06. Teguran

1107 Kata
"Aaww..." ringisnya "Cepet.... Cepet gendong gue!" pinta Rere mengulurkan kedua tangannya. "Gendong gue ke kasur. Gue nggak kuat!" pekik Rere tak tahan. Untungnya saat Rere loncat, ia menumpukan berat badannya pada kaki kiri saat kembali menapakkan kaki di lantai. "Tapi...." ******** "Hwaa...."  "Abang kaki Rere sakit!" rengeknya setelah Afif mengangkatnya ke atas kasur. "Sudah Abang bilang gips nya jangan dilepas! Rere aja yang nggak nurut sama Abang!" amarah Afif menggebu. Ia tak habis pikir, dengan adik semata wayangnya yang sulit untuk diberitahu.  Rere sangat sulit untuk diberitahu, ia terus memaksa Dokter untuk melepas gipsnya. Ia merasa sangat sulit bergerak ketika kakinya di gips. Dengan segala tipu daya akhirnya Dokter menyetujuinya. Dan keluarganya hanya bisa menghela napas berat. "Tapi... Tapi 'kan kaki Rere udah mendingan, kalo masih pake gips Rere nggak bakal bisa gerak bebas terus nggak bisa nolong dia, Abang!" elaknya mencoba membela diri sembari menunjuk Azzam. Afif terus beristigfar. Baru juga 2 hari bersama adiknya, ia sudah tidak tahan dengan kelakuannya. "Semua ini tidak disengaja. Allah sudah merencanakan semuanya. Yang terpenting kamu harus segera sembuh agar bisa kembali ke sedia kala " ucap Azzam menengah-nengahi. "Tuh Bang, dengerin!" celetuk Rere melirik ke arah Abangnya yang sedang menundukkan kepala. "Btw, nama lo siapa? Gue belum tau soalnya." tanya Rere sok akrab. "Nama saya Azzam." jawab Azzam tersenyum hangat. Afif yang mendengar perkataan adiknya yang kurang sopan pun langsung menegurnya. "Kalo ngomong yang sopan, Azzam lebih tua dari Rere. Jangan pake lo-gue Abang nggak suka!" tegur Afif ketus. Rere hanya memutar bola matanya jengah.  Suasana kembali hening. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Rere memikirkan hari-hari yang akan dilewatinya jika benar-benar Abangnya akan tinggal di rumah. Sedangkan Afif, ia tengah memikirkan cara agar bisa membuat adiknya kembali ke jalan yang benar. Berbeda dengan Azzam yang berpikir apakah ia akan berjumpa lagi dengan gadis menggemaskan ini atau tidak. Rere melirik Abangnya yang bangkit dari duduknya, sepertinya ia akan pergi. "Zam, titip Rere ya, Ane mau mengurusi berkas-berkas untuk pindah kuliah dulu." ucap Afif memecah keheningan. "Na'am, Fif." "Assalamu'alaikum." ucap Afif. Pintu ruangan memang sengaja tidak ditutup oleh Afif. Karena kondisi di dalam hanya mereka berdua, takut terjadi fitnah diantara mereka. Apalagi Azzam yang notabene-nya seorang Ustadz. Jika tidak terpaksa, ia juga tidak akan mau. Karena tidak ada anggota keluarga Rere lagi. "Waalaikumussalam." Rere menepuk jidatnya "Aduh, bahaya! Kalo Abang gue tinggal di Jakarta ,gue nggak bisa bebas kemana-kemana dong?!" batinnya. Wajah Rere memucat. Ia takut akan kemarahan Afif jika mengetahui kebiasaan-kebiasaan buruknya. Ia tak mau berpisah dengannya lagi. Hanya Afif saja saudara kandung yang ia miliki. "Kamu kenapa?" tanya Azzam. "Nggak, gue nggak pa-pa." sahut Rere cepat. "Kamu tau?" tanya Azzam menautkan sebelah alisnya. Rere menggeleng. "Wanita itu wajib menutup aurat, seperti firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 59" يَٰٓـأَيـُّهَا ٱلنَّبِيُّ قـُل لـِّأَزۡوَٰجِكَ وَبَنـَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلۡـمُؤۡمِنِينَ يُدْنِينَ عَلـَيۡهـِنَّ مِن جَلَٰبـِيبـِهـِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنـَىٰٓ أَن يُعۡرَفۡنَ فـَلـَا يُؤذيۡنَ ۗ وَكـَانَ اللهُ غـَفـُورًا رَّحِيمًا (الأحزاب : ٥٩ Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan wanita-wanita (keluarga) orang-orang mukmin, agar mereka mengulurkan atas diri mereka (ke seluruh tubuh mereka) jilbab mereka. Hal itu menjadikan mereka lebih mudah dikenal (sebagai para wanita muslimah yang terhormat dan merdeka) sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah senantiasa Maha Pengampun lagi Maha Penyayang "Kapan kamu mulai menutup aurat?" tanya Azzam. "Tutup aurat? Nggak ada niatan gue." celetuk Rere. "Udah ah, gue mau tidur. Jangan lupa nanti sore lo bangunin gue, gue mau terapi sama Dokter Andin." "Ya sudah, saya tunggu di luar saja." ucap Azzam menutup pintu "Ni orang sokab (sok akrab) banget sama gue, baru juga kenalan udah berani tanya kapan gue tutup aurat. Kalo bukan temen Abang gue, udah gue sikat ni orang" batinnya. **** Sore ini Rere berada di taman. Lagi dan lagi ia ditemani oleh Azzam. Sebenarnya ia merasa kesal dengan Azzam, ia terus menceramahinya jika waktu senggang. Rere juga kesal dengan Afif, karena sampai sekarang ia belum balik ke rumah sakit. Saat ini Aryo tengah sibuk membuka cabang perusahaan di Jawa Timur. Jadi wajar saja, jika Aryo tidak mengurusi Rere beberapa hari ini. "Coba kamu jalan dengan tongkat." ucap Dokter Andin menyerahkan satu buah tongkat. Rere langsung memasangnya, dan bangkit dari duduknya di kursi roda. Andin memegang erat tangan Rere yang mencoba melangkahkan kakinya. Rere menggigit bibir dalamnya untuk menahan rasa sakitnya. Pov Azzam Sejak pertama kali bertemu, perasaanku menjadi aneh saat melihatnya. Hatiku merasa kecewa saat mendengar penjelasan Aryo bahwa gadis ini sangat jauh dari agama. Mulai dari situ aku berkeinginan untuk merubah dia menjadi wanita sholehah. Kebetulan atau kebetulan aku tak tahu? Mengapa aku dan dia selalu berdua? Meskipun kami tak melakukan hal apa pun, tapi tetap saja perasaan aneh ini kembali datang. Aku bangga kepadanya, karena ia benar-benar berusaha untuk bisa kembali berjalan. Ia sudah beberapa kali jatuh, tapi itu semua tidak mematahkannya semangatnya. Setelah selesai terapi, aku langsung bergegas mencari minuman untuknya. Aku tahu ia kehausan, walaupun ia tak memberi tahuku. Pov Author "Thanks." ucap Rere setelah menerima air dari Azzam dan langsung meneguknya. Azzam hanya mengangguk. Terlihat, seorang pria berlari kecil ke arah mereka. Membuat Rere langsung mengembangkan senyumnya. Sedangkan Azzam yang melihatnya hanya menatap datar menyambut kedatangannya. "Udah baikan lo?" ucapnya saat mengambil tempat di sebelah Rere. Sedangkan Azzam berdiri sedari tadi. Seketika, Azzam merasa tak senang dengan pemuda yang tiba-tiba datang ini. Kelihatannya, mereka begitu akrab. Namun, ia tak tahu siapa dirinya. "Udah dong. Gue udah bisa jalan pake tongkat." ucap Rere tersenyum bangga. "Baguslah kalo kek gitu. Dari dulu apa lo ceria kek gini. Nggak sedih mulu..." ucapnya mengeluh. Ada secercah kebahagiaan yang dirasakannya setelah lama tak melihat Rere tersenyum. "Apaan sih lo, Bim " ucap Rere memukul lengan Bima Bima membalasnya dengan menoyor kepala Rere "Udah gue bilang, panggil gue, Abang!" tegurnya mengingatkan. "Iya-iya, sorry." Kini tatapan Bima beralih kepada Azzam yang sejak awal memperhatikannya. Ia melipat kedua tangannya di depan d**a dengan tatapan meneliti dari ujung rambut hingga ujung kakinya. "Lo temennya Bang Afif?" terka Bima. Azzam tersenyum tipis sembari mengangguk. Senyuman yang mampu membuat kaum hawa jatuh hati, tetapi itu tak berlaku pada Rere  "Gendong gue.... Kaki gue pegel." rengek Rere pada Bima yang tengah menikmati pemandangan disekitar. "Bang Bima... " rengek Rere menggoyangkan lengan Bima, karena ia tak meladeninya. "Nggak mau, lo berat!" tolak Bima. "Kamu naik kursi roda saja, biar saya yang dorong". tawar Azzam. Sebenarnya ia bisa melihat dari wajah Bima yang kelelahan. Jadi, ia memutuskan untuk mengalah. "Sini gue bantu." ucap Bima membantu Rere duduk di kursi roda. Bima berjalan duluan meninggalkan mereka sembari membawa tongkat Rere. Rere hanya mampu berdecak kesal melihat kelakuan Bima, sedangkan Azzam hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya saat melihat raut wajah Rere yang cemberut. Membuatnya semakin merasa gemas padanya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN