“Ay..”
Ayana mengarahkan netranya pada seseorang yang baru saja memanggilnya. Layar laptop yang sedang menyala, sejenak ia tinggalkan.
“Kenapa, As? Masuk sini,” ucap Ayana mempersilakan Asti untuk masuk ke kamarnya. “Nggak biasanya kamu berdiri di tengah pintu begitu.”
Asti melangkah masuk. Tak begitu menanggapi kalimat terakhir Ayana. Didudukkan tubuhnya di samping Ayana. Kepalanya sedikit ia tolehkan untuk mengintip akan apa yang sedang dikerjakan oleh sahabat dan rekan satu kosnya itu.
“Ada apa?” tanya Ayana tanpa perlu mengulur-ulur waktu lebih lama lagi.
“Handphone kamu di mana sih?”
Ayana menghela napas pelan. Lalu menggerakkan matanya, menatap pada alat komunikasi yang tergeletak di atas kasur.
“Anak-anak itu khawatir sama kamu, Ay,” kata Asti dengan gemas, khawatir, dan kesal.
Ayana kembali menghela napas panjang. “Aku sedang berusaha menata perasaanku, As. Dan saat ini fokusku adalah menyelesaikan semua ini sebelum aku pulang ke rumah,” jawab Ayana lelah.
“Terima kasih karena kalian setia menanyakan aku. Tapi, aku merasa bahwa kita masih bisa bertemu di kampus. Makanya aku gak pernah buka HP terutama pesan dari kalian. Aku hanya menggunakan HP kalau mau janjian dengan dosen atau menghubungi ibu dan abang. Sampaikan maafku pada anak-anak, As. Dan beritahu pada mereka. I’m okay. I’m fine. Aku sedang berusaha baik-baik saja dengan semua ini,” tekad Ayana dengan diakhiri dengan seulas senyum yang tampak terpaksa terlihat baik-baik saja.
Kini giliran Asti yang harus menghela napas panjang. Ia tak bisa memaksa. Ia tidak tahu bagaimana hancurnya perasaan Ayana karena harus berjuang demi membuat bapaknya kembali bersikap baik-baik saja pada sahabatnya itu. Satu yang ia yakini, bahwa Ayana hancur dan butuh penopang. Tugasnya dan anggota Netizean Budiman yang lain adalah menopang dan mendampingi Ayana untuk melewati semua ini.
Ini bukan tentang siapa. Ini tentang persahabatan yang tidak hanya terfokus pada satu orang. Ini tentang semuanya. Bukan tentang siapa yang paling menonjol. Namun tentang siapa pun yang memang harus diberikan pelukan.
“Tapi jika aku boleh memberikan saran. Buka HP sebentar, Ay. Pasti ada banyak orang yang rindu sama kamu. Banyak teman-teman yang butuh kehadiran kamu. Kamu tidak mungkin mengabaikan teman-temanmu, bukan?”
Menohok. Pertanyaan akhir Asti berhasil menonjok tepat di hatinya.
Apa aku selama ini telah mengabaikan teman-teman? Apa aku telah menjadi seseorang yang jahat?
Tangan Ayana terlihat tampak berat ketika bergerak menuju handphone yang ia geletakkan begitu saja di atas kasur. Hilang keinginannya untuk melihat HP, membalas pesan, atau menerima panggilan kecuali dari dosen, ibu, dan abangnya. Ayana merasa tak berkutik karena Asti benar, ia kembali melupakan orang-orang di sekitarnya. Mengabaikan pada tiap-tiap orang yang setia menemaninya.
‘Bodoh.’
Ayana meletakkan handphone-nya sejenak di atas meja yang juga tempat bagi laptopnya untuk duduk. Ia memilih fokus pada laptop. Ingin segala keriwehan perskripsian segera selesai.
Asti memilih diam di samping Ayana. Tak lagi menginterupsi akan apa yang Ayana lalukan. Ia hanya ingin menyadarkan bahwa banyak teman yang mencarinya. Banyak teman yang setia mendampinginya. Bukan seperti ini. Bukan menjadi Ayana yang keceriaannya tenggelam dalam lautan kepedihan yang dalam.
Layar handphone Ayana menyala. Silent mode, membuat Ayana tak pernah terusik juga membuat perempuan itu malas membuka aplikasi perpesanannya. Membuatnya selama ini merasa tenang. Namun ia melupakan kenyamanan ketika bersama teman-temannya.
Mas Tama is calling you.
Netra Ayana membelalak. Ia melupakan seseorang yang beberapa waktu menemaninya selama pendakian Gunung Semeru. Seseorang yang telah menolongnya dan begitu peduli padanya.
Bukannya gegas mengangkat panggilan dari Tama, Ayana memilih memandang Asti dengan lekas. “Sekarang hari apa, As?”
“Jum’at,” jawab Asti singkat.
Ayana menatap Asti penuh haru. Ia gegas mendekatkan tubuhnya dengan Asti. Lalu ia hamburkan pelukan kepada sahabatnya itu.
“Asti,” lirih Ayana dengan air mata yang tidak dapat lagi ia bendung.
Jantungnya seakan dipukul dengan kuat. Hatinya tertohok dengan kuat pula. Membuat Ayana tak mampu menahan kebahagiaan juga rasa haru karena memiliki sahabat yang luar biasa.
Asti membalas pelukan Ayana tak kalah erat. Ia tahu bahwa Ayana saat ini sedang benar-benar rapuh. Lebih rapuh dari sebelumnya. Lebih dari sekedar rapuh. Karena tidak hanya dengan dirinya sendiri ia berperang, tetapi juga pikirannya yang berperang menghadapi bapaknya.
Ayana masih ingat dengan jelas. Asti mengatakan bahwa ia akan pulang ke rumah hari Jum’at ini. Dan ketika sahabatnya itu masih bertahan di kos hingga saat ini, Ayana yakin sekali jika Asti mengorbankan waktunya untuk menunda bertemu dengan orang tuanya demi menemaninya yang egois.
“Terima kasih, As,” ucap Ayana tulus. Air mata masih terus menetes deras.
“It’s okay, Ay. Aku akan berusaha menemani kamu semampuku. Aku akan berusaha mendampingi kamu,” balas Asti. Hilang sudah wajah tengil dan jahil Asti. Kini wajahnya menunjukkan keseriusan. Bukan sebuah candaan yang sering kali ia lontarkan.
“Kita bersahabat selamanya, ya, As?” ucap Ayana dengan tatapan yang seakan tak ingin persahabatan yang selama ini terjalin putus di tengah jalan.
Asti mengangguk semangat. Perempuan itu lalu menerima uluran tangan Ayana. Menciptakan senyum lebar Ayana. Selanjutnya Ayana menautkan jari kelingking mereka, pertanda bahwa mereka berjanji akan menjadi sahabat selamanya.
Layar handphone Ayana yang semula gelap, kini kembali menyala. Masih dengan orang yang sama yang menghubunginya.
Asti pun ingin tahu. Ia mendongak dan mengintip siapakah yang menelepon Ayana. Sebuah nama kontak yang baru pertama ini Asti lihat. Membuat perempuan itu memandang Ayana penuh selidik.
Ayana memilih mengabaikan panggilan itu. Ia tak ingin membuat Asti tak nyaman.
“Siapa, Ay?” Asti tak dapat lagi menahan rasa ingin tahunya.
Ayana membalas pertanyaan Asti dengan senyum kaku yang tampak dipaksakan. “Nanti ya akan kujelaskan, As.”
Tidak saat ini. Tidak disaat ia sedang tak baik-baik saja dengan bapaknya. Ia ingin menunggu semuanya tuntas, atau setidaknya semuanya lebih tenang. Setelahnya Ayana akan menceritakan Tama pada teman-temannya.
Melihat Ayana yang bergerak tak nyaman di tempatnya karena nomor itu terus menghubungi, Asti pun memilih pamit kembali ke kamarnya. Ia pun telah memastikan bahwa Ayana tak akan terpuruk karena bapaknya.
Tama tidak lagi menghubungi Ayana. Membuat gadis itu dengan cepat membukan handphone-nya. Dan begitu terkejut ia ketika melihat banyak panggilan tak terjawab dan pesan yang belum Ayana baca.
“Astaga, Ayana,” gumamnya.
Ia pun dengan cepat membuka room chat dari Tama. Dan ia semakin merasa bersalah karena membiarkan laki-laki itu kebingungan mencari kabar tentangnya.