Christy merebahkan tubuhnya di singgle bed nya itu. "Dikretur Gu, benar-benar orang yang aneh," ucap Christy dengan kesal.
Ketika Christy membalikan badanya dia melihat keanehan pada foto yang ada di atas mejanya. Christy mengamati lebih dekat.
"Ini, eem. Siapa yang merobek foto kelulusanku ?" tanya Chirsty dalam hati.
"Apakah Direktur Gu yang melakukannya ?" Chirsty bertanya-tanya dalam hati.
"Ah sudahlah, hal yang bagus jika wajah Eric Xie menghilang dari foto ini," ucap Christy dan merebahkan tubuhya lagi di singgle bed nya itu untuk tidur.
Hari ini dia benar-benar kelelahan meladeni kekonyolan Dirketur Gu . Keesokan paginya Christy dan Yuri sudah berada di kantor pagi-pagi sekali, christy menyerahkan kembali tugas-tugas Yuri yang dia tangani selama Yuri pergi dinas dengan Direktur Gu.
Ding pintu lift terbuka, Yuri dan Christy menoleh dan memberi salam. "Selamat pagi Direktur Gu," ucap Christy dan Yuri bersamaan.
Edward Gu menghentikan langkahnya lalu menatap Christy. "Buatkan aku kopi !" perintahnya.
"Baik Direktur," jawab Christy.
Di dalam Pantry Christy bersungut-sunguk kesal. "Sebenarnya aku ini pelayannya atau sekretarisnya ? mengapa sedikit-sedikit dia memintaku memasak, membuat kopi, membelikan makanan kesukaannya."
"Aah dasar pria aneh," ucapnya lagi dalam hati.
Christy mengetuk pintu ruangan Dirketur Gu. Christy masuk lalu meletakan segelas kopi yang baru saja dibuatnya. Dan segera pergi meninggalkan ruangan itu.
Wajah Christy nampak lega karena Edward tidak menjahili dia kali ini. Christy kembali ke mejanya, dan mulai bersibuk kembali dengan pekerjaan administrasi dan yang lainnya berkaitan dengan jadwal Edward.
Sementara Yuri dan Edward sedang melakukan meeting manajemen bulanan. Sedang Asyik serius, tiba-tiba ponsel Christy berdering.
"Eric Xie," alis Christy berkerut bertumpuk.
"Mau apa lagi pria ini dariku," ucap Christy dalan hati namun tetap mengangkat panggilan darinya.
"Halo Christy, Ibuku sedang sakit parah dan selalu memanggil-manggil namamu. Kau ikutlah pulang bersamaku. Aku akan menjemputmu," ucap Eric Xie.
"Eeh ini. Bagaiaman bisa. Eem kenapa aku harus menurutimu," ucap Christy.
"Christy dari semasa kecil kau berada dalam pengasuhan ibuku, apakah kau sudah lupa ?" tanya Eric Xie.
Christy menahan air matanya agar suaranya tidak terdengar sengau karena menangis.
"Pria ini kenapa tidak bisa jauh-jauh saja dariku, apa dia sudah melupakan luka yang dia berikan kepadaku," Christy membatin.
"Baiklah jemput aku di perusahaan Textile Gu," ucap Christy.
Dalam waktu 30 menit Eric Xie telah berada di luar gedung Textile Gu. Christy mengambil secarik kertas dan menulis sebuah pesan kepada Yuri.
"Aku akan kembali ke Kota Sin Chuan, ada hal darurat yang harus segera ku urus," isi pesan Christy kepada Yuri.
Christy bergegas menemui Eric Xie, dan bergegas masuk ke mobilnya. "Eem, ini apakah tidak akan membuat istrimu marah ?" tanya Christy.
"Ibuku yang ingin menemuimu, aku hanya mengantarkanmu saja," ucap Eric Xie dengan datar.
Christy hanya diam saja mendengar perkataan Eric Xie. Dia sudah terlalu malas untuk berdebat dengan Eric.
Di Gedung Textile Gu, Rapat telah selesai. Edward melirik ke meja Christy yang kosong dan mngernyitkan alisnya merasa heran.
"Kemana Nona Christy ?" tanya Edward Gu serius kepada Yuri.
Yuri menyerahkan secarik kertas yang Christy tulis dengan tangan gemetar.
"Direktur ini ada pesan yang Christy tinggalkan," ucap Yuri.
Edward membacanya lalu meremas kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah dengan hati kesal.
"Kota Sin Chuan, apakah dia pergi bersama pria itu, Eric Xie," ucap Edward dalam hati.