39. Kekhawatiran Tama

1078 Kata
Tama masih sibuk memantau notifikasi pada handphone-nya. Esok sudah akhir pekan. Bahkan mungkin malam ini sudah bisa disebut sebagai weekend. Dan belum ada pesan balasan dari perempuan yang berhasil mencuri hatinya. Tak kenal lelah ia mengirim pesan pada Ayana. Meskipun berakhir dengan dua ceklis berwarna abu-abu. Sejak Minggu malam hingga Jum’at malam pesan yang ia kirim, yang jumlahnya mungkin sudah mencapai ratusan itu belum juga berganti menjadi biru. Masih tetap setia bertahan di ceklis dua abu-abu. Setiap ia senggang, Tama juga meluangkan waktunya untuk menghubungi seseorang yang benar-benar menyita pikirannya beberapa hari ini. Panggilannya berdering, tetapi tak pernah diangkat apalagi terhubung. Tama frustasi. Ia memilih keluar kamar. Menemui bundanya. Ia belum siap jika apa yang belum dimulai harus berakhir. Ini pertama kalinya ia seperti sekarang. Dan apa ia sanggup menjalani ini semua? “Kenapa, Bang? Kok muka abang kayak sebel dan capek gitu?” tanya bunda Tama ketika mendengar helaan napas besar putranya. Tama duduk di samping bundanya sembari bergabung melihat tayangan sinetron yang sedang digandrungi bundanya. Lebih tepatnya hanya mengalihkan pikirannya dari sesuatu yang semrawut. Saraf-saraf di otaknya tampaknya sudah mulai menggulung dan tidak teratur. Tama bingung. Apa tepat jika ia bertanya pada bundanya? Namun ia malu. Tama memilih memandang tayangan sinetron itu. Meskipun tak ada sedikit pun yang dapat ia tangkap dari jalan cerita sinetron tersebut. “Bang..” panggil Bunda lirih. Tama memandang Bunda dengan bimbang. Lalu digaruknyalah kulit kepalanya yang tidak gatal. “Bun.. Bunda masih ingat dengan perempuan yang pernah Abang bicarakan ketika Abang ke Surabaya untuk tinjauan proyek lapangan?” Bunda tampak berpikir keras. Menggali kembali memorinya. Lalu senyum terbit kala ia berhasil mengingat perempuan yang dimaksud oleh putranya. “Masih, Bang. Kenapa, Bang?” tanya Bunda dengan begitu ingin tahu. Bahkan ia mengabaikan sinetron yang terputar di depannya. Ia lebih berminat mendengarkan cerita Tama daripada melihat alur sinetron itu. “Abang kemarin summit bareng dia.” Netra Bunda berbinar. Wanita paruh baya itu bahkan tak sabar mendengar cerita selanjutnya. “Terus gimana, Bang?” “Abang ngajak dia komitmen.” Bunda memekik histeris. Ia tidak menyangka jika putranya akan bergerak cepat demi Sang Pujaan Hati. “Tapi…” Tama menjeda ucapannya. “Tapi kenapa?” Bunda khawatir ada sesuatu yang tidak baik menimpa putranya. ‘Apa Tama ditolak?’ “Abang ditolak?” tanya Bunda pelan. Wajahnya sendu. Binar yang sempat menyala terang, kini mulai redup perlahan. “Jangan sampai, Bun. Abang mau benar-benar berkomitmen sama dia, tetapi dia harus menjelaskan seseorang yang pernah mencium keningnya. Abang nggak mau kalau mengganggu hubungan seseorang,” jelas Tama. Bunda manggut-manggut, pertanda paham. Di satu sisi ia cukup simpati dengan kisah putranya. Dan di sisi lain ia juga mengacungi cara berpikir putranya yang selalu luar biasa, begitu menghargai perempuan. Memperlakukan perempuan dengan begitu baik. “Semoga segera mendapatkan kabar dari perempuan ini, ya, Bang. Jikalau dipikir-pikir, mungkin dia sedang sibuk. Atau sedang ada sesuatu hal yang menyita pikirannya. Abang berpikir positif dulu. Dan mungkin ini sedikit akan menyakitkan..” “Menyakitkan seperti apa, Bun?” potong Tama tak sabar. Bahkan ia benar-benar telah menjadi orang lain. Laki-laki yang tak sabaran. Bukan lagi Tama yang dingin, tak peduli, dan cuek. Bunda tertawa geli. “Sabar, Bang,” tegurnya. “Mungkin dia sedang tidak ingin memikirkan tentang cinta,” lanjutnya. Tama masih terus memikirkan pernyataan bundanya meskipun ia telah kembali ke kamarnya. Mendengar hal itu, membuat Tama semakin merasa takut. Takut jika apa yang dikatakan bundanya berkemungkinan benar. Apa benar Ayana sedang tidak memikirkan tentang cinta? Tapi mengapa perempuan itu menyanggupi ajakan komitmennya bila akhirnya seperti ini? Apa ini yang disebut dengan patah hati? Tama mengusap wajahnya kasar. Penat dan penuh sekali rasanya kepalanya. Tama merebahkan tubuhnya. 25 tahun hidup dan pertama kali akan menjalin hubungan asmara dengan seseorang sepertinya harus kandas sebelum semua dimulai. Ketika hatinya telah siap dan terbuka lebar untuk menyambut cinta. Maka secepat itu pula ia harus menutupnya kembali, secepat ia membuka pintu hati ketika Ayana hadir. Tama menutup matanya dengan lengan kanannya. Masalah cinta nyatanya membuat banyak energinya terkuras. Dering handphone-nya membuat Tama segera meraih handphone yang sedari tadi tergeletak di samping tubuhnya. ‘Siapa yang menelepon?’ “Halo..” “Halo.. Assalamu’alaikum,” sapa seseorang di seberang sana. Tama seketika mendudukkan tubuhnya dengan terburu. Ia tidak salah dengar bukan? Netranya segera meneliti layar handphone-nya. Ia sangat hapal betul dengan suara Sang Penelepon. Dan ia menatap haru, tak percaya pada siapa yang baru saja meneleponnya. “Mas..” Sang Penelepon memanggil Tama. Mungkin merasa bahwa Tama tak segera menanggapi salamnya. “Wa’alaikumsalam, Dek,” jawab Tama dengan sangat lega. “Maaf, Mas,” kata Ayana setelah Tama menjawab teleponnya. Iya, perempuan yang menelepon Tama adalah Ayana. Dahi Tama mengernyit. “Maaf kenapa, Dek?” Jantung Tama berdebar hebat. Apa maksud dari kata maaf yang Ayana lontarkan? “Maaf karena mengabaikan kamu. Hampir seminggu, ya?” “Apa ada sesuatu, Dek?” Tama was-was. Apa benar laki-laki waktu itu adalah kekasih Ayana? Tidak ada sahutan. Membuat Tama semakin tak tenang. Kegelisahan menyelimutinya. ‘Apa sebentar lagi ia akan mendengar kembali kata maaf? Lalu jalinan yang baru akan terajut harus berakhir? Tidak. Bahkan belum sampai terajut.’ Tama menunggu dengan jantung yang bertalu hebat. Napasnya pun tak teratur. Ia begitu takut. “Ada sesuatu hal. Namun, aku belum yakin apakah harus mengatakan ini pada Mas Tama atau tidak,” jawab Ayana lirih. Tama diam di atas pembaringan. Ia sadar bahwa ia bukan siapa-siapa untuk Ayana. ‘Apa ini kata-kata halus pertanda penolakan?’ “Bisa kita bertemu besok, Mas?” Netra Tama membelalak. “Di mana, Dek?” “Aku harus naik kereta apa untuk bertemu dengan Mas Tama?” “Aku yang ke sana. Kujemput kamu di dekat kos kamu. Kita akan pergi keliling Surabaya mungkin?” Tama tidak tahu apakah yang ia tawarkan ini mampu untuk menghapus segala kegundahan hati Ayana atau tidak. Namun yang pasti, ia akan berjuang sampai Ayana memintanya pergi. Perempuan pertama yang berhasil mengetuk pintu hatinya harus ia perjuangkan dengan maksimal. Ia tidak boleh menyerah hanya karena Ayana sempat mengabaikannya. “Terima kasih, Mas.” Tama dapat merasakan bahwa ada beban berat yang sedang dirasakan oleh Ayana. Dan hal itu berhasil membuatnya tak tenang dan tak senang. “Kamu share lokasi kos kamu sekarang, ya, Dek?” Ayana mengiyakan. Lalu sambungan telepon terputus karena Ayana meminta waktu untuk segera istirahat. Suara Ayana yang lemah dan tampak tak semangat itu membuat Tama semakin tak tenang. Pikiran laki-laki itu diisi dengan berbagai kemungkinan yang sedang menimpa perempuan ceria yang berlesung pipi itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN