Dengan kedatangan mereka semua, membuat suasana dan hawa diruangan itu berbeda.
karna gesekan inti energi menghasilkan sebuah energi besar diruangan itu.
Hawa ruangan malam itu yang tadinya adem, tenang dan sunyi berubah menjadi panas dan kosong tidak bergerak. hawa dan energi dari luar tidak dapat memasuki ruangan Shifa yang saat itu tertidur. Seperti bertolak belakang dengan hawa dari kehadiran mereka.
Shifa mulai mengeluarkan keringat jagung, merasakan hawa aneh tersebut.
samar-samar Ia mendengar Cakra sedang asik berbicara entah dengan siapa.
"Aku sangat berterima kasih kepada kalian"
"Tak perlu berterima kasih, kau sudah tua aku tidak ingin mengikuti orang tua sepertimu"
"Arya akan kujadikan pembunuh handal nomor satu"
"Aku akan mengikuti permintaan mu Cakra"
"Serahkan Arya pada kami, Dia akan lebih kuat lagi darimu"
"Tenang saja Cakra, aku akan mengurus semuanya"
Samar-samar Shifa mendengar ucapan tersebut. Tapi untuk membuka mata rasanya sangat berat.
"Husstt, dia bangun"
"Tenang saja aku memegangi matanya agar tidak bisa terbuka"
"Bodoh percuma saja klo tidak melihat tapi mendengar"
"Ayahh?? sedang ada tamu kah? Ayah berbicara dengan siapa??" tanya Shifa memanggil Cakra perlahan membuka mata dan cahaya lampu menyinari matanya silau
"Kalian pergilah.." bisik Cakra pelan.
Lalu ketiga sosok tersebut menghilang perlahan.
"Kenapa Nak? Ayah sedang duduk sendirian menjagamu" jawab Cakra berbohong.
Setelah Shifa dapat melihat jelas sosok Ayahnya tersebut, "Tadi aku dengar suara Ayah sedang ngobrol sama orang kok" terangnya.
"Kamu salah dengar Nak, lihat sudah jam berapa ini? mana ada yang boleh membesuk mu" jawab Cakra tersenyum.
Shifa hanya memandang Ayahnya heran, dia seperti menutupi sesuatu darinya.
"Kamu haus? lapar? mau Ayah carikan makanan?" tanya Cakra.
Shifa hanya menggelengkan kepala menolak semua yang disebutkan Ayahnya.
"Mas Ari belom dateng Yah?" tanya Shifa mencari sosok suaminya diruangan itu.
"Besok Ayah akan cari suami mu yang kurang ajar itu, dan menyeretnya kemari" ucap Cakra dengan nada kesal.
"Shifa mau tidur sama Arya.." pintanya memelas.
"Nak, sekarang Arya masih harus istirahat. Kamu ga ingat pesan Dokter, keadaan Arya masih lemah jadi masih harus diberikan perawatan lebih. Sabar ya kamu kan juga belom pulih, harus banyak istirahat." Cakra coba menjelaskan agar Shifa berhenti merengek.
"Shifa takut Arya kenapa-napa Yah" ungkapnya sedih.
"Gpp Nak, Arya kan dijaga suster, pasti baik-baik saja" jawabnya coba menghilangkan ketakutan menantunya itu.
"Kamu istirahat lagi aja, biar besok bisa ketemu Aryo" bujuk Cakra malam itu lalu duduk disamping Shifa menemaninya tidur.
"Kakek akan terus menjaga kamu Arya, walau kakek harus mengorbankan nyawa kakek" ucapnya dalam hati.
Akhirnya Shifa kembali tertidur, dan Cakra setia menemaninya.
"Awas kamu Ari, Ayah tidak akan memaafkanmu sampai menelantarkan Shifa dan Arya" batinnya.
lalu ikut tertidur dibangku samping ranjang yang ditempati menantunya.