Meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan cukup berat buat Kania. Sebagai seorang suami, Fawwaz memberikan pilihan agar Kania merasa nyaman, lelaki bijak itu tidak keberatan jika mereka harus tinggal di Rancabango. Namun, dalam satu hari Bu Sumarni terus-terusan meneror mereka dengan beberapa panggilan telepon. Seperti ada yang mendesak meminta Fawwaz untuk segera pulang ke rumah besar keluarga Abdullah. “Neng, sabar, ya saat ngadepin Ambu. Dia gak pernah berniat jahat, hanya saja kita yang muda yang harus mengerti bahwa Ambu berbeda dengan Abah.” Fawwaz mengelus lembut punggung tangan Kania, hingga membuat sang istri menghentikan aktivitasnya membereskan pakaian ke dalam koper. ”Iya, pasti, A. Walau bagaimana pun Ambu sekarang sudah menjadi ibu Kania. Dan ngomong-ngomong k

