Bab 1. Pria yang Semalam Menguasainya
“Tolong ... jangan—” Suaranya teredam karena lehernya dicekik. “A-aku dijual ibuku ... b-bukan ... bukan kemauanku ..., P-pak tolong jangan aku.”
Persetan dengan rintihan permintaan tolong karena tubuhnya terasa sangat panas. Sial! Perempuan di bawahnya ini sangat mungil dan rapuh. Namun, dia tidak memiliki waktu banyak karena miliknya harus segera dipuaskan.
Entah dibawah umur, entah dijual, Raden Herlangga Anankara tidak peduli. Dia bukanlah manusia baik yang melepaskan mangsa jika sudah di depan mata.
Tangan besar nan kekarnya terangkat. Mengusap lelehan cairan bening di pipi tirus si perempuan.
Kasihan sekali. Tubuh di bawahnya gemetaran tiada henti, kakinya yang kecil terus meronta bahkan saat sudah Angga kunci dengan kaki besarnya.
Wajah tegas dan menyeramkan Angga menunduk, menatap mata jernih yang berlinang air mata. Bibir tebalnya pun tak kalah bergetarnya.
Angga menyeringai.
Perempuan kecil di bawahnya ... apa katanya? Dijual oleh ibunya.
Ibunya yang biadab dan mata duitan menjual gadis kecilnya pada sosok monster penjahat kelamin di balik kemeja mahalnya.
“Vi!”
“H-hah?” Elyse Avianna tergagap, kepalanya menoleh ke samping hingga tatapan tanpa ekspresi dengan pria di depannya pun terputus.
“Dosen baru yang gue maksud, pengganti dosen sebelumnya. Lo dilihatin dari tadi, untungnya nggak dilempar bolpoin,” bisik temannya; Madelyn. “Lo sakit, Vi? Muka lo pucat—“
“Silakan diskusi di luar jika tidak berniat mengikuti kelas saya!”
Suara tegas mengagetkan Avi dan Madelyn. Keduanya langsung menunduk, hanya Madelyn yang menggumamkan permintaan maaf.
Lamunan yang kembali membawa ingatan Avi pada kejadian semalam. Seharusnya dia melupakannya, setidaknya saat sedang di kelas. Meskipun sakit dan takutnya masih terasa hingga detik ini.
“Bisa kita mulai?” Nadanya sarkastik. “Pertama, tidak berdiskusi di dalam diskusi.” Tajam sekali, seolah sengaja memberi intimidasi pada Avi. “Dengan senang hati saya duduk di bangku kalian, lalu kalian yang menggantikan saya di depan.”
Poin-poin yang sudah tidak masuk ke kepala Avi. Perempuan itu menghela napas berkali-kali sampai menarik atensi Madelyn, namun temannya memilih tidak terlalu mencolok memperhatikan Avi agar tidak mendapatkan teguran untuk kedua kalinya.
“Saya membutuhkan satu orang sebagai penanggung jawab di kelas saya,” ujarnya tanpa perlu melirik kanan kiri karena tatapannya sedari tadi fokus pada sosok perempuan yang kepalanya menunduk. “Yang memakai bandana merah.”
Sesuai prediksi Angga, kepala Avi mendongak langsung bertatapan dengan manik matanya yang menyorot tajam. Avi tersadar, kembali menunduk, meremas kedua tangannya di atas meja dengan wajah yang semakin pucat. “Siapa namanya? Temui saya setelah kelas berakhir!”
Kelas ditutup dengan guncangan bahu dari Madelyn. Avi bahkan tidak sadar sepanjang waktu melamun dan tidak sadar bahwa sesi Angga sudah berakhir. Kini, dia dihadapkan dengan berondong pertanyaan dari teman dekatnya. “Gue dipanggil karena ngelamun doang kan, Lyn?”
“Gue rasa pak Angga punya masalah pribadi sama lo deh, Vi. Tatapan matanya menusuk. Keliatan dendam banget, gue perhatiin juga sepanjang waktu ngisi kelas nggak perlu ngelirik murid lainnya. Gue kok malah takut ya bukan baper. Ganteng-ganteng gitu kalau vampir kan nggak lucu, Vi!”
“Khayalan lo berlebihan, Lyn. Lo ke kafe duluan aja, gue mau menemui pak A-angga dulu,” katanya sedikit terbata, kaku saat melafalkan nama pria yang semalam satu ranjang dengannya. Bahkan namanya pun baru dia tahu. Sepanjang malam bibir mereka tertaut, tetapi tidak sempat memperkenalkan diri. “Gue ke—“
“Astaga, Vi!” Kaget Madelyn langsung merangkul bahu Avi. Membantunya kembali duduk di kursi. “Lo sakit deh, serius. Muka lo pucet banget, badan lo juga anget. Istirahat dulu ke perpus, yuk, setelah itu baru deh ke ruangan pak Angga.”
“Nggak usah, deh,” tolak Avi berusaha berdiri. “Gue cuma masuk angin.” Avi mengurut kepalanya, tetapi berbanding terbalik dengan senyumnya yang mencoba menenangkan Madelyn. “Gue nggak mau menambah kesulitan hidup. Berurusan sama dosen bukan perkara mudah. Jadi, lebih baik hindari atau luruskan.”
Akhir kata yang lebih tepat untuk Avi katakan pada dirinya sendiri. Dia harus segera meluruskan. Jangan sampai pria yang semalam menguasainya di ranjang memandangnya sebelah mata. Sebagai perempuan nakal yang menggoda dosennya sendiri, meskipun pada malam tadi mereka sama-sama tidak saling mengenal.
“Masuk!” Suara tegas dan terkesan datar menjawab panggilan Avi. Ketukan pintu yang disambut formal oleh pemiliknya.
“Permisi, Pak—”
“Buka baju kamu!”
Avi tergagap. Selangkah mundur. “Maaf?” tanyanya bersikap seolah kurang mendengar, berharap perkataan dosennya keliru.
“Kamu tuli? Daun telingamu saja yang saya kulum seharusnya gendang telinga tidak rusak.” Sarkas dari perkataan yang membuat tangan Avi gemetar. “Masih kurang jelas, Elyse?”
Mendengarnya membuat Avi langsung menangkupkan tangan di hadapan Angga. “Saya bersumpah yang semalam tidak menjebak Bapak. Saya hanyalah pelayan yang mengantarkan pesanan tamu, t-tapi ....” Ucapannya tidak tuntas karena keduanya sangat ingat kejadian semalam. Seharusnya Avi sebatas mengantar pesanan minuman dari tamunya, kemudian keluar membawa botol kosong. Bukan malah terjebak karena diawali belas kasih. “Bapak yang meminta tolong ke saya.”
Yang dimaksud adalah saat Angga berteriak mencengkeram pergelangan tangannya, langsung mencumbu leher hingga semuanya terjadi tanpa bisa dicegah.
“Kalau saya bilang semalam saya dijebak apa kamu percaya, Elyse?” tanya Angga dengan wajah datar.
Avi menggigit bibir bawahnya dengan posisi kepala menunduk.
“Kamu tidak percaya.” Angga bangkit dari kursinya, berjalan menuju Avi yang gugup, mengitari perempuan itu kemudian menyingkap ke atas blouse yang dikenakan oleh Avi.
Avi yang tersentak tak diberi kesempatan mencerna segala yang terjadi karena elusan di punggungnya membuat tubuhnya menegang. Sentuhan seringan kapas seakan tak ingin menyakitinya. Avi terdiam dengan tubuh kaku. Posisi berdiri yang kedua tangannya saling bertautan di atas perut. “P-pak ...,” rintihnya mencoba menyadarkan sang dosen, tetapi Angga being Angga. Pria itu justru merendahkan badannya, memposisikan kepala di sejajar dengan punggung perempuan itu lalu tanpa meminta izin memberi kecupan pada memar di pinggang putihnya.
“Apa ini sakit, Elyse?”
Avi merinding.
Panggilan yang terdengar sensual dengan embusan hangat yang menerpa punggungnya.
“Saya ingat semalam mendorong kamu sampai kepentok meja. Sakit?”
Avi masih diam. Menggigit kuat bibir bawahnya, dia takut jika bersuara akan membuat segalanya semakin runyam karena pria itu bertanya dengan posisi yang tidak berubah. Napasnya yang hangat masih sangat mempengaruhinya.
“Seseorang mencampurkan sesuatu pada minuman saya sebelum kamu datang ....” Angga berdiri. Menurunkan blouse yang kembali menutup pinggang ramping Avi. Namun, yang terjadi selanjutnya semakin membuat Avi menahan napas.