Pernikahan yang dilandasi Kebohongan

424 Kata
Di kediaman Keluarga Cakra. "Beritahu Istrimu, tentang pernikahanmu dengan Shifa, Ari! jangan sampai Rini mengganggu ketika acara pernikahan kalian nanti" perintah tegas cakra kepada anaknya. "Baik Ayah!" jawab Ari dengan semangat. "Maafkan saya Shifa, jika pernikahanmu dilandasi sedikit kebohongan. Saya berjanji jika nanti kamu memberiku cucu laki-laki, saya akan menjaga kalian berdua" sesal Cakra dan berjanji didalam hatinya. Sesampainya dirumah, Ari langsung menggedor pintu dengan kasar. "Rinii!!!.. Rinii..!! Cepat buka pintunya!!" teriak Ari memanggil Istrinya. "Iyaa Mas tunggu sebentarr" teriak Rini dari dalam. "Cih! lama sekali Istri sialan ini, klo aja ga lagi mengandung anakku, sudah ku talak kau Rini" Ia bergumam kesal menunggu pintu rumahnya dibuka. "Klekk" "Sabar dong mas, kamu tau sendiri perutku sudah membesar jadi agak susah untuk bergerak cepat, dan lagi tadi aku sedang mencuci pakaian." jelas Rini terlihat kecapean. "Minggir kamu!" Ari mendorong kasar Istrinya. Lalu berjalan ruang tengah diikuti oleh Rini istrinya. "Duduk kamu, Mas mau bicara" Ia memerintahkan istrinya untuk duduk didepannya. Rini yang jarang sekali mendengar suaminya berkata lembut kecuali dirinya sedang menginginkan sesuatu. "Ada apa mas?" tanya Rini terlihat cemas. "Mas mau menikah lagi, tadi Mas dan Ayah sudah bertemu dengan keluarga calon istri mas" jawabnya santai menatap dalam mata istrinya. "Aku ini sedang mengandung Mas, ini darah dagingmu, kenapa tega sekali kamu Mas!" iba Rini berlinang air mata mendengar ucapan suaminya ingin menikah lagi seperti tersambar geledek disiang bolong. "Apa kurang ku mas? Jawab!" bentak Rini tak kuasa menahan sakit hatinya. "Kamu tidak bisa memberiku anak laki-laki Rin, ingat itu" Ari coba membantah dan menyudutkan Rini. "Jahat kamu mas! Jahat!" ucap Rini terus menampar suaminya, terlihat Ia shock dan Stress mendengar berita itu, berarti Bayi didalam perutnya akan terganggu juga. "Jangan salahkan Mas, ini sudah keputusan Mas untuk mengikuti kemauan Ayah!" bentaknya, "Sudah diam kamu, cobalah jadi istri yang penurut, pikirkan kandungan mu, klo memang kamu tidak setuju, begitu bayi ini lahir mas akan ceraikan kamu" ancam Ari agar istrinya menuruti keinginannya. Rini hanya bisa menangis mendengar ucapan suaminya tersebut, didalam hati Rini sungguh tidak terima dengan semua ini. tapi Ia juga tidak sanggup jika nanti Mas Ari menceraikannya. Membayangkan tetangga akan mengolok-oloknya, karena status janda adalah sebuah Aib dengan penilaian buruk untuk seorang perempuan. "Baiklah Mas, aku akan ikuti kemauan kamu, dengan satu syarat, jika istri kedua mu tidak bisa memberikan anak laki-laki. Ceraikan dia!" ucap Rini menghapus bekas air matanya dengan kasar. "Itu baru Istri Mas Ari" tersenyum memuji Rini yang akhirnya pasrah dengan permintaan suaminya. "Yaudah kamu istirahat sana, jangan dipikirkan lagi masalah ini, kasihan anakku nanti" Ari mengusap perut Rini. "Kalaupun nanti Shifa tidak bisa memberikanku anak laki-laki, aku tidak akan menceraikannya bodoh" ucap Ari didalam hati lalu tersenyum kepada Rini yang masih bersedih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN