KEPUTUSAN YANG TERTUNDA Lelaki itu menyuruh sopirnya untuk melajukan kendaraan lebih cepat. Sesuatu yang mengganjal hatinya terus memberontak. Ingin segera mengetahui lelaki yang disebutkan Khalif di bandara tadi. Kalau tidak salah ingat, Atha masih menyimpan undangan itu dikamarnya, belum dibuka sama sekali. Kedua orang tuanya pun saat pernikahan Delia tidak sempat hadir. Acara perempuan itu berbarengan dengan salah satu acara keluarga mamanya. Jadi, tak ada penjelasan dan tak ada yang tahu siapa yang telah menikah dengan Delia. "Pak, cepatan!" suruh Atha pada si sopir. "Ini udah cepet, Mas. Kalau ditambah lagi bisa kena semprit polisi." Sang sopir tersenyum. "Dikit aja nambahnya, jangan kayak mau balapan juga, Pak." Atha menyandarkan punggung, memejamkan mata berusaha mengingat keja

