menoelnya. “Sudah mau jalan lagi, mbak. Dari tadi diajak ngobrol sampeyan ndak segera nyahut ya sudah kutoel lengannya,” kekeh Rahma. Ayana pun memandang sekitarnya. Teman-temannya sudah berkumpul. Ia segera menyimpan ear phone-nya. Ia juga menampilkan wajah meminta maaf kepada yang lain dan berterima kasih pada Rahma karena telah menyadarkannya dari keinginan untuk tertidur. “Ngantuk banget, dek?” tanya Tama saat mereka sudah mulai kembali melanjutkan perjalanan. “Nggak terlalu sih, mas. Tadi denger lagunya Rizki Febian jadi kayak terbawa kalemnya. Bikin aku hampir terlelap deh,” jawab Ayana dengan tawa yang menyertai. “Kamu mudah tidur di mana saja?” “Iya, mas. Pernah sekali aku waktu dibonceng motor sama kakak tingkat buat kegiatan pengabdian di Madura, dalam perjalanan aku tertidur. Mungkin hampir 20 menitan, mas. Kan itu melewati area laut gitu ya, kanan dan kiri laut tapi dengan air yang tenang. Angin laut di malam hari bagaikan membelaiku gitu lho, mas. Ya sudah jadinya aku tertidur,” cerita Ayana menggebu. “Kamu nggak oleng atau jatuh?” “Enggak. Aku baru sadar waktu melihat sekeliling yang merupakan daerah pemukiman warga gitu. Jadi aku baru sadar kalau ternyata selama beberapa saat, aku tertidur.” “Kamu nggak pegangan?” Ayana menggeleng. “Bahaya, dek! Kamu kok ya ceroboh,” cerocos Tama dengan raut wajah ngeri dan khawatir. Ayana hanya cengengesan saja. “Ya akunya nggak sadar, mas. Mau gimana lagi.” “Untungnya kamu nggak jatuh, dek.” “Alhamdulillahnya iya, mas.” Ayana sangat bersyukur kala itu karena ia tidak sampai oleng. Ia masih duduk dengan tenang di atas jok motor. “Kalau kamu mengantuk di tempat umum, lebih baik kamu tahan kantuknya. Kita tidak tahu apakah orang yang berada di sekitar kita itu orang baik atau bukan. Dan tertidur di atas motor itu juga bahaya, dek,” pesan Tama. “Pinginnya juga gitu, mas. Tapi terkadang aku benar-benar tidak kuat menahan rasa kantuk. Jadi ya tiba-tiba sudah ketiduran saja.” “Pakai minyak angin atau makan permen pedas biar nggak ngantuk,” saran Tama. “Nggak mau, ah. Takut ketergantungan, mas,” jawab Ayana. Ah, iya. Jika terbiasa melakukan sesuatu kemudian tidak dilakukan pasti akan terasa aneh. Begitu pula tubuh, apabila tubuh terbiasa diberikan sesuatu dan kemudian pemberian tersebut dihentikan bisa saja membuat tubuh menjadi protes. Hening menyelimuti perjalanan mereka. Sesekali mereka juga memilih beristirahat ketika haus atau kaki terasa lelah. Perjalanan mereka sudah hampir tiba di Shelter Kalimati. Terdapat warga yang menjajakan nasi bungkus. Tama menawarkan nasi tersebut kepada Ayana, tetapi ia menolak. Ia memilih sepotong semangka. Liurnya sudah tidak sabar untuk disenangkan dengan segarnya buah semangka yang banyak mengandung air tersebut. Tama pun membelikan dua potong semangka untuk Ayana, sedangkan untuk dirinya ia memilih sebungkus nasi kuning. Apabila Tama harus menunggu Dito memasak makanan, lambungnya sepertinya tidak sabar. Jadi lebih baik ia mengganjal perut terlebih dahulu. Namun, ia juga tidak akan menolak masakan Dito. “Kamu beneran nggak mau nasi? Dito kemungkinan baru sampai tenda. Bisa saja saat ini dia baru mengambil air, kemudian belum memasak nasi dan lauknya,” peringat Tama. “Nanti kalau beli nasi terus aku makan masakannya Mas Dito, perutku belum tentu muat, mas. Kalau kekenyangan aku bisa ngantuk,” jelas Ayana. Ia berharap Tama tidak memaksanya untuk membeli nasi. Harga nasi yang dijual cukup menguras dompet. “Sudah. Kubelikan saja satu bungkus buat kamu. Kalau nggak habis nanti biar aku yang menghabiskan,” tegas Tama. Ia tidak menerima penolakan. Ayana hanya bisa pasrah. Ia kemudian melanjutkan menikmati semangkanya yang berdaging merah merekah itu. “Mas Tama ternyata cerewet dan pemaksa ya,” jujur Ayana saat mereka melanjutkan perjalanan untuk menuju tenda. Mereka sudah mulai memasuki area Shelter Kalimati, tetapi tenda mereka masih berjarak cukup jauh dari posisi mereka. Tama juga tidak tahu kenapa dirinya tiba-tiba kembali menjadi cerewet seperti saat sebelum ia berubah menjadi laki-laki dingin. Ternyata sisi lain dari Tama muncul karena keberadaan Ayana. Jika di hadapan orang lain, ia masih tetap menjadi Tama yang irit bicara dan cuek. Tama hanya memilih mengedikkan bahu. Enggan untuk memberikan penjelasan. Ayana pun tidak mengejar penjelasan dari Tama. Ia cukup sadar diri. Mengomentari perilaku orang lain menurutnya sudah terlalu berlebihan baginya, apalagi mereka baru saja bertemu. Seharusnya dirinya tadi dapat mengerem ucapannya. ‘Kenapa jadi orang yang sok mengomentari perilaku orang sih, Ay. Lihatkan? Mas Tama jadi diam,’ gerutu Ayana dengan sebal. Ia sebal dengan dirinya sendiri. Note: Saya menulis part ini berdasarkan pengalaman tahun 2017 (for the place, not the scene). Kemarin saat saya baca di web traveler, menurut informasi yang tertulis, di Kalimati sudah ada fasilitas bangunan kamar mandinya. Sedangkan dulu hanya ada di Ranu Kumbolo. Thanks buat kalian yang selalu setia baca cerita ini. Arigatou gozhaimasu :)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN