Jebakan Tuan Besar

1670 Kata
Tian Lu tidak bisa menyembunyikan rasa antusiasnya terhadap kediaman keluarga Ye yang tersohor. Setelah sekian lama mengenal sosok tuan besar Ye secara diam-diam, baru kali ini ia diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki di rumah megah ini. Tian Lu baru turun dari mobil dan menatap penuh rasa kagum, sayangnya seseorang yang mengajaknya kemari tidak membiarkan ia terpukau lebih lama lagi. Pria itu menepuk pundak Tian Lu dengan mantap, saat Tian Lu menatapnya, ia malah tersenyum seringai seraya mengangguk. “Tuan besar sudah menunggumu di dalam. Bersikaplah sopan dan jaga pembicaraanmu, ingat kamu dipanggil menghadap bukan tanpa alasan.” Ujar pria pengawal itu memberikan sedikit ultimatum sebelum Tian Lu benar benar menghadap tuan besar dan bicara empat mata. Tian Lu mengangguk paham, “Saya mengerti, terima kasih atas nasehat anda, tuan.” Jawab Tian Lu dengan segala kerendahan hatinya, ia pun mengikuti langkah pengawal itu yang sudah bergerak duluan. Sesekali Tian Lu mencuri kesempatan untuk melirik ke sekeliling, tempat yang sangat luas itu terlihat ketat oleh penjagaan. Langkah terakhir mengantarkan Tian Lu berada di depan sebuah ruangan yang besar dengan pintu kayu yang kokoh. Dalam hati Tian Lu berdecak kagum, membenarkan rumor di luaran yang pernah ia dengar tentang kekayaan, kejayaan klan Ye ini. Tentang Robert Ye yang begitu tersohor dan masih berpegang teguh pada kehidupan jadul, rupanya bukan isapan jempol belaka. Segala macam peraturan di rumah ini, pengawal yang bersikap kaku layaknya pengawal jaman kuno, rasanya Tian Lu seperti berada di tengah istana dan hendak menghadap kaisar. Imajinasinya meliar sejauh itu karena situasi di sekitar yang cukup memungkinkan. Seorang pengawal membukakan pintu utama untuk Tian Lu, namun pengawal yang mengajak Tian Lu kemari lah yang lebih dulu menginjakkan kaki ke dalam sana. Lamat lamat Tian Lu melihat sosok agung yang tengah duduk di kursi kebesaran dalam ruangan itu. Pria pengawal itu memberi hormat, Tian Lu pun mengikuti langkah yang dilakukan agar ia tidak salah menempatkan diri. “Tian Lu sudah tiba di tempat, tuan besar.” Ujar pria utusan Robert Ye itu melaporkan tugasnya yang sudah kelar. Robert Ye manggut manggut kemudian melirik pada sosok anak muda yang langsung menundukkan pandangan lantaran menghindari bersitatap dengannya. “Baguslah, kamu boleh keluar.” Seru Robert Ye. Satu persatu pengawal yang ada di dalam ruangan itu keluar, memberikan privasi sesuai yang diharapkan oleh tuan besar mereka. Pintu kembali tertutup rapat, mengurung dua orang pria yang belum memulai pembicaraan penting. Tian Lu masih menunggu dengan rasa penasaran yang cukup besar, hingga ia sadar diri bahwa ia tidak boleh terdiam terus terusan. Barulah Tian Lu berinisiatif memberikan penghormatan kepada pria penguasa yang telah mengundangnya kemari. Ia membungkukkan badan lalu memberikan salam, “Tian Lu memberi hormat kepada tuan besar. Terima kasih telah mengundang saya ke kediaman anda.” Ujar Tian Lu dengan lantang. Robert Ye tersenyum tipis, diam-diam ia terus memperhatikan fisik pria muda itu secara seksama. Seakan hendak melakukan penilaian pada kontes ketampanan. “Berdiri tegaklah, silahkan bersikap santai. Aku mengundangmu kemari untuk berbincang bincang. Ah... Sudah berapa lama sejak pertemuan terakhir denganmu, tak ku sangka kamu sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang tampaknya ulet.” Ujar Robert Ye dengan pujian tulusnya yang membuat Tian Lu tersipu malu. “Saya belum sehebat yang anda bayangkan tuan besar. Terima kasih atas pujian anda, serta bantuan anda selama ini sehingga saya dapat melanjutkan pendidikan hingga jenjang tinggi.” Ungkap Tian Lu, kesempatan yang baik baginya karena bisa mengucapkan langsung sekali lagi. Pria penguasa itu memang layak mendapatkan pujian, pertolongannya cukup berarti pada Tian Lu yang sedari kecil hidup sebatang kara bahkan tidak tahu asal usulnya. Robert Ye mengibaskan tangannya, terasa aneh baginya terus terusan mendengarkan kata sanjungan. Sekalipun memang ia pantas mendapatkannya namun ia bukanlah penguasa yang haus pujian. “Ah, sudahlah... jangan terlalu dilebihkan. Semua yang aku berikan itu sepadan dengan yang kamu lakukan. Aku tidak akan berpangku tangan tanpa membalas kebaikan seseorang. Maksudku mengundangmu kemari, karena aku punya kepentingan khusus yang cukup mendesak. Aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku saat ini.” Jelas Robert Ye langsung pada topik pembicaraannya. Tian Lu mengerutkan dahi, ia bisa menilai dari ekspresi lawan bicaranya bahwa sesuatu yang dianggap mendesak itu sungguh penting artinya bagi Robert Ye. Terpancar jelas dari sorot tajam mata pria tua itu yang seperti menaruh harapan besar pada Tian Lu. “Apa yang bisa saya lakukan untuk anda, Tuan besar?” Robert Ye terdiam sejenak, meskipun sudah berhasil memancing rasa penasaran pria muda itu, namun ia masih perlu sedikit waktu untuk meyakinkan diri. “Aku ingin memintamu secara terhormat untuk menjadi pengawal putriku. Dia kuliah di kampus yang sama denganmu, ini akan lebih memudahkanmu untuk melindunginya tanpa mengorbankan pendidikanmu.” Jelas Robert Ye yang pada akhirnya memantapkan diri untuk meminta, seperti rencananya semula. “Anda meminta saya menjadi pengawal pribadi putri anda? Kenapa harus saya, tuan besar? Saya tidak punya kapasitas untuk menjadi seorang pengawal, apalagi menjamin keselamatan orang yang begitu penting. Mohon maaf, saya tidak bermaksud lancang menolak perintah anda, tetapi ini sungguh tidak sesuai dengan kapasitas saya.” Tolak Tian Lu, kepercayaan dirinya cukup krisis, ia tak berani menyombongkan diri apalagi memaksakan kesanggupan yang jelas tidak sanggup ia lakukan. Robert Ye tersenyum seringai, ia membetulkan posisi duduknya lebih tegak dan tak bersandar pada kursi. “Anak muda, aku tahu kamu hanya sedang merendahkan dirimu saja. Dengan kemampuan ilmu bela dirimu saja sudah cukup menunjukkan potensi besar dalam dirimu. Aku tahu betul itu, jadi kamu tidak perlu menyembunyikan kelebihanmu lagi di hadapanku.” Ujar Robert Ye, menskakmat Tian Lu yang tampak sangat terkejut dengan ucapannya barusan. Tian Lu langsung membungkukkan badannya, memohon maaf yang sebesar besarnya karena ia takut menyinggung hati tuan besar. “Maafkan saya, tuan besar. Saya sungguh tidak menyembunyikan sesuatu dari anda. Ini sungguh karena kemampuan saya yang tidak seberapa, saya takut jika gegabah dan serakah menerima kepercayaan besar dari anda, justru akan membahayakan keselamatan nona muda. Mohon tuan besar pertimbangkan lagi, saya rasa masih ada yang lebih pantas menerima kehormatan ini.” Tian Lu masih membungkukkan badannya, ia akan terus seperti itu hingga mendapat kode dari Robert Ye untuk kembali berposisi tegak. Sayangnya pemikiran Tian Lu justru tak menjadi kenyataan, suasana mendadak hening usai ia menyatakan penolakannya dengan merendahkan diri. Kesunyian yang terasa aneh itu menggugah rasa penasaran Tian Lu, ia pun tergoda untuk mengintip reaksi tuan besar itu, tetapi sebelum ia berhasil mendongakkan kepalanya, sebuah pedang melesat dengan cepat dari arah luar melewati punggungnya yang masih membungkuk. Tian Lu terkesiat, serangan mendadak itu bukan ditujukan kepadanya, pedang itu masih melesat cepat mengincar ke arah tuan besar yang duduk di atas singgasananya. Robert Ye duduk tanpa berusaha melindungi dirinya sendiri dari teror pedang terbang itu. Ketenangan yang tidak berimbas pada pria muda di dalam ruangan itu, Tian Lu mengerahkan kemampuan terpendamnya, mengeluarkan jurus meringankan tubuh yang ia kuasai lalu terbang dengan gesit mengejar pedang yang menuju sasaran. “Tuan besar, awas!” Pekik Tian Lu secara reflek. Gerakan badannya tidak hanya terbang saja, satu kakinya langsung menendang pedang hingga terpental dan menancap pada tiang balok dalam ruangan itu. Tian Lu kembali berdiri tegap setelah menampilkan tontonan menarik yang tanpa ia sadari adalah sebuah jebakan untuk menguji kemampuannya. Ia malah menghampiri Robert Ye dengan sorot mata penuh cemas. “Tuan besar, anda tidak terluka kan? Maaf saya tidak bermaksud membuat anda terkejut. Ternyata sangat berbahaya sekali tadi, bagaimana bisa pedang ini menyasar ke sini padahal di luar sana pengawasan cukup ketat?” Tian Lu bertanya tanya sendiri dengan suara kecilnya. Robert Ye tersenyum seringai, beberapa saat kemudian ia pun bertepuk tangan sehingga membuat Tian Lu mengerutkan dahi. Pria muda itu terlampau polos untuk menebak permainan yang dilakukan oleh sang penguasa itu. “Anak muda terima kasih atas kesigapanmu melindungiku tadi. Aku sangat terharu dan terpukau, rupanya ilmu bela dirimu memang sangat mumpuni. Kamu bukannya tidak mempunyai kemampuan, tapi kepercayaan dirimu lah yang terlalu rendah.” Ucap Robert Ye tersenyum senang saking puasnya dengan dugaannya yang tepat. Semuanya sudah ia rencanakan, tidak mungkin pula ia akan diserang di rumahnya sendiri. Ini hanya rencana cadangan yang harus ia lakukan andai Tian Lu terus menutupi kemampuan dirinya dan menolak tawarannya. Tian Lu tercengang, ia menatap pedang yang tertancap di tiang itu lalu beralih menatap pada tuan besar yang terlihat tenang tanpa merasa bersalah sudah mempermainkan hatinya. Ia menundukkan pandangan, kebohongannya sudah tak berguna lagi. Setelah masuk perangkap pria penguasa itu dan menunjukkan kemampuannya, akan sulit baginya untuk berkelit bahwa ia tidak mengerti ilmu membela diri. Tian Lu menundukkan pandangan, mencoba mencari jalan keluar agar ia tetap bisa menolak tawaran pekerjaan yang tak ia harapkan itu. “Tuan besar, saya mohon maaf jika jawaban saya akan membuat anda kecewa. Apa yang baru saja anda lihat itu hanya sikap reflekku saja untuk melindungi anda, selebihnya saya tidak punya kemampuan yang lebih. Saya takut jika berhadapan dengan lawan yang lebih kuat, justru akan membahayakan keselamatan nona muda.” Ujar Tian Lu berusaha keras meyakinkan bahwa kemampuannya tidak seberapa. “Oya? Apa aku perlu mengujimu lagi? Anak muda, aku sungguh tidak mengerti sebenarnya apa yang membuatmu begitu menghindari permintaan tolongku ini? Aku paham betul jika di luaran sana masih banyak yang lebih hebat darimu, tapi bukan soal keunggulan saja yang menjadi pertimbangan utamaku. Dari semua pertimbangan yang ada, aku memantapkan diri untuk memilih kamu. Haruskah aku memohon padamu agar mau menerima permintaan tolongku ini, Tian Lu?” Ujar Robert Ye, kata katanya yang mengiba itu sontak membuat Tian Lu merasa serba salah. Tak sepantasnya seorang penguasa seperti Robert Ye mengemis pertolongan pada orang seperti Tian Lu. Tian Lu dilema, jika bukan Robert Ye yang meminta, mungkin ia tidak akan sebingung saat ini. Antara prinsip diri serta rasa hutang budi, Tian Lu harus memilihnya sebagai jawaban yang tak akan disesalinya. Ia menatap sekali lagi pada kesungguhan Robert Ye, semakin dilihat semakin luluh hatinya. “Baiklah tuan besar, saya bersedia menerima perintah anda.” Akhirnya sebuah jawaban terlontar dari Tian Lu, membuat pria penguasa di hadapannya tersenyum penuh kemenangan. “Kamu mengambil keputusan yang tepat anak muda. Mulai hari ini bekerjalah untukku sebagai pengawal pribadi putriku, Ye Lily.” Seru Robert Ye dengan lantang dan menggelegar hati Tian Lu. “Ye Lily?” Desis Tian Lu terkejut, sebuah nama yang jelas ia ingat namun tak disangkanya adalah nama dari putri bungsu pria penguasa itu. ‘Jadi... Kamu putri dari tuan besar Ye ....’ Timpal Tian Lu dalam hati. ⚫⚫⚫⚫⚫
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN