Yen Li berusaha menyembunyikan rasa cemasnya, ia pun sudah berulang kali menjadi sasaran pertanyaan dari kedua tuan rumah itu. Ia bisa saja terus berkelit, sengaja mengulur waktu agar bisa menunggu Lin Xiang siuman. “Nona, jika kamu tidak segera sadar, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk mengulur waktu.” Bisik Yen Li yang mulai kehilangan kesabaran dan mencondongkan tubuhnya agar bisa leluasa bersuara kecil kepada Lin Xiang. Bruk! Yen Li terperanjat kaget lalu menoleh ke sumber suara ketika suara pintu dibuka dengan kasar. Semakin terkesiap begitu melihat kehadiran tuan dan nyonya rumah yang datang bersama seorang pria paruh baya yang bisa Yen Li tebak sebagai tabib. Yen Li menundukkan kepalanya, tak berani menatap ke arah dua orang yang berkuasa itu. terlebih ia pun tidak bisa m

