Bab 24: Kabur dan Diculik

1192 Kata
Sebenarnya para pengawal tidak memiliki niat buruk pada Rana. Mereka mengikat dan menutup mulut Rana hanya karena terpaksa, melihat bagaimana wanita yang melanggar peraturan tidak berniat untuk berhenti memberontak. Masalah yang seharusnya kecil menjadi besar lantaran tidak mau diajak kompromi. Sekarang mereka harus repot dengan mengantarkan Rana ke rumah sakit. Namun, lagi-lagi niat baik mereka diabaikan. Rana mengambil kesempatan untuk kabur, melarikan diri dengan kedua kaki yang tidak terikat sama sekali. Rana berlari sekuat tenaga hingga akhirnya dia bisa bersembunyi di balik dinding sebuah bangunan. Bukan untuk berada di sana selamanya, karena tempat persembunyiannya tidak begitu mendukung. Dia hanya beristirahat di sana, memulihkan energi yang terkuras habis sebelum bangkit dan berlari kembali. Pada saat itu pula para pengawal melihat keberadaan Rana. Mereka ada yang berlari menyusuri gang sempit, ada juga yang menyalakan roket agar bisa terbang tinggi dan melihat ada di mana orang yang mereka incar. Tidak bertahan lama untuk tetap berada di udara, bahan bakar semakin menipis setelah mereka mengejar orang yang sama juga sebelumnya. "Wanita itu belok ke kiri! Hanya ada jalan lurus di sana!" Rana melihat ke udara, pengawal yang ditendangnya sedang berada di atas sana. Kemudian, dia mengumpat di sela-sela pelarian. Benar saja kalau hanya ada jalan lurus, tidak akan ditemukan tempat persembunyian, sedangkan energinya harus dipulihkan. Melihat peluang pada sebuah pintu rumah yang terbuka, dia masuk ke dalam sana. Tidak ada jalan keluar di lantai satu sehingga dia meneruskan langkah untuk naik ke lantai selanjutnya, berharap dapat menemukan jendela yang terbuka. Rana sangat beruntung, karena dia menemukan jendela yang terbuka. Namun, tidak disangka dirinya akan berada di lantai paling atas. Tentu saja masih ada tangga yang menghubungkan ke atap dan sayangnya terkunci. Sementara suara dari bawah tangga terdengar semakin dekat. Sisa-sisa kekuatan membuat Rana akhirnya mampu menggeser tubuhnya sampai mencapai pagar balkon. Dia bangkit perlahan seraya memperhatikan jarak yang begitu jauh, lantas membuat dia gamang dan berpaling mundur ke belakang. Tidak lama kemudian seorang pengawal telah mencapai tempat di mana Rana berada. Namun, pada saat itu pula tubuh wanita itu diangkat dan dibawa pergi melarikan diri. Orang yang membawa pergi adalah River. Mereka dan para pengawal saling berkejaran di udara. Baru kali ini Rana terbang di udara, jelas pengalaman mengerikan sekaligus menantang. Dia tidak berhenti memekik seperti orang gila, lebih parah dari pemberontakan ketika di bar tadi. "Diamlah, Rana! Kau harus tetap tenang agar aku bisa terbang dengan stabil." "Oh, kau kah itu, River?" Rana tidak dapat melihat orang yang menculiknya, karena mereka tidak saling berhadapan. Sepertinya wanita itu keras kepala untuk mengetahui lebih jelas kalau pria di belakangnya benar-benar River, bukan orang yang suaranya mirip. Jadi, dia berusaha untuk membalikkan badan dan itu membuat mereka hampir terjatuh. River terbang tidak beraturan, menarik Rana segera untuk dekat di sisinya. Keadaan yang seperti itu memaksa mereka agar saling berpegangan. Kini Rana bisa tahu siapa pria yang menculiknya. "Maafkan aku," ucapnya. River menarik sebelah bibirnya dan berkata, "Untuk kecurigaanmu terhadap orang yang menampungmu selama berada di sini? Bahkan, kami semua yang berusaha menghindar, akhirnya harus berurusan dengan pemerintah yang rumit itu." "A-aku hanya penasaran dan mengikutimu sampai ke bar. Tidak ada maksud buruk, aku hanya ingin tahu." "Jadi, wanita yang duduk seorang diri seperti ditinggalkan kekasih itu adalah kau, bukan?" Rana memasang ekspresi tersipu malu. "Seharusnya aku tidak lama-lama duduk di sana. Semua karena bartender tampan itu." "Apa aku tidak salah dengar? Kau menyebut bartender dengan kepala plontos itu sebagai makhluk yang tampan." "Tentu saja. Kalau bukan karena tujuan utamaku untuk pulang, maka aku akan mendekatinya. Sayang sekali, aku harus menyingkirkan keinginanku." River melirik wanita yang ada di dalam pelukannya dengan tajam. "Seleramu sungguh aneh." Rana menaikkan kedua bahu seolah tidak peduli. "Ngomong-ngomong, yang kau bawa di acara pelelangan sangat mirip dengan Stardust." River terdiam untuk beberapa saat, tidak mungkin mengatakan kalau dia menyalin Stardust dengan tujuan mengelabui Rana, bukan? "Aku tidak memiliki ide untuk desainnya." River berputar dan melihat bahwa mereka memang sudah benar-benar aman dari kejaran, lalu dia berputar lagi ke jalan pulang. "Aku harap Orde tidak dapat menemukanmu." River berhenti di salah satu gedung tertinggi, membiarkan mereka berada di sana dalam waktu lama. Rana tidak takut akan ketinggian, dia hanya berpikir kalau apa yang terjadi sekarang merupakan hal menakjubkan. "Ini luar biasa! Aku bisa melihat seluruh kota di atas sini!" seru Rana, melompat kegirangan seperti anak kecil. "Hati-hati untuk melangkah. Kau bisa saja jatuh jika berdiri dengan tidak seimbang, angin di atas sangat kencang dan bisa menumbangkanmu dengan mudah kapan pun." River berkata. Rana segera mundur ke belakang. Meskipun dia waswas, akan tetapi dia tetap menampilkan ekspresi senang. "Coba kita lihat, apakah rumahmu bisa ditemukan?" Dia mulai menyipitkan mata dan mencari-cari dengan saksama. Berbeda dengan River yang berusaha melihat keadaan setelah tadi dia membawa Rana kabur. Tampaknya bisa dikatakan aman terkendali, tidak ada tanda-tanda keberadaan Orde di tengah masyarakat. Dia tahu kalau pria itu akan selalu membawa banyak perhatian. "Oh, bahkan aku bisa melihat Aura dengan perut besarnya!" Rana tertawa. "Sekarang bukan saatnya untuk tertawa. Ayo, kita harus kembali." Rana menolak tangan yang ingin meraihnya. Dia duduk dengan menjulurkan kaki, mengayun-ayunkannya dengan damai. "Ah, sudah berapa lama aku tidak merasa seringan ini?" Kepalanya menengadah seraya memicingkan mata. "Di mana pun berada, duniaku atau duniamu, beban hidup tidak akan pernah hilang. Aku merindukan duniaku yang kejam, tapi setelah pulang juga yakin bahwa aku akan merindukan duniamu yang penuh keajaiban. Baru kali ini aku terbang, rasanya sangat menyenangkan. Terima kasih, River. Berkat kau menculikku dari para pengawal bar itu, maka aku bisa berada di sini sekarang." River yang ingin keras kepala tadinya mengurungkan niat. Dia menyimpan roketnya dan duduk pula di sana sembari menjuntaikan kaki. Tatapannya lurus ke depan, memikirkan banyak hal dan di tempat yang sekarang adalah tempat yang didatanginya setiap kali merasa harus menyendiri. "Kau tidak bertanya, kenapa aku datang ke pelelangan setiap akhir pekan?" Rana membuka mata perlahan, dia menemukan ekspresi tidak biasa dari River, seperti dia melihat versi yang asli. Apa profesor sembarangan ini adalah seseorang yang memiliki banyak beban seperti sekarang? "Aku penasaran akan hal itu." River tersenyum tanpa mengalihkan pandangan. "Aku ingin mereka mengakui karyaku dan menghargainya. Meskipun orang kaya seperti mereka menjadi hadirin dengan tujuan menghamburkan harta atau mengisi waktu luang, akan tetapi mereka menghidupi kami yang tidak diakui. Terkadang mereka memberikan kami kepuasan dengan kekaguman yang entah apa itu dibuat-buat untuk menghayati peran sebagai calon pembeli. Aku senang, akhirnya ada yang bertepuk tangan untukku." "Kau salah. Karyamu bukan lahan untuk mengemis, River. Apa yang kau butuhkan adalah menjadi dirimu sendiri. Meskipun ... ya, aku tahu bahwa keberadaan kami membuat dirimu harus mencari penghasilan lebih banyak. Aha! Bagaimana jika aku ikut bekerja untuk membantumu? Kau hanya perlu membayarku dengan biaya kebutuhan sehari-hari untukku dan Aura. Aku rasa itu sudah cukup." "Bekerja?" Rana menganggukkan kepala. "Ya, bekerja!" Dia tersenyum yakin akan perkataannya. *** Orde melihat dua anak manusia terbang di langit, dia tahu kalau firasatnya benar bahwa River menyembunyikan sesuatu, tetapi entah itu apa, kemungkinan besar ada kaitannya dengan kejadian di pancuran air, karena sejak itu dia melihat ada yang aneh pada sikap River. "Tuan, haruskah saya mengejar mereka?" Orde mengangkat tangannya, menunjukkan isyarat untuk antek-anteknya mengurungkan niat. "Tidak perlu, biarkan dia untuk saat ini." Dia masuk ke dalam mobil dan pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN