Sebenernya Ari ga kasar seperti Shifa, ibunya Arya, ga pernah Ayahnya memukul atau berbuat apapun yang bikin Arya sakit hati, Tidak seperti Shifa ibu yang selalu melampiaskan kemarahannya kepada Arya.
Ayah adalah kebalikan dari Ibu, hanya aja waktu ayah sedikit buatnya, karena sibuk bekerja. Untung Arya mempunyai Kakek Seperti Cakra yang bisa menggantikan peran dari Ayahnya yang super sibuk.
Menurut Arya, Cakra orangnya pendiam dan tidak banyak berbicara, sekalinya berbicara kepada Arya terdengar begitu kecil suaranya, jadi Arya harus duduk tepat disamping Kakeknya untuk mendengarkan ucapannya.
Rumah Kakek juga ga begitu jauh, kadang jika Arya sudah tidak kuat dengan kelakuan Ibunya, Dia bakal kabur kerumah Kakeknya.
"Andai keluargaku seperti keluarga Wisnu, pasti aku akan bahagia sekali"
Pikiran Arya didalam hati ketika sedang mengingat Ayah, Ibu dan Kakeknya sebelum tidur membuatnya tersenyum dan berharap ketika nanti terbangun keluarganya akan berubah seperti keluarga wisnu.
Arya sering melihat rumah Kakeknya, Cakra sering didatangi oleh banyak orang, ada yang dari dekat, masih satu daerah dengan tempat tinggal Arya. Ada juga yang dateng dari luar daerah bahkan luar pulau waktu itu.
Membuatnya bertanya kepada ayahnya, "kok teman kakek banyak sekali yah? kakek lagi ngapain ya? tanya Arya polos.
"Itu semua pasiennya Kakek bang, mereka lagi berobat sama Kakekmu" Jawab Ari mengurungkan niat mampir kerumah Ayahnya ketika melihat rumah Cakra ramai kedatangan tamu. lalu memutar balik dan kembali pulang kerumahnya.
"Emang Kakek Dokter yah?" tanya Arya penasaran, lalu "Kenapa mereka ga berobat Puskesmas aja yah?" pertanyaan Arya bertubi-tubi membuat Ari susah mencari jawaban yang pas untuk anak seumurannya itu.
Akhirnya, Ari menjawabnya sambil tersenyum kecil "Iya Bang, Kakek mu itu Seorang Dokter".
"Aku nanti besarnya mau jadi dokter aja, biar seperti kakek mengobati orang banyak" jawabnya tegas kepada Ari.
Membuatnya sedikit kaget dengan ucapan Arya kala itu.
"Boleh kan Ayah?" tanya Arya melirik ayahnya.
Ari hanya mengganguk pelan, "kamu tidak mengerti bang berat untuk bisa jadi seperti kakek, ayah aja ga mampu" jawabnya dalam hati membayangkan betapa sulit pelatihan yang Cakra berikan waktu itu.
malam harinya,
"Cakra, menantumu akan membawa Aryo pergi meninggalakan desa ini" Barata memberikan laporan rutin setiap malam, seperti yang sudah diperintahkan Cakra waktu itu.
"Sepertinya Shifa sudah tidak tahan dengan kelakuan Ari, sangat disayangkan" terdengar Cakra menghempaskan napas berat.
"Apakah kau ingin aku menggagalkan rencana itu?" tanya Barata melihat Cakra sepertinya berat untuk melepaskan cucu kesayangannya.
"Tidak usah, aku akan lebih khawatir jika cucuku terus disini, ia akan terus dibawah pengaruh Ayah dan Ibunya. Ia tidak akan mampu untuk belajar dan berkembang dengan semua yang sudah aku wariskan kepadanya" jawab Cakra memberi penjelasan kepada Barata, Harimau putih yang selama ini membantunya.
"Tidak usah sok tegar kau manusia tua! aku tau kau sangat tidak ingin kehilangan Arya, cucu laki-laki yang sangat kau nantikan itu" ucap Ladoya ditengah keheningan malam itu antara Cakra dan Barata.
"Kenapa kamu selalu kasar kepadaku Ladoya? bukankah aku tidak pernah kasar kepadamu?" tanya Cakra kepadanya dengan nada heran. Melihat sejak pertama kali mendapatkannya, Ladoya tidak pernah mau bersahabat dengan Cakra.
"Aku memang tidak pernah suka terhadap manusia, kau ingat itu? kalian hanya menggunakan ku untuk kepentingan kalian dan merugikan orang lain" jawabannya mengingatkan akan kesalahan Cakra dahulu ketika hendak menikahkan anaknya dengan Shifa.
"Aku sudah mengakui semua kesalahanku, dan tengah memperbaiki kekacauan akibat perbuatanku, kenapa kamu masih saja gusar?" tanya Cakra memperhatikan Ladoya mulai menampakan wujud Harimau Kumbang berwana Hitam yang biasa dilihatnya.
"Kamu?? lalu bagaimana dengan anakmu? bukankah sama denganmu ketika kau muda dulu?" jawab Ladoya menyindir dengan tatapan buasnya.
"Aku memang salah mendidiknya, sudahlah lupakan masa lalu, jika kamu ingin pergi. Silakan aku sudah membebaskanmu Ladoya. Kamu berhak mencari pengganti yang lebih baik dariku." jawab Cakra telah membatalkan perjanjiannya dulu ketika ia berhasil menundukan Ladoya.
"Kau pikir siapa dirimu!!! mengaturku seenaknya!" sanggah Ladoya kesal mendengar ucapan yang keluar dari mulut Cakra. lalu " Aku akan terus mengikuti Arya, akan ku buat dia dikuasai dendam dan membalas kalian satu per satu. biar kau makin menderita Pak Tua! hahaha" ujarnya tertawa lalu membias menjadi cahaya dan menghilang.
"Terima kasih Ladoya, aku yakin kamu akan selalu menemani dan menjaga Arya" bisiknya kecil menutup matanya karena silau akibat cahaya yang dibuat oleh Ladoya.
Barata yang tengah memperhatikan ternyata mendengar apa yang diucapkan Cakra.
"Jadi apa yang kau inginkan selanjutnya, Cakra?" tanya barata kemudian.
"Biarkan saja klo Shifa ingin membawa Arya pergi, ini semua menjadi pelajaran mereka biar mereka menyadari kesalahan masing-masing, terlebih untuk Arya biar pengalaman yang mengajarkan akan arti kehidupan ini. Semoga kamu kuat Nak, maafkan Kakekmu yang egois ini" doanya kepada Tuhan malam itu.
"tapi??" perintah Cakra membuat Barata sedikit khawatir.
"Tenang saja Barata, dulu aku sudah berupaya membuat segalanya agar menjadi lebih baik, tapi Tuhan menegurku dengan membuat segalanya menjadisalah dan berantakan. Bukan kah Manusia boleh berencana, tapi jangan lupa hanya Tuhan yang menentukan" penjelasan Cakra malam itu membuat Barata tidak melanjutkan kalimatnya dan pergi menghilang menyusul Ladoya entah kemana
Tinggalah Cakra sendirian, dia merenung dan kembali teringat perbuatannya dahulu, walaupun Ari sekarang sudah berubah menjadi lebih baik, tetap perubahan anaknya itu harus mengorbankan banyak orang. Dan salah satunya adalah mengorbankan Arya anak semata wayang Ari.
Semua perlakuan kasarnya dahulu kepada anaknya, sekarang sedang dibalas. Ari pernah memukulnya hingga terjatuh akibat melerai perkelahian Ari dan Shifa kala itu.
Walaupun sekarang Cakra sudah tidak pernah ikut campur, tetap tugasnya sebagai orang tua adalah mengingatkan kepada anaknya.
Cakra sering menasehati Ari dan Shifa, agar tidak bertengkar didepan Arya.
Shifa menganggap bahwa Cakra lebih membela Ari dari pada dirinya. Padahal Cakra berbicara seperti itu agar kelak Arya tidak menjadi kasar seperti Kakek, Ayah dan Ibunya karena sering melihat kekerasan didepannya.
Mendengar jawaban Shifa, membuat Cakra sangat menyesal akan perbuatannya dulu yang telah merubah sifat Shifa yang dulu riang dan penurut. Menjadi anak yang kasar dan keras kepala.
Permintaan Arya yang menginginkan Sepeda kepada Ayahnya adalah permintaan terakhir sebagai seorang anak yang mempunyai orang tua yang lengkap.
Besoknya setelah yakin suaminya sudah berangkat bekerja, Shifa masuk kedalam kamar anaknya, dan membangunkannya.
"Bang, bangun yuk. kamu mandi sana" jawabnya sembari mengemas beberapa baju Arya.
"Memang kita mau kemana Bu?" tanya Arya mengucek matanya dan melihat ibunya sibuk membereskan bajunya.
"Kita mau nengokin Kakaknya Ibu yang habis lahiran, sana cepat mandi" jawab Shifa berbohong dan menyuruh anaknya untuk segera mandi.
"Kakaknya Ibu? Mereka yang mukanya pada sombong itu? karena tinggal dikota besar" jawab Arya dalam hati mengingat ketika beberapa Kakaknya Ibu berkunjung kerumahnya.
Karena Arya tidak berani membantah perintah ibunya, akhirnya berjalan kekamar mandi meninggalkan Shifa yang tengah sibuk merapikan barangnya.
Akhirnya pada hari itu mereka pergi meninggalkan rumah tanpa pesan apapun kepada Ari dan Cakra.
Arya terlihat sangat sedih, tiba-tiba dia kepikiran dengan Ayah dan Kakeknya.
"Trus kita pulangnya kapan Bu?" Arya coba beranikan diri bertanya kepada ibunya.
"Paling cuma beberapa hari Bang" jawab shifa berbohong kepada anaknya.
"Maafin Ibu ya bang, sekarang Ibu belom bisa jujur sama kamu, klo kita ga bakal kembali lagi kesini, Ibu sudah terlalu benci sama Ayahmu" batin Shifa sambil terus menuntun Arya pergi meninggalkan rumah.
Ditengah perjalanan didalam Bus.
Shifa mencoba menyapa Arya, karena melihat dari tadi anaknya murung menatap jendela.
"Bang, sayang kan sama ibu?"tanyanya menatap dan ngusap kepala Arya.
"Iya bu" jawab Arya dengan nada takut.
"Klo nanti babang tinggal sama ibu aja berdua gpp kan?" Shifa coba menjelaskan tujuannya pergi dari rumah.
"Trus nanti Ayah gimana bu? kok kita ga tinggal sama Ayah aja" jawab Arya curiga sambil liatin Ibunya.
"Ayah kan harus kerja, nanti klo ga kerja ga bisa beliin kamu sepeda kan?" kata Shifa sambil membuang pandangannya dari Arya, tidak tega mendengar pertanyaan polos anaknya.
"Terus Kakek gimana bu? nanti kesepian ga ada aku" tanya Arya lagi, sambil terus melihat ibunya.
"Nanti Kakek nyamperin kita sayang, yaudah kamu tidur ya bang, masih lama loh nyampenya, sini tidur sama ibu" jawabnya sambil menarik badan Arya biar tidur dipangkuannya, dan mengakhiri obrolan mereka.
"Maafkan Aku Yah"
"Maafkan Aku Nak"
"Mungkin ini yang terbaik untuk kita semua, Aku doakan Ayah selalu sehat disana ya"
Shifa menangis dalam diam mengingat Cakra Ayahnya dan menatap Arya yang sudah tertidur pulas.