Ayana masih terlelap dalam tidurnya. Selimut bulu menutupi separuh kakinya berhasil membuai perempuan itu. Membuat tidurnya lebih nyenyak dan tentram.
Ayana terbangun di tengah lelap tidurnya tadi malam. Terkaget dengan jantung yang berdebar. Tidak mimpi apa pun, apalagi mimpi buruk. Ia menduga bahwa memikirkan bapaknya terlalu larut membuat tidurnya dihantui.
Ayana mencoba memaksa matanya untuk tertutup rapat. Sayangnya tak bisa. Hingga akhirnya perempuan itu memilih menunaikan sholat malam, mengaji sembari menunggu Shubuh, dan menunaikan sholat Shubuh.
Ketenangan menyelimutinya, membuat rasa kantuk yang sempat meredup kini kembali membumbung tinggi. Ditariknya selimut bulu yang memberikan kehangatan dan kenyamanan itu sebatas lututnya. Dan tak perlu butuh waktu lama baginya untuk segera terlelap, merajut mimpi, entah mimpi yang akan hadir menjadi bunga tidurnya atau tidak.
***
Suara teriakan dan gedoran pintu sedikit mengusik tidur nyenyak Ayana. Perempuan itu memilih mengabaikan sembari merutuki siapa pun orang yang kurang kerjaan dan berteriak di pagi buta seperti ini. Begitu pikirnya.
Ayana mengubah posisi tubuhnya juga menarik sedikit selimutnya. Lalu salah satu kaki yang semula hangat, kini dikeluarkan dari hangatnya selimut. Terkadang ia merasa nyaman seperti itu. Satu kaki dilindungi oleh hangatnya selimut dan satu kaki dibiarkannya terbuai oleh hembusan udara yang bergerak.
Teriakan itu tak berhenti. Membuat Ayana berdecak kesal. Rasa pusing menderanya karena orang yang kurang kerjaan dan membuat keributan di rumah kosnya. Ia bertanya-tanya di manakah ibu kosnya yang galak itu, yang membiarkan siapa pun di luar kamarnya yang sedang membuat keributan.
Ayana mencoba membuka matanya perlahan. Ia juga meregangkan otot-otot tubuhnya. Subuh tadi ia telah membuka kelambu yang menutupi jendela kamarnya. Dan ketika netra Ayana menangkap salah satu anggota Netizean yang menatap garang ke arahnya di balik kaca itu membuat Ayana terkejut.
Ada apa? Kenapa Nia memandangku seperti itu? Apa ada yang salah?
Ayana tak segera membukakan pintu untuk teman-temannya. Perempuan itu memilih sibuk dengan handphone-nya. Dan baru saja ia menyalakan layar handphone, ia kembali dibuat terkejut karena pewaktu sudah menunjukkan pukul 09.57. Hampir pukul 10.
Aku tidur selama itu?
Ayana tak percaya akan rekor tidurnya yang memakan waktu cukup banyak untuk terlelap. Namun rasa ketidakpercayaannya pada dirinya sendiri itu harus terinterupsi oleh gedoran, teriakan, dan tatapan tajam yang ditujukan untuknya dari Netizean Budiman. Ayaha dengan malas berjalan membuka pintu untuk para sahabatnya.
“Ayana!”
“Ya ampun, Ay! Kamu berhasil membuat kita-kita khawatir.”
“Kamu itu balas dendam atau memang ke Semeru membuat kamu benar-benar lelah?”
Suara para sahabat Ayana memenuhi gendang telinganya. Ayana yang sejujurnya masih mengantuk tidak begitu menanggapi protesan teman-temannya. Ia hanya menepi, memberikan jalan pada Netizean Budiman agar dapat masuk ke kamarnya yang cukup sempit itu.
Nia, Asti, dan Fitri duduk di tepi pembaringan, sebuah kasur dengan sprei bermotif bunga mawar merah yang besar-besar. Ayana yang masih mengantuk mencari jalan agar dapat menuju bagian kasur yang kosong. Lalu segera direbahkan tubuhnya dan dipejamkan matanya.
Para sahabat Ayana saling bertukar pandang. Tidak menyangka bila mereka akan mendapat sambutan seperti itu.
“Ay,” tegur Nia. Tidak setuju bila Ayana kembali terlelap.
Sejak tadi pagi mereka sudah ramai mengobrol mengenai perjalanan pendakian Ayana, Fitri, dan Rahma. Sayangnya hingga mereka ke kampus untuk bimbingan skripsi, Ayana tak kunjung membalas. Terputuslah sebuah keputusan untuk menghampiri Ayana ke kosnya. Dan dibuat terkejutlah mereka kala Ayana tampak terlelap dengan nyenyak di atas kasur.
“Memangnya secapek itu, ya, Ay?”
“Apanya?” tanya Ayana dengan mata yang masih terpejam.
“Mendaki gunung. Kamu sampek tidur lagi,” kata Fina.
Ayana pun membuka matanya perlahan. Tubuhnya tetapi masih tetap berbaring. “Mendakinya memang capek, terutama pada bagian betis. In shaa Allah bagian lain enggak sakit. Tapi ada hal lain yang membuatku lebih sakit,” ucap Ayana dengan tatapan kosong.
Enam sahabat Ayana itu diam. Menunggu akan hal apa yang sedang menimpa sahabatnya itu.
Ayana tampak menghela napas pelan. Tatapannya kini memandang pada para sahabatnya. “Bapak marah. Beliau marah karena aku nggak ijin sama beliau saat mau mendaki,” lirih Ayana dengan pandangan nanar. “Ini memang salahku,” imbuhnya.
Suara Ayana serak. Air mata pun mulai merebak. Tetapi sekuat tenaga ia tak ingin menangis lagi. Sudah lelah rasanya ia memumpahkan air matanya.
Netizean Budiman diam. Tidak ada yang berkutik dan memberikan respons.
“Kamu sudah menjelaskan ke bapak?” tanya Nugi pelan setelah diam di antara mereka cukup lama.
Ayana kembali menghela napas panjang. Sungguh ia merasa hidupnya berat akhir-akhir ini. Meskipun ia menyadari bahwa ujian yang sedang menimpanya sebagian besar juga karena ulahnya sendiri. Akibat dari apa yang ia tanam selama ini.
“Menjelaskan apa, Gi? Di sini memang aku yang salah, kan? Aku yang tidak ijin ke bapak,” jawab Ayana lemah.
“Tapi kamu sudah ijin ke ibu dan abang kamu, Ay,” sela Fitri. Ia merasa bersalah. Ia penggagas bagi mereka untuk pergi mendaki. “Aku minta maaf,” lanjutnya pelan. Suara yang biasanya identik cempreng, kini tak ada lagi. Suara Fitri pun melemah.
“Fit, ini bukan salah kamu!” tegas Ayana.
“Dan kamu, Dek,” katanya sembari menatap Rahma. “Jangan juga merasa bersalah. Ini pure salahku. Murni salahku,” tegasnya pada Rahma.
Netizean Budiman kembali diam. Ramai yang biasanya selalu menyertai, kini meredup dan tenggelam ke dasar bagian yang paling dalam.
“Bapak merasa dilangkahi. Aku sadar. Harusnya aku tetap meminta ijin padanya. Beliau adalah waliku. Bukan ibu atau abang,” ucap Ayana.
Netizean Budiman yang sedari tadi diam, kini kembali memandang Ayana.
“Aku tidak tahu harus bagaimana. Pulang pun rasanya tak berani. Namun jika tidak pulang, bisa saja bapak semakin marah karena aku menjadi anak yang tidak tahu diri dan tidak sadar kesalahan,” lanjut Ayana dengan air mata yang kembali merebak. Mengedip sekali saja, air mata itu pasti meluruh dan membentuk aliran sungai di pipi.
“Abang masih berusaha berbicara dengan bapak. Dan aku masih menunggu bagimana baiknya menurut abang dan ibu.”
Ayana menyeka air matanya. Lalu ia kembali melanjutkan ceritanya mengenai kenapa ia kembali tidur juga perasaan tenangnya.
Ayana tidak lupa meminta maaf pada Rahma dan Fitri. Ia merasa menambahi beban pikiran dua sahabatnya itu. Ia hanya butuh tempat cerita. Seperti teman-temannya kala mereka juga saling berbagi cerita terhadap segala permasalahan yang menyapa hidup mereka.
Pagi menuju siang itu diisi dengan saling menguatkan. Saling merangkul. Membuat Ayana lebih tenang. Membuatnya merasa bersama keluarganya. Membuat senyumnya kembali hadir karena celetukan yang dilontarkan salah satu di antara mereka.