Keesokan Harinya.
Setelah mengurus semua kebutuhan Shifa, dan menunggu kedatangan Bey untuk bergantian dengannya.
"Arya mana Yah?"
"Aku pengen ngeliat Arya"
"Masa Ibunya sendiri ga boleh ketemu anaknya Yah?"
"Arya pasti haus, ingin minum s**u Yah"
Karena Shifa merengek terus ingin bertemu dengan anaknya, Arya.
Akhirnya Perawat membawa Arya memandang Shifa dan tersenyum kecut kepada Cakra yang bawel meminta cucunya dikeluarkan.
"Makasi Sus" ucap Cakra tak enak hati dengan pandangan sinis perawat tersebut.
"Dasar orang tus merepotkan" umpatnya kecil sambil berjalan keluar ruangan itu.
Cakra yang menggendong Arya terlihat sangat bahagia, Ia menimang, menciumi nya.
Arya hanya mengekori setiap gerakan Kakeknya itu, diselingi dengan gumaman kecil dan tersenyum mungil.
"Sudah lama aku tidak pernah melihat kau sebahagia ini Cakra" ungkap Ladoya didalam hati.
Cakra yang mendengar itu, terdiam sebentar lalu kembali tersenyum mencandai cucunya.
"Bisakah kau tidak mengganggu kebahagiaan yang saat ini aku liat Ladoya?" timpal Genta kesal mendengar ucapan Ladoya tadi.
"Aaggrrhh" aungan Ladoya kesal.
"Shifa, Dia keliatannya haus" Cakra lalu memberikan dengan lembut cucu kesayangannya itu kepada Ibunya.
Momen itu yang ditunggu dari semalam oleh Shifa, tidaklah menjadi seorang Ibu yang sempurna jika belum memberikan ASI kepada anaknya.
Shifa menyusui Arya terlihat jelas raut wajah yang bahagia, meskipun didalam hatinya Ia menunggu kedatangan suaminya.
"Uuhh!! Cucu Papah lagi minum s**u yaa" suara Bey mengejutkan Cakra dan Shifa bersamaan.
"Akhirnya datang juga Papah mu Shifa" jawabnya tersenyum menyambut Bey.
Shifa hanya menengok sekilas Papahnya lalu tersenyum dan kembali fokus menyusui Arya.
"Klo gitu Ayah bisa tinggalin kamu ya, ada Papahmu yang menemani hari ini" sebut Cakra lalu berpamitan dengan Bey dan Shifa.
"Loh kamu mau kemana?" tanya Bey.
"Saya harus mengambil kebutuhan Shifa dirumah, Pak" jawab Cakra.
"Hati-hati dijalan ya Yah" sahut Shifa melihat Ayah mertuanya berjalan lalu menghilang dibalik pintu dari pandangannya.
Cakra yang dalam perjalanan pulang ternyata tidak langsung menuju rumahnya.
Ia mencari Ari ditempat biasa anaknya berada, Dengan info yang didapat dari teman-teman anaknya, akhirnya Cakra menemukan Ari.
dari kejauhan Cakra melihat anaknya sedang berjudi dan pesta miras.
"Heh Bapak lo tuh dateng"
"Aduh bahaya deh, bakal kena ceramah panjang nih"
"Cepet umpetin kartu dan minumannya" perintah Ari kepada temen-temennya, Ia melihat Ayahnya datang dengan tatapan membunuh siang itu.
"Dasar Anak tidak berguna!! mau jadi apa kamu! Istri lagi melahirkan, kamu malah main judi disini! otakmu dimana Ari!!" bentak Cakra didepan Ari dan teman-temannya.
"Itu bukan Anakku Yah, ngapain harus aku yang mengurusnya" jawab Ari santai
"Plak!!" tangan Cakra menampar keras Ari membuat nya tersungkur jatuh ketanah.
"Jaga ucapanmu!! dasar tidak tau diri!!"
Ari hanya mematung mendengar teriakan Ayahnya, Ia merasa malu diperlakukan seperti anak kecil didepan teman-temannya.
"Dasar Ayah sialan! mereka bakalan tertawa dan menceritakan kejadian ini kepada semua teman-temanku, b******k!" umpat Ari dalam hati, melihatnya menjadi ingat dengan Shifa istrinya.
"Ayah lebih menyayangi Shifa dari pada Gue, padahal yang anaknya kan gue bukan wanita jalang itu, Cih! Awas nanti kamu Shifa" batinnya membuat Ari semakin benci dengan Istrinya tersebut.
"Pulang kamu!! mau ngapain lagi disini!!" perintah Cakra kepada anaknya.
lalu Ari bangun dan berjalan lemas meninggalkan Ayah dan teman-temannya.
"Sampe Ayah tau kamu ga kerumah sakit, Ayah akan permalukan kamu didepan teman-temanmu Ari!" Cakra meneriaki anaknya dari jauh.