Tenda yang kemarin sore berdiri gagah di Shelter Kalimati, siang ini sudah mulai banyak yang terlipat. Kawasan padang rumput itu sudah mulai sedikit lengang.
Dito sudah mengarahkan pada rombongan untuk mulai mengemasi barangnya masing-masing. Mereka baru saja makan siang dengan nasi dan telur dadar. Telur dadar tersebut diberikan tambahan irisan daun bawang, potongan cabai, bawang merah, bawang putih, dan sozzis. Ditutup dengan teh hangat untuk menambah energi sebagai bekal perjalanan kembali menuju Ranu Kumbolo.
“Alhamdulillah kita telah tiba di Shelter Kalimati dengan selamat setelah berhasil mencapai puncak Gunung Semeru. Semoga pencapaian kita ini, tidak menjadikan diri kita menjadi orang yang sombong. Jadikan proses pendakian yang penuh perjuangan tadi pagi sebagai pengalaman dan pelajaran bagi diri,” ucap Dito. Rombongan sedang membentuk lingkaran. Dito menjadi pemimpin dalam lingkaran tersebut.
“Semoga perjalanan kita kembali hingga ke Ranu Kumbolo selamat dan lancar. Mari kita berdoa agar semua yang kita hajatkan dilancarkan oleh Allah. Berdoa disilakan,” lanjut Dito.
Rombongan mulai menunduk. Bermunajat kepada Allah dengan penuh khidmat, mengharapkan ridho-Nya agar perjalanan kembali ke Ranu Kumbolo dilancarkan.
Perjalanan kembali ke Ranu Kumbolo dirasa lebih tenang karena mereka tidak begitu mengejar waktu—takut terlalu gelap seperti saat menuju ke Shelter Kalimati karena mereka harus menyiapkan fisik menuju puncak. Di Ranu Kumbolo adalah waktunya untuk beristirahat sehingga langkah menjadi lebih ringan. Istirahat pun hanya sesekali saja.
Sekitar dua kilometer sebelum Pos Cemoro Kandang, gerimis mulai menghampiri. Rombongan mengambil jas hujan yang diletakkan pada bagian atas carrier. Ayana dan rombongan yang lain, sedikit kesusahan melewati jalur dengan tanah yang menjadi berlumpur karena air hujan. Ayana berusaha hati-hati agar ia tidak terpeleset karena jalur menjadi lebih licin.
Rombongan memilih istirahat sejenak di Pos Cemoro Kandang, membeli beberapa potong gorengan untuk membuat tubuh sedikit hangat dan kembali mendapatkan energi.
Gerimis sudah reda. Hari sudah tampak petang karena mendung yang menggantung di langit. Padahal waktu masih menunjukkan pukul setengah lima sore.
Mereka melanjutkan perjalanan. Memilih melintas pada tepi hamparan Verbena. Sampai pada bukit di atas tanjakan cinta, terlihat tenda dengan beragam warna mengisi tepi Ranu Kumbolo. Dari atas bukit, pemandangan Ranu Kumbolo dengan tenda-tenda tersebut membuat hati menjadi tenang. Ayana tidak mau melewatkan keindahan itu. Diselimuti kabut yang mulai turun karena hari sudah menjelang gelap, Ayana mengabadikan potret tersebut.
“Turunnya hati-hati! Jalur tanjakan cinta cukup licin karena terkena air hujan,” pesan Dito.
Mereka menjalankan pesan Dito. Mereka berjalan dengan pelan di atas tanah yang menjadi liat karena air hujan.
Saat baru saja tenda berdiri di tepi Ranu Kumbolo--bergabung dengan tenda rombongan lain, hujan mulai turun. Tidak begitu deras, tetapi cukup membuat tanah menjadi becek.
Dito pun kembali memasak sayur sop sisa kemarin. Beruntungnya wortel dan buncisnya masih aman. Ia tidak membeli kubis karena sayur tersebut sangat cepat busuk. Ia menambahkan makaroni dan sozzis.
Dengan memasak sayur sop, diharapkan tubuh akan menjadi hangat di tengah-tengah hujan yang sedang turun. Dito dibantu dengan Akbar memasak di antara dua tenda.
“Makan malam sudah siap!” seru Akbar heboh.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8 malam. Rombongan baru saja bersih diri dan berganti dengan pakaian baru yang lebih hangat. Karena di sekitar masih gerimis, akhirnya mereka makan di tendanya masing-masing. Terdapat tiga tenda yang tiap-tiap tenda mampu untuk menampung empat orang. Dito dan Akbar baru saja mendistribusikan makanan ke tiap-tiap tenda melalui pintu tenda yang di depannya terdapat seperti sleyer yang memayungi depan tenda.
Makan malam baru saja usai 30 menit yang lalu. Saat ini, Ayana, Fitri, Rahma, dan Fatimah sudah membenamkan diri dalam sleeping bag masing-masing. Belum berniat tidur, mata masih terasa segar meskipun kaki sudah protes karena terasa lelah.
“Wah, hasil Mas Tama ambil gambar bagus, ya,” puji Fitri. Ia tidak berhenti mengucap kata ‘wah’ kala melihat jepreten jari Tama.
Ayana, Rahma, dan Fatimah menyetujui pujian Fitri. Kemampuan Tama dalam mengambil gambar memang tidak perlu diragukan lagi. Menyerupai fotografer.
“Jangan-jangan Mas Tama memang seorang fotografer, mbak,” celetuk Fatimah.
“Bisa saja,” sahut Rahma mendukung dugaan Fatimah.
“Tapi kayaknya bukan deh,” timpal Ayana. “Tapi bisa jadi juga sih. Soalnya waktu aku nebak Mas Tama seorang fotografer dia hanya senyum,” lanjut Ayana ikut bingung sendiri.
Mereka pun hanya dapat menebak-nebak mengenai profesi Tama. Ah, sudahlah. Nanti juga pasti akan terketahui sendiri.
Setelah melihat semua hasil foto mereka, mata Ayana sudah mulai redup. Ia menyimpan handphone-nya dalam waist bag. Setelahnya ia ijin pada rekan satu tendanya untuk istirahat lebih dahulu.
***
Suara dering alarm handphone milik Ayana berhasil membuat gadis itu terbangun dari tidur lelapnya. Ia menoleh ke kanan dan kirinya, teman-temannya masih tidur. Ia membangunkan Fitri dan Rahma untuk mengambil air wudhu bersama. Sedangkan Fatimah ia biarkan melanjutkan istirahatnya. Rencananya, baru akan ia bangunkan setelah selesai Sholat Shubuh.
“Mau wudhu, dek?” tanya Tama yang sudah berada di luar tenda. Laki-laki itu mengenakan sarung motif kotak-kotak yang digunakan untuk menyelimuti tubuhnya dari udara dingin Ranu Kumbolo di pagi hari.
“Iya, mas,” jawab Fitri. Ayana dan Rahma hanya mengangguk saja.
‘Yah, padahal ingin dengar suara Ayana di pagi hari setelah bangun tidur,’ batin Tama. ‘Sabar, Tam. Jangan jadi laki-laki pengecut. Jika ingin berkomitmen segera ucapkan, jangan buat baper anak orang saja,’ peringat hati Tama.
“Ehm, Sholat Shubuh berjamaah saja. Yang lain sedang ambil wudhu juga kok,” ajak Tama.
“Oke, mas. Tunggu kita dulu ya,” pesan Rahma.
Tama mengangguk. Kemudian tiga gadis di hadapannya itu mulai melangkah jauh darinya untuk menuju ke jajaran kamar mandi. Tama mengamati punggung Ayana yang menjauh.
‘Semoga tidak salah pilih ya, Tam,’ harap batinnya.
Mungkin bagi orang yang melihat, Tama terlalu terburu-buru untuk melabuhkan hati. Namun, sejak pertama ia melihat Ayana, ada sesuatu dari diri perempuan itu yang menarik perhatiannya. Bukan pula jatuh cinta pada pandangan pertama, hanya entahlah. Susah untuk dijabarkan.
Dan ketika Ayana menghubungi dirinya beberapa hari yang lalu dan menjelaskan alasannya yang tiba-tiba menelepon dirinya. Dengan bahasanya yang santun dan menjunjung kesopanan dengan telepon untuk menjelaskan hal urgent, menurutnya itu adalah hal istimewa.
Apalagi ketika mereka dipertemukan. Ayana yang tidak ragu untuk membantu orang lain meskipun itu bukan kewajibannya, semakin membuatnya yakin bahwa Ayana adalah perempuan yang baik.
“Ngelihatin apa, Tam? Sampai nggak kedip gitu,” tanya Akbar menyadarkan Tama dari keterpakuannya memandang punggung Ayana yang sudah tidak terlihat.
Tama menoleh pada Akbar. Ia memilih mengedikkan bahu, malas menjawab pertanyaan Akbar. Ia berjalan ke arah bentangan banner bekas yang telah mereka bentangkan tadi sebelum berwudhu.
“Jangan-jangan kamu melihat penampakan, ya?” ucap Akbar sambil berbisik.
“Ngaco. Pikiranmu itu kok jauh pol,” jawab Tama. Ia menggeleng, tak habis pikir dengan imajinasi pikiran Akbar yang melebar kemana-mana.
“Ya salah kamu sendiri kok ngelihat sesuatu sampai nggak kedip.”
“Terserah, deh,” ucap Tama malas. Percuma menjawab pertanyaan atau pernyataan Akbar, laki-laki itu tidak akan berhenti berucap dan menjawab terus. Dan Akbar pun hanya tertawa karena berhasil membuat Tama kesal.
Tama menjadi imam dalam Sholat Shubuh berjamaah pagi itu. Setelah itu, mereka bersiap untuk menunggu matahari terbit di belakang bukit yang mengelilingi Ranu Kumbolo.
Ayana sudah menyiapkan tripod dan juga kameranya untuk mengabadikan momen terbitnya sang mentari. Kameranya sudah mulai berjalan untuk merekam keindahan ciptaan Allah. Netra Ayana dengan tidak sabar menunggu semburat jingga yang akan keluar.
“MasyaAllah,” gumam Ayana pelan. Ia terus memuji akan keindahan semburat jingga yang perlahan muncul dari balik bukit itu. Seakan-akan bukit tersebutlah yang mengeluarkan sinar.
Pendaki lain juga tak kalah antusias melihat ciptaan Sang Khalik itu. Momen menyaksikan matahari terbit di gunung adalah momen yang begitu dinantikan dan mampu membuat hati menjadi tentram. Momen itu juga sebagai wujud rasa syukur karena Allah masih memberikan masa, memberikan kesempatan untuk terus menjalankan hidup dengan baik. Untuk selalu memperbaiki diri dan tentunya untuk terus beribadah—bermunajat kepada Allah.
Setelah sarapan. Mereka kembali mengambil gambar bersama. Baik dengan background Ranu Kumbolo atau pun tanjakan cinta.
Ayana juga memanfaatkan batang pohon yang tumbang dan sedikit masuk dalam ranu untuk menjadi medianya berfoto. Sudah banyak sekali gambar yang ia ambil. Memang masalah berfoto, Ayana tidak cukup jika hanya satu saja.
“Kita mulai beberes, ya. Jangan lupa, sampahnya dibawa turun!” tegas Dito.
Mereka pun mulai membereskan barang pribadinya terlebih dahulu. Setelah itu, membersihkan dalam tenda sebelum tenda dilipat. Dirasa semuanya sudah bersih, mereka mulai membersihkan sampah-sampah yang ada di sekitar tempat mereka mendirikan tenda.
Beberapa kantong plastik kresek warna merah besar sudah terpenuhi oleh berbagai sampah, baik plastik, kertas, dan sisa sayuran. Sebelum mereka melakukan perjalanan untuk kembali ke Ranu Pani, mereka mengambil gambar beberapa kali lagi dengan carrier yang berjajar rapi di depan tubuh mereka.
Banyak gambar yang telah tersimpan dalam galeri. Dengan meminta tolong pada rombongan pendaki lain, galeri foto di handphone Ayana menjadi penuh dengan foto mereka selama pendakian.
“Seperti biasanya, mari kita berdoa terlebih dahulu agar Allah selalu menjaga kita hingga kita tiba di Ranu Pani dengan selamat. Dan kita dapat melanjutkan perjalanan ke Stasiun Malang dengan lancar. Untuk rombongan ke Surabaya juga dimudahkan oleh Allah perjalanannya. Aamiin. Mari kita berdoa,” ucap Tama yang kali ini memimpin rombongan untuk berdoa.
Mereka kembali menempuh perjalanan untuk menuju Ranu Pani. Kali ini, frekuensi untuk beristirahatnya lebih sedikit. Hanya berhenti di pos pemberhentian atau berhenti untuk mempersilakan pendaki yang baru akan naik untuk berjalan lebih dulu.
“Rombongan dari mana, mbak?” tanya seorang laki-laki yang duduk tidak jauh dari Ayana. Laki-laki tersebut baru akan menuju ke Ranu Kumbolo. Saat ini, mereka sedang beristirahat di pos 1.
“Dari Surabaya, mas. Tapi kita menggunakan jasa porter dari Pasuruan,” jawab Ayana.
Laki-laki tersebut mengangguk. Kemudian, ia mengajak Ayana berkenalan. Perkenalan itu membuat Ayana mengetahui jika laki-laki tersebut berasal dari Yogyakarta dan bernama Aditiya.
“Dek, ayo jalan lagi!” ajak Tama dengan nada sedikit kesal.
Salah Tama karena dirinya tidak segera peka bahwa sepertinya laki-laki yang bernama Aditiya itu tertarik pada Ayana. Maka, saat Aditiya dan Ayana sedang seru memperbincangkan tentang wisata baru yang ada di Yogyakarta, Tama segera melakukan tindakan. Dan yang paling dirinya sesali adalah membiarkan Ayana memberikan nomor handphone-nya pada Aditiya.
‘Belum juga didapatkan, sudah ada saingan baru lagi,’ kesal Tama dalam batinnya.