Setelah yakin tikus tersebut pergi, Shifa memijit saklar kran air, dibarengi oleh sepotong tangan ukuran lelaki meremas tangan kecilnya.
Tangan tersebut berdarah dan nampak luka sayatan benda tajam.
"Aaaahhhhhhhhhhh Ayaaahhhh!!!!" Shifa teriak histeris sekuat tenaga membuat Cakra terbangun kaget dan berlari mencari dirinya.
"Kamu dimana Shifa??" teriak Cakra mencari menantunya.
Cakra berlari kearah pintu dapur yang terbuka, ia yakin Shifa berada dipompa air.
Benar saja, Shifa sedang meringkuk ketakutan, membenamkan kepalanya diantara kedua kakinya sambil menangis.
"Kamu kenapa Fa?" tanya cakra membungkuk dihadapan menantunya.
"Ada potongan tangan Yah disana" jawab Shifa menunjuk ke arah pompa air milik Cakra.
"Sudah Nak, tidak ada apa-apa kamu lihat saja sendiri" ucap Cakra menenangkannya lalu membawa masuk kedalam rumah.
Shifa terlihat sangat Syok dengan kejadian aneh yang terus menimpanya.
Gangguan demi gangguan terus menghantui Shifa, baru semalam tinggal dirumah Cakra Ayah mertuanya. Shifa sudah tidak betah dan ingin pulang kerumahnya.
"Shifa mau pulang Yah" jawabnya takut masih dalam keadaan menangis.
"Masa Anak Ayah takut hantu sih" candanya meledek Shifa.
"Aku serius Yah, disini tuh rasanya serem banget!" Shifa menekan kata seram kepada Ayahnya.
"Bukan kah akan lebih seram jika kamu diganggu hantu trus Ayah ga ada didekatmu?" tanya Cakra mencoba menakuti menantunya itu.
"Dirunah Shifa ga ada hantu Yah" jawabnya yakin.
"Nanti Ayah panggil Fitri ya untuk menemanimu disini" Saran Cakra kepada Shifa.
"Memang Mbak Fitri mau temani aku?" tanya Shifa ragu.
"Lho kenapa ngomong seperti itu? Mbakmu pasti mau, orang Ayah yang nyuruh kok" jawabnya tersenyum kecil
"Gimana? mau kan ditemani Mbakmu?" Cakra mencoba memastikan.
Shifa hanya mengangguk pelan.
"Yaudah kamu istirahat lagi sana, kasihan Arya kamu tinggal tuh" perintah Cakra kepadanya.
Shifa berjalan lemas menuju kamarnya, "Bisa gila aku lama-lama dirumah Ayah, heran kenapa banyak sekali hantu yang mengganggu disini, padahal aku tidak berbuat yang aneh-aneh selama dirumah Ayah" gumamnya memasuki kamar.
"Fitri.. nanti kamu nginep dirumah Ayah ya Nak, temani Shifa kasihan dia ketakutan tidur disini sendirian"
"hahaha kamu kan tau sendiri, itu bukan kemauan Ayah, mereka memang iseng semenjak ada Arya dirumah ini"
Terdengar Cakra sedang berbincang melalui telepon.
"Yasudah Ayah tunggu ya Nak, salam buat keluargamu disana" ucap Cakra lalu menutup telepon tersebut.
"Ayaahhh.." teriak Shifa dari dalam kamar.
Mendengar menantunya berteriak lagi, Cakra langsung berlari dan membuka pintu kamar itu
"Kenapa Nak?" tanya Cakra dengan nafas yang memburu karena berlari.
"Titip Arya Yah, Shifa mau bikin sarapan dulu laperr hehe" jawabnya malu-malu.
"Ihh dasar kamu! sini mana cucu kesayangan Ayah" jawabnya gemas lalu menggendong Arya.
"Ayah juga belum sarapan kan? mau aku buatin apa Yah?" tanya Shifa berdiri didepan pintu.
"Apa aja Nak.." jawabnya sambil mencium gemas cucunya.
Shifa kemudian berlalu ke dapur dan mulai memasak sesuatu untuk sarapan mereka berdua.
"Mas Ari kemana ya, kenapa dia belom datang juga" ucapnya pelan sambil menggoreng telur ceplok, lalu "Nanti jika ada mbak Fitri, aku pulang dulu kerumah barangkali Mas Ari ada dirumah" yang membayangkan suami yang dibencinya.
Setelah mempunyai Arya, Shifa terus berharap agar suaminya tersebut dapat berubah dan kembali menyayangi mereka berdua. Ia tidak ingin karena keegoisannya harus mengorbankan anak tercintanya.
Ia harus berjuang agar kelak anaknya bisa bahagia karena mempunyai Ayah dan Ibu yang selalu ada untuknya.
Selesai memasak Shifa dan Cakra sarapan bergantian sembari menjaga Arya.
"Ayahhh.. Shifa.. Mbak sudah datang.." teriak Fitri dari luar rumah.
"Pada dimana sih, ga tau aku bawa banyak barang-barang" keluh Fitri terlihat kedua tangannya sibuk membawa beberapa tas plastik besar dan sebuah kardus.
Shifa berlari membuka pintu,
"Maaf ya Mbak td aku lagi gantikan popok Arya" ucapnya lalu membantu membawa beberapa plastik yang Fitri pegang.
"Ayah kemana Fa?" tanyanya mendengus kesal.
"Lagi jagain Arya Mbak hehe" lalu shifa kebelakang membuatkan minum untuk Kakak Iparnya.
Fitri menguntitnya dari belakang, dan membisikan "Kamu habis diganggu hantu ya hihi" ditelinga Shifa.
"Mbaaakkkkk!!!" teriak Shifa kaget.
Fitri cekikikan mendengar teriakan itu.
"Nih Mbak sudah siapkan senjata andalan Mbak buat ngusir hantu" jelas fitri mengeluarkan senjatanya.
"Ga salah Mbak?? Sapu lidi?" tanyanya heran menggaruk kepalanya yang ga gatel.
"Wah kamu ya malah meledek, ini sering Mbak pakai untuk memukul hantu" jawabnya lalu mempraktekan Shifa sebagai hantu sedang dipukul pakai sapu itu.
"Pruk.. Pruk.."
Fitri memukul b****g Shifa dengan sapu lidi.
"he..he.." Shifa tertawa kaku menahan kesal melihat kelakuan Kakak Iparnya tersebut
"Ntar tumpah ini Mbak" Shifa melirik cangkir yang sedang diisi air panas.
"Hehe yaudh nih kamu pegang ya, disimpen baik-baik! Mbak mau tengokin ponakan Mbak dulu" Fitri memberikan sapu lidi kepada Shifa lalu berjalan memasuki kamar Arya.
Shifa yang menerima sapu itu hanya menggeleng tidak mengerti, lalu menaruhnya dibalik pintu.
Fitri adalah anak pertama Cakra, sudah dua tahun meninggalkan rumah setelah menikah, ikut dan tinggal dengan suaminya Remon dikampung sebelah.
Sifat Fitri agak sedikit banyak ngatur mungkin karena dia anak pertama dan harus mengatur keempat adik-adiknya. jadi terlihat bawel dan menyebalkan.
sebenernya Fitri ga tegaan, dan selalu kepikiran tentang masalah didalam keluarga besarnya, termasuk Ari dan Shifa.
Fitri geram melihat Adik laki-lakinya itu seolah tidak mengurusi istrinya, dia juga yang dulu menolak keinginan Cakra untuk menikahkan Ari dengan Shifa.
"klo kamu mau nikah lagi, lebih baik ceraikan Rini dahulu, kasihan Shifa yang ga tau apa-apa dijadikan korban kebohongan kamu" ucapnya bawel menggurui Ari waktu itu.
Didalam kamar,
Fitri dan Cakra sibuk mengganggu Arya yang sudah mengantuk, mereka tertawa seru dan membuat Arya kesal lalu menangis.
"Uuhh kesal yaa kamu Aryaa?? udah ngantuk yaa, Kakek dan Bude mengganggu kamu ya" kata Fitri tertawa kepada Arya yang tidak mengerti.
"Kamu jangan bikin Arya menangis dong Fitri!!" omel Cakra lalu menggendong Arya.
"Mbak Ini minumannya ya" teriak Shifa dari ruang tamu, lalu menghampiri Cakra yang sedang menggendong Arya.
"Sini Yah, Biar aku susui dulu Arya nya, kasihan dia ngantuk kayanya" Shifa kemudian merebut Arya dari tangan Cakra.
"Fit, Fa, Ayah mau kekota dulu ya, ada perlu sebentar dengan teman lama, lalu membeli keperluan kamu dan Arya, Fitri tolong jaga mereka ya" pesan Cakra meninggalkan mereka berdua.
"Baik Ayah, hati-hati dijalan yah" jawab mereka bersama.
Shifa dan Fitri mengikuti Cakra sampai didepan pintu lalu melambaikan tangan mengiringi kepergian Cakra.
"Mbak, aku mau minta tolong boleh?" bisik Shifa ketika melihat ayahnya sudah tidak terlihat lagi.
"Minta tolong apa Dek?" jawab Fitri menaikan sebelah alis dan menatapnya heran.
"Aku mau pulang kerumah sebentar, mau ambil baju Mbak, sudah habis semua disini lagi dicuci" jelasnya berbohong, sebenarnya ia cuma memastikan apakah Ari ada dirumahnya.