Rumah kecil yang biasanya sepi itu kini terlihat ramai dan sibuk. Seorang perempuan paruh baya tengah mengiris-ngiris daun pandan dengan pisau yang lumayan tajam. Sementara itu, perempuan lainnya tengah merangkai bunga dengan benang tipis. Kesibukan lain terlihat di sudut halaman. Pemuda setempat ditemani ketua RT sedang menghaluskan dan memberi sebuah nama pada papan. Tidak ada kenduri di tempat ini. Pemilik rumah sedang berkabung. Kini, gadis yang semula duduk bersimpuh tidak dapat menerima kenyataan bahwa sosok yang terbujur kaku itu adalah sang ayah. Lantas dia berdiri menghapus air matanya yang berderai. Dia mengambil sapu, kemoceng dan mulai membersihkan kamar sang ayah. Pertama-tama dia merapikan sprei, lalu membersihkannya dengan sapu lidi. "Neng, nanti biar Ceuceu saja yang b

