Perpisahan

971 Kata
Arya tumbuh besar bersama Kakeknya, Cakra benar-benar merawat cucu kesayangannya dengan sepenuh hati. Kakek yang menjelma menjadi sosok Ayah dan Ibu dimata Arya, membuatnya bersyukur mempunyai kakek seperti Cakra. "Nak, kamu harus bisa memaafkan kesalahan kedua orang tuamu. biar gimanapun karena mereka berdua, kamu bisa lahir kedunia ini" pesan Cakra sore itu kepada Arya yang sedang duduk dipangkuan nya. Arya hanya menggeleng keras, "Ibu dan Ayah ga sayang sama aku Kek. Ayah sibuk bekerja dan Ibu selalu memarahi ku" tegasnya memandang Cakra, "cuma Kakek yang selalu menemani aku, Arya cuma sayang sama Kakek" lalu memeluk erat Cakra. Umur Arya sudah 5 Tahun. Mampu membuatnya melihat dan memilih siapa yang sungguh-sungguh menyayanginya. "Ayah! jangan mengajarkan Arya yang tidak-tidak dong!" sindirnya saat bertemu dengan Cakra dirumahnya. "Ayah tidak mengajarkan apapun Nak" sanggah Cakra mendengar ucapan menantunya. "Itu buktinya Arya lebih akrab sama Kakek dari pada aku" Shifa mulai cemburu melihat Arya lebih senang berada dekat dengan Kakeknya dibanding Ibu Kandungnya sendiri. "Aku mau tidur dirumah Kakek! Aku ga mau sama Ibu" Arya menangis dan memohon kepada Shifa. "Sepertinya Ayah telah banyak mempengaruhi anak ku, jangan sampai Arya lebih sayang Kakeknya dibanding Aku. Ibunya sendiri" batin Shifa kala melihat Arya menangis. "Sana pergi kerumah Kakekmu! Jalan sendiri sana klo berani! kamu pikir Kakek yang sudah melahirkanmu?" bentak Shifa. Ancaman Ibunya berhasil membuat Arya mengurungkan niatnya menginap dirumah Cakra. Arya takut dengan setan, karena Shifa selalu bercerita klo dirumah kakeknya banyak setan. "ngapain masih dirumah?? sana jalan! biar kamu diambil sama setan sekalian dipohon besar itu"  ancamnya sambil menunjuk kearah pohon beringin diujung jalan. Arya bergidik takut, imajinasi liar dipikirannya membentuk sosok-sosok yang selalu diceritakan Ibunya. "Sial! beraninya kau manusia, berbohong dan menyalahkan kami!" gerutu Ladoya mendengar kebohongan Shifa saat itu. "tenang Ladoya, kebenaran akan tampak pada akhirnya, kebohongan pasti akan terungkap" Ujar Barata mengingatkan. "Aku semakin membenci manusia!" teriaknya lalu menghilang meninggalkan Barata yang terus mengawasi Shifa dan Arya. Wisnu teman seumuran Arya, yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Sering kali Arya menatapnya dengan rasa iri. "Enak ya jadi Wisnu, Ayah dan Ibunya baik, mereka tidak pernah bertengkar" batin Arya membandingkan keluarga Wisnu dengan keluarganya. "Yaampun kamu habis main apa sayang? kok bajunya bisa kotor semua?" terdengar suara ibu wisnu menegurnya melihat baju anaknya penuh dengan noda tanah. "aku tadi jatoh mah, abis main lari-larian sama temen aku" jawab wisnu menceritakan tentang bajunya yang kotor "yaampun, tapi kamu gpp sayang?" tanyanya lalu memperhatikan wisnu dari kaki hingga kepalanya. "aku gpp kok, kan aku kuat seperti papah" jawabnya tersenyum riang memeluk ibunya. "Lain kali hati-hati ya mainnya, yuk kita pulang kamu belom makan loh, sambil nunggu papa pulang sebentar lagi" menuntun Wisnu pulang dan sesekali terdengar tawa mereka dari kejauhan. "Ayah dan Ibu nya terlihat sangat sayang sekali kepada Wisnu" bisik Arya pelan sambil terus menatap punggung Wisnu yang menjauh. "Kapan aku bisa punya keluarga kaya Wisnu, Bapak dan  Ibunya baik, ga pernah denger mereka bertengkar kaya keluargaku, keluarga mereka keliatannya penuh dengan kasih sayang, biarpun wisnu bikin salah, mereka gak pernah ngebentak apa lagi mukul wisnu, mereka hanya menasehatinya" protes Arya dalem hati. Dengan kehadiran Wisnu, membuat tambah banyak lagi daftar keinginan dan impian Arya tentang keluarga. Arya kesepian, ia hanya bisa memperhatikan teman-temannya bermain disekitar depan rumahnya. Shifa tidak pernah mengizinkan Arya bermain keluar rumah. "Arya.. Main yuk" "Ayo Arya kenapa kamu dirumah mulu sih?" "Aku punya mainan baru nih, ayo main dirumah aku"  Beberapa kali temannya mengajak bermain tetapi, "Aku ga boleh main sama Ibuku" selalu ditolak oleh Arya dengan wajah ketakutan mengingat peringatan keras Shifa. Lalu masuk kedalam rumah dan menutup pintu sendu. Sungguh perasaan yang sangat menyiksa dirasakan Arya, hati dan pikirannya selalu bertolak belakang. Hati menginginkan  dirinya bermain keluar dengan teman-temannya. Tapi pikiran selalu melarang karena perintah dan membayangankan hukuman dari ibunya.  Pernah suatu hari Arya diperbolehkan bermain dengan teman-temannya oleh Shifa karena sedang ada Kakeknya saat itu. Tentu senang bukan main mendapat izin dari ibunya. Menurut Arya itu adalah hal langka yang dapet terjadi kecuali perasaan Ibunya sedang senang. Tapi sayang tidak seindah yang dibayangkan olehnya, ketika Arya pulang sehabis bermain dan menemukan Kakeknya sudah tidak ada. Hanya tatapan sadis dan kesal dari ibunya yang menunggu anaknya pulang. "udah mainnya?? puas?? ga usah pulang sekalian! keluar sana!" bentakan Shifa mengusir dan menyeret Arya keluar dari rumah. "Ampun Bu.. Jangan Bu.." teriakan Arya memelas memohon kepada Shifa. Shifa bagai memiliki Kepribadian Ganda, terlihat baik kepada anaknya didepan orang lain namun menggerutu didalam hati dan melampiaskan kepada anaknya ketika orang lain sudah tidak ada dirumahnya. aneh bukan? Sepulang Ari bekerja, betapa kagetnya melihat Arya sedang duduk sendirian didepan pintu rumahnya. "Kamu kenapa Nak?" tanyanya heran. "Aku ga dikasih masuk Yah sama Ibu" jawabnya polos dan berharap mendapat pembelaan dari Ayahnya. "BUKA SHIFA!!" Ari memanggil dan mengetuk pintu dengan kasar, Shifa kaget mendengar suara suaminya, "Mas Ari sudah pulang? Kok tumben cepet pulangnya" batinnya ngeri, karena dia sedang menghukum Arya diluar rumah. "apa dia tau aku sedang menghukum Arya? gawat dia pasti akan memukul ku" Begitu pintu rumah dibuka. "Plak!! apa maksudmu seperti ini? gila kamu? sering kamu menyiksa Arya seperti ini?" Ari menamparnya dengan keras memaksa air mata  istrinya menetes akibat pedih dan panas yang dirasakannya "Dia main kelamaan Mas! wajar klo aku menghukumnya" ucap Shifa membela diri. Ari hanya menaikan sebelah alisnya, "main kelamaan?" lalu menatap curiga Arya. Arya sedang memperhatikan kekerasan yang dilakukan kedua orang tuanya hanya bisa diam ketika dipandangi penuh curiga oleh ayahnya. "Benar kata Ibumu, Nak?" tanyanya kepada Arya. "Ayah tidak akan membelamu klo kamu memang salah dan tidak menuruti apa kata ibumu" pesannya lalu meninggalkan mereka berdua. "Pinter! ngadu sama Ayahmu!" bisik Shifa menarik dan menyentil telinga Arya. lalu masuk mengekori suaminya kedalam. Malam harinya, ketika Shifa melihat Suaminya sudah tertidur pulas. "Sudah cukup aku hidup dengan monster sepertimu Mas" ucapnya dendam menatap punggung Ari, "Aku harus pergi meninggalkan kalian semua, ya aku dan Aryo anakku" Shifa sudah membulatkan tekad nya malam itu. Shifa yang akhirnya tidak sanggup lagi untuk bertahan hidup dengan Ari suaminya, memutuskan untuk pergi diam-diam. "Tinggal mencari cara dan waktu yang tepat untuk meninggalkan rumah dan suaminya tersebut. Karena tidak mungkin Ari dan Cakra akan diam saja melihat Arya, anak dan cucu kesayangan mereka dibawa pergi" pikirnya malam itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN