Anak yang tidak bersalah

920 Kata
Peristiwa yang didengar Bey waktu itu membuatnya terkena serangan jantung dan tidak berhasil diselamatkan oleh Dokter. Meninggalnya Bey membuat luka dihati Shifa semakin membesar, dengan benih-benih kebencian yang tumbuh dihatinya. Shifa menyalahkan Ari sebagai penyebab meninggalnya Papah yang sangat dicintainya. Malam Harinya seluruh Keluarga Bey sudah berkumpul untuk menyambut kedatangan Almarhum Ayah mereka. Ari dan semua keluarga Cakra juga ikut berkumpul dirumah itu. Kabar duka membuat semua orang yang datang terlihat bersedih, kecuali Ari wajahnya bingung ketakutan. Ia takut itu semua adalah hasil perbuatannya siang tadi setelah menampar istrinya. Ambulance pun datang lalu seluruh sanak saudara berkumpul menyambutnya untuk terakhir kali, terlihat juga beberapa tetangga yang coba membantu malam itu. "Padahal pagi tadi masih sehat loh" "Iya namanya umur siapa yang tau kan" "Seperti nya Almarhum ga punya riwayat sakit kan?" "kasihan sekali keluarga yang ditinggalkan" "Padahal Pak Bey baik sekali, kenapa harus diambil begitu cepat"  Riuh bisikan ketika melihat Bey diturunkan lengkap dengan Kain Pocong yang sudah membungkusnya. Cakra dan Fitri yang melihat Ari ada disana menatapnya dengan benci. Sedangkan Shifa masih menunduk lemas, dan tidak menyadari suaminya ada disana. Cakra menuntun Shifa memasuki rumahnya, menyuruh Evi kakaknya Shifa agar menjaga Shifa dan Arya. Cakra kemudian mendatangi Anak lelakinya itu, "Masih punya malu kamu datang kesini" hardik Cakra kepada Ari. Diapun hanya menunduk pasrah. "Bener-bener kelewatan kamu!" bentak Fitri dari belakang melihat Ayah dan Ari sedang berbincang. "Maafkan aku Yah, Mbak" jawab Ari pelan mengakui kesalahannya. "Kamu minta maaf sama Shifa dan Papahnya" sindir Fitri kepada adiknya itu. "Ayah malu punya anak seperti mu, Ari!" Cakra kecewa melihat anak yang selalu dibelanya itu. Ari terlihat merutuki kebodohannya, kini dia harus menanggung semua akibat perbuatannya. Disisi lain, beberapa orang dan saudara coba mendekati Shifa dan mencari tau penyebab meninggalnya sosok Bey Bawana, Shifa terlihat tidak menanggapi semua pertanyaan yang terucap saat itu. Ia masih Syok bahwa Papah kesayangannya itu sudah tiada lagi. Dia merindukan sosok yang selalu memanjakannya dan menuruti kemauannya saat itu. Tidak ada lagi Papah yang sering mengusap lembut kepalanya, menanyakan kabar pernikahannya lagi. Shifa kehilangan Sosok lelaki yang paling disayangnya. Setelah semua proses dilakukan esok harinya, Almarhum akhirnya dibawa menuju ketempat peristirahatan terakhirnya. sepanjang perjalanan diiringi tangis haru dari semua keluarga besarnya. Shifa beberapa kali terlihat pingsan tidak sanggup menerima kenyataan itu, ditambah menemukan sosok Ari ditengah kerumunan membuatnya semakin menyalahkan Ari atas kematian Papahnya. "Masih berani kamu kemari Mas??!!" tanya shifa dengan tatapan sinis dan benci. Akhirnya proses pemakaman berjalan lancar semua terlihat mencoba untuk ikhlas merelakan Almarhum kecuali Shifa. Dia terus menangis memeluk Papan Nisan Papahnya. Beberapa orang terlihat menbujuknya dan membawanya pulang. Setelah kejadian itu, Shifa memutuskan untuk sementara waktu tinggal dirumah Papah nya sampai keadaannya tenang kembali. *** Terima kasih untuk semua pembaca yang sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini. Penulis sangat berharap dari cerita ini, kita bisa belajar bersama. Jangan sampai demi keegoisan kita sendiri akan mengorbankan orang lain, karena kita tidak tau kedepannya bagaimana balasan yang akan kita terima nanti, entah dari sesama manusia maupun dari Sang Pencipta Bumi dan Langit. kenali pasangan secara mendalam sebelum memutuskan untuk berumah tangga. Karena kebohongan akan menciptakan kebohongan selanjutnya untuk menutupi kebohongan pertama, begitu seterusnya. bantu penulis untuk vote dan komentarnya. Kritik dan Saran dari kalian sangat berarti untuk penulis. Semoga Kalian terhibur dan belajar dari kisah ini. Plagiatrism adalah hal yang merugikan, bantu penulis apabila menemukan cerita ini tanpa disertai sumber penulisnya. Terima kasih Penulis : Prince's 2011-2020@Kaskus Kaskus : Princebanditt Dreame : Princenymeria Novelme : Prince's *** Tiga Tahun kemudian. Cakra telah menginjak umur 61 Tahun saat itu, Ari sedikit berubah dan mulai mengakui bahwa Arya adalah anaknya. Umur Arya sudah Tiga Tahun lebih sedikit. Meninggalnya Bey Bawana masih terus menumbuhkan dendam dihati Shifa meskipun ia tetap tinggal bersama suaminya itu. Shifa yang dengan sengaja membalas semua perlakuan Ari dahulu, semakin melihat suaminya semakin besar pula kebencian dihatinya. "Mau sampai kapanpun, aku akan tetap membencimu Mas!" batin Shifa pagi itu melihat Ari sedang bersiap-siap untuk bekerja Ari sudah mendapat pekerjaan dan berusaha menebus kesalahannya dahulu, ditambah kehilangan calon anak kedua mereka, membuatnya benar-benar memperbaiki semua yang sudah dihancurkannya kala itu. Kekerasan demi kekerasan tercipta, didengar dan dirasakan oleh Arya Cakra Bawana. tidak jarang dirinya menjadi pelampiasan Shifa karena tidak mampu menahan dendam yang telah tertanam ketika melihat suaminya itu. "Mas berangkat dulu ya Dek" ucapnya pamit kepada Shifa. Sedangkan Shifa hanya mendengus mendengarnya. "Ayah berangkat dulu ya sayang" lalu mencium kepala Arya, yang sedang merangkak bermain didekatnya. Mereka sering bertengkar, mulai dari hal yang sepele hingga hal hal besar lainnya. Arya yang selalu ditinggal berdua dengan Ibunya, karena kesalahan-kesalahan kecil seperti menangis, mengganggunya ketika sedang melakukan sesuatu sampai memberantakan rumah sering kali dibentaknya. "Arya, Ibu cape kamu selalu menangis!" bentak Shifa membuat Arya takut. Dia juga sering memukul Arya seperti kesetanan membayangkan Arya adalah suaminya Mas Ari. Tidak jarang bekas pukulan itu menjadi memar membiru disekujur tubuh Arya. "Dasar anak tidak berguna!" "Nangis terus sialan!" "Keluar sana an*i*g!" Dan kalimat kasar lainnya yang sering terdengar sampai kerumah tetangganya. tetangganya hanya bisa mengelus d**a mendengar teriakan keras Shifa. "Kasihan Arya, masih kecil tapi harus mendapat perlakuan kasar dari ibunya" "Arya seperti anak tiri saja" "Orang tua kok tega menyiksa anaknya sendiri seperti itu" "Semoga Arya kuat menghadapi Ibu seperti itu" "Belom aja nanti kena karmanya" "untung anak saya ga pernah saya marahi seperti itu" Terdengar ibu-ibu sedang bergosip sembari membeli sayuran ga jauh dari rumah Shifa. Beberapa kali Shifa dan tetangganya bertatap muka ketika sedang belanja sayuran, mereka menatap sinis dan takut kepadanya. Shifa juga pernah mendengar para tetangga membicarakan cara mendidik anaknya, "Eh ibu-ibu ini urusan saya, bukan kalian! jadi terserah saya mau mengajar anak dengan cara apapun!" sindirnya kesal. "Istigfar bu, Arya itu masih kecil wajar klo sering merepotkan kita sebagai ibu, kamu harusnya bisa sabar menghadapi anakmu itu. bukannya malah dipukuli" sahut tetangganya terlihat geram dengan kelakuan Shifa. "Terserah kalian saja" jawab Shifa membayar sayuran lalu pergi meninggalkan tetangganya. Sesampainya dirumah, melihat Arya memberantaki rumah langsung tersulut emosinya, lalu menabok dan memarahi Arya dengan teriakan khasnya. Arya hanya bisa menangis kejar diperlakukan seperti itu oleh Ibu kandungnya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN