Langkah kaki tergesa menuju ruang tunggu bandara. Degup jantung berdebar tak seirama. Keringat dingin pun membasahi telapak tangan. Tidak, Crisy bukannya terjebak rasa yang sama seperti dulu. Ia hanya merasa takut mengingat beberapa hari lalu Devan pernah ingin menyetubuhinya secara paksa. Ia berdiri di ambang pintu sebelum membukanya perlahan. Lelaki yang terduduk sambil menunduk itu pun mengangkat wajah. Netra mereka bertemu pandang. Crisy tersenyum kaku. Begitupun dirinya yang hanya mengulas senyum hambar. "Kau akan pulang sekarang, Dev?" Wanita itu masuk dan mendudukkan diri agak jauh darinya. Devan tersenyum tipis melihat hubungan mereka yang tak sedekat dulu. "Iya, aku akan pulang." Devan terdiam sesaat. "Maafkan aku. Aku sudah melakukan hal tak senonoh padamu. Harusnya aku ...."

