Benih Kebencian

957 Kata
"Nak, kamu ga seharusnya seperti itu. Kasihan Arya dia masih kecil, dan bukan kesalahannya kenapa harus kamu marahi seperti itu." Cakra menasehatinya ketika melihat Shifa sedang menghardik dan menampar Arya sampai menangis. "Shifa benci Yah, Arya mirip sekali dengan Mas Ari" ujarnya dengan nafas yang memburu karena emosi. Cakra sangat kecewa melihat menantu yang sangat disayanginya berubah seperti itu. "Ayah khawatir nanti ketika besar Arya akan membalas semua perbuatanmu, Fa" bisiknya dalam hati sambil menggendong Arya. "Yah, jangan selalu memanjakan Arya, dia harus di didik dari kecil biar tidak  seperti Ayahnya" Shifa kesal melihat Cakra selalu memanjakan Arya ketika sedang dihukum olehnya. "Jangan biarkan cucuku sampai terluka, terus jaga dan bimbinglah dia, Arya tidak boleh menjadi seperti Ayah dan Ibunya. Kalian mengerti?" Terdengar Cakra memberi perintah kepada seluruh teman-teman Tak Kasat Matanya. Hari-hari Arya tidak seperti anak lainnya, semua yang dilakukan Arya selalu salah dan harus dimaki oleh Shifa, membuat Arya tumbuh besar tidak punya teman karena dilarang oleh Ibunya. Trauma yang didapat begitu dalam sehingga membuat Arya menjadi seorang yang pendiam. dipaksa menjadi lebih dewasa diantara anak seumurannya kala itu. Hanya Barata dan Ladoya yang selalu menemani walaupun Arya tidak melihatnya. "Aku tidak tahan lagi melihatnya" Ladoya geram melihat kala itu Shifa kembali menyiksa Arya. lalu menutupi setiap bagian tubuh Arya yang dipukuli oleh Ibunya Membuat tangan Shifa tiba-tiba bengkak dengan sendirinya. "Mungkin Tuhan punya rencana lain untuk Arya, kita tidak bisa menilai sesuatu yang tidak kita ketahui" jawab Barata sedih melihat Ladoya yang melindungi Arya. Ladoya yang sangat membenci manusia, saat ini sedang menatap benci didepannya sosok ibu yang harusnya menjaga dan menyayangi anak malah berbuat berbuat sebaliknya. makin hari makin takut dan benci terlihat di sorot mata Arya terhadap Ibunya. Sedangkan Ayahnya walau telah berusaha keras untuk berubah dan saat ini tengah fokus untuk menghidupi keluarganya, tetap saja kadang tidak mampu bersabar menghadapi tingkah Istrinya itu. "Sudah berapa kali Mas bilang! jangan pernah berani menyakiti Arya!" bentaknya kepada Shifa mencoba menutupi bekas luka yang terdapat di tubuh anaknya akibat cubitan siang tadi. "Kenapa baru sekarang kamu mengakui anak itu Mas? dulu kemana aja kamu? sekarang terserah aku dong mau berbuat apapun kepada Arya, toh dulu katamu dia bukan darah dagingmu kan?" tanya Shifa lalu tersenyum sinis penuh dendam melihat Arya yang sedang menangis Kejadian aneh terjadi lagi, siang hari ketika Shifa sedang tidur-tiduran malas, sembari memperhatikan Arya sibuk bermain didalam bak keranjangnya. terdengar bunyi perut keroncongan memaksa Shifa berdiri kedapur untuk memasak sesuatu. Selesai masak. Ia melangkah keruang tengah sempat memperhatikan Arya masih asik didalam bak keranjangnya. Setelah dirasa aman bahwa Arya tidak akan bisa keluar dari keranjang tersebut, akhirnya Shifa meninggakannya menuju ruang tengah mengisi perutnya dengan makanan yang masih hangat. Tengah asik makan dengan lahap, dia dikagetkan dengan jerit tangisan Arya dari arah dapur, dilihatnya penggorengan dengan minyak yang masih panas sudah mengguyur sebelah tangan Arya, membuat kulit lembutnya melenting terbakar dan memerah mengeluarkan darah warnanya seperti daging yang sedang masak. "Ya Allah Arya!!!" teriaknya tak tega melihat luka yang diderita anaknya. Shifa hanya bisa menangis memanggil Cakra dan mencoba menjelaskan kenapa Arya bisa sampai seperti itu. "Padahal Shifa yakin Yah, Arya ga bakal bisa keluar dari bak keranjangnya" jelas Shifa kepada Cakra di Rumah Sakit, mencoba mengingat kejadian itu, lalu tiba-tiba ketakutan membayangkan suaminya akan mengamuk melihat Arya seperti ini. Seperti dugaanya, "Kamu bisa urus anak tidak!! kenapa Arya bisa sampe kaya begini? jawab! bisa ga kamu menjadi seorang ibu hah!" teriakan Ari membuat Shifa ketakutan dan memohon ampun. "Kita liat apakah sakit yang kamu rasa sebanding dengan yang Arya rasakan" Ari melotot dan melepaskan gesper yang dipakainya, melihat istrinya duduk bersimpuh. "Ampun Mas!" "Diam kamu Bngst! Rasakan ini!" "Gimana rasanya? sakit? coba kamu tanya Arya apakah rasa sakitnya sama seperti yang dia rasakan" "Ampun Mas.." Esok harinya Shifa tidak berani keluar rumah sama sekali, malu akan keadaan wajahnya yang babak belur habis dipukul Ari tadi malam. Beruntung luka yang di derita Arya tidak mengenai wajahnya, hanya meninggalkan luka bakar di kedua tangannya sampai ke siku lengannya. Mulai hari itu, Arya selalu menangis ketakutan ketika Shifa berada didekatnya. "Kamu kenapa Nak, Ini Ibu sayang, kamu jangan takut" ucapnya mencoba menggendong Arya yang menangis kencang melihat Shifa. Arya menjerit dan meronta mencoba melepaskan tangan ibunya yang menggendongnya. Cakra yang kebetulan baru sampai dirumah Shifa, berlari mendengar suara tangisan Arya. "Apa yang kamu lakukan Shifa??" ketika melihat Arya menangis dipelukan Ibunya. Melihat Shifa tidak menjawab, Cakra merebut kasar Arya dari tangan ibunya. "Kenapa kamu memaksanya Shifa, Arya tidak mau di gendong olehmu"  ucap Cakra tak lama Arya berhenti menangis ketika sudah tidak bersama Shifa. "Tapi aku ibunya Yah" jawab Shifa memelas melihat Arya tidak ingin dekat dengannya. "Apa kamu sudah sadar?? biarpun Arya belom bisa menyampaikan perasaannya, tapi dia bisa merasakan mana yang tulus sayang kepadanya" jawaban Cakra seolah memukul keras dadanya. Terasa sesak hingga membuat Shifa susah bernafas mendengarnya. Akhirnya Cakra membawa Arya pergi dari rumah itu. memutuskan mengajak Arya tinggal dirumahnya daripada harus tersiksa tinggal bersama dengan orang tuanya. Shifa tidak bisa berbuat apa-apa, hanya memandang sedih dan menyesali perbuatannya kepada Arya kecil yang menghilang di ujung matanya. Ia sadar telah melakukan kesalahan dalam mendidik anaknya, tetapi kadang dia tidak bisa menahan diri ketika melihat Arya melakukan kesalahan, selalu saya wajah suaminya yang terbayang melakukan kesalahan kepadanya sehingga rasanya memukul Arya sama saja dengan memukul suaminya tersebut. ** bagaimana update kali ini? masih setia menantikah? terima kasih banyak yang sudah bantu vote dari part pertama sampai part 15 ini. apa kalian ada diposisi Arya? banyak diluar sana harus menghadapi dan menerima takdir sebagai anak yang tidak diinginkan seperti Arya. hingga akhirnya mereka memilih jalan yang salah, mabuk-mabukan, narkoba, dan melakukan perbuatan salah lainnya. sebenarnya mereka hanya ingin diakui, didengar, diperhatikan dan disayangi seperti anak pada umumnya. pelajaran yang amat berharga untuk kita yang sedang mendidik anak, ataupun akan menikah. kekerasan tidak akan membuat segalanya menjadi lebih baik kekerasan akan menimbulkan trauma dan dendam yang harus dilampiaskan kemudian, entah kepada para orang tua nanti, ataupun kepada anak-anak mereka nantinya. jadi gue sebagai penulis, memprotes keras perbuatan itu. "Stop berbuat Kasar" perbuatan kasar ataupun ucapan kasar. ga ada yang bisa dijadikan pembenaran apapun alasannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN