Sosok yang Arya Rindukan

1162 Kata
Lamanya perjalanan yang Shifa dan Arya lalui, Mereka sempat berhenti beberapa kali entah untuk makan ataupun ke toilet dan melanjutkan perjalanan kembali. Akhirnya mereka sampai di pemberhentian terakhir, mereka telah sampai di Jakarta. Tujuan mereka. Arya yang baru pertama kali datang ke Jakarta, terlihat sangat kagum, berbeda dengan keadaan dikampungnya. Didesa, rumah tetangganya masih sangat sedikit dan yang mempunyai kendaraan masih bisa dihitung oleh jari. Itu pun hanya mereka yang hidup berkecukupan. Mempunyai rumah besar dengan halaman parkir kendaraannya. Seperti keluarga Wisnu. Sedangkan di Jakarta, banyak sekali orang-orang beraktifitas dijalanan, kendaraan lalu lalang, terlihat banyak rumah yang dijadikan tempat usaha maupun tempat tinggal. Dan hampir berdekatan satu dengan yang lainnya. Itu yang dari tadi sedang menganggu dipikiran Arya Mereka melanjutkan perjalanan, "Banyak sekali orang disini ya bu." ucapan Arya kepada Ibunya, sambil terus memperhatikan sepanjang perjalanan yang dilihatnya. "Disini mereka semua sibuk bekerja, banyak tempat bermainnya juga lho. Nanti ibu ajak kamu ya kapan-kapan bang, pasti kamu suka" jawaban Shifa berharap agar Arya tidak mengingat lagi Ayah dan Kakeknya. "Sekarang kita kerumah Kakaknya Ibu dulu ya, dia sudah memberikan alamatnya nih di Daerah Kemayoran Jakarta Pusat." jawab ibu sambil memegang kertas kecil ditangannya. Shifa terlihat agak bingung, dengan bekal alamat yang sudah dicatatnya. Ia sempat menanyakan kepada Supir kendaraan yang dia tumpangi. "Pak lewat alamat ini ga?" tanya Shifa menunjukan kertas yang berisi alamat tersebut. "Lewat kok bu, nanti saya kasih tau begitu sudsh mau sampai ya, deket kok sebentar lagi" jelasnya lalu menyuruhnya duduk kembali. "Anaknya dipegangin Bu, ngantuk tuh" pesan seorang penumpang mengingatkan melihat Arya dipangkuan Ibunya. "hehe iya bu, memang anak saya matanya sayu jadi keliatan kaya lagi ngantuk" jawab Shifa tertawa memegangi tubuh Arya yang sedikit bergoyang akibat rem yang mendadak diinjak supirnya. "Kamu laper bang?" tanya Shifa ditengah perjalanan. "Engga bu, aku kepikiran Ayah dan Kakek" jawabnya sedih. Setelah beberapa kali naik dan turun kendaraan umum dan juga bertanya kepada orang-orang yang mereka temui dijalanan, akhirnya mereka sampai di depan rumah Mimi, Kakaknya Shifa. Rumah padat penduduk yang tidak terlalu besar dan dikanan kirinya pun nempel dengan rumah tetangganya. Beberapa tanaman hias turut meramaikan pemandangan dirumah itu dan sebuah kolam ikan dibagian kanan depan pintu rumahnya, membuatnya tampak lebih asri lagi. "Bagus ya Bu rumahnya" itu yang keluar dari mulut Arya kagum dengan apa yang sedang dilihatnya. "Assalamualaikum" "assalamualaikum, kak" Shifa mengucapkan salam lembut sambil mengetok pintu rumah tersebut. Mereka menunggu jawaban dari pemilik rumah berwarna hijau lumut itu. "Wa'alaikum Salam" Tampak pemilik rumah membukakan pintu rumahnya. "Ya Allah Shifa sampe juga disini? gue kira ga bakalan berani lo ke Jakarta." kata Mimi histeris begitu melihat Shifa ternyata sudah didepan rumahnya. "Hehe iya nih Kak, tadi Shifa sempet tanya-tanya juga sama orang sih, untung sampai juga kesini" jawab Shifa kikuk. "Ini Arya ya?" udah gede ya kamu sekarang" sapa wanita setengah baya itu kepada Arya yang masih bingung mendengar logat khas betawi miliknya. "Kamu kok diem aja bang? salim dulu dong ini Uwa kamu, namanya Wa Mimi kakaknya Ibu" Shifa menjelaskan kepada anaknya agar segera memberi salam dan mencium tangannya. Aryo yang masih bingung tentu saja harus mengikuti perintah Ibunya. "Iya Wa, aku Arya" jawabnya kaku lalu mencium tangan wanita itu. Lalu mereka berdua dipersilakan masuk kedalam rumah tersebut. Mimi adalah Kakaknya Shifa dan anak nomor enam dari keluarga Besar Bey. Salah satu keluarga yang tergolong sukses dengan usahanya saat itu, Dia membuka Usaha Rias Pengantin dan Wartel yang saat itu masih sangat jarang dan menjanjikan untuk dijadikan usaha mereka. Mimi mempunyai Seorang Suami bernama Dayat, lelaki pendiam itu berhasil menikahinya lalu mempunyai sepasang anak, laki-laki bernama Azis dan perempuan yang bernama Hana. Hidup mereka berkecukupan dan makmur. "Bang, Kak, sini.." teriak Mimi memanggil kedua anaknya. "Ini ada Tante Shifa Nak, Salim dan beri salam dulu sini" perintahnya kepada Azis dan Hana. "Azis tan.." "Hana Tan.." Jawab mereka berdua dengan wajah malas memberi salam dan segera salim kepada Shifa, lalu melirik Arya sekilas kemudian memilih kembali memasuki kamar mereka lagi. Mimi yang melihat kedua anaknya hanya menggengkan kepala, Azis dan Hana memang tidak begitu suka jika ada yang mengganggu kegiatan mereka didalam kamar. "Heh kalian ajak Arya main bareng dikamar sana, jangan sibuk sendiri aja, awas jangan pada berantem ya!" pesan Mimi kepada kedua anaknya. "Iyaa Ma.." teriak mereka bersamaan dari dalam kamarnya. "Aryo, kamu ikut gih terserah mau main sama Azis apa Hana sana" ucap Mimi kepada Arya yang dari tadi masih saja diam melihat keluarga itu. Arya akhirnya memberanikan diri masuk kekamar Azis, didalamnya Arya melihat banyak sekali mainan yang dimilikinya. Mata Arya berbinar-binar melihat mainan sebanyak itu, maklum dirumahnya Arya hanya memiliki beberapa mainan saja. Arya duduk dipojokan dekat pintu kamar itu, Azis yang melihat Arya masuk kedalam kamarnya berubah memandang sinis. "Malah masuk kekamar gue" bisiknya pelan membuat Arya yang mendengar ucapan itu jadi tidak enak hati telah masuk kekamarnya. Azis kembali membuang mukanya dan meneruskan apa yang sedang dimainkannya. "Aku ga betah disini, Ayah aku pengen pulang" ucap Arya didalam hati, ia bingung apa yang harus dilakukan saat itu. seperti dikucilkan oleh Aziz. Membuatnya merasa serba salah telah masuk kekamar milik Azis. "Kamu mau minum apa Fa?" tanya Mimi ketika tengah asik mengobrol kepada adiknya itu. "Apa aja Kak, ga enak jadi merepotkan Kak Mimi" Jawab Shifa sungkan melihat kakaknya berjalan ke kamar anaknya. "Kok kamu diam aja? ini dimainin aja gpp" Mimi mengambil beberapa mainan milik Azis dan menyerahkannya kepada Arya. "Ma jangan mainan yang itu, nanti rusak" Jawab Azis tidak suka melihat mainannya diberikan kepada Arya. "Kamu kan sedang ga mainin yang ini, inget ya kamu klo pelit sama mama, besok-besok ga mama beliin mainan lagi!" ancam Mimi kepada anaknya. Azis hanya mendengus kesal lalu menatap Arya seperti memberi isyarat "Jangan sentuh mainanku" Wanita itu kemudian keluar dari kamar Azis dan berjalan menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk Shifa dan Arya. Arya melihat didepannya banyak mainan mobilan berwarna warni, mencoba memegangnya dan memperhatikan satu-satu mainan itu. "Bagus banget mainan ini, kaya yang aku lihat dirumah wisnu" ungkapnya dalam hati melihat mobilan berwarna merah terang menyala. "Jangan kamu mainkan! nanti rusak. Mending kamu keluar aja sana." kata Azis tidak bersahabat kepada Arya. Arya lalu meletakan mainan itu dan mengembalikannya ketempat semula ketika diambil oleh uwanya tadi. "Pelit banget sih dia" batin Arya lalu duduk diam melihat Ibunya sedang berbicara kepada kakaknya. Bagi Arya waktu berjalan sangat lama dirumah itu, membuatnya bingung apa yang harus dilakukan lagi, ia cuma berharap Shifa mendatanginya dan mengajaknya pulang kerumah. "Katanya mau kerumah dede bayi, mana bayi nya?" tanya Arya penasaran tidak menemukan bayi dirumah itu. "Kak tolong ya, Shifa takut Mas Ari datang kesini" pesannya cemas kepada Kakaknya. "Udah tenang aja nanti lo ngumpet aja diatas ya klo Ari datang" Mimi mencoba menenangkan Adiknya yang khawatir. "Lo yakin mau pisah sama Ari, Fa?" tanya mimi memastikan kemauan Shifa saat itu. "Iya Kak, aku udah ga kuat hidup bareng dia, setiap hari pasti kena omelan dan pukulan" Jelas Shifa lalu menangis. "Trus itu anaknya mau lo yang urus aja? ga mau dipulangin sama bapaknya aja?" pertanyaan kakaknya membuat Shifa diam sejenak dan berpikir. "Biar aku yang ngurusin aja Kak, Shifa takut klo diurus sama Mas Ari nanti Arya jadi anak yang b******k juga kaya Ayahnya" jawab Shifa melirik kearah anaknya yang sedang duduk sendirian dikamar Azis. "Yaudah kalo lo maunya begitu, tapi inget jangan nyusahin gue, lo harus cerita sama kakak-kakak lo yang lain juga" pesan mimi khawatir Shifa akan merepotkannya nanti. "Iya kak" jawab Shifa pasrah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN