02. Kecelakaan

1150 Kata
Sebentar lagi pertandingan akan dimulai. Rere dan Andre sudah siap diposisinya masing-masing. Seorang gadis yang memakai celana levis sobek-sobek dan sebuah kaos yang dilapisi jaket kulit berdiri diantara motor mereka dengan membawa dua buah bendera yang ditalikan pada sebuah tongkat berukuran sedang. Ia merentangkan tangannya yang memegang erat tongkat bendera. "Satu" "Dua" "Ti...Ga..." Ia mengangkat kedua tangannya ke atas. Rere membiarkan Andre melaju dihadapannya. Balapan ini hanya 2 putaran saja, jadi ia masih bisa menyalipnya disaat-saat terakhir. Rere tersenyum sinis saat motornya hampir menyusul Andre. Berbeda dengan Andre, yang tidak fokus mengendarai motornya. Pasalnya, ini adalah pertama kalinya Rere membiarkannya memimpin pertandingan. Putaran pertama sudah diselesaikan oleh mereka. Andre menambah kecepatan motornya. Tak mau kalah, Rere pun menambah laju kecepatan yang menjadi andalannya. Dengan mudah ia menyalip Andre. Garis finish berada 2 meter di depannya. Tak membuang kesempatan, Rere menambah kecepatannya lagi. Wuusshhh Dan akhirnya Rere-lah yang menjadi pemenang di malam ini, sedangkan Andre masih berada 1 meter di belakangnya. "Menang lagi gue" ucap Rere kegirangan sembari melepas helmnya. "Lo emang hebat, Re" ucap Bima lalu ber-tos ala mereka. Andre hanya bisa menahan kekesalannya di dalam hati. Ia tak rela jika kali ini, dirinya kalah lagi, setelah beberapa kali menantang Rere. "Selamat ya Re... Atas kemenangannya" "Lo emang tak terkalahkan Re" "Gue salut sama lo" Dan masih banyak lagi... Satu persatu orang-orang pergi dan hanya menyisakan Rere, Bima dan Andre. "Lo belum puas kalah dari gue?" tanya Rere sembari melipatkan kedua tangannya di depan d**a. "Liat aja nanti, apa yang akan gue lakuin ke lo! Sebagai ketidakterimaan kekalahan gue!" ancam Andre. "Gue nggak takut, wleee." ucapnya menjulurkan lidahnya. "Isshh, awas ya lo! Bakal gue bales!" umpat Andre dalam hatinya. "Udah Re, jangan di gituin nanti dia nangis." ledek Bima yang membuat tawa mereka pecah. Andre pergi meninggalkan mereka dengan hati penuh dendam. "Re, gue balik dulu ya.. Lo nggak pa-pa pulang sendiri?!" pamit Bima. "Nggak pa-pa, Bang." ucapnya memakai helm. "Nggak akan ada orang yang bisa ngalahin gue!" batin Rere. Rere mengendarai motor dalam gelapnya malam. Sesekali ia bersenandung kecil menyanyikan sebuah lagu. We don't talk anymore We don't talk anymore "Aaaa...." Rere kehilangan keseimbangab motornya. Ia terjatuh ke arah kanan jalan yang membuat kaki kanannya tertindih tubuh motornya dan terbentur keras dengan jalanan. Perlahan ia membuka helmnya. Ia mulai merintih kesakitan karena goresan luka ditangannya. Sebelumnya ia sengaja tak memakai jaket kulitnya dan menyimpannya di bawah jok motor dan sekarang ia menyesal. Untungnya ia memakai helm, jika tidak kepalanya akan terbentur dengan aspal. Ia juga merasakan sakit di bagian bahu, karena bahunya lebih dulu mendarat di aspal untuk menahan kepalanya agar tidak terbentur dengan aspal. Ia mencoba menggerakkan kaki kanannya namun tak ada hasil. Sakit mulai di rasakannya. Rere menengok kanan kiri berniat mencari pertolongan, tetapi tidak ada orang disana. "Hiks...hiks... Tolooongg..." teriaknya berharap seseorang mendengar suaranya. "Kaki gue kenapa nggak bisa bergerak" keluhnya berlinang air mata. "Papa... Tolong Rere.... Bang Bima.... Bang Bima?" Rere menghapus jejak air matanya. Kemudian merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Segera ia mencari kontak Bima lalu menghubunginya. "Ayo dong Bang angkat! Gue nggak kuat lagi.. Hiks..." "Bang... Ayo angkat!" "Cepetan angkat" Maaf nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif. Mohon hubungi beberapa saat lagi. Hanya itu jawaban yang ia dapatkan selama menghubungi Bima. Rere menyerah. Sedari tadi ia menghubungi Bima namun nomornya masih tak aktif. Sampai ia putuskan untuk mengirim pesan padanya. Rere bukanlah tipe cewek yang mudah menyerah. Ia akan melakukan segala cara untuk menyelamatkan dirinya dari situasi ini. Sedikit demi sedikit ia mengangkat motornya. Ia kerahkan tenaganya yang masih tersisa. Ia harap, Tuhan masih memberikannya kesempatan hidup agar dirinya dapat bertemu kembali dengan lelaki yang dicintainya. "Ayo Re! Lo cewek yang kuat! Lo pasti bisa! Lo nggak boleh lemah!!" ucapnya menyemangati dirinya sendiri. Setelah bagian motor yang menindihi kakinya terangkat, ia langsung menarik kaki kanannya. Ia berhasil. Ribuan rasa syukur ia ucapkan dalam hatinya. Setelahnya, ia harus mencari bantuan. Tetapi sayangnya saai dirinya mencoba berdiri, tetapi tubuhnya kembali terjatuh dan terjatuh. Ia mulai kehabisan tenaga. Sekarang ia hanya bisa berpasrah. "Gue nggak kuat lagi." ucapnya sebelum ia tak sadarkan diri. Perlahan Rere menutup matanya. "Lebih baik gue tinggalin dia sekarang!" ucap seseorang yang bersembunyi di balik pohon besar. ***** Sebuah mobil melaju dalam kecepatan rendah. Sang pengemudi yang tampan itu sedang merasa bahagia karena ia telah membuat orang yang dicintainya bahagia. Tiba-tiba ia merasa bingung ketika melihat sebuah motor tergeletak di pinggir jalan. Dan tidak jauh dari sana ada seorang gadis yang tak sadarkan diri. Setelah memberhentikan mobilnya, ia meneliti motor itu terlebih dahulu. "Motor ini kayaknya nggak asing bagi gue." gumamnya. Ia melangkahkan kaki dengan cepat ke arah gadis yang terkulai di jalanan. Sesampainya, ia berjongkok dan mengulurkan tangannya menyingkirkan rambut yang menutupi wajah sang gadis. Dan betapa terkejutnya ia melihat wajah sang gadis. "Rere!" pekiknya yang tak percaya. "Lo harus kuat, Re!" ucapnya melihat wajah Rere yang pucat dan langsung menggendongnya ala bridal style. Ia melajukan mobil dalam kecepatan tinggi. Menempuh waktu hanya 10 menit untuk sampai di rumah sakit terdekat yang seharusnya sampai dalam waktu 20 menit. Dalam perjalanan, ia langsung menghubungi dan memintanya datang ke rumah sakit. Beberapa menit kemudian..... "Dim, gimana keadaan Rere?" tanya Bima sesampainya di rumah sakit. Dimas yang mendengar suara familiar itu segera mengangkat kepalanya yang sedari ia tundukkan "Gue nggak tau, Bang." "Gue bodoh! Gue nggak bisa jagain adik gue sendiri!" ucap Bima sembari memukul-mukuli tembok. "Bang, lo harus sabar." ucap Dimas memegang bahu Bima dan mengajaknya duduk. Pikiran Bima sangat kacau. Bagaimana ia bisa meninggalkan Rere begitu saja tanpa mengantarnya pulang. Ia menyesal. Ia terus merutuki dirinya sendiri. Seharusnya ia sadar, jika setiap saat bahaya selalu mengintai adik kesayangannya. "Gue gagal jagain Rere,Dim, gue gagal!!" ucap Bima menangis. Dimas merasa tak tega melihat Bima menangis. Karena ini pertama kalinya ia melihat Bima menangis. "Sekarang lebih baik lo berdoa supaya Rere baik-baik aja, Bang." ucap Dimas mengelus punggung Bima. Cekkleekk Seorang pria paruh baya memakai jas putihnya, yang pasti semua orang tahu jika dia seorang dokter meskipun tak sempat berkenalan dengannya. Bima dan Dimas bangkit dari duduknya dan menghampiri sang dokter. "Dok, bagaimana keadaan adik saya?" tanya Bima. "Adik Anda mengalami patah tulang di kaki kanannya yang mengakibatkan ia tak bisa berjalan tanpa bantuan tongkat. Untuk pemulihan membutuhkan waktu yang lama, jika dilihat dari kondisi pasien, ia membutuhkan waktu 4 bulan untuk sembuh total. Dan ia harus sering mengikuti Fisioterapi agar bisa kembali berjalan." jelas dokter. Bima tak mampu berkata apapun. Ia tak tahu bagaimana reaksi Rere jika mengetahui ia tidak bisa berjalan normal. Ia terduduk lemas dilantai dengan  wajah yang ditundukannya sedalam mungkin. Sungguh, ia merasa sangat bingung, ia tak tahu bagaimana cara membangkitkan semangat hidup adiknya kembali. Pasti  setelah mengetahui keadaannya, Rere akan semakin terpuruk dan pasti membutuhkan waktu lama untuk membangkitkan semangat hidupnya. Bahkan, saat kehilangan Farhan ia membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengembalikannya seperti semua. Itu pun berkat Dimas yang setuju membuat sebuah rancangan untuk kebaikan Rere sendiri. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN