36. Kegalauan Tama

1388 Kata
Tama berusaha memfokuskan pikirnya. Lembar kerja di hadapannya sedang butuh perhatian besar darinya. Sayangnya, otaknya seakan tidak mudah diajak bekerja sama. Tetap keukeh memikirkan perempuan yang berjarak berpuluh-puluh kilometer darinya. Tama menekan tombol power pada handphone-nya. Masih tetap sama, tidak ada balasan pesan dari seseorang yang telah ia tunggu dari tiga hari yang lalu.  “Kamu ke mana sih, Dek? Apa benar bahwa aku sudah tidak ada kesempatan?” gumam Tama miris.  Apa iya bila dirinya harus mengakhiri sesuatu yang bahkan baru saja dimulai dan direncanakan? Untuk pertama kalinya ia ingin menjalin hubungan dengan seseorang, tetapi sepertinya niatnya itu tidak semulus yang ia perkirakan. Bahkan berkemungkinan gagal.  Tama mencoba menenangkan pikirannya. Berusaha menghentikan segala bayang tentangnya. Juga menghilangkan segala praduga yang hingga saat ini belum juga menemukan titik terang. Sayangnya hal itu gagal. Tidak mudah.  Bahkan mereka baru saja mengikat komitmen, saling berjanji. Tama juga tak sabar untuk mulai merangkai kisah cintanya. Namun, sepertinya semua tak akan sama dengan harap. Tama putus asa.  Tama mengembuskan napas berat. Ia memilih menutup lembar kerjanya selepas ia simpan gambar yang sedari tadi masih sama seperti kemarin. Tama mulai meninggalkan kursi kerjanya. Lalu melangkah meninggalkan kantor biro.  Berjalan seorang diri menyusuri jalan setapak yang khusus digunakan untuk pejalan kaki. Pikirannya dipenuhi dengan satu nama, Ayana. Dan melangkah hanya seakan karena pengaruh kerja otaknya yang bekerja tak sadar. Padahal seharusnya, orang normal melakukan sesuatu secara sadar.  Apa seperti ini rasanya khawatir terhadap seseorang yang berarti dalam hidup? Apa semenakutkan ini? Ini pertama kalinya menjalani hal seperti ini dengan perempuan. Apa ia harus mengalami hal berat seperti ini di awal kisah yang belum dimulai? Tama masuk ke sebuah kedai kopi. Laki-laki itu sedang butuh sesuatu yang dingin dan menenangkan.  Tama memesan matcha dingin. Setelah mendapat nomor meja, ia melangkah ke meja yang kosong di kedai itu. Banyak meja yang masih kosong di kedai itu. Masih pukul 11, belum waktunya pekerja istirahat. Wajar bila banyak meja yang tak berpenghuni.  Sembari menunggu pesanannya selesai, ia mengirim pesan pada Yanuar. Mengatakan pada rekannya bahwa ia istirahat lebih awal. Berjaga-jaga bila ada yang mencarinya.  Ia tidak dapat memaksa otaknya terus bekerja jika pikirannya dipenuhi dengan Ayana. Lebih baik ia keluar sejenak dan menenangkan pikirannya. Menetralkan kembali pikiran yang penuh dengan bayang Ayana. Ia juga memperingatkan diri agar tidak menjadi laki-laki seperti ini. Ia tidak boleh menjadi laki-laki yang lemah.  Lima menit kemudian pesananan Tama diantar sembari nomor mejanya diambil kembali oleh waitress. Tama mengucapkan terima kasih.  Tama mengaduk minumannya sembari mengatur deru napasnya. ‘Please, Tam. Jangan jadi kayak gini!’ peringat batinnya. Diembuskannya napas panjang. Tiga hari yang menurutnya berat. Komitmen yang baru terjalin dengan ketidakpastian hubungan. Ayana belum menjelaskan siapa pria itu. Pria yang tampak membahagiakan dan juga memperlakukan Anjani dengan istimewa.  Tama mulai menyesap matcha dinginnya. Perlahan minuman kental dengan aroma khas teh hijau mengalir ke sistem pencernaannya. Mulutnya terasa dingin hingga kerongkongannya pun ikut dingin. Setidaknya ia merasa lebih lega. Tiga hari yang benar-benar menyiksa pikirannya. Membuat kerja tak tenang karena banyak spekulasi yang menghampiri. Spekulasi yang didominasi oleh pikiran negatif. Menyebalkan. Hampir membuat Tama mengumpat karena baru merasakan hubungan dengan seorang perempuan yang sungguh menyiksa.  Suara decit kursi yang ditarik membuat Tama mengalihkan pandangannya dari pekatnya matcha yang ada di depannya. Ia menengadah. Dan hal yang ditangkap adalah sosok Yanuar yang menampilkan cengiran khasnya. Menciptakan dengkusan lirih dari Tama.  “Tatapannya menghunus banget, Pak. Membuatku takut,” kelakar Yanuar seraya mendudukkan tubuhnya di atas kursi. Tama acuh. Tidak peduli dengan kelakar teman terdekatnya di kantor. Ia memilih kembali menghisap matcha dinginnya. Niat hati ingin mendapatkan ketenangan, butuh kesendirian. Sayangnya Allah sedang tidak mengabulkan. Ada salah satu makhluk ciptaan Allah yang sepertinya sengaja diciptakan untuk mewarnai hidup Tama dengan candaan dan segala tingkahnya yang selalu menarik emosi dan kesabaran Tama.  Yanuar pun memasang wajah datarnya. “Sia-sia aku nyusulin kamu ke sini. Melawan panasnya terik mentari. Nyatanya hanya sebuh tatapan sadis yang kudapat.” “Ucapan itu pantasnya kamu ucapkan di depan Aini. Kalau di depanku mah gak ngefek,” ledek Tama. “Kayaknya satu minggu gak ada aku di kantor banyak kemajuan yang terjadi.” Yanuar tampak salah tingkah. Ia memilih mengedarkan pandangannya dan pura-pura berdecak kesal pada waitress yang tak kunjung mengantarkan pesanannya. Ia juga menambahkan gerutuan untuk memperdalam berkelitnya.  Namun, Tama seakan tersadar. Kenapa ia menjadi ingin tahu? Apa karena telah mengenal Ayana membuatnya selalu ingin tahu tentang perempuan itu lalu mengantarnya menjadi laki-laki yang suka memgurusi hidup orang lain? Dan Ayana kembali memenuhi setiap ruang, bahkan bagian terkecil dari pikirnya. Membuat Tama menggeleng seraya mengembuskan napas besar. “Kamu cemburu, Tam?”  Pertanyaan Yanuar membuat Tama memandang Yanuar tak mengerti. Apa maksud dari pertanyaan laki-laki di depannya ini? Alisnya bertaut dan naik tinggi ke atas.  “Cemburu? Sama siapa?” “Kalau aku.. dekat—dengan Aini?” tanya Yanuar tak yakin. Selama ini mereka tidak pernah membicarakan hal seperti ini. Pembicaraan mereka didominasi oleh urusan pekerjaan dan pekerjaan. Dan ini kali pertama mereka mengangkat tema perempuan di dalamnya. Jangan menghitung tentang Yanuar yang beberapa waktu lalu menanyakan tentang Ayana ketika mereka melakukan kunjungan pembangunan. Itu tidak termasuk karena saat itu tidak ada unsur-unsur cinta di dalamnya. Masih belum ada. Sekarang mungkin saatnya bagi mereka untuk mulai membicarakan tentang pasangan.  Tama memundurkan kepalanya sedikit. Tidak paham dengan ucapan Yanuar. Apa yang ia cemburukan? Cemburu karena apa?  “Cemburu? Aku? Mengapa?” tanya Tama beruntun. Pertanyaan Yanuar tak sampai dalam cara berpikirnya.  “Kukira kamu ada rasa dengan Aini,” jawab Yanuar sembari mengedik.  Obrolan mereka terhenti sejenak kala akhirnya pesanan Yanuar datang. Mereka pun mulai kembali berbincang setelah Sang Waitress pergi meninggalkan meja mereka.  “Ngaco! Dasar apa yang kamu gunakan untuk mengatakan ucapan itu? Memangnya aku pernah menampakkan sesuatu yang mengarah pada aku ada tanda-tanda suka atau sejenisnya pada Aini?” tanya Tama tajam. Ia kesal dengan Yanuar. Pikirannya saat ini sedang tidak memikirkan hal itu. Ia sedang berpikir keras dengan apa yang terjadi dengan Ayana. Dan pertanyaan tak masuk akal Yanuar membuat segala sisi Tama yang selama ini terpendam pun mulai bermunculan ke permukaan. Banyak omong. Menanggapi setiap ucapan orang.  Yanuar menggeleng. “Aku tidak sengaja mendengar Susan dan Cintiya yang tampak menyinggung apakah Aini suka sama kamu. Tapi aku gak mendengar apa pun. Ya mungkin kamu juga ada perasaan padanya,” kata Yanuar tak yakin. Tama berdecih. “Kenapa kita jadi membicarakan hal ini? Aku ke sini mau menenangkan pikiran. Bukan malah menambah pikiran dan juga membahas sesuatu yang tidak berkaitan denganku,” tegas Tama.  Yanuar tidak tahu akan hati Tama yang sedang tak baik-baik saja. Yanuar tidak tahu jika Tama sedang kalut dengan pikirannya. Dan hal itu membuat emosi Tama naik tak terkira. Bagaikan grafik lonjakan yang naik karena berbagai faktor. “Iya, ya. Kenapa aku jadi bahas hal kayak kini,” kata Yanuar. Tama memilih diam. Mengabaikan mungkin lebih baik daripada terus menanggapi Yanuar dan membuatnya semakin lelah.  Tama kembali menyesap matchanya. Kemudian ia beralih pada handphone-nya. Sesuatu yang sebelumnya jarang Tama lakukan. Laki-laki itu sangat jarang memainkan handphone. Dan ketika fokus Tama lebih pada handphone, juga tampak kegelisahan di dalamnya, membuat Yanuar bertanya-tanya.  Sejak Senin kemarin banyak pertanyaan yang memenuhi pikiran Yanuar. Kenapa Tama jadi seperti seseorang yang sedang gelisah menunggu kabar dari seseorang? “Tam.. kenapa ngecek HP terus dari beberapa hari lalu?” Pertanyaan itu akhirnya meluncur juga dari bibir Yanuar. Yanuar dan segala ucapannya yang tak pernah bisa dipendam.  “Ada seseorang yang sedang kutunggu kabarnya,” lirih Tama. Yanuar menegakkan tubuhnya. Matanya sedikit membola. Ia tak berkutik. Telinganya tidak salah dengar bukan? Bukankah telinganya baik-baik saja dan berfungsi normal selama ini?  “What!?”  Yanuar tak percaya. Baru satu minggu Tama libur. Dan nyatanya dari libur itu Tama seakan mendapatkan oase dari gersangnya kisah cintanya selama ini. Yanuar benar-benar tak menyangka. Masih sangat jelas diingatannya kala Pak Abdul menawarkan keponakannya yang ditolak secara halus oleh Tama. Dan kini, Yanuar mendengar dengan jelas bahwa seorang Tama menunggu kabar dari seseorang? “Kamu pasti tahu siapa dia. Nggak usah kaget jika suatu hari nanti aku ngasih tahu ke kamu, Jun,” tandas Tama.  Lalu laki-laki itu segera menghabiskan matcha dinginnya. Beranjak menjauhi meja dan berjalan ke luar kedai. Ia butuh asupan nasi untuk makan siangnya. Matcha dingin saja tak cukup untuk mengganjal perutnya. Ia seperti kebanyakan laki-laki di luar sana yang butuh banyak asupan agar tetap bertenaga dan dapat menjalani hidup dengan baik. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN