35. Masalah Baru

1515 Kata
Senyum terus terukir di bibir Ayana. Niatnya yang ingin melanjutkan tidur pun sirna sudah karena ucapan yang Tama sampaikan. ‘Aku nggak sedang mimpi kan?’ batin Ayana terus bertanya-tanya. Namun, ia sangat yakin bahwa itu semua adalah nyata. Bukan mimpi. Bukan bunga tidur yang menghampirinya di tengah tidur malam yang masih terlalu dini itu. Fitri yang baru saja membuka mata, melihat Ayana yang sedang sibuk dengan handphone-nya pun bertanya telah sampai mana kereta yang mereka tumpangi. “Baru saja melewati Stasiun Sidoarjo. Habis ini Gedangan,” jawab Ayana sambil mengalihkan fokus dari layar handphone ke arah Fitri. Fitri pun mengangguk. Ia kemudian mencabut adaptor charger handphone yang menancap pada sumber listrik. Menyimpan alat pengisi daya baterai handphone tersebut dalam carrier-nya kemudian mulai mengotak-atik handphone-nya. Entah untuk melihat pesan yang masuk atau bermain sosial media. “Eh, Adi sama Rizki sudah turun?” tanya Fitri setelah sadar bahwa ia tidak melihat kedua adik tingkatnya itu duduk di kursi sampingnya. “Sudah,” jawab Ayana singkat. “Ya ampun, tubuhku bener-bener lelah. Makanya sampai tertidur lama banget, sampai nggak denger suara apapun,” keluh Fitri. Ayana juga menyetujui. Bagian tubuh yang paling terasa lelah adalah betis. Ia ingin memijatkan betisnya agar otot-ototnya yang tiba-tiba kaku segera kembali terelaksasi. Ayana kembali tersenyum kala menggulir foto dalam galeri handphone-nya. Foto dirinya dengan Tama saat ini menjadi obyek pengamatan netranya. “Dari tadi senyum terus waktu lihat HP, Ay,” komentar Fitri. Ayana mendongak. Ia hanya merespons dengan menampilkan cengiran. Kemudian ia menyimpan gawainya. ‘Lebih baik senyum-senyumnya saat di kos saja. Kalau di sini nanti temen-temen pada curiga.’ *** Pukul 8.07 malam, Kereta Api Lokal Penataran telah tiba di Stasiun Wonokromo. Ayana dan yang lain berjalan menuju pintu keluar. Ayana telah memesan mobil daring untuk mengantarkannya, Fitri, dan Rahma ke kos. Sedangkan Aji, Angga, dan Fatimah sudah ditunggu oleh orang tua mereka masing-masing di pintu keluar stasiun. “Hati-hati ya, dek. Terima kasih telah bergabung dalam pendakian dengan kami. Maaf juga jika selama di sana kami kurang mengayomi,” ucap Ayana. “Kami yang berterima kasih, mbak. Berkat ajakan Mbak Ayana, kami mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Kami pulang duluan ya, mbak,” pamit Angga. Mereka saling berjabat tangan sebelum memisahkan diri. Ayana dan dua sahabatnya masih menunggu mobil yang mereka pesan tiba. Menurut aplikasi, mobil yang akan mengantar mereka masih terjebak dalam kemacetan di perempatan dekat stasiun. “Beli makan lagi, nggak?” tanya Fitri. “Aku lumayan lapar, sih. Beli nasi ayam depan gang kosku saja,” saran Ayana. Fitri dan Rahma kemarin berboncengan ke kosnya. Motor Rahma ia titipkan di kos Ayana. Kemudian mereka bertiga memesan mobil daring untuk mengantarkan ke stasiun. “Dibungkus atau dimakan di sana?” tanya Rahma. “Terserah, sih. Kos kalian ditutup jam 10 kan?” tanya Ayana. Fitri dan Rahma mengangguk. “Ya sudah makan di tempat saja. Kalau misal kesusahan bawa carrier bisa ke kos dulu buat naruh carrier.” Ayana menawarkan pilihan. “Nggak usah deh, Ay. Yang ada kita jadi bolak-balik. Nggak apa sambil bawa carrier saja,” jawab Fitri. Ayana pun tidak mempermasalahkan. Yang paling penting adalah perut mereka terisi makanan. Mobil daring yang mereka pesan telah tiba di dekat pintu keluar. Perseteruan antara taksi, ojek, dan becak yang sudah mangkal dengan transportasi daring membuat motor dan mobil daring harus sedikit menjauh dari pintu keluar stasiun. Mereka berjalan sedikit ke bawah jembatan penyeberangan untuk naik ke mobil. “Turun depan Telkom ya, pak,” ucap Ayana saat mobil mulai melaju meninggalkan Jalan Wonkromo. “Siap, mbak.” Mobil yang membawa tiga perempuan itu mulai bergabung dengan kendaraan lain. Malam ini jalanan masih cukup padat. Surabaya memang tidak akan terpisahkan dengan kemacetannya di jam-jam tertentu. Ayana memberikan uang sesuai dengan yang tertera di aplikasi. Kemudian, dengan dibantu oleh bapak sopir, carrier mereka berhasil dikeluarkan dari mobil. Dengan carrier yang tergendong di punggung, mereka menyeberang jalan untuk menuju ke bangunan berlantai dua yang menyajikan berbagai menu ayam-ayaman. Ayana dan Rahma bertugas memesan menu. Sedangkan Fitri menunggu di meja sambil menunggui tiga carrier yang ukurannya cukup besar. Mereka menikmati ayam goreng dengan berbagai macam sambal yang Ayana ambil. Dengan ditemani es jeruk, makan terasa lebih nikmat. “Kamu nggak belikan buat Asti sekalian?” tanya Fitri saat ia baru saja selesai menghabiskan nasi dalam piringnya. “Coba tolong kamu telponkan, Fit,” pinta Ayana sambil menunjukkan jari-jarinya yang terlumuri oleh minyak dan sambal. Fitri mengambil gawainya dan segera menghubungi Asti. Namun, ternyata Asti sudah makan malam bersama Nia. “Nugi nggak kamu tawari sekalian? Atau dia masih di rumah?” tanya Rahma. “Tadi chat aku katanya masih di rumah. Baru besok pagi balik ke kos.” Ayana dan Rahma yang belum selesai menghabiskan makanan di piringnya pun segera menandaskan nasi dan ayamnya. Jam sudah hampir pukul 9 malam. Ayana ingin mandi dulu karena tadi di Ranu Pani hanya membilas tubuhnya sebentar. Ia ingin tidur nyenyak dengan kondisi tubuh yang segar. *** Ayana baru saja selesai mandi dengan tidak melupakan agenda keramas. Tubuhnya menjadi lebih segar, tetapi rasa kantuk juga seketika menghampiri. Niat ingin sekalian mencuci baju setelah mandi harus pupus karena rasa kantuk yang sudah tidak dapat ditunda-tunda. Sebelum tidur, Ayana mengecek ponselnya. Ada dua panggilan tidak terjawab dari ibunya. Ayana segera menghubungi ibunya. Ia khawatir terjadi sesuatu dengan ibunya atau bapaknya. Dua kali Ayana menghubungi nomor ibunya, tetapi ibunya tidak segera menerima panggilannya. ‘Ya Allah, semoga ibu dan ayah baik-baik saja,’ doa Ayana. Ayana berinisiatif untuk menghubungi abangnya tetapi ibunya sudah menghubunginya kembali. “Halo. Assalamu’alaikum, ibu. Ibu dan bapak baik-baik saja, kan?” tanya Ayana dengan nada yang sangat kentara bahwa ia khawatir. “Wa’alaikumsalam. Ibu dan bapak baik-baik saja, nduk,” jawab ibu Ayana dengan nada yang menenangkan. Ayana bernapas lega. “Maaf tadi Ayana masih mandi, bu. Baru sampai Surabaya jam 8 terus sekalian makan malam baru pulang ke kos,” jelas Ayana. “Alhamdulillah. Kamu baik-baik saja kan nduk selama di sana?” “Alhamdulillah baik, bu. Aku juga makan makanan yang sehat kok. Ibu tidak perlu khawatir.” Ayana menenangkan ibunya. “Nduk,” panggil ibu Ayana. “Nggih, bu?” “Bapak ingin bicara dengan kamu.” Setelah mengatakan hal itu, terdengar sedikit suara berisik perbincangan antara ibu dan bapak Ayana. Terdengar di telinga Ayana bahwa ibunya memohon kepada bapak agar bapak tidak memarahi putri kesayangan mereka. “Sudah puas kamu mendaki gunungnya?” tanya bapak Ayana dengan nada keras. Di atas kasur, Ayana seketika menciut. Terdengar hembusan napas kasar bapak Ayana. “Skripsi belum selesai dan kamu enak-enakan main! Kamu ingin membuang-buang waktu kamu?” Suara bapak Ayana terdengar tampak menahan amarah. Ayana menggeleng. Ia berusaha menahan isakan yang akan melaju. “Kami di sini selalu mendoakan kamu agar skripsi kamu berjalan lancar, tetapi kamu malah senang-senang!” tandas bapak Ayana. “Bukan begitu, pak,” cicit Ayana. “Bahkan kamu tidak meminta ijin ke bapak. Kamu kira dengan ijin ke ibu dan abangmu maka kamu sudah merasa di atas angin dan yakin mendapatkan restu?” “’Sudah, pak.” Kali ini suara ibu Ayana terdengar menenangkan suaminya yang dikuasai amarah. Ayana mulai menangis. Isakan yang dari tadi ia tahan sudah tidak dapat dibendung lagi. Pertahanannya jebol. “Atau kamu memilih berhenti dari mengerjakan skripsi dan pulang ke rumah saja?” “Mboten, pak. Ayana ingin menyelesaikan skripsi dulu,” jawab Ayana cepat dengan isakan yang menyertai. “Jika kamu sekali lagi hanya ingin main-main. Jangan harap bapak akan memaafkan kamu,” tegas bapak. Belum sempat Ayana menjawab ucapan bapak, sambungan telepon sudah dimatikan. Ayana hanya mampu memandang nanar ponselnya. ‘Ya Allah, ampunilah dosa hamba karena telah mengecewakan bapak. Berikanlah pula kesehatan untuk bapak. Lembutkanlah hati beliau agar memaafkan hamba, ya Allah,’ pinta Ayana dengan isakan yang masih belum berhenti. Rasa kantuk yang tadinya menumpuk, sekarang hilang tak bersisa. Ayana hanya mampu menangis. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Kemudian terbersit dalam pikirannya untuk menghubungi abangnya. Jika ia menghubungi ibu, kemungkinan kecil ibu akan menerima teleponnya. Ibu dan bapak pasti sedang dalam kondisi yang tidak tenang. “Assalamu’alaikum, abang,” salam Ayana kala abangnya menerima panggilannya. Suaranya masih serak, kentara bahwa ia baru saja menangis. “Wa’alaikumsalam. Dek, kamu nggak papa?” tanya abang Ayana khawatir. “Apa terjadi sesuatu?” cecar abangnya. Sebagai kakak, ia merasa khawatir dengan kondisi adiknya. Apalagi mereka berada pada tempat yang terpisah oleh jarak yang tidak dekat. Ayana kembali terisak. Ia menceritakan apa yang baru saja terjadi dengan isakan. “Kamu tenang, ya. Besok pagi abang ke rumah. Abang akan coba berbincang dengan bapak. Jika abang ke rumah sekarang, kecil kemungkinan hati bapak luluh. Jadi, kamu segera istirahat saja sekarang. Kamu pasti lelah. Ada abang yang akan selalu berusaha memberikan yang terbaik buat kamu,” ucap abang Ayana menenangkan. Ayana mengangguk. Panggilan mereka berakhir setelah abang Ayana memebrikan kalimat penenang. Namun, hati Ayana masih belum tenang. Ia berharap semoga hati bapaknya dilembutkan dan beliau menerima permintaan maaf Ayana. Ayana pun akhirnya tertidur setelah menangis cukup lama. Rasa tubuh yang lelah dan beban pikiran yang datang membuat tubuhnya lelap tertidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN