34. Ajakan

1554 Kata
Rombongan tiba di Ranu Pani saat adzan Dhuhur baru saja berkumandang. Mereka membuang sampah dalam plastik kresek ke dalam container sampah kuning yang ada di depan bangunan kamar mandi. Ada yang setelah itu segera membersihkan diri, ada pula yang hanya mencuci tangan, kaki, dan muka untuk menyegarkan tubuh. Tak lupa, mereka juga melaksanakan Sholat Dhuhur berjamaah. Untuk makan siang, mereka membeli bakso yang dijual oleh pedagang dengan motor. Satu mangkok bakso dijual dengan harga 10 ribu rupiah. Rasanya tidak perlu diragukan lagi, sangat lezat. Apalagi kuahnya yang panas, membuat tubuh menjadi hangat ditengah-tengah dinginnya udara Ranu Pani. “Sebentar lagi jeep-nya datang. Jangan sampai ada barang yang tertinggal. Apalagi barang berharga,” ucap Dito. Waktu sudah menunjukkan pukul 1.17 siang. Mereka saat ini sedang duduk lesehan pada lantai balai sambil menunggu jeep yang akan mengangkut mereka ke Malang datang. Ayana memilih mengambil ear phone dan handphone dalam waist bag-nya. Ia berniat memejamkan matanya sejenak sambil mendengarkan beberapa lagu. Tampak teman-temannya juga sedang bersandar pada carrier sambil memejamkan mata. Mereka juga terlihat kelelahan. Tama yang baru saja kembali dari kamar mandi, hanya dapat menghela napas saat melihat Ayana bersandar pada carrier dan sedang memejamkan mata. Ia tadi berniat akan berbicara serius dengan Ayana setelah selesai membersihkan diri. Namun, harapannya harus pupus kala melihat wajah Ayana yang polos itu sedang terlelap. Jika membicarakan hal pribadi di atas jeep, ia tidak akan nyaman. Ayana juga pasti merasakan hal yang sama dengannya. ‘Semoga masih diberikan waktu untuk berbicara dengan Ayana,’ harap Tama. “Rek, jeep-nya sudah datang. Ayo segera bersiap!” teriak Dito untuk membangunkan tubuh-tubuh yang sedang kelelahan itu. Beruntungnya, Ayana mengatur volume dengan pengaturan yang paling rendah. Ia sudah mengantisipasi agar tidak seperti kemarin yang tertidur di perbatasan vegetasi dan tidak mendengar suara di sekitar. Lelap yang masih menempel dalam diri, belum juga beranjak meskipun tubuh sudah digunakan berdiri dan mata dikucek beberapa kali. Tubuh lelah memang harusnya segera diistirahatkan. Semua telah bersiap di atas jeep. Sopir segera menyalakan mesin dan melajukan jeep hitam itu menjauhi Ranu Pani. Lahan luas di sisi kanan dan kiri jalan menjadi penyegar mata yang mengantuk. Berbagai jenis sayuran yang memang cocok ditanam di dataran tinggi, tumbuh subur dan segar. Jika saat mereka dalam perjalanan ke Ranu Pani hanya dapat melihat kegelapan, maka kali ini mereka disuguhkan dengan pesona alam yang tiada tandingannya. Mata yang awalnya masih redup, kini terbuka lebar menikmati segarnya sayuran yang ditanam oleh petani. Udara segar yang terhirup, semakin menjadikan diri lebih tenang. “Kalian mau mampir ke suatu tempat dulu? Kereta kalian masih lama kan?” tanya Dito sambil menawarkan pilihan untuk mampir ke suatu tempat yang mungkin ingin dikunjungi. “Pukul 17.40, mas. Mungkin kita rehat di sekitar stasiun saja, mas. Sekarang sudah pukul dua, kemungkinan kita tiba di stasiun pukul tiga lebih. Kalau jauh-jauh takut tertinggal kereta,” jawab Adi. “Di food court depan stasiun saja. Atau kalian ingin mengunjungi rumah warna? Kalau di sekitar stasiun ada taman depan balai kota dan Taman Trunojoyo,” jelas Dito. “Mungkin di food court saja, mas,” saran Rahma. “Pingin beli nasi soalnya,” lanjutnya. “Gimana yang lain?” tanya Dito meminta pendapat. Anggukanlah yang Dito lihat. Baiklah, semua memang lelah. Jika harus berjalan terlalu jauh dari stasiun, pasti tubuh mereka akan semakin payah. Jeep berhenti di dekat pos yang bercabang antara menuju ke pendakian Gunung Semeru dan Gunung Bromo. Para penumpang turun. Terlihat di hadapan mata, Gunung Bromo menjulang tinggi. Tak jauh dari gunung tersebut, berjejer bukit yang biasa disebut sebagai Bukit Teletubbies. Tidak menyiakan pemandangan yang Allah ciptakan, mereka mengambil gambar. Mengambil potret seorang diri maupun berkelompok. Banyak pula pendaki yang juga memanfaatkan pemandangan itu sebagai objek berfoto. Selain itu, banyak pula wisatawan yang akan ke Bromo juga berfoto disitu. Mereka kembali melanjutkan perjalanan menggunakan jeep. Pemandangan di tepi jalan masih berupa hehijauan. Mereka saat ini sedang melintasi hutan. Dari atas jeep, mereka dapat melihat puncak Gunung Semeru yang mengeluarkan asap. Mereka bersyukur dan tidak mengira bahwa mereka mampu mencapai puncak itu. Sisi kanan dan kiri jalan masih berupa hutan. Jeep mereka juga berpapasan dengan jeep lain yang akan mengantarkan ke Gunung Semeru atau Gunung Bromo. Selain itu, ada pula wisata lain di sekitar jalan hutan yaitu sebuah air terjun. Setelah melewati hutan yang cukup panjang, mereka akhirnya mulai dapat melihat perkebunan apel dengan buah apel hijau yang menggantung di ranting-ranting pohon. Mereka mulai dapat melihat rumah warga. Banyak juga buah apel yang disimpan dalam kantong jaring-jaring dan digantungkan di depan rumah warga untuk dijual. Tidak terasa, jeep sedang melintasi jalan raya menuju arah kota. Sebentar lagi, rombongan dari Surabaya sudah akan meninggalkan dinginnya Kota Malang. Namun, kenangan akan keindahan yang disuguhkan oleh Gunung Semeru tidak akan pernah mereka lupakan. Jeep menurunkan penumpang di seberang stastiun. Carrier mulai diturunkan. Setelah urusan dengan sopir jeep selesai, mereka mulai menggendong carrier masing-masing dan melangkah ke area food court. Mereka memilih duduk di tikar lesehan dari pada meja-meja yang berjajar. Mereka adalah rombongan, akan lebih terasa kekeluargaannya apabila mereka duduk berjajar tanpa terpisahkan oleh meja yang berbeda. Berbagai menu telah terhidang di meja. Ada nasi goreng, penyetan, nasi pecel, dan soto. Setiap individu memiliki selera makanan yang berbeda untuk mengisi tenaga yang telah terkuras akibat perjalanan menuju ke Ranu Pani. Bakso tanpa lontong, masih belum cukup memenuhi lambung tiap insan. Apalagi selama di pendakian, mereka berusaha membagi makanan agar setiap orang mendapatkan suntikan energi. Pukul setengah lima sore, rombongan mulai memasuki stasiun kereta. Hanya Husni yang pamit untuk kembali ke base camp-nya yang ia dirikan di daerah Tumpang. Bisa saja tadi Husni turun di Tumpang, hanya saja laki-laki itu belum ingin berpisah dengan rombongan. Dan saat semua sudah memasuki area stasiun, ia berjalan ke seberang stasiun untuk menaiki angkot yang akan mengantarkannya ke Tumpang. Setelah melaksanakan sholat, terdengar gaung announcer yang menginfokan bahwa kereta api menuju Surabaya sebentar lagi akan tiba di jalur dua. Melangkah menjauhi musholla, mereka berjalan menuju lorong bawah tanah kemudian naik ke arah tangga dan sampailah mereka pada sisi jalur dua kereta api. Dari kejauhan, terlihat lampu kereta api kuning yang menyorot ke depan. Calon penumpang, diharapkan berdiri tidak terlalu dekat dengan jalur kereta. Ayana dan teman-temannya mendapatkan kursi pada gerbong yang berbeda dengan rombongan Tama. Sehingga mereka harus terpisahkan oleh gerbong. Ayana di gerbong dua dan Tama di gerbong tiga. Baru saja mereka mendaratkan p****t di kursi gerbong, rasa kantuk sudah mulai datang kembali. Dengan carrier yang diletakkan di antara dua kursi berhadapan, mereka menyandarkan kaki di carrier tersebut agar tidur menjadi lebih nyaman. Rasa kantuk yang menumpuk, membuat Ayana tidak menyadari sudah berapa lama tertidur. Hingga tiba-tiba ada tangan yang menoel lengannya pelan, membuat mata Ayana berusaha membuka. Ayana masih merasa mengantuk, tetapi ia tetap memaksakan untuk membuka matanya. Terlihat Tama yang sudah berdiri di sampingnya. Posisi duduk Ayana yang berada di kursi bagian pinggir membuat Tama berani membangunkan gadis itu. Ayana mengucek matanya sejenak. Ia juga melepaskan masker yang ia kenakan. “Kenapa, mas?” tanya Ayana dengan suara serak khas orang bangun tidur. “Aku habis ini sudah mau turun. Bisa kita bicara sebentar?” pinta Tama halus. Ayana yang masih setengah sadar, membuat kerja otaknya menjadi melambat. Ia mengernyit bingung. “Gimana, mas?” Ayana menanyakan kebingungannya. “Berdiri dulu,” pinta Tama. Ayana menuruti permintaan laki-laki itu. “Ikuti aku.” Ayana pun mengikuti langkah Tama. Tama membawanya ke bagian ujung gerbong yang biasanya digunakan untuk penumpang mengantri sebelum kereta berhenti di stasiun tujuan. “Kenapa, mas?” Kesadaran Ayana mulai sedikit kembali. “Aku hanya bicara sekali. Jadi, dengarkan aku baik-baik. Dan kurang satu stasiun lagi aku turun, jadi jangan memotong apa pun yang aku bicarakan.” Ayana hanya mengangguk saja. “Kamu tahu kan bahwa kita sering berdua dan bersama selama pendakian?” Tama memandang penuh ke arah Ayana. Ayana mengangguk akan pertanyaan yang Tama sampaikan. “Sebenarnya aku sudah pernah melihat kamu dua kali selama di kampus. Pertama saat aku baru saja selesai sholat Dhuhur di mushola fakultas. Kedua saat kamu baru saja melaksanakan seminar proposal. Jujur, aku juga melihat saat kamu mencium tangan seorang laki-laki. Kemudian kamu menangis di hadapan teman-teman kamu setelah semua orang pergi.” Tama mengambil napas sejenak. “Dan aku semakin tertarik sama kamu terutama karena kita sering menghabiskan waktu bersama selama beberapa hari ini. Mungkin terlalu cepat, tetapi memang begitu adanya. Jadi, kalau kamu mau menerima aku sebagai laki-laki yang sedang memegang komitmen bersama kamu, maka jawablah siapa laki-laki itu. Karena aku tidak ingin menjadi laki-laki pengganggu di antara hubungan orang lain,” tegas Tama. “Kamu paham kan maksudku?” tanya Tama. Tama tersenyum kala melihat anggukan Ayana. “Oke. Kamu tidak perlu terburu-buru untuk menjawab. Akhir pekan, aku akan ke Surabaya untuk menanyakan penjelasan kamu. Dan apabila kamu membalas pesan yang kukirim berarti kamu tidak terikat oleh pria mana pun. Namun, jika kamu tidak membalas pesanku aku tidak akan datang ke Surabaya di akhir pekan nanti. Jelas?” Ayana kembali mengangguk. “Bagus. Kalau begitu aku akan bersiap untuk turun. Kamu hati-hati di jalan. Assalamu’alaikum,” pamit Tama. Ayana membalas salam Tama. Kemudian laki-laki itu mengusap puncak kepala Ayana sebentar sebelum mulai berjalan menjauh dari Ayana. Ayana masih berusaha mencerna kalimat panjang yang Tama ucapkan. Hingga beberapa penumpang yang akan turun menyadarkannya bahwa itu semua bukanlah mimpi. ‘Jadi, baru saja Mas Tama mengajakku berkomitmen?’ batin Ayana bersorak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN