Malam itu Shifa dan Arya menginap dirumah Mimi, yang telah meyakinkan Shifa bahwa mereka aman dirumahnya.
Sedangkan Ari yang baru saja pulang bekerja, telah membawa hadiah untuk anak kesayangannya.
Dia membelikan sebuah sepeda roda tiga seperti permintaan anaknya Arya.
"Sayang!! Ayah pulang nih, Ayah punya hadiah loh buat kamu" Ari mengetuk pintu rumahnya.
agak heran karena rumah dalam keadaan gelap.
Tidak ada satu lampu yang menerangi rumahnya.
"Arya??"
"Shifa!!"
"Buka pintunya"
Ari teriak memanggil Istri dan anaknya dari luar rumah.
"Pada kemana ya? apa mereka berdua kerumah Ayah?" batin Ari curiga mengetahui rumahnya dalam keadaan kosong.
Ari akhirnya memutuskan mendatangi rumah ayahnya malam itu
"Ayah" teriak Ari dari depan pagar halaman rumah Cakra, ayahnya.
"Ayahh!! Ada Shifa dan Arya ga disini??" ucap Ari dengan nada khawatir.
Cakra yang mendengar panggilan anaknya segera membuka pintu rumahnya.
Ia melihat Ari didepan pagar rumahnya lengkap membawa sepeda kecil roda tiga berwarna biru tua.
"Kamu kenapa Nak?" tanya Cakra membukakan pintu pagar rumahnya.
"Ada Istri dan anakku Yah?" tanya Ari memburu.
"Tidak ada, kamu yang sabar ya nak." jawaban Cakra seolah sudah tau apa yang sedang terjadi.
"Maksud Ayah? Ayah membiarkan Anak dan Istriku pergi??" Ari memandang kecewa Ayahnya.
Cakra hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Anaknya.
"Ini dosa yang harus Ayah tanggung Nak, Ayah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mungkin ini adalah pelajaran buat kita semua, klo ayah terus memaksakan kehendak kasihan Arya yang akan menjadi korbannya" jelas Cakra kepada anaknya yang sedang menatap kosong sepeda yang dibawanya itu.
"Terus ini buat apa ayah?" tanya Ari terus menatap sepeda yang sudah dibelinya.
"Perbaiki sikap mu dan berdoa semoga Shifa akan memaafkan semua kesalahan yang sudah kamu lakukan, cari dan temukan dia" pesan Cakra menghampiri Ari lalu mengusap lembut punggung anaknya.
Ari mulai meneteskan air mata, merasakan hangat usapan tangan ayahnya. Kemudian memeluk erat tubuh Cakra.
"Maafkan semua kesalahanku Ayah" bisiknya lemah.
"Besok aku akan menyusulnya, mencari kesemua keluarganya dan membawanya kembali pulang kesini" Janji Ari kepada ayahnya.
Esok harinya Ari berangkat pagi-pagi buta untuk mencari Istri dan anaknya ke Jakarta.
"Tunggu Ayah Nak" batinnya mengingat Arya anak kesayangannya.
Disisi lain Shifa tetap tidak berubah, biar dia sudah tidak tinggal bersama suaminya. Shifa tetap berlaku kasar kepada Arya, anaknya.
Kesalahan-kesalahan kecil yang Arya lakukan selalu dibalas dengan teriakan dan pukulan dari Ibu yang telah membesarkannya.
Hari itu tidak sengaja Shifa mendengar Azis menegur Arya, "kamu jangan mainin mobilan aku dong, nanti rusak" tegur Azis kepada Arya yang sedang memegang mainannya.
Lalu Shifa langsung masuk dan menyeret Arya keluar kamar Azis.
"Bikin malu aja! udah berapa kali Ibu bilang, klo bukan mainan punya sendiri jangan pernah dimainin! ngerti ga sih! anak sialan!"
"Iya Bu, ampun Bu.. Maafkan aku Bu.." ucap Arya meminta ampun dan meringis kesakitan akibat pukulan dari ibunya.
Arya harus menahan malu didepan semua orang, kejadian tersebut seakan menjadi tontonan menarik untuk Azis dan Hana.
Mimi yang mendengar keributan itu segera menghampiri Shifa dan Arya.
"Lo sama anak jangan kaya begitu Fa" Mimi melerai Shifa yang kesetanan memukuli Arya tanpa ampun.
"Istigfar Shifa! inget biar gimana ini anak lo, kasihan nanti gedenya bisa dendam sama lo Fa!" tegas Mimi mengingatkan adiknya.
"Biarin Kak! percuma punya anak kaya gini, bikin malu kaya ga pernah diajarin aja sama orang tua! Shifa benci liat dia, mirip banget sama bapaknya!" jawab Shifa mencoba menarik Arya yang berlindung dibelakang uwa nya.
"Udah Shifa! yang lo benci itu bapaknya, Arya cuma anak-anak, jangan disamain" bentak Mimi kepada adiknya tersebut.
Shifa yang mendengar bentakan kakaknya akhirnya terdiam.
"Kamu juga Azis! berapa kali mama bilang jangan pelit!" mimi akhirnya mengomeli dan menghukum anak laki-lakinya itu tidak boleh keluar dari rumah dan harus menemani Arya bermain.
Beberapa hari kemudian.
"Assalamualaikum kak"
Suara salam Ari terdengar Shifa yang sedang menonton tv siang itu. "Mas Ari?" batin Shifa lalu berlari mencari Kakaknya dikamar.
"Kak!! ada Mas Ari didepan rumah" jelas Shifa terbata-bata.
"husstt.. Sana lo sama Arya ngumpet diatas dulu, jangan keluar sampe gue naik keatas ya" pesan Mimi menyuruh Shifa segera membawa Arya kelantai dua.
"Wa'alaikum Salam.. Sebentar ya" teriak mimi dari dalam menunggu adiknya naik keatas.
Lalu wanita itu membuka pintunya dan menghampiri Ari.
"Loh tumben kamu kemari Ri??" tanya Mimi membuka percakapan.
"Iya Kak, Ari lagi nyari Shifa. Dia kerumah Kakak ga?" selidik Ari kepada Kakak Iparnya.
"Shifa?? emangnya ga ada dirumah? dia ga ngehubungin kakak kok" jawab Mimi berbohong.
"Shifa pergi dari rumah Kak, ini Ari lagi coba buat nyari dia" jawab Ari menjelaskan.
"Kamu sih klo jadi suami itu jangan cuma bisa kasar doang sama Istri! akhirnya istrimu kabur kan!" Mimi menceramahinya siang itu berharap Ari tidak menyadari bahwa Shifa ada didalam rumahnya.
"Iya Ari salah Kak, Ari mau minta maaf juga sama Shifa, tolong Kak kasih tau Ari keberadaan Shifa" pinta Ari memelas kepada Mimi.
"Telat minta maaf sekarang, lagian laki-laki emang kaya gitu ya, setelah ditinggal baru mau minta maaf!" jawab Mimi semakin gemas melihat Ari.
"Maafin Ari Kak" hanya itu yang keluar dari mulutnya, ia sudah tidak tau lagi harus mencari istrinya kemana lagi.
"Yasudah, kakak lagi banyak kerjaan nih, coba kamu cari kerumah kakak-kakaknya Shifa yang lain, mungkin dia ada disana" ucap Mimi mengusir Ari agar segera meninggalkan rumahnya.
"Ari tidak tau lagi alamat rumah yang lainnya Kak" jawab Ari melas dan bingung tentang keberadaan Istri dan Anaknya.
"Kamu itu rumah sodara aja ga tau! tunggu sebentar, biar kakak catetin buat kamu" jawab Mimi lalu masuk kedalam rumahnya.
Sementara Arya yang mendengar suara Ayahnya, hanya bisa menangis menahan kerinduan yang dirasakannya beberapa hari ini.
"Diam lo! awas sampe bapak lo denger suara lo ya!" ancam Shifa menutup mulut Arya dengan tangannya.
"Ayah.. Aku ada disini Yah.. aku mau pulang sama Ayah.." batin Arya berharap ayahnya akan mendengar ucapannya.
"Nih alamatnya, coba kamu datengin satu per satu" ujar mimi memberikan catatan alamat yang sudah ditulisnya kepada Ari.
"Makasi banyak ya Kak." jawab Ari tersenyum berharap dari beberapa alamat tersebut dia akan bertemu dengan Shifa dan Arya.
Ari memutuskan pamit kepada Mimi dan pergi dari tempat itu.
"huuhh"
Terdengar suara nafas berat milik Mimi menandakan dia lega melihat ari sudah tidak terlihat lagi diujung matanya.