Ari yang berubah sikap kepada Istrinya, kerap menduga Shifa bermain dengan Pria lain dibelakangnya.
Ia khawatir Shifa akan membalas semua perbuatannya dulu, Ia akan diduakan dan di khianati.
Pikiran itu yang selalu terngiang dikepalanya, sehingga membuatnya Resah dan gelisah akan ketakutannya sendiri.
Padahal biarpun Shifa tak terima dengan kebohongannya itu, Dia terus berusaha untuk menerima semuanya dengan Ikhlas.
dibantu dan disemangati oleh Ayahnya, membuat shifa bisa terima semua kenyataan pahit itu, dan berharap Suaminya kembali menjadi seperti pertama kali mereka bertemu.
Tapi pada kenyataannya, Ari harus menanggung ketakutan itu sendirian akibat dari perbuatannya dahulu, Ia lampiaskan semua itu kepada Shifa, memukul, menghina, mencaci maki, dan menuduh bermain dengan pria lain dibelakangnya.
Ari berharap dengan bermain judi dan menenggak minuman keras semua ketakutannya itu akan berakhir.
Ternyata itu tidak berlaku untuk KARMA hasil yang dulu diperbuatnya sekarang dia merasakan balasannya.
Sudah beberapa hari Istrinya melahirkan, tapi sampai saat ini Ari belum juga datang sekedar menjenguknya.
Setiap dia melangkahkan kaki menuju rumah sakit, pikiran-pikiran negative nya selalu saja menghantui. Hingga Ari mengurungkan niatnya.
Hanya Cakra dan Bey yang setia menemani Shifa dirumah sakit, Bey harus mengalah untuk tidak mempertanyakan Ari didepan Shifa.
Setelah seminggu lamanya, Shifa akhirnya diizinkan pulang kerumah. Dengan diskusi panjang diputuskan bahwa Shifa akan tinggal dirumah Cakra untuk sementara waktu, sampai keadaan Shifa kembali pulih.
"Tolong kamu rawat anakku dengan baik, Cakra" pesan Bey ketika meninggalkan kediaman Cakra.
Cakra menggenggam erat tangan Bey tanda ia akan menjaga anak dan cucunya dengan baik.
Malam harinya,
"Kamu istirahat saja Nak, biar Ayah yang akan memasak air panas untuk s**u Arya" jelasnya melihat Shifa tengah sibuk memasak air.
"Gpp kok Yah, masa semua Ayah yang ngurusin sih, aku bisa kok" jawab Shifa tersenyum sambil menggendong Arya yang akhirnya tertidur, lalu meletakan anaknya diatas kasur.
Cakra sengaja memaksakan Shifa agar tinggal dirumahnya dulu, sampai Arya tidak lagi "Wangi" beberapa hari kedepan.
"Wangi" yang dimaksud adalah Hawa keberadaannya (anak bayi). Masih sangat rentan diganggu oleh MG (Makhluk Goib)
apalagi anak dengan kemampuan khusus bawaan lahir (Indigo)
Dengan wangi yang dikeluarkan Arya, besar kemungkinan mereka para MG akan berkumpul disekitar Arya, bagaimana jadinya jika gangguan itu terjadi ketika Cakra tidak bersamanya, Iapun tidak bisa membayangkannya.
Posisi dapur rumah Cakra memang memang terletak paling belakang, dari ruang tengah masih harus melewati kamar Cakra dan kamar Shifa kemudian kamar mandi baru dapur.
Mempunyai sebuah jendela agak besar menghadap belakang berguna untuk membuang asap ketika memasak, maklum disana masih menggunakan tungku walaupun sudah ada kompor sumbu.
Shifa yang berdiri di depan kompor menunggu air mendidih, beberapa kali matanya melirik kearah jendela tersebut, seperti ada yang sedang memperhatikannya.
sekelebatan kain putih berusaha mengganggu pandangannya, Shifa memicingkan mata berusaha menangkap sosok tersebut,
dikejauhan Shifa melihat seorang wanita menatapnya sambil menggendong Bayi, pakaian wanita itu lengkap seperti Suster di Rs.
Ia memperhatikan dengan seksama Bayi yang sedang digendongnya, Bayi tersebut mirip dengan Arya.
"Ayah.." panggil Shifa pelan kepada Cakra diruang tamu.
Shifa terus memperhatikan wajah suster itu menggendong, dia tampak kesal menatap Bayi mungil dipangkuan tangannya.
Tiba-tiba suster tersebut membuang bayi seperti Arya yang berada ditangannya ketanah
lalu menunjuk Shifa penuh dendam.
"Ya allah!!! Ayaahhh!!!!!" teriak Shifa kaget melihat bayi itu terbanting keatas tanah.
"Kenapa kamu Fa??" sahut Cakra sambil berlari menuju dapur
Shifa membuka pintu belakang, lalu berlari menghampiri suster dan bayi itu. Ditengah perjalanan langkah kaki Shifa terhenti, dia mencari suster tersebut kesegala arah, menghilang entah kemana, bersama dengan bayi yang dibuangnya tadi.
Shifa baru menyadari dia berdiri sendirian dikegelapan halaman belakang milik Cakra, sebuah tangan menepuk pundaknya kala itu, Mata Shifa membesar mendapati tepukan itu.
berusaha membalikan badannya perlahan.
"Kamu ngapain Nak??" sapa sosok itu.
"Ayaaahhhh!!!!! bikin takut aja!!!" bentaknya lalu memeluk Cakra ketakutan
"Loh kok Ayah? malah kamu yang bikin Ayah takut, tiba-tiba teriak terus lari ke kesini, kamu liat apa?" tanya Cakra dingin malam itu
"Shifa liat suster membuang bayi dari.."
ucapan Shifa terhenti, ia mengingat Arya yang ditinggal sendirian di dalam kamar.
"Ayah! Arya sama siapa?" tanyanya kepada Cakra menatap pintu dapur belakang yang terbuka.
"Ayah!!"
mengetahui panggilannya tidak dijawab oleh Cakra, Shifa menoleh kesal kearah Cakra.
dengan wajah kesal lalu berubah menjadi bingung, ia tidak mendapati Ayahnya tadi tepat berdiri didepannya.
"Loh Ayah kemana?" teriaknya memanggil Cakra malam itu.
Akhirnya Shifa menjerit ketakutan dan berlari melesat memasuki dapur, mengkunci pintu itu dengan kasar lalu memasuki kamarnya.
Betapa kaget nya melihat Cakra sedang menggendong Arya yang tersenyum menghadapnya.
"Ayah kok udah di kamar?" tanya Shifa dengan nada takut dan curiga.
"Tadi Ayah mau menyusulmu kebelakang tapi Arya tiba-tiba nangis jadi Ayah gendong aja si Arya" Cakra menjelaskan.
"Trus dibelakang tadi siapa Yah?" ucapnya mendadak terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Cakra yang melihat Shifa pingsan segera menaruh Arya dan menggendong menantunya tersebut dan diletakan di atas kasur sebelahan dengan anaknya.
"Lihat Nak, Ibumu telah diganggu oleh MG, kamu jangan sampai takut dengan mereka ya" ucap lembut Cakra lalu mengecup cucunya.
Shifa yang sudah siuman langsung mencari Arya, dia inget kejadian semalam.
untung Arya tepat berada disampingnya lalu Shifa menghembuskan napas lega.
Masih terbayang wajah seram suster tersebut dengan tatapan sadis lalu membanting bayi mungil itu, "Kenapa rumah Ayah banyak hantunya sih" dengan nada kesal
Shifa bangkit lalu mencium pipi anaknya yang masih tertidur pulas, dia perhatikan disekitar kamarnya. Setelah merasa Arya aman dari gangguan apapun, akhirnya ia berjalan keluar membuka pintu kamarnya.
Jam baru menunjukan Pukul 03.40 Pagi.
Shifa ingin mengambil wudhu, ia berpikir dengan cara sholat akan menjauhkan mereka bertiga dari gangguan hantu dirumah tersebut.
ketika hendak membuka keran air, sungguh malang nasibnya. Air tersebut tidak keluar yang mengharuskan Shifa kepompa dibelakang rumahnya untuk menyalakan mesin kran air.
Jarak mesin tersebut tidak begitu jauh, hanya melewati pintu belakang dapur lalu berbelok sedikit kekanan, disanalah letak kran itu.
Shifa membuka pintu belakang didekat dapur, hatinya masih was-was mencari sosok suster yang telah mengganggunya tadi.
Mata shifa jelalatan kesana kemari berusaha mencari sosok itu.
sambil berjalan mengendap-endap Shifa terus memperhatikan sekitarnya dengan seksama.
Takut klo nanti suster tersebut kembali menampakan diri, dan setelah beberapa langkah hampir sampai. Shifa dikejutkan dengan suara
"Huusstt, kamu nyari siapa? hhiihihihihi"
suara perempuan itu sukses membuat Shifa ketakutan setengah mati diiringi tawa melengking yang sangat dekat seperti sedang tertawa disebelahnya.
"Jangan ganggu!! saya ga ganggu kamu!!" bentak Shifa memberanikan diri.
Ga lama suara tersebut tidak terdengar lagi, "Bagus klo itu setan ngerti, jadi ga ganggu orang lagi" ucapnya pelan.
Ketika sampai didepan pompa air, shifa mencari saklar untuk menyalahkan mesin itu. dari balik pompa ia mendapati sesuatu bayangan hitam bergerak pelan.
"Hustt!! Husstt!!" usirnya, Shifa mengira itu adalah tikus yang bersembunyi dibalik pompa.