Hening dan sepi. Itulah yang Kania rasakan kala membuka mata. Kamar yang luasnya tiga kali lipat dari kamarnya yang dulu terasa amat dingin. Tangan kanannya menggapai nakas, dia mencari gawai karena dalam gelap tidak dapat melihat jam dinding. Rasannya Kania sudah tertidur amat lama. Ketika melihat jam yang tertera pada gawai ternyata waktu masih menunjukkan pukul dua dini hari. Perlahan dia bangkit sembari memijat kening yang sakit karena terus-terusan menangis. Dia menatap wajah Fawwaz yang masih tertidur pulas, kulitnya terlihat cerah di bawah temaramnya lampu luar yang mengintip malu-malu melalui celah tirai. Kalau bukan karena kasihan saya gak rido si Aa nikah sama dia! Dadanya kembali berdenyut nyeri kala suara Bu Sumarni melintas dalam ingatan. Buru-buru dia isti

