Sepeda Roda Tiga

974 Kata
Lagi-lagi terdengar suara keributan pasangan suami istri malam itu. Shifa membuka pintu kamar Arya, dia datang sambil nangis, Arya melihat mata ibunya lebam membiru, bibirnya terluka dan pipinya nampak sedikit memar. "babang belom tidur?"tanya Shifa kepada Arya yang melihat bengong kearah ibunya. "maafin Ibu ya bang, Ibu salah, Ibu ga bisa ngurusin babang, sampe babang kayak gini" Shifa memeluk Arya. sebenarnya hari ini Arya habis dari rumah wisnu, Arya diajak berenang dirumahnya, pakai kolam renang karet yang habis dia dapat dari Ayahnya sebagai hadiah ulang tahun. Arya udah nolak ajakan wisnu berkali-kali, karna Arya tau ibu telah ngelarangnya bermain keluar rumah dengan siapapun. "Ayo Arya temani Wisnu berenang" "Nanti biar ibu yang mengantarmu pulang dan menjelaskan kepada ibumu" "Sekali saja Arya, aku ga ada temen main nih" Wisnu dan ibunya terus memaksa Arya,  Akhirnya dengar terpaksa Arya ikut berenang dirumah Wisnu, walaupun Ia berenang dengan raut wajah yang tidak bahagia karena khawatir akan siksaan yang menanti begitu pulang kerumah. "Aryaa!!! Aryaa!!" teriakan Shifa memanggil anaknya, "Kurang ajar, beraninya dia meninggalkan rumah!" batin Shifa kesal tidak menemukan Arya didalam rumah. "Assalamualaikum" Mama nya Wisnu dan Arya mengetok pintu rumah Shifa. "Wa'alaikum Salam" jawab shifa membukakan pintu dan melihat geram Arya baru pulang bermain. "Maaf bu, saya mau mengantarkan pulang Arya, tadi Dia saya ajak bermain dirumah menemani Wisnu." tetangganya tersebut menjelaskan kepada Shifa. "Hehehe iya bu, pantesan saya cari Arya tidak ketemu dari tadi, maaf sudah merepotkan ya bu" jawab Shifa tersenyum dan menarik anaknya gemas. "Arya tidak merepotkan kok bu, dia juga ga nakal dirumah saya" jelas Mamanya Wisnu kemudian pamit pulang. Setelah menutup pintu, Shifa membawa anaknya didalam kamar, lalu memukuli Arya dengan kemoceng dan gesper. "pinter ya, ngadu sama orang! mau bikin gue malu lo?" ucapnya sambil memukul Arya "ampun bu, iya bu aku ga akan ngulangin lagi.." cuma itu yang bisa Arya ucapkan pasrah berharap agar Shifa berhenti memukulinya. "samanya kayak bapak lo, benci gue liat lo berdua" ucap Shifa kepada anaknya, kata kata itu sering kali Arya denger klo Shifa lagi marah kepadanya. Selalu membawa dan menyamakannya dengan Ari, Ayah nya Arya. "mungkin ibu benci sama ayah, dia dendam atau dia sakit hati sehingga aku harus jadi pelampiasan kemarahan ibu." bisiknya dalam hati. Ari tidak sengaja liat memar biru luka bekas pukulan gesper di lengan Arya tadi sore, lalu bertengkarlah mereka seperti yang terjadi sekarang ini. Arya ga tau harus respon gimana, ia udh sering banget denger Shifa minta maaf samanya, tapi lagi-lagi dia ngulangin perbuatan itu, Arya dipukulin lagi dan lagi. "udah habis air mata aku bu, ga tau ini rasa sayang apa benci kepada ibu" itu yang terbesit dihati Arya. "Aku ga bisa lagi ngerasain sakit ataupun sedih melihat Ibu kaya gini" bisik Arya didalem hati. "babang ga marah kan sama Ibu? ibu sebenernya sayang bang sama kamu" ucapnya lagi. Arya ga jawab pertanyaan ibunya, dia coba lepasin pelukan Shifa dari badannya, lalu membalikkan badan dan mencoba untuk tidur malam itu. mungkin Shifa tau klo Arya masih marah gara gara kejadian tadi sore, ia keluar dari kamar Arya dengan perasaan sedih. "Aku benci sama ibu" cuma itu yang keluar dari mulut Arya. Mengetahui Ibunya sudah keluar dari kamarnya. Esok harinya, Ari sudah tidak ada dirumah, seperti biasa dia berangkat pagi pagi buta dan pulang malam hari kadang menjelang hampir pagi dia baru pulang, maklum suaminya Shifa itu kerja di Instansi Pemerintahan, dan punya tanggung jawab yang menyita banyak waktunya, jadi Ari kurang begitu ngasih perhatian kepada Arya. Sedangkan Shifa seharian cuma dirumah, ga kerja karna dilarang ayah, jadi kesibukannya hanya mengurus Arya dari bangun tidur sampai kami mau tidur kembali. itupun klo suasana hatinya lagi baik, klo habis dimarahi dan dipukuli ayah, ibu seharian dikamar tidak mengurusi anaknya. Arya juga dilarang main keluar rumah, ga boleh bawa teman main didalam rumah, hanya boleh main didalam rumah. "Bu kenapa sih aku tidak boleh main diluar?" tanya Arya kala itu melihat Ibunya sedang menonton TV. "Mau ngapain kamu main diluar? mau jadi anak ga bener? ga betah dirumah aja sama ibu? keluar sana, ga usah pulang sekalian!" jawaban Shifa membentak Arya, malah kadang memukul dan menamparnya. "Keluarga ini seperti neraka, selalu terdengar kemarahan Ayah dan teriakan minta ampun dari Ibu" Arya membatin melihat pemandangan itu setiap Ayah dan Ibunya bertengkar. Membuat kekerasan dan penyiksaan itu terekam jelas didalam pikirannya. Hubungan dalam keluarga Ari menjadi hambar, cuek, tidak peduli satu dengan lainnya, dipenuhi ketakutan dan trauma yang mendalam antara satu dengan lainnya. Arya jadi sering bengong sendiri, berpikir dan bermain dengan pikirannya sendiri. Arya mulai tidak peduli dengan apapun, ia sudah membuat dunianya sendiri didalam pikirannya. Seperti Kerbau yang dicocok hidungnya, Arya hanya mengikuti semua perintah dari Ayah dan Ibunya tanpa pernah berani melawan ataupun berprotes. Ga ada lagi perhatian, kasih sayang dan cinta yang didapat Arya dari keluarganya. Sampai pada suatu hari, ketika Ari dan Shifa bertengkar hebat. "Sudah waktunya aku pergi, aku sudah tidak tahan lagi!" ucapnya lelah memegangi punggungnya yang terluka akibat cambukan suaminya itu. Entah itu ide baik atau tidak, tapi mulai dari sini, rasa benci dan dendam untuk menyakiti adalah hal yang paling Arya idam-idamkan. Tubuh Arya selalu bergetar hebat ketika mendengar teriakan Ayahnya atau Ibunya, Jantungnya berdebar membuatnya lemas seperti kekurangan darah, dan kemarahan didalam hatinya selalu membuat pikiran Arya untuk melampiaskan kepada orang lain. Ketika itu dimalam hari, Arya sedang duduk menungggu Ari pulang kerja. Terlihat ada sesuatu yang Arya mau ceritakan kepada Ayahnya. "Ayah, aku mau sepeda dong, pengen bisa naik sepeda deh kaya wisnu yah" dengan muka memelas berharap ayah akan mengabulkan permintannya, sebuah sepeda dan mengajarkannya seperti yang dilihat Arya tadi sore. Sempat meminta kepada Ibunya, tapi dengan sindiran Ia menjawab, "Sana minta sama bapak lo" dan berlalu meninggalkan Arya diruang tengah. "Iya bang, besok ya ayah beliin sepeda, emang kamu udh bisa naik sepeda?" tanyanya sambil mengusap lembut pala Arya. "Hehe belom bisa yah, sekalian ayah ajarin ya yah" jawab Arya malu malu. "Hm ayah kira kamu udh bisa naik sepeda, iya nanti ayah ajarin ya klo ayah libur kerja" jawabnya kembali "makasi yah" lalu Arya memeluk Ayahnya. Arya membayangkan senangnya bersepeda dihalaman rumah, biarpun ia hanya bermain seorang diri, setidaknya akan ada Ari yang mengajarinya sampai mahir mengendarai sepeda roda tiga seperti yang dipintanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN