Bab 25: Pekerjaan untuk Rana

1011 Kata
River tidak yakin, apakah ada pekerjaan yang bisa Rana lakukan. Semua di dunia Stardust hanya berkaitan dengan yang namanya teknologi canggih, sedangkan wanita dengan semangat tinggi di sampingnya berasal dari masa lalu. Butuh menggali ilmu pengetahuan lebih banyak untuk itu. "Entahlah, apa aku harus memperkerjakanmu atau tidak." "Kenapa begitu? Aku bisa melakukan apa saja, membuatkan minuman, membersihkan rumah, mengepel lantai, mencuci pakaian, mencabut rumput liar di halaman, menyiram tanaman." "Tidak, tidak. Semua pekerjaan yang kau sebutkan tadi sudah menjadi tanggung jawab Potato. Aku menciptakannya untuk membantuku melakukan itu semua." Rana berekspresi kecewa, "Oh, benarkah? Kalau begitu tidak ada yang bisa aku lakukan, bukan?" River tidak seharusnya terusik dengan ekspresi kekecewaan itu, akan tetapi entah mengapa jika dia tidak melakukan apa-apa, maka akan terus terpikirkan. Lantas, pekerjaan apa yang bisa dia berikan? "Begini saja, aku membutuhkan seorang asisten." Semangat Rana terbangun kembali. "Asisten?" "Potato terlalu sibuk untuk membantuku di ruang penelitian. Dia mengerjakan banyak hal di rumah dan aku rasa kau cukup cocok menjadi asistenku, karena di dunia ini yang aku percaya hanyalah Potato." "Maksudnya ... kau mempercayaiku?" River tidak langsung menjawabnya, berpikir sesaat mengenai kepercayaan, sebenarnya dia tidak yakin. "Tidak sepenuhnya, karena kau pernah menganggapku sebagai pengkhianat." "Soal itu, aku sudah minta maaf padamu dan aku rasa juga tidak ada kaitannya dengan pembicaraan kita yang sekarang. Kau tahu? Itu juga sudah berlalu." "Dengar, aku tidak pernah memaksamu untuk tinggal di tempatku, kau dan kakakmu yang memilihnya di saat ada banyak makhluk di dunia ini yang bisa menampung kalian." "Aku mengerti." "Kalau begitu, apa kau bisa untuk dipercayai? Penelitianku bukanlah sesuatu yang dapat disebarluaskan, termasuk pada Aura." "Apa itu juga Angelina J?" "Ya, juga Angelina J." Rana mengangguk tanpa menunggu waktu untuk berpikir lebih dulu. "Menjadi orang yang dipercayai merupakan bagian dari pekerjaan." River sudah memikirkan masalah ini matang-matang. Tidak ada kemungkinan Rana untuk berkhianat suatu hari nanti, karena dia akan mencari tahu tentang teka-teki Stardust dan hanya dia saja yang bisa membuat kakak beradik itu kembali ke masa lalu. "Aku pegang perkataanmu, tidak ada pengkhianatan dalam sebuah janji." River mengulurkan kepalan tangannya. Rana ingat ketika mereka saling berjanji beberapa hari yang lewat. Dia juga tidak melupakan cara bagaimana orang di dunia Stardust melakukan perjanjian, lantas dia mengepalkannya pula dan menyentuhkan tangan mereka. "Kali ini aku harap, kita benar-benar saling mempercayai," ucap River. Setelah adegan kecil menguntai janji, mereka bangkit dari tepi sana. Namun, Rana hilang keseimbangan lantaran angin yang mengembuskan tubuhnya dengan kuat sehingga menarik dirinya segera mencari pegangan agar tidak jatuh. Tidak dikira kalau pegangan yang Rana pilih adalah bagian saku jas laboratorium. River ikut terhuyung ke sebelah arah, tetapi dia berusaha untuk memberatkan diri ke arah sebaliknya. Tahu bahwa jasnya sedang berada dalam bahaya membuat dia memegang tangan Rana. "Apa yang kau lakukan?!" Rana memekik, tidak sanggup melihat ke bawah sana. Mereka berada di puncak tertinggi dari sebuah gedung, bagaimana dia akan berkata tidak takut saat ini? "Tidakkah kau melihat kalau nyawaku sedang berada dalam bahaya sekarang?! Cepat, bantu aku untuk berada di tempat yang aman!" Rana mengerutkan dahi, menguatkan genggaman pada saku jas. "Lalu, kenapa saku jasku? Ini adalah edisi terbatas dan kau hampir membuatnya robek karena bergelantungan di sana." River mengeratkan geraham, bersusah payah untuk bertahan. "Kau pikir sekarang waktunya untuk memikirkan hal yang seperti itu?" Pada saat yang bersamaan, suara robekan terdengar dan seketika menjadi sebuah mimpi buruk bagi River. "Oh, tidak! Maafkan aku, Rana." Dia akhirnya memilih untuk melepaskan tangan Rana dari saku jasnya sehingga wanita itu dapat terjun ke bawah sana tanpa mengoyak pakaiannya lebih banyak. Sayangnya dia salah jika mengira bahwa Rana tidak akan berbuat masalah lagi, wanita itu menarik kakinya untuk jatuh bersama. Mereka terjun bebas seperti benda jatuh dari langit. River masih memiliki roket untuk mencegahnya jatuh. Pada detik-detik terakhir, dia menyalakannya dan menjangkau Rana untuk berada dekat dengannya sehingga mereka masih dapat tertolong dari kejadian jatuh dari ketinggian. "Hampir saja," ucap Rana merasa lega, sejurus kemudian tatapannya menajam. "Apa ini? Bukankah kita baru saja membahas soal kepercayaan? Bagaimana bisa kau tega melepaskan peganganku dan membiarkan aku jatuh dari ketinggian?" "Aku tidak bisa merelakan jasku rusak." "Apa?! Kau memiliki banyak di dalam lemari." "Tapi yang aku pakai sekarang adalah edisi terbatas." "Orang-orang tidak akan tahu soal itu, River. Jas yang mana saja tidak ada bedanya." "Jelas berbeda, karena edisi terbatas ini memiliki tingkat kenyamanan dan kualitas yang luar biasa. Termasuk dalam segi ketahanannya jika seseorang tidak mencoba menjadikan sakuku sebagai pegangan di kala jatuh." Kali ini River yang melirik dengan tajam, jelas sekali kalau mereka saling berseteru melalui pandangan mata. Padahal, jika orang-orang melihatnya sekarang sudah bagaikan sepasang kekasih lantaran terbang dalam keadaan saling berpelukan. Di tengah-tengah pertengkaran, nasib baik pun tidak berpihak pada mereka. Gerakan roket yang mulus tiba-tiba tersendat dan perlahan juga melambat. Raut kebingungan langsung terpancar di wajah keduanya seperti memiliki firasat buruk. "Apa yang terjadi?" tanya Rana. "Sepertinya aku lupa mengisi ulang bahan bakarnya." "Jadi, kita akan jatuh dari ketinggian?" Rana mengintip ke bawah sana, sekejap mata menaikkan pandangan. "Kau benar, kita akan jatuh dari ketinggian," ucap River, menelan air ludah dengan kasar. Seketika mereka berteriak histeris secara bersamaan. Tubuh jatuh dari ketinggian, menembus dahan rimbun, terpental sampai ke tanah. Kabar lainnya dari kejadian mengenaskan itu, Rana jatuh di atas tubuh River sehingga kita bisa tahu siapa yang paling kesakitan sekarang. Rana segera beranjak turun, lalu melihat keadaan River dengan raut wajah khawatir. "River, River! Apa kau baik-baik saja? Kau bisa mendengarku?" River membuka kedua mata perlahan. Baru kali ini dia merasakan apa yang dinamakan dengan remuk. Padahal, dia sudah menambahkan tiga kemampuan untuk membantunya ketika mengalami waktu seperti sekarang. Tadi dia sempat terpikirkan untuk memakai pegas, tetapi tidak jadi lantaran mereka jatuh dari tempat yang tinggi, jika harus terbang lagi dengan kekuatan yang sama, maka mereka akan sulit menghentikannya. "River, kau bisa dengar aku?" Suara apa itu? Sudah sangat lama dia tidak melihat seseorang yang begitu mengkhawatirkan keadaannya. Terakhir River bisa menemukan jawaban dari pertanyaannya sendiri, perlahan pandangan buram kembali, selanjutnya kedua mata menutup sehingga yang bisa dilihatnya hanya kegelapan. "Oh, tidak! Jangan mati dulu, River!" Rana melihat sekeliling sambil berteriak histeris, "Tolong kami, siapa pun!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN