Rencana Rahasia

1711 Kata
Secangkir teh hangat yang masih mengebul uap panasnya diletakkan di atas meja. Tangan kekar yang meletakkan cangkir itu pun menjamah satu mangkuk bubur putih polos yang juga baru matang. Menu sarapan ala kadarnya itu sudah terbiasa menemani aktivitas pagi Tian Lu. Ia harus berpuas diri dengan makanan seadanya demi mempertahankan hidupnya yang sebatang kara. Kehidupan yang susah sudah ia rasakan semenjak kecil, Tian Lu bahkan tidak bisa mengingat jelas kenangan masa kecilnya saking banyaknya kesusahan yang ia hadapi. Tak ada yang istimewa dalam dirinya, hanya ada semangat untuk mempertahankan hidup dari hari ke hari. Tetapi yang pasti ia cukup beruntung karena mempunyai seorang penolong yang cukup peduli padanya dan menyokong pendidikannya. Hanya itu yang bisa ia jadikan kebanggaan serta modal untuk membangun masa depan yang jauh lebih baik. Dicecapnya teh hangat itu kemudian beralih menyendoki bubur tawarnya. Sarapan dalam kesendirian di dalam gubuk sederhananya itu terganggu oleh suara ketukan pintu di luar. Tian Lu meletakkan gagang sendoknya, satu satunya tamu yang bersedia mengunjunginya hanya lah orang tertentu yang mengenalinya. Ia pun menyingkirkan sejenak makanan yang ada di depan matanya, kemudian beranjak dari tempat duduk demi menyambut orang yang hendak menemuinya. Krieett... Pintu kayu yang tua dan mulai lapuk engselnya itu menjerit, Tian Lu membukakan penghubung utama dunia luar itu dan melihat satu orang tangan kanan seseorang yang sangat ia kenali, yakni penolongnya. Tian Lu membungkuk hormat, ia tahu maksud kedatangan pria itu tidak lain untuk menyampaikan pesan dari penolongnya. “Tuan besar meminta anda menemuinya saat ini juga. Ikut denganku ke kediamannya!” Seru pria pengawal itu tegas. Ekor matanya pun mencuri pandang pada isi ruangan di dalam. Ia baru menyadari bahwa si pemilik rumah belum menyelesaikan sarapannya. “Selesaikan saja sarapanmu dulu, aku tidak keberatan menunggu.” Jelas pria pengawal itu menimpali. Tian Lu menggeleng pelan, menolak kebaikan serta pengertian dari pria yang menjemputnya. “Terima kasih tuan, saya sudah cukup kenyang. Mari kita berangkat sekarang.” Jawab Tian Lu dengan segala kerendahan hatinya. Pengawal itu mengerutkan dahi, ia tidak berusaha mencegah Tian Lu lagi dan menjalankan tugasnya sebaik mungkin. Ketika dua pria itu berjalan menuju mobil yang menjemput mereka itu, barulah si pengawal merasa perlu memenuhi rasa penasarannya. “Kamu ikut begitu saja tanpa banyak bertanya? Apa kamu tidak ingin mencari tahu dulu alasan tuan besar memanggilmu ke tempatnya?” Tian Lu tersenyum, ia pun menghentikan langkahnya yang sudah mendekati mobil. Pertanyaan pengawal itu mungkin lebih aman ia jawab sekarang, sebelum mereka masuk ke dalam mobil dan bisa didengar oleh orang lain. “Tidak masalah tuan besar memanggilku karena urusan apapun, aku tetap harus datang dan siaga untuk beliau.” Jawab Tian Lu, tak ketinggalan senyumannya yang begitu menenangkan siapapun yang melihatnya. Pengawal itu tersenyum seringai, sesuka apapun ia terhadap sikap anak muda itu, tetap saja ganjalan di hatinya yang ingin ia ungkapkan. “Semalam terjadi kebakaran di kediaman nona muda, dan sekarang tuan besar memanggilmu ke sana untuk memberimu posisi penting.” Bisik pengawal itu, ia ingin membalikkan bola panas ke arah Tian Lu. Lebih usilnya lagi, pengawal itu ingin membuat Tian Lu penasaran sepanjang perjalanan lantaran ia terlanjur memberinya sebuah teka teki. Dan tampaknya upaya pengawal itu berbuah hasil, Tian Lu berdiri bingung, berpikir keras tentang apa yang direncanakan tuan besar kepadanya. Kali ini tuan besar itu ingin menggunakannya untuk apa? Tian Lu mendongak ke arah pengawal itu namun ternyata pria itu sudah masuk ke dalam mobil. Tak ingin ketinggalan dan ditunggu orang, Tian Lu pun berlari kecil menyambangi kendaraan roda empat itu lalu masuk ke mobil dan duduk di belakang. Mobil itu berlalu kencang, membawa serta segudang pertanyaan yang terbersit dalam benak Tian Lu. Ia akan pergi menjemput jawaban yang tertunda. ⚫⚫⚫⚫⚫ Ye Lily melakukan mogok makan sebagai bentuk protesnya, tak peduli betapa laparnya ia saat ini lantaran sejak tadi malam ia mengabaikan rasa lapar. Memilih menyiksa diri sesekali demi mendapatkan kehendaknya. Ye Lily bersiap adu keras kepala dengan ayahnya, sekaligus membuktikan apakah ayah yang selama ini ia banggakan itu masih peduli padanya atau tidak. “Nona, makanlah sedikit saja, yang penting jangan biarkan perut anda kosong. Akan lebih buruk jika anda jatuh sakit.” A Mei membujuk nona mudanya lagi, ia tak akan jemuh bersuara cerewet asalkan bisa meyakinkan nonanya untuk berhenti bersikap konyol pada dirinya sendiri. Ye Lily menghela nafas kasar, ia melirik ketus ke arah A Mei yang sudah menguji kesabarannya hingga mencapai limit. “Sudahlah, berhenti memperlakukanku seperti anak kecil. Aku bisa mengurus diriku, tidak mungkin aku biarkan badanku sakit atau mati. Ini bukan perkara besar, hanya tidak makan saja tidak akan membuatku menderita. Tapi mengurungku di sini bak pesakitan yang berbuat dosa besar, itu jauh lebih menyiksa batinku. Aku tidak terima! Kenapa ayah memperlakukanku seperti itu!?” Geram Ye Lily, berpikir keras untuk bertindak lebih nyata dibandingkan mogok makan ini, tapi belum juga mendapatkan ide brilian. A Mei yang mendapat jawaban ketus itupun langsung sadar diri, tak biasanya nona mudanya menjadi pembangkang, ia pun bisa memaklumi jika sekarang suasana hati nona cantik itu begitu buruk sehingga tidak bisa menerima kenyataan berat ini. “Baiklah nona muda, maafkan kelancangan hamba barusan. Hamba akan membantu nona muda untuk bahagia, perintahkan saja apapun, hamba bersedia melakukannya dan rela menerima hukuman demi anda.” Jawab A Mei bersungguh sungguh. Ye Lily malah berdecak kesal, kesetiaan gadis pelayannya tidak membuat ia merasa senang. Sebaliknya ia justru semakin gusar karena belum terpikirkan cara yang tepat untuk mengatasi keterbatasan ruang dan gerak ini. “Dengan kondisimu yang belum pulih ini, bagaimana kamu bisa membantuku? Yang ada malah kamu sedang mencelakakan dirimu sendiri. Sudahlah, lupakan saja soal bantu membantu. Aku pusing, bagaimana harus menakhlukkan ayah yang begitu posesif. Mau sampai kapan aku diperlakukan seperti anak kecil? Aku sudah sangat layak dan sanggup mengurus diri serta mengambil keputusan yang terbaik untuk diriku. Kenapa tidak ada yang percaya bahwa aku bisa?” Gerutu Ye Lily, ia tak pernah sefrustasi saat ini. Di sepanjang pengalamannya menjadi nona kesayangan di keluarga Ye, belum pernah ia mendapatkan hukuman seberat ini dari ayahnya. “Adik... Apa aku boleh masuk?” Suara Liam Ye yang pelan itu terdengar jelas oleh Ye Lily. Sontak nona muda itu berdiri dan berlari demi membukakan pintu kepada kakak keduanya. Pintu itu terjaga ketat dari luar, namun tetap saja Ye Lily yang merasa buruk hati itu melampiaskan protes dengan mengunci diri rapat rapat di dalam kamar. Ia berencana tidak akan membiarkan orang masuk kecuali tabib dan kakak keduanya. Liam Ye tersenyum lega, setidaknya wajah lembut Ye Lily yang tengah manyun itu cukup melegakan hatinya yang terus kepikiran dengan adik bungsunya itu. “Syukurlah kamu terlihat baik, huft. Kita bicara di dalam saja, bagaimana?” Ye Lily mengangguk pelan, ia tak punya daya untuk menolak orang yang berpihak padanya itu. Pintu kembali dirapatkan oleh Liam Ye sementara Ye Lily lebih inisiatif menempati tempat duduk di pojok ruang kamar itu. “Aku tidak sedang baik, kakak kedua.” Ujar Ye Lily menyerukan jawaban yang tertunda itu. Keadaannya pun diyakinkan oleh raut wajahnya yang terlihat sedih, sungguh gadis muda itu tak pandai lagi menutupi perasaan yang sesungguhnya. Liam Ye menempati kursi kayu berbentuk bulat yang ada di depan Ye Lily. Ia mengamati lekat pada adik perempuannya yang sedang bertopang dagu, turut sedih dengan keadaan yang menimpanya. “Kamu yang sabar ya, siapa tahu nanti ayah akan berubah pikiran dan melepaskanmu beraktivitas seperti biasa.” Ujar Liam Ye mencoba menghibur adiknya. Ye Lily meresponnya dengan bibir manyun, ia tak puas hati jika hanya itu yang menjadi reaksinya terhadap kelakuan ayahnya. “Hanya menunggu keajaiban datang dengan berpangku tangan? Rasanya aku tidak bisa berdiam diri saja kakak. Apa kakak bisa membantuku? Carikan aku pelayan pengganti sementara agar ayah merasa tenang membiarkanku aktivitas di luar. Atau apapun itu, kakak tolong bantu aku membujuk ayah. Barangkali beliau masih mau mendengarkan negosiasimu.” Pinta Ye Lily, saking bersemangatnya ia sampai mencengkeram kedua tangan kakak keduanya. Liam Ye menghela nafas kasar, terlihat jelas sorot mata sendunya. Ye Lily sudah bisa menebak bahwa itu bukanlah pertanda baik. “Adik, kita sama sama tahu seperti apa sifat ayah. Di antara kita bertiga, hanya kamu yang paling ayah perhatikan. Beliau lebih mendengarkanmu. Ya, bukan berarti aku iri padamu, tapi ini kenyataannya. Kalau aku yang maju dan mencoba membujuk ayah untuk memberimu keringanan. Kita sudah bisa menebak seperti apa hasilnya, mengingat hubunganku yang tidak terlalu dianggap istimewa oleh ayah. Aku bukan anak kesayangan seperti kamu dan kakak pertama.” Lirih Liam Ye, meskipun ia tidak ingin bersedih hati, tetapi mengungkit kenyataan yang miris itu tentu saja membuat hatinya tercabik pilu. “Kakak... Jangan bicara seperti itu....” Ye Lily tak enak hati, gara gara keegoisannya justru membuat kakaknya terlihat sedih. Ia mengencangkan genggaman tangannya pada tangan kokoh yang masih dipegangnya. Tangan milik pria yang selalu pasang badan kepadanya sejak kecil sampai sekarang, kasih sayang seorang kakak selalu ia dapatkan seutuhnya dari Liam Ye. Seolah bisa merasakan kesedihan yang Liam Ye rasakan, Ye Lily malah menitikkan air matanya. Melihat butiran bening itu luruh dari sepasang kelopak mata adiknya, Liam Ye dengan sigap mengusap lembut butiran itu dari pipi mulus adiknya. “Sudahlah jangan bicarakan hal yang menyedihkan. Aku kemari untuk menyemangatimu, bukan untuk membuatmu menangis. Ah, sebenarnya aku sudah mendapatkan pelayan pengganti A Mei. Tentu saja ini untuk sementara kecuali kamu memang menginginkan gadis pelayan itu untuk seterusnya.” Ungkap Liam Ye mengalihkan topik pembicaraan. Ia kembali memasang wajah penuh senyuman yang sanggup menenangkan batin Ye Lily yang gusar. “Oya? Di manakah gadis pelayan itu sekarang?” Tanya Ye Lily, ia mengamati pintu yang tertutup, mengira ada sosok gadis di luar sana yang belum dipersilahkan masuk. Liam Ye tersenyum tipis, “Akan ku panggilkan kemari nanti, aku perlu persetujuanmu dulu sebelum mengirimnya kemari.” Ungkap Liam Ye. Ye Lily manggut manggut, “Terima kasih kakak, aku sangat sangat berhutang budi padamu.” Ungkap Ye Lily seraya merangkapkan kedua tangannya sebagai ungkapan terima kasihnya yang terdalam. “Jangan terus terusan berterima kasih. Kita ini saudara, sudah seharusnya saling membantu. Oh ya... kamu bosan di dalam ruangan terus? Apa kamu mau jalan jalan keluar? Aku bisa membantumu jika memang itu maumu. Tapi tentu saja ini rahasia, jika ayah sampai tahu, maka habislah kita.” Ujar Liam Ye berbisik pada adik perempuannya. Ye Lily mendekatkan wajahnya agar bisa mendengar penjelasan kakaknya, senyum sumingrahnya yang beberapa hari ini begitu mahal akhirnya bisa terlihat juga. Tawaran dari kakaknya sungguh membuatnya bergelora. “Sungguh? Aku mau kak... Aku janji akan tutup mulut dan berhati hati. Mohon bantu aku keluar dari sini, aku mau ke kampusku sebentar saja.” Pinta Ye Lily menaruh harapan besar kepada kakak keduanya. ⚫⚫⚫⚫⚫
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN