Hilangnya Sosok yang Disayangi

1073 Kata
"Hhmm nanti klo Ayah tau, dia bakalan marahin Mbak nih" ucapnya ragu membayangkan Cakra akan mengomelinya. "Sebentar aja kok Mbak, janji sebelum Ayah datang, aku sudah sampai disini lagi kok" Jawab Shifa dan berjanji akan cepat kembali lagi. "Yaudah klo gitu, jangan terlalu lama ya Fa, begitu selesai langsung segera kembali kesini" pesannya kepada Shifa takut mengingkari janjinya. "Okedehhh Mbakku yang cantik dan baik" candanya memuji Fitri. "Kamu giliran lagi ada maunya baru bilang Mbak cantik" mata Fitri memelototinya sebal. Shifa akhirnya meninggalkan Arya dan Mbak Fitri dirumah. Jarak antara rumah Cakra dan rumahnya tidak begitu jauh hanya melewati Desa sebelah saja kurang lebih 30 Menit sudah sampai dirumahnya. Begitu sampai didepan rumah, Shifa melihat pintu rumahnya tidak tertutup rapat, "Mungkin Mas Ari sedang dirumah" batinnya lalu memasuki rumahnya. "Bisa aja deh Mas Ari" "Serius Mas ga bohong, Kamu itu Cantik" "Nanti Istrimu marah loh tau kamu menggoda aku" "Tenang aja Istriku tidak ada dirumah" Shifa mendengar suara Mas Ari merayu seorang Wanita berbisik-bisik. Matanya terbelalak dengan apa yang terjadi didepan nya, melihat Mas Ari sedang bermesraan bersama seorang wanita diruang tamu siang itu. "Apa-apaan ini mas!!! apa yang kamu lakukan dengan perempuan itu!!" Teriakan itu membuat suami dan perempuannya kaget. Ari yang tidak menyangka keberadaan istrinya tersebut hanya bisa diam seribu bahasa, sedangkan wanita disampingnya berusaha mencari perlindungan dibelakang Ari. "Jadi ini yang kamu lakukan dibelakang aku Mas? pantesan kamu tidak pernah menjenguk ku kerumah sakit! tega kamu Mas!" bentak Shifa kecewa dengan apa yang sudah dilihatnya. "Kamu pikir Mas sudi menemani wanita jalang sepertimu? memangnya itu anak siapa?" tuduh Ari sinis kepada istrinya yang tidak mengakui Arya sebagai anak kandungnya. "Itu darah dagingmu mas! aku tidak pernah menduakan mu seperti yang kamu lakukan saat ini!" ujar Shifa menangis. "Diam kamu!!" Ari menampar keras pipi istrinya, lalu pergi membawa wanita yang dari tadi terus mengumpat ketakutan dibelakangnya. "Ya allah, kenapa ini harus terjadi kepadaku" ratap Shifa sedih sambil memegang pipinya yang memerah. Hancur hatinya siang itu melihat suami yang diharapkan dan didoakan nya setiap malam itu, kelak akan berubah dan menyayanginya lagi. suaminya hari ini benar-bener membuat Shifa sebagai istri sudah tidak berharga lagi, hanya rasa benci, dendam dan kecewa yang memenuhi isi kepalanya. "Kenapa sungguh tega kamu mas" bisiknya lirik sambil membayangkan kejadian barusan yang sangat begitu membekas dipikirannya. Shifa akhirnya berjalan lemas meninggalkan rumahnya, sepanjang perjalanan dia hanya menunduk lesu dan meneteskan air mata. Ia coba untuk melupakan apa yang baru saja dilihatnya, tapi semakin Shifa mencoba untuk melupakan maka semakin terbayang dibenaknya. Hatinya bergetar hebat merespon apa yang sedang dibayangkannya, tangan Shifa menggenggam keras menahan kesal. "Aku tidak akan memaafkan mu Mas!" batinnya dendam. Sesampainya dirumah Cakra, Fitri yang duduk menunggu kedatangannya di teras depan menatap dengan heran. "Kamu kenapa dek?" tanya nya melihat mata sembab Shifa seperti habis menangis. Shifa tidak menghiraukannya masuk kedalam rumah, Fitri mengekori dari belakang dengan rasa penasaran. "Kamu kenapa cerita sama Mbak sini" Fitri menarik tangan Shifa menyuruhnya duduk diruang tamu. "Mas Ari Mbak.." ucapnya pelan dengan nada menahan tangis. "Kenapa suami mu?" tanya nya merangkul dan membelai kepala Shifa. "Mas Ari.. dengan wanita.. dirumah Mbak.." jawabnya terbata-bata lalu menangis. "Maksud mu gimana Dek? Mbak bingung" jelas Fitri mendengar penjelasan Shifa diiringi tangis. "Mas Ari sedang bermesraan didalam rumah Mbak" jawabnya kencang lalu menangis histeris. Fitri berubah mimik wajahnya yang bingung menjadi geram mendengar hal itu dari mulut Shifa. "Kenapa Mas Ari setega itu Mbak? aku yang selalu menjaga hatiku hanya untuknya kenapa dia tega seperti itu? aku yang selalu dituduhnya, sedangkan dia hari ini berbuat seperti itu" jelasnya sambil menangis. Fitri mencoba menenangkan Adik Iparnya tersebut, "Sabar dek, mbak ga nyangka Ari akan seperti itu, kurang ajar!" jawabnya kesal. "Mas Ari malah menamparku dan memilih pergi bersama wanita itu, Istri mana yang ga sakit hati melihat suaminya berbuat seperti itu" jelas Shifa lalu memeluk Fitri kencang dan menangis sesungukan dibahunya. Fitri hanya mengusap punggung Shifa membiarkannya menangis sampai lega. "Jadi itu yang sudah dilakukan oleh suami b******k mu itu Nak!" bentak Bey geram yang dari tadi sudah berdiri didepan pintu mendengar percakapan anaknya dengan Fitri. Shifa dan Fitri yang kaget akan suara Bey langsung tersadar bahwa ia sudah mendengar semuanya. "Papah.." sapa Shifa pelan menghapus air mata dan menenangkan dirinya. "Kenapa Nak, kenapa kamu ga pernah ceritakan keburukan suami mu itu" tanya Bey lirih melihat anak kesayangannya menangis dan menutupi apa yang sudah dideritanya. "Aku gpp kok Pah" jawab Shifa tertunduk "dasar Lelaki tidak tau diri, dimana dia sekarang!!" tanya Bey murka kala itu. "Jangan Pah, biarkan saja Shifa ikhlas" rengek nya mendengar sang papah akan mencari suaminya tersebut. "Kamuu!! masih saja membela suami tidak aaaggrrhh!!" Bey terlihat kesakitan memegang dadanya lalu terjatuh dilantai. Shifa yang panik langsung menghampiri Papah tercintanya, "Papahhh!!" Dibantu Fitri mencoba menggotongnya ke kursi panjang. "Mbak Papah gimana?" tanyanya bingung. Fitri dengan cepat berlari kerumah tetangganya, meminta pertolongan untuk membawa Bey kerumah sakit. Ga lama beberapa orang berkerumun mengangkat Bey keluar rumah diiringi Shifa, Arya dan Fitri. Sore harinya, Cakra yang baru sampai dari Kota melihat heran pintu rumahnya terbuka lebar,  "Shifaa.. Fitrii.. Ayah pulang Nak" sapanya kedalam rumah. Mendengar tidak ada jawaban, ia kemudian berjalan kedalam ruang tamu, lalu membuka kamar Shifa tidak menemukan siapapun dirumahnya. "Pada kemana mereka semua?, kenapa lalai membiarkan rumah terbuka seperti itu" gumamnya lalu kembali berjalan keluar rumah. "Pak Cakra.." teriak seseorang dari kejauhan. Menghampirinya dengan wajah panik. "Kenapa Le?" tanya cakra penasaran. "Itu Pak, Shifa dan Fitri dirumah sakit" terangnya terbata-bata. "Kenapa anak dan menantuku?" tanyanya khawatir mendengar kabar tersebut. "Orang Tuanya Shifa kena serangan jantung tadi siang dibawa kerumah sakit" tegasnya. "Pak Bey? serangan jantung??" gumamnya, lalu "Terima kasih ya pak infonya" balas Cakra kepada tetangganya. Lalu ia mengkunci pintu rumahnya lalu menyusul kerumah sakit tempat Bey, Shifa dan Fitri berada. Sesampainya dirumah sakit, Cakra melihat Fitri berdiri cemas didepan ruang UGD, Ia mencari Shifa dan Arya yang ternyata terduduk lemas disamping pintu tersebut. Cakra mendatangi mereka, "Apa yang sebenarnya terjadi Fitri??" tanya ayahnya dengan wajah bingung. "Ayah tanya kepada Shifa aja" Fitri menatap Shifa di samping pintu sedang menangis. Cakra menghampiri dan berjongkok didepan menantunya. "Sebenarnya ada apa Shifa?" selidiknya dengan hati-hati. Shifa yang menyadari kehadiran Ayahnya, langsung memeluk Cakra sambil menangis. "Papah kena serangan jantung Yah" bisiknya ditelinga Cakra. Lalu Shifa menceritakan apa yang terjadi saat itu, Cakra sangat geram mendengar cerita Shifa. "Cih, Dasar anak ga tau diri!!" bentaknya Cakra mencoba menenangkan Shifa, iapun menggendong Arya karna khawatir mendengar tangisannya tidak digubris oleh Ibunya. Satu Jam telah berlalu, namun Dokter belom juga keluar dari ruangan UGD tersebut. beberapa saat kemudian terbuka pintu tersebut , keluarlah seorang Dokter membuka masker yang dipakainya,  "Gimana Papah saya Dok??" tanya Shifa Khawatir. "Kamu keluarga Bapak Bawana?" tanya dokter tersebut. "Saya anaknya Dok" jelas Shifa kepada Dokter "Kami sudah berusaha sekuat tenaga, Bu. tapi mungkin Tuhan berkehendak lain, Ibu harap bersabar ya. Kami tidak bisa menyelamatkan Bapak Bey Bawana" tegasnya membawa kabar duka. "Papaahhh!!!" Tangisan histeris Shifa terdengar di penjuru ruangan rumah sakit. Beberapa orang yang mendengar ikut bersedih kala itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN