Kepala Rana berputar-putar di dalam kegelapan, itu yang dia rasakan. Sesuatu yang dingin seperti air mengalir dari ekor mata. Entah kenapa dadanya begitu sesak dan dia ingin segera keluar dari kegelapan. "Rana, bangunlah!" Suara itu sangat menyakitkan ketika mencapai telinga, mengusik mimpinya di alam sana. Rana sudah seperti diguyur hujan sesaat selimut hangatnya disingkirkan. Bukannya mengindahkan perkataan sang kakak yang bisa dinilai sedang marah, justru Rana lebih memilih untuk keras kepala. "Sarapanmu akan dingin jika kau tidak segera memakannya. Tolonglah! Aku tidak punya banyak waktu untuk terus membangunkanmu. Ini sudah lewat dari satu jam." Rana mengerutkan dahi, sadar bahwa ada hal janggal terjadi. Dia sepertinya sudah pernah melalui adegan yang terjadi pada pagi itu, saat d

