04. Azzam

1117 Kata
"Hiks...Hiks..." Rere semakin menangis mengingat kejadian 10 tahun lalu. Ia memegang bekas luka di kepalanya akibat perbuatan Afif di masa lalu. Dimana Afif mendorong tubuh mungilnya hingga kepala Rere terbentur sudut meja dan mengeluarkan darah. Sampai akhirnya, meninggalkan bekas luka yang tak kunjung hilang.  Afif menangkupkan kedua tangannya di wajah Rere. Menghapus air matanya. Membelai rambutnya dan mencium bekas luka di kepala Rere. Ia berharap dengan kasih sayang yang ia alirkan dapat meluluhkan hatinya. "Abang nggak benci Rere?" ucapnya mengusap air mata di pipinya. Ia berusaha untuk tidak menangis lagi. Karena ia berharap, Abangnya akan menyayanginya sepenuh hati.  Afif menggeleng "Abang nggak pernah benci, Rere." ucapnya mantap dan langsung mendapat pelukan erat dari sang adik. Rere melepaskan pelukannya. Lalu, mengambil napas perlahan dan mengembuskannya. Kini, tatapannya beralih kepada seorang pemuda yang masih setia berdiri diambang pintu. Ia menatapnya intens. Jujur saja, ia tak menyukai gaya pakaiannya yang sok alim. Yaitu dengan memakai baju koko, sarung, dan kopeah. Tanpa ia sadari, pakaian Abangnya jauh lebih alim. Afif memakai jubah berwarna putih dengan kopeah yang senada. "Ngapain lo liatin gue?" tegurnya jutek. Afif terkekeh melihat mood adiknya yang berubah dengan cepat. Yang semula sedih menjadi jutek seperti ini. Rasanya, ia menyesal dengan keputusannya di masalalu. Andai saja, waktu bisa diputar kembali, maka ia akan menghabiskan waktu bersama adik semata wayangnya ini. Sayangya, itu tak akan pernah terjadi. Namun, ia tetap bersyukur. Karena Allah telah memberikannya kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan-kesalahannya. "Nggak, saya tidak liatin kamu!" elak Azzam yang segera mungkin memalingkan wajahnya ke arah lain. Rere merasa kesal dengan pria itu, sudah jelas-jelas ia tertangkap basah yang terus melihatnya, saat ditegur ia mengelak. Menyebalkan!. Sebuah tangan terulur memegang bahunya. Gadis itu mengulum senyum. Manik mata mereka saling bertemu. Begitu juga dengan Afif, yang kini sudah tersenyum lebar.  "Re, udah maafin Abang 'kan?" ucap Afif setelah mengangkat tubuh Rere dari kursi roda menuju kasur. "Belum." sahutnya. "Kok belum?" "Rere nggak akan mau maafin abang, kalo Abang belum beliin Rere bubur ayam, ketoprak, mie ayam, bakso, dan pizza." ucapnya sambil menghitung jari jemarinya saat menyebut nama makanan. Afif menghela napas. "Oke. Abang beliin, tapi abang nggak tau belinya dimana?" ucap Afif berpikir. "Cari tau sendiri!" ketus Rere menyibakkan selimut ke tubuhnya. "Yaudah. Abang turun dulu, mau susul Azzam di bawah." pamitnya. ***** "Zam, ane titip Rere sebentar. Ane mau beli makanan dulu di luar." pamit Afif pada sahabatnya. "Na'am, Fif" jawabnya. Rere merasa nyeri pada kakinya. Mungkin inilah akibat karena jarang meminum obat. Rere bangkit dari rebahannya, ia mencoba meraih air di meja yang berada sedikit jauh dari kasurnya. Tangannya tak sampai, karena kecerobohannya ia menyenggol gelas tersebut dan akhirnya jatuh ke lantai. Brrakk "Bodoh." lirihnya. "Itu suara apa?? Suara itu asalnya dari kamar Rere. Tapi disini sepertinya tidak ada orang lagi. Apa saya datang ke kamar Rere saja untuk melihat keadaannya. Saya takut terjadi apa-apa. Bismillah" lirih Azzam. Tok tok tok "Assalamu'alaikum." ucap Azzam. "Masuk." teriak Rere. Dengan pelan, Azzam membuka pintu kamarnya. "Eh, lo ambilin gue minum dong. Gue mau minum obat." suruh Rere pada Azzam. Azzam terlonjat kaget, baru saja ia membuka pintu tetapi gadis dihadapannya langsung menyuruh dirinya. "Jawab dulu salam saya." ucap Azzam masih diambang pintu. Ia tak berani masuk ke dalam kamar perempuan yang bukan mahramnya. "Ah, kelamaan. Cepet ambilin gue minum!" ujar Rere sedikit meninggikan suaranya. "Saya akan ambilkan kalo kamu minta tolong sama saya. Bukan menyuruh saya." jelas Azzam. "Isshh." geram Rere. "Ni cowok bikin gue kesel aja! Kalo gue bisa berdiri terus jalan sendiri juga nggak bakal nyuruh dia" batin Rere. "Yaudah, gue minta tolong, lo ambilin minum buat gue?!" ucap Rere di manis-maniskan, yang bisa membuat orang yang melihatnya semakin gemas dengan wajah imutnya. Azzam tertawa kecil saat memperhatikan ekspresi wajah Rere "Ya sudah, saya ambilkan." ucapnya setelah itu menutup pintu. "Astagfirullahal adzim.... Astagfirullahal adzim, apa yang telah saya lakukan ya Allah. Saya telah zina mata" batin Azzam setelah ia menyadari bahwa ia telah melakukan sebuah dosa. **** Setelah menemukan gelas dan nampan, Azzam segera menuangkan air ke dalam gelas, tetapi ia dikejutkan dengan sapaan seseorang. "Aden." panggilnya yang membuat Azzam terlonjak kaget dan menghentikan aktivitasnya. Lalu membalikkan tubuh ke belakang. Ia mendapati seorang wanita paruh baya dengan keranjang belanjaan di tangannya. "Em... I..iya Bi?" sahut Azzam "Aduh maaf, Bibi kira Aden Dimas. Tau-taunya bukan. Maafkan Bibi yang sudah mengagetkan." ucap Bi ijah merasa bersalah. "Enggak pa-pa kok, Bi". jawan Azzam lembut. "Aden siapanya Non Rere?" tanya Bi ijah-nama pembantu di rumah Rere setelah meletakkan belanjaannya di meja. "Oh bukan Bi. Saya temannya ,Afif." ucap Azzam. "Nak Afif sudah pulang?" tanyanya dengan senyum merekah. Azzam mengangguk beberapa kali. Kemudian, Bi Ijah berjalan menghampirinya. "Ini buat siapa Den?" tanya Bi ijah menunjukkan segelas air yang belum terisi penuh. "Buat Rere, Bi." "Biar Bibi aja yang bawa. Aden duduk, nonton tv aja di ruang tamu." ucap Bi ijah melenggang pergi sambil membawa segelas air. Jujur saja, ia merasa tak enak. Seharusnya ia yang melayani nona muda rumah ini. Bukan malah tamu tuan mudanya. Drrtt Drrrtttt Ponsel di saku Azzam bergetar. Setelah mengambilnya, terlihat di layar utama ponselnya ada sebuah panggilan yang membuatnya mengulum senyum. "Assalamu'alaikum Abi." "Waalaikumussalam Nak. Bagaimana kabarmu? Disini abi dan ummi sudah rindu ingin bertemu kamu." "Alhamdulillah Azzam sehat wal'afiat. Azzam juga rindu Abi. 3 hari lagi Azzam pulang ke pesantren Abi, sekarang Azzam lagi ada di Jakarta, di rumahnya Afif, Bi." "Abi dan Umi sehat-sehat aja kan?" "Alhamdulillah kami baik-baik saja. Yasudah kalau kamu di Jakarta. Cepat balik ke pesantren ya, nak." "Iya Bi." "Abi tutup dulu telponnya. Assalamu'alaikum." "Waalaikumussalam." Tanpa disadari, Azzam meneteskan air mata kerinduan pada orangtuanya dan adiknya. Sudah beberapa tahun ini ia tak pulang ke Probolinggo. Dan sekarang, ia telah kembali pulang. Tetapi ke Jakarta terlebih dahulu karena Afif memaksanya untuk menginap di rumahnya, baru setelah itu mereka akan ke probolinggo bersama. Azzam melangkahkan kaki menuju kamar, yang sebelumnya sudah ditunjukkan oleh Afif. Ia akan meluruskan punggungnya dulu. Perjalanan menuju Indonesia sangat menguras tenaganya. Di lain tempat... Rere sudah terlelap tidur sejak 5 menit yang lalu. Ia merasa kesal karena Azzam yang tak kunjung kembali ke kamarnya untuk membawa air. Sedangkan, rasa nyeri di kakinya semakin terasa, jadi ia putuskan untuk tidur. Dengan harapan, rasa nyeri itu bisa hilang dengan sendirinya. Bi ijah membuka pintu kamar Rere perlahan. Ia terkejut melihat pecahan gelas di lantai. Ia menggeleng melihat kelakuan anak majikannya, selimut yang seharusnya menyelimuti tubuh, malah berada di ujung kaki kirinya. Setelah meletakkan gelas, Bi Ijah beralih menyelimutkan selimut ke tubuh putri majikannya. Lalu, membelai sayang rambut seorang gadis yang tertidur pulas. Bi Ijah menarik tangannya saat Rere menggeliat kecil. Ia terusik oleh belaian pembantunya itu. "Tidur yang nyenyak ya, Non." ucap Bi ijah, kemudian ia membersihkan pecahan gelas yang berserakan di lantai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN