Malam harinya,
Shifa sudah terlelap mungkin kerena kondisinya yang belum fit dan habis dikunjungi sanak saudaranya.
Cakra hanya menatap lembut menantunya tertidur pulas.
Kemudian angin berhembus diantara kaki Cakra, seketika hawa dingin memenuhi ruangan tersebut.
"Jadi ini yang kelak akan menggantikan mu?" tanya suara tersebut kepada Cakra.
"Aku memanggilmu dari tadi, kenapa lama sekali?" tanya Cakra dengan nada kesal.
"Kau masih seperti dulu, selalu saja keras dan tidak sabaran" ejek suara itu.
"Jangan becanda Barata!" Cakra membentak suara itu.
Lalu Barata menampakan sosoknya, Harimau berwarna putih dengan corak bergaris hitam khas.
berjalan mendekati Cakra dan mengelilingi dikedua kakinya seperti seekor Kucing yang mengajak main Tuan nya.
Kadang menggeram kecil menatap Cakra dan Shifa.
"Ga usah seperti itu Barata" ucap Cakra yang melihat kepala Harimau tersebut mendorong-dorong manja kaki Cakra.
"Kau sangat beruntung memiliki cucu seperti Arya" ungkap Barata yang mengendus hawa Ibunya Arya.
"Ia akan lebih kuat dan hebat darimu Cakra, aku merasakan hawa pembunuh yang sangat mengerikan, Ia juga mempunyai mata yang sangat tajam, serta insting yang mampu untuk menyelesaikan setiap masalah nantinya. Seperti pisau bermata dua, Dia bisa memjadi bermanfaat ataupun melukai untuk orang lain" Barata menerangkan apa yang sudah Ia lihat.
Sesaat kemudian sesuatu meledak dipojok kamar itu, dengan cahaya berwarna merah padam. Asap dan hawa panas mulai menyebar mendekati Cakra dan Barata.
"Ini.." ucap Cakra pelan.
"Ladoya cukup!" bentak Barata membuat Asap tersebut berkumpul dan membentuk sesuatu.
Ladoya adalah Harimau Kumbang berwarna hitam pekat yang dimiliki Cakra sekarang sudah melangkah dibelakang Barata, menjilat-jilat bulu putih indah nya.
Ladoya diam sejenak menatap Cakra tajam penuh kebencian mengeluarkan dengkuran berat tanda tidak suka.
"Tak usah kaget Cakra. Aku datang bukan untukmu" sapa Ladoya datar.
"Cukup! aku mengajakmu bukan untuk bertengkar" tengah Barata kepada Ladoya menunjukan taring dan kuku tajamnya.
"Aku ingin melihat langsung orang yang akan mengalahkanmu seperti kau mengalahkanku" ungkapnya kesal sambil mengenang ketika Cakra berhasil menaklukannya.
Ladoya memang tidak suka dengan manusia, tidak percaya bahwa manusia juga memiliki sifat baik, selama ratusan tahun Ia melihat manusia berbuat kerusakan, kezholiman, dan kemungkaran.
Mulai saat itu Ia menjauhi yang namanya manusia, telah banyak manusia mencoba menaklukannya tapi selalu gagal karna Ladoya bukan mahkluk sembarangan. Sampai akhirnya Cakra datang dan menaklukannya, itu membuatnya kesal sampai sekarang.
"Keluarlah kau Genta, bau mu mengganggu hidungku" perintah Ladoya kasar lalu mengaum keras, "kau tidak lupa kan? tajamnya indra penciumanku?" menunjukan taring tajamnya.
Munculah seekor Katak berwarna hitam menembus tembok.
"Cih! tak kusangka hidungku masih saja tajam" jawab Genta sebal padahal Ia telah menyamarkan hawa tubuhnya.
"Kalian??" tanya Cakra tidak percaya melihat semua berkumpul malam itu.
Makhluk kesayangan Cakra yang sudah menemaninya dari dulu hari ini berkumpul semua.
Genta memang Spesialis untuk pengobatan, berbagai pengobatan Ia sangat pandai berkat pengalamannya dahulu.
Sedangkan Barata dan Ladoya Spesialis untuk menyerang lawan-lawan Cakra yang coba mengganggunya ketika mengobati pasiennya, merontokan Ilmu Hitam, Santet, Gendam, Pelet dan lain sebagainya.
"Aku yang mengajak Ladoya, biar gimana aku tau dia sangat menyayangimu Cakra" ucap Barata sedikit menyinggung Ladoya.
Ladoya hanya menggeram kesal.
"Aku tidak seperti piaraanmu itu, aku makhluk bebas!" jawabnya menyindir Genta yang selalu ada disamping Cakra.
Genta hanya membuang nafas berat dan cuek mendengar ucapan Ladoya, memang sudah seperti itu kebiasannya.
Cakra tersenyum dalam hari, biar gimanapun mereka telah banyak membantu dan menemaninya.
Dan perwujudan binatang yang saat ini Dia lihat bukanlah wujud asli mereka.
itu hanya perlambangan dari masing-masing sifat alami yang mereka punya dan pelajari selama ratusan tahun.
pernah sekali Cakra meminta untuk melihat wujud asli "Pegangan" nya tersebut. Setelah melihatnya Cakra tidak bisa bergerak sama sekali, Dia melihat bentuk yang sangat mengerikan, dan itu diluar penalarannya sebagai manusia.
Akhirnya Cakra memperintahkan Barata, Ladoya dan Genta menjadi wujud yang saat ini dilihat, lebih umum dan bersahabat.